Kartini dan Arti Al Fatihah

Berbagi Cerita RA Kartini di SMPIT Ar Rahmah

Pagi ini saya mengajak seorang anak laki laki untuk naik ke atas panggung. Namanya Rahman siswa kelas VII SMPIT Ar Rahmah Makassar. Saya minta dia untuk melafalkan surah Al Fatihah di depan teman temannya. Dengan lancar dan fasih, Rahman mengalunkan ayat ayat tersebut. Setelah selesai, saya minta dia untuk menerjemahkan arti dari surah Al Fatihah.
Apa yang terjadi?

Ternyata si Rahman tidak bisa mengartikan kandungan surah yang dalam sehari hampir 17 kali dibacanya.

Saya melanjutkan dengan kisah dari Ibu Kartini.

Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menulis; “Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?”

“Alquran terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Alquran tapi tidak memahami apa yang dibaca”.

Sekelumit percakapan Kartini yang Kak Heru ceritakan kepada adik adik SMPIT Ar Rahmah hari ini bersama IZI Sulsel hari Jumat 28 April 2017.

Selanjutnya beberapa cukilan dari seorang wanita yang merasa dirinya dipinggit sejak usia 12 tahun dilanjutkan dengan goresan :

“Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya”.

“Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?”

RA Kartini melanjutkan curhat-nya, tapi kali ini dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902 yang dikirim ke Ny Abendanon.

“Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Alquran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya”.

“Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kitab ini teralu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya”.

Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat, menceritakan pertemuan RA. Kartini dengan Kyai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang — lebih dikenal dengan sebutan Kyai Sholeh Darat dan menuliskan kisah tsb sbb:

Takdir, menurut Ny Fadihila Sholeh, mempertemukan Kartini dengan Kyai Sholel Darat. Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya.

Kyai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kyai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang penceramah.

Ini bisa dipahami karena selama ini Kartini hanya tahu membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.

Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog Kartini-Kyai Sholeh.

“Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.

Kyai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh balik bertanya.

“Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Alquran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.

Kyai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan; “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Dialog berhenti sampai di situ. Ny Fadhila menulis Kyai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali subhanallah. Kartini telah menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Jawa.

Setelah pertemuan itu, Kyai Sholeh menerjemahkan ayat demi ayat, juz demi juz. Sebanyak 13 juz terjemahan diberikan sebagai hadiah perkawinan Kartini. Kartini menyebutnya sebagai kado pernikahan yang tidak bisa dinilai manusia.

Surat yang diterjemahkan Kyai Sholeh adalah Al Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Sayangnya, Kartini tidak pernah mendapat terjemahan ayat-ayat berikut, karena Kyai Sholeh meninggal dunia.

Kyai Sholeh membawa Kartini ke perjalanan transformasi spiritual. Pandangan Kartini tentang Barat (baca: Eropa) berubah. Perhatikan surat Kartini bertanggal 27 Oktober 1902 kepada Ny Abendanon.

“Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban”.

“Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan”.

Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini juga menulis;

“Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama menghargai perbedaan”.

Dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis; “Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah SWT.

RA Kartini pernah punya pengalaman tidak menyenangkan saat mempelajari Islam. Guru ngajinya memarahinya karena dia bertanya tentang arti sebuah ayat Al-Qur’an. Ketika mengikuti pengajian Kiai Soleh Darat di pendopo Kabupaten Demak yang bupatinya adalah pamannya sendiri, RA Kartini sangat tertarik dengan Kiai Soleh Darat. Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat Al-Fatihah.

RA Kartini lantas meminta romo gurunya itu agar Al-Qur’an diterjemahkan. Karena menurutnya tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya. Pada waktu itu penjajah Belanda secara resmi melarang orang menerjemahkan Al-Qur’an. Dan para ulama waktu juga mengharamkannya. Mbah Shaleh Darat menentang larangan ini. Karena permintaan Kartini itu, dan panggilan untuk berdakwah, beliau menerjemahkan Qur’an dengan ditulis dalam huruf Arab pegon sehingga tak dicurigai penjajah.

Kitab tafsir dan terjemahan Al-Qur’an itu diberi nama Faidh al-Rahman fi Tafsir Al-Qur’an. Tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab. Jilid pertama yang terdiri dari 13 juz. Mulai dari surat Al-Fatihah sampai surat Ibrahim.

Kitab itu dihadiahkannya kepada RA Kartini sebagai kado pernikahannya dengan RM Joyodiningrat, Bupati Rembang. Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya.

Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan: “Selama ini al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami.”

Melalui kitab itu pula Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya. Yaitu Surat Al-Baqarah ayat 257 yang mencantumkan, bahwa Allah-lah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya (Minadh-Dhulumaati ilan Nuur).

Kartini terkesan dengan kalimat Minadh-Dhulumaati ilan Nuur yang berarti dari gelap kepada cahaya karena ia merasakan sendiri proses perubahan dirinya.

Kisah ini sahih, dinukil dari Prof KH Musa al-Mahfudz Yogyakarta, dari Kiai Muhammad Demak, menantu sekaligus staf ahli Kiai Soleh Darat.

Dalam surat-suratnya kepada sahabat Belanda-nya, JH Abendanon, Kartini banyak sekali mengulang-ulang kalimat “Dari Gelap Kepada Cahaya” ini. Sayangnya, istilah “Dari Gelap Kepada Cahaya” yang dalam Bahasa Belanda “Door Duisternis Tot Licht” menjadi kehilangan maknanya setelah diterjemahkan Armijn Pane dengan kalimat “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Mr. Abendanon yang mengumpulkan surat-surat Kartini menjadikan kata-kata tersebut sebagai judul dari kumpulan surat Kartini. Tentu saja ia tidak menyadari bahwa kata-kata tersebut sebenarnya dipetik dari Al-Qur’an.

Kata “Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur“ dalam bahasa Arab tersebut, tidak lain, merupakan inti dari dakwah Islam yang artinya: membawa manusia dari kegelapan (jahiliyyah atau kebodohan) ke tempat yang terang benderang (petunjuk, hidayah atau kebenaran).
*) dari berbagai sumber

Yuk belajar memahami Al Quran.!

Dongkel Alamat Palsu!

Dongeng Keliling Makassar

Goresan tangan dari Kak Hikma *)

Pendongeng. Dongeng. Mendongeng.
Pekerjaannya membawa keceriaan, menghibur, memberi edukasi sampai jadi tukang permen, lebih berat dari Super Hero manapun. Tugasnya terkadang sangat jauh, meniti jalan setapak, jembatan amblas sampai melewati rawa-rawa, lebih seru dari petualangannya Ninja Hatori. Jadi kurang keren apa lagi?!

Jadi, sedikit cerita dari Super Hero sekaligus Ninja Dongeng hari ini. Saya yang merangkap sebagai Ice Breaker, Tukang Ojek, Photographer, Baking Vocal sekaligus asisten Pribadi Kak Nisa mendapat mandat untuk mengawal dan memastikan Kak Nisa selamat sampai tujuan, serta selamat sampai rumah dalam kegiatan Dongkel alias Dongeng Keliling, besutan Perpustakaan Kota Makassar. Tugasnya lumayan berat, karena yang di angkut 2 (Kak Nisa lagi hamil, perutnya udah buncit pake banget) orang, musti hati-hati dan kudu Fokus, pasalnya salah sedikit aiihh *tak sanggup membayangkan*

Perjalanannya cukup jauh, Mba Navigator di Google maps udah bilang “Location not found” berkali-kali dari pagi tadi pas nge-cek alamat. Jadi kita pake cara manual, karena pepatah baru bebunyi “Malu bertanya, habis bensin.”. daaan… alamatnya sungguh sangat jauh dari Ekspektasi, pokoknya ujung-se-ujung-ujungnya, di sana gunung sudah kelihatan jelas, pesawat terbang pun sudah kelihatan sangat rendah, banyak pesawahan dan yang mengerikan itu banyak rumah-rumah kosong tak berpenghuni, mana hari Jum’at lagi hehehe

Keseruan belum selesai, ini baru awalnya. Kejutan! Lokasi dongeng yang sudah di pindai sejak awal nyatanya lokasi fiktif. Apa?… apa?… apa?… ternyata itu bukan Taman Kanak-kanan reguler seperti yang kita pahami, yang masuk pagi pulangnya menjelang siang. Mereka malah masuk siang pulangnya malam. Okesip! Bertameng senyum ikhlas kami putar arah kembali menuju jalan raya, meninggalkan lokasi tersebut.

Di saat yang bersamaan, Mobile Library Car yang sudah mendapat petisi dari Petugas Perpustakaan, memilih parkir di dekat pasar menunggu saya dan Kak Nisa merapat dan kita bisa menentukan kemana selanjutnya kita. Yaah…. Koordinasi kecil-kecilan. Menemukan jalan tengah, kami sepakat mencari sekolah. Kan sayang, sudah jalan jauh-jauh…

Mungkin takdir berkata lain, tak menemukan sekolah yang cocok, serta waktu yang semakin menipis akhirnya memupus niat kami untuk tetap berjuang. Bendera putih tanda menyerah akhirnya berkibar. Yaahh… kecewa pasti, tapi tak apalah…. Masih ada esok hari, Super Hero sekaligus Ninja Dongeng akan menemukan jalannya.

Tapi jalannya kayaknya perlu di uji, setelah kepanasan, tiba-tiba kehujanan. Di jalan saya dan Kak Nisa sempat berbincang-bincang, beliau bilang “ini resiko perjuangan,” dan kami tertawa sampai ke rumah. Alhamdulillah sampai dengan selamat.

Yang bisa saya petik dari kejadian hari ini adalah “Bitter make it Better!” 

Dongkel Datang!

Dongkol Hilang

Generasi Cemerlang..!

*)Kak Hikmah adalah tim Dongeng Keliling with Library Kota Makassar

Satu Dongeng dan Ratusan Cerita

Tim Dongkel with Library Perpustakaan Makassar

Di grup WhatsApp Dongeng Keliling, saya diminta oleh Bunda Cahaya, salah seorang pendongeng yang bergabung dalam tim Dongkel With Library  untuk mengantikan jadwal dongengnya pada hari Selasa 25 April 2017. Bunda Cahaya berhalangan mendongeng karena ada keperluan yang tidak bisa ditinggalkan. Begitulah cara kami berkomunikasi di era digital sekarang ini. Jadwal dan permintaan kunjungan mobil layanan perpustakaan cukup diajukan melalui media sosial. Cara yang sangat efektif dan efisien bila dibandingkan dengan cara konvensional seperti persuratan yang pasti memakan waktu lebih lama. 

Sayapun segera melihat jadwal yang tertera di akun Facebook Dongkel Perpustakaan Kota Makassar. Disitu sudah dibentangkan jadwal dongeng untuk sepekan lamanya. Tercatat bahwa jari Selasa 25 April 2017, sekolah yang harus dikunjungi adalah SD Inpres Cambaya 4 Makassar. Nama sekolah itu juga masih asing di telinga. Segera saya buka aplikasi Google Maps dan jari jemaripun segera menari-nari di kolom pencarian lokasi. Tak lama nama dan alamat sekolah terpampang di layar smartphone. Lokasinya di sekitar kawasan industri galangan kapal Makassar tak jauh dari jalan Tol Reformasi. Ditambah dengan petunjuk dari Kak Yusran yang begitu mengenal daerah tersebut, maka tak sulit untuk menemukan lokasi tersebut.

Keesokan harinya saya pun segera meluncur sendirian ke SD Inpres Cambaya 4. Sesuai dengan Teknis Pelaksana Kegiatan atau TOR, pendongeng bisa datang ke kantor Dinas Perpustakaan Kota Makassar untuk bersama sama berangkat dengan mobil layanan. Namun diperbolehkan juga untuk berangkat langsung ke lokasi kegiatan. Hari ini yang bertugas bersama pendongeng adalah mobil DP 3 yang dikomandai oleh Zul, seorang anak muda yang baru bergabung sebagai honorer di SKPD Perpustakaan Makassar.  Tak memakan waktu yang lama akhirnya tim Dongkel with Library sudah  berada di sekolah yang dimaksud.

Sekitar pukul 09:30 mobil memasuki kawasan sekolah yang cukup luas. Ada lapangan bola yang berada tepat di dwpan sekolah ini. Ternyata kawasan sekolah ini ada 2 tingkatan sekolah. Selain SDI Cambaya 4, di sampingnya berdiri SMP 37 Makassar. Saya sempat melihat ada tim dari Unicef berada di sekolah ini. Kedatangan tim tersebut untuk mensosialisasikan gerakan “Anti Bullying” bagi siswa dan siswi SMP 37 Makassar. Keberadaan mobil perpustakaan keliling nampak menyolok dan menarik perhatian anak anak sekolah dasar. Serentak mereka berkerumun di sekitar mobil yang berisi ratusan cerita. 

Ya..! Misi kami adalah membawa satu dongeng dan ratusan buku cerita untuk mereka. Buku buku yang tentu saja siap dilahap oleh mata-mata yang haus dengan buku bacaan. Sebelum membaca, saya mengarahkan mereka untuk masuk ke dalam salah satu ruangan kelas. Pagi ini saya harus mendongeng tanpa tanpa sound system karena ternyata alatnya sudah rusak dimakan usia. Namun hal tersebut tak mengurangi semangat mereka untuk mendengarkan dongeng. Ruangan kelas sepertinya tak mampu menampung jumlah siswa yang ada. Beberapa dari mereka harus rela duduk di atas lantai kelas. Memang ada kendala tersendiri ketika harus mendongeng tanpa dilengkapi pengeras suara. Saya harus lebih sering menaikkan volume suara agar dongengnya dapat didengar sampai di bagian belakang ruangan.

Setelah mereka selesai mendengarkan dongeng, saya kemudian mengarahkan mereka untuk keluar dari ruangan secara tertib. Namun mereka ternyata sangat begitu tak sabar untuk mendapatkan sebuah buku di mobil perpustakaan keliling. Mobil yang mempunyai dua sayap mirip seperti pesawat terbang akhirnya diserbu oleh tangan tangan kecil yang berusaha mencari buku terbaik untuk dibaca. Bahkan ada beberapa murid lalu laki yang harus menaiki mobil demi untuk sebuah buku. Saya hanya mengamati dari kejauhan sambil sesekali berteriak untuk tidak saling berebutan. Setelah mengambil satu buku, mereka pun segera mengambil posisi duduk yang enak untuk membaca. Suara suara lirih acapkali keluar dari mulutnya sembari menyimak buku bacaannya masing masing. Asyik sekali melihat kegiatan membaca ini.

Andini salah satu siswa kelas 4 sangat senang dengan buku yang dibacanya.
“Saya tidak punya buku seperti ini di rumah. Bukunya cantik!” ujarnya sembari membaca buku yang berjudul “Orang Utan”. Terlihat dari wajahnya yang ingin mengatakan “Kak, boleh saya bawa pulang bukunya?”. Saya pun mengingatkan kembali agar buku yang sudah dibaca harus dikembalikan ke mobil keliling.

Memang perpustakaan yang ada di sekolah ini fasilitasnya masih sangat terbatas. Ruang perpustakaannya adalah ruang kelas yang disulap menjadi 2 ruang, ruang baca dan ruang administrasi sekolah yang dibatasi oleh papan partisi. Belum banyak koleksi buku yang ada di dalamnya. 

“Anak anak disini sangat senang dengan kunjungan mobil keliling dari Dinas Perpustakaan Makassar. Apalagi tadinada kegiatan mendongeng untuk anak anak. Kami ingin dibantu pengadaan buku dan rak supaya perpustakaan lebih rapi”, kata Ibu Ratna yang baru setahun menjabat kepala sekolah di SD Inpres Cambaya 4. 

Ada yang bisa bantu perpustakaan sekolah ini?

 

 

Pertama kalinya Ikut Workshop Menulis

Jurnalis dan Blogger foto bareng nara sumber

Dari salah satu grup blogger di Makassar, saya mendapatkan informasi tentang kegiatan pelatihan menulis bagi blogger. Saya sangat tertarik dengan kegiatan tersebut, maklum saya belum pernah ikut dalam pelatihan menulis blog. Oleh teman blogger saya diminta untuk mendaftar dengan mengirimkan SMS sesuai format yang disiapkan ke nomor panitia pelaksana. Panitia selanjutnya akan menyeleksi peserta sesuai dengan kuota dan kriteria yang telah ditetapkan.
Sebenarnya saya tidak berharap banyak bisa lolos dalam seleksi tersebut, maklum kegiatan menulis belum banyak saya lakukan. Berbeda dengan mendongeng yang sudah rutin saya lakukan.

Ternyata dongeng memang selalu membawa keajaiban. Keesokan harinya ada SMS yang meminta kehadiran saya untuk hadir dalam workshop menulis. Senang rasanya..!

Hari Jumat, 21 April 2017 yang bertepatan dengan Hari Kartini merupakan hari yang sangat menyenangkan. Pukul 08:00 saya sudah berada di salah satu hotel yang berlokasi di Jl. Penghibur Makassar. Mungkin karena terlalu bersemangat datang atau memang sudah menjadi perilaku orang Indonesia, ketika undangan diharuskan datang pukul 08:00 tapi ternyata ruang Masamba 5 di Hotel Aryaduta masing kosong melompong. Bahkan panitianya belum datang..!..Pada kemana semua orang ..? He…he…he…

Sekitar pukul 09: 00 satu persatu peserta datang dan mulai duduk di sebuah ruangan yang cukup luas. Meja dan kursi sudah ditata dengan rapinya. Di sisi kiri dan kanan bagian depan sudah terpasang dua layar projector. Meja untuk nara sumber juga nampak sudah siap dengan komposisi 3 kursi dan 1 meja panjang.
Di dinding depan juga sudah ada backdrop kegiatan dengan tulisan
“Pelatihan Jurnalisme Sensitif Gender Bagi Jurnalis dan Blogger” beserta logo KPPPA dan
Lembaga Studi Pers & Pembangunan (LSPP) Jakarta.
Ada sekitar 30 peserta yang diundang untuk mengikuti kegiatan ini. Sebagai orang baru dalam dunia jurnalisme, saya masih belum mengenal wajah wajah yang hadir pada saat itu. Hanya satu nama yang saya kenal, dia adalah Ibu Mugniar dari Blogger Anging Mammiri Makassar. Selain sebagai blogger, Mugniar adalah ibu dari Atifah salah seorang anggota Sahabat Cilik Rumah Dongeng.
Sempat berbincang-bincang sejenak dengan Mugniar tentang anaknya yang 2 bulan lalu ikut seleksi Lomba Bercerita Tingkat Kota Makassar. “Atifah sulit sekali diajak latihan mendongeng kalo saya minta ” ujar Mugniar kepada saya.
“Harus sabar dan telaten dalam mengajari anak, kadangkala memang anak sulit diajari oleh ibu atau ayahnya. Tapi kalo diajari sama orang lain, biasanya malah lebih nurut” ujar saya. Beliau pun mengiyakan ucapan saya tadi.

Asisten Deputi Partisipasi Media Kementerian PPPA, Fatahilah tanpa seremoni yang formalitas kemudian membuka pelatihan ini. Dalam sambutannya, beliau hanya menekankan bahwa pelatihan ini adalah dalam satu rangkaian dari kegiatan 3 Ends. Ada pelatihan, seminar dan jalan sehat yang bekerjasama dengan Pemkot Makassat. Adapun narasumber pelatihan adalah Peneliti Senior LSPP, Ignatius Haryanto, dan Ruth Indiah Rahayu, dan Jurnalis Multimedia, Ambang Priyonggo.

Ignatius Haryanto membawakan materi berjudul “Menuju Jurnalis dan Media Berperspektif Gender dan Anti Kekerasan”. Dosen di Universitas Multimedia Nusantara Tangerang ini mengupas tentang pentingnya memasukkan isu soal perlindungan dan pemberdayaan perempuan dalam dunia kerja. Anggapan masyarakat mengenai perempuan yang bekerja adalah “second income” di rumah tangga sehingga mengecilkan sistem reward atas prestasinya dalam bekerja. Padahal perempuan adalah tenaga kerja yang potensial baik di sektor formal dan informal. Keterlibatan media untuk mengangkat masalah ini akan memberi sebuah solusi atas persoalan dan bias yang terjadi baik di masyarakat ataupun di media selama ini.

Ibu Ruth Indiah Rahayu membawakan materi yang berjudul “Peta Masalah Gender dalam Media”. Ada suasana nostalgia dalam pemaparan materi ini. Beliau menyebutkan nama nama media yang hadir sekitar tahun 1970-an. Ada Kartini, Femina, Sarinah yang sangat berjaya pada masa itu. Beragam wanita dan kecantikan ditampilkan dalam majalah yang merupakan citra ideal feminitas Indonesia sesuai dengan slogan orde baru. Citra yang dimaksudkan adalah istri sebagai pendamping suami, pengurus rumah tangga, wanita yang melahirkan anak, pencari nafkah tambahan dan mengikuti kegiatan sosial sesuai dengan jabatan suami.

Citra feminitas yang berdekatan dalam diri perempuan selanjutnya menjadi target industri sehingga melahirkan produk produk kecantikan yang selalu diburu oleh kaum perempuan. Sampai saat ini, citra perempuan tidak pernah terlepas dari stigma bahwa mereka harus cantik dan menarik. Dengan demikian akan timbul ketidakadilan gender di dalam media karena lebih mengejar kepentingan profit semata. Hal tersebut akan melahirkan implikasi komodifikasi citra feminitas dalam hal posisi perempuan hanya sebagai obyek berita semata.

Materi selanjutnya dibawakan oleh Ambang dengan judul “Menetapkan Jurnalisme Sensitif Gender dan Peduli Anak”. Sepertinya materi ini lebih mudah saya pahami karena berhubungan dengan dunia anak meskipun dalam pemaparannya nara sumber tidak pernah menyentuh dunia anak. Dalam materi ini, beberapa contoh artikel dari media online tentang isu perempuan ditampilkan di layar. Ambang memberikan komentar tentang artikel tersebut baik dari segi judul, leader, isi berita dan foto.

Secara umum pelatihan ini memberikan nuansa baru bagi saya. Banyak rambu rambu dan etika penulisan berita yang harus diperhatikan terutama bila menulis tentang isu perempuan dan anak. Seperti harapan dari pihak Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, bahwa jurnalis adalah sebagai agen media diharapkan bisa memberikan edukasi kepada masyarakat melalui media yang berperspektif gender dan anti kekerasan.

Kegiatan pelatihan ini sekaligus dirangkaikan dengan rangka Kampanye Three Ends merupakan program unggulan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP dan PA) yang dilaksanakan di Makassar mulai tanggal 21-23 April 2017.

Three Ends Strategi yang dimaksud adalah End Violence Against Women and Children (Akhiri Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak); End Human Trafficking (Akhiri Perdagangan Manusia), dan End Barriers To Economic Justice (Akhiri ketidakadilan akses ekonomi untuk perempuan)

Rompi Dongkel dan Keajaiban Inovasi

Rompi Dongeng Keliling

Merupakan sebuah kebanggaan tersendiri ketika hari ini saya memakai rompi Dongkel With Library yang diserahkan langsung oleh Bapak Andi Siswanta selaku Kepala Dinas Perpustakaan Kota Makassar. Rompi yang berwarna dasar biru dengan tulisan Dongkel with Library di bagian belakang diserahkan kepada 4 orang pendongeng yang mewakili 20 pendongeng lainnya.

Mengapa saya sangat bangga?

Seperti kita ketahui bersama bahwa inovasi layanan umum yang bernama Dongeng Keliling (Dongkel) with Library menjadi salah satu nominator penerima penghargaan dari Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara.

Tidak mudah untuk mencapai Top 99, tercatat 3.054 inovasi pelayanan publik yang terdaftar melalui aplikasi Sistem Informasi Inovasi Pelayanan Publik (SiNovik). Dari hasil seleksi administrasi, terdapat 1.373 inovasi yang lolos ke tahap selanjutnya.
Dari jumlah itu, dilakukan desk evaluation oleh Tim Evaluasi, yang terdiri dari para dosen senior perguruan tinggi yang berpengalaman sebagai asesor pada perguruan tinggi. Hasilnya, terpilih 99 inovasi layanan publik. Kementerian PANRB akan memilih 40 Juara Inovasi yang merupakan inovasi terbaik tahun 2017. Untuk menuju Top 40, inovator harus mengikuti presentasi dan wawancara. Kehadiran pucuk pimpinan kementerian, lembaga, provinsi, kabupaten/kota atau BUMN dalam presentasi merupakan nilai lebih. Karena hal tersebut menunjukkan komitmen dari pimpinan tertinggi serta pemahaman terhadap inovasi pada instansi yang dipimpinnya.
Program Dongkel With Library yang merupakan salah satu inovasi yang berhasil lolos ke 99 besar akan menghadirkan langsung Walikota Makassar, Dany Pomanto untuk mengikuti sessi presentasi program. Presentasi dan wawancara akan dilangsungkan di Kementerian PANRB, mulai Kamis tanggal 20 April sampai dengan 5 Mei 2017. Secara bergantian para inovator Top 99 akan berhadapan dengan Tim Panel Independen selama 30 menit.
Selain presentasi, tim independen juga akan melakukan peninjauan langsung ke lokasi kegiatan. Direncanakan peninjauan ini akan dilaksanakan pada minggu pertama dan kedua bulan Mei 2017.

Perpustakaan Kota Makassar telah melakukan upaya konsolidasi bersama para pihak yang terkait dalam Dongkel with Library. Mereka adalah para pendongeng, supir dan petugas layanan keliling. Ketiga unsur tersebut adalah ujung tombak dari inovasi ini. Konsolidasi ini dimaksudkan untuk menyatukan persepsi tentang program Dongkel ini yang akan dipresentasikan oleh walikota Makassar nanti.

Tulus Wulan Juni selalu koordinator program Dongeng Keliling menyampaikan beberapa hal penting yang harus diketahui bersama oleh semua anggota tim. Konsolidasi ini dilakukan di Hotel Yasmin Makassar pada hari Kamis, 20 April 2017 seusai kegiatan Bedah Buku Karya Lokal “Anging Mammiri” karya Abdul Rasyid Idris.
Beberapa hal kembali ditekankan untuk diketahui bersama oleh semua tim Dongkel antara lain durasi dongeng dan durasi layanan perpustakaan keliling. Masukan dan usulan dari pendongeng juga sangat diperlukan agar kegiatan yang sudah berjalan 2 tahun ini dapat berjalan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Bukan hanya berjalan pada tahun ini saja, keberlangsungan Dongkel tetap harus dipertahankan untuk tahun selanjutnya.

Menurut rencana, penyerahan penghargaan Top 40 akan dilakukan pada bulan Juni, yang diharapkan bisa diserahkan langsung Presiden Joko Widodo dirangkai dnegan International Public Service Exhibition (IPSE) 2017. Pameran akbar inovasi pelayanan publik untuk memamerkan Top 99 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2017 di Jakarta Convention Center.

Semoga dongeng yang selalu membawa keajaiban bagi anak anak juga akan membawa keajaiban bagi Tim Dongeng Keliling untuk dapat menjadi juara layanan inovasi publik 2017, seperti apa yang dikatakan oleh Pak Fadly selalu Kepala Bidang Layanan Dinas Perpustakaan Kota Makassar bahwa lolosnya program Dongkel adalah karena kerja dan “keajaiban” bersama.

 

Pendekar Gambut dari Kubu Raya

Para Pendekar Gambut bersama Wakil Bupati Kubu Raya

Minggir dong
Minggir dong
Minggir dong!

Pendekar Gambut mau lewat
Gambut milik semua
Yang harus kita jaga

Minggir dong
Minggir dong
Minggir dong!

Lagu yang sangat populer untuk anak anak pramuka terdengar riuh yang dinyanyikan oleh 100 siswa yang berasal dari 9 SD di Kabupaten Kubu Raya Propinsi Kalimantan Barat.
Pagi itu, Selasa 18 April 2017 mereka diundang untuk mengikuti kegiatan Pemutaran Video Animasi dan Sosialisasi Komik “Mengenal Ekosistem Gambut” yang dilaksanakan di Aula Kantor Bupati Kubu Raya. Semangat dan rasa penasaran dari siswa dan guru nampak jelas terbukti dari kehadiran mereka yang tiba di lokasi kegiatan 1 jam sebelum kegiatan di mulai.

Kali ini Kak Heru menjadi host solo dikarenakan Ibu Lies sebagai partner untuk membawakan acara tiba tiba berhalangan datang. Namun guru-guru wali kelas sangat membantu kami dalam mengarahkan siswa untuk duduk rapi dan tertib.

Tepat pukul 08:30 WITA Bapak Hermanus selaku Wakil Bupati Kubu Raya memasuki ruangan aula yang sudah dipenuhi oleh tamu undangan. Siswa yang hadir duduk melantai di atas karpet merah sedangkan guru pendamping duduk di sisi kanan kanan aula. Di atas podium Bapak Hermanus didampingi oleh Kepala Dinas Pendidikan Kubu Raya dan Ibu Sherly dari Yayasan BaKTI.

Dalam kata pengantarnya, Ibu Sherly menyampaikan mengapa pelaksanaan kegiatan ini mengambil tempat di Kubu Raya. Disamping karena kabupaten ini sebagai salah satu kabupaten yang berlokasi di lahan gambut, letak Kubu Raya sangat strategis dan sangat mudah dijangkau karena sudah ada bandara Supadio yang lokasinya hanya 15 menit dari ibukota Kubu Raya.

Sedangkan Bapak Hermanus yang juga salah satu putra asli Dayak dalam sambutannya menekankan pentingnya menjaga hutan dan lahan gambut agar tetap lestari dan dapat dimanfaatkan secara bijak bagi kelangsungan hidup anak cucu kita kelak. “Anak-anak yang hadir hari ini, Insya Allah akan menjadi pemimpin di masa yang akan datang, untuk itu sangat penting untuk belajar sejak dini mengenai pengelolaan dan pemanfaatan gambut agar kelak anak-anak sekalian masih bisa menikmati cadangan karbon yang tersimpan di dalam gambut, menikmati kelimpahan vegetasi flora dan fauna penyanggah kehidupan kita”. Ujar Hermanus mengakhiri sambutannya.

Kini tiba, masuk ke acara inti pemutaran video animasi. Video animasi berdurasi 7 menit ini, menarik perhatian anak-anak, selain karena gambar/animasi juga kaya akan informasi mulai dari ciri-ciri gambut, habitat yang hidup di dalamnya, peran dan pemanfaatan gambut dalam kehidupan sehari-hari sampai pada bencana yang diakibatkan apabila gambut tidak dipelihara dengan baik. Di di awal dan di akhir sesi, kak Heru memberikan kuis seputar informasi yang ada dalam video yang telah ditonton. Lagi-lagi Kak Heru kewalahan dibuatnya memilih peserta, supaya adil harus ada keterwakilan tiap sekolah.

Sesi ini kemudian dilanjutkan dengan membaca beberapa halaman pada komik dan lagi-lagi ada kuis dan hadiah menarik menanti di akhir sesi ini. Dalam sesi membaca komik, siswa yang hadir dibagi menjadi 5 kelompok besar. Pembagian kelompok menjadi sangat menarik karena permainan ice breaking “Tempel Jari” yang membuat suasana menjadi riuh. Permainan ini mengharuskan setiap anak harus mencari teman yang bukan berasal dari satu sekolah. Sehingga semua siswa yang ada bisa mengenal satu sama lain.
Di setiap kelompok, mereka diberikan tugas untuk membuat nama kelompok yang berkaitan dengan ekosistem gambut. Nama kelompok menjadi sangat unik, ada kelompok Ekobut atau ekosistem gambut, ada kelompok Millenium, kelompok Peko atau penjaga ekosistem. Di setiap kelompok mereka berdiskusi untuk membuat satu pertanyaan yang diambil dari buku komik. Pertanyaan tersebut diajukan ke kelompok lainnya. Jawaban yang benar akan mendapatkan hadiah dari Kak Heru.
Dan ternyata semua pertanyaan yang diajukan oleh masing masing kelompok dapat dijawab dengan benar oleh 5 siswa yang berasal dari berbagai kelompok.

Di penghujung acara, sebelum siswa kembali ke kelompok sekolahnya masing masing, Kak Heru memberi tugas untuk mencatat nama teman yang hadir di bukunya komiknya. Mereka harus mengenal teman lainnya karena semua harus bisa membuat komitmen bahwa tugas menjaga gambut harus dilakukan bersama sama.

Ada yang menarik ketika Dicky, siswa kelas 4 SDN Sungai Raya yang ditanya kesan tentang acara ini, ” Saya suka hadiah dari Kak Heru!”. Kalimat yang keluar dari mulutnya dengan penuh semangat.
Sedangkan Aisyiah siswi SDN 9 Sungai Raya memberikan kesan bahwa komiknya sangat menarik dan mudah dimengerti isinya.
Dan lagu “Pendekar Gambut” kembali menjadi lagi penutup kegiatan.

Minggir dong
Minggir dong
Minggir dong!

Pendekar Gambut mau lewat
Gambut milik semua
Yang harus kita jaga

Minggir dong
Minggir dong
Minggir dong!

Sedekah Dongeng Dari Teman Sendiri

Kegiatan Sedekah Dongeng di SDN 30 Maros

Pelataran SDN 30 Maros di hari Sabtu pagi, 15 April 2017 nampak sudah penuh dengan celoteh ruang dari sekitar 500 murid murid. Mereka berasal dari SDN 30 dan 31 Maros. Mengenakan baju pramuka, mereka duduk dengan rapi di halaman depan sekolah. Bukan untuk latihan pramuka, namun pagi ini mereka akan mendengarkan dongeng  bersama Kak Heru yang diundang oleh Yatim Mandiri Maros. Hari ini ada kegiatan Sedekah Dongeng yang diadakan untuk mengedukasi keutamaan sedekah dalam bentuk dongeng. 

Meskipun duduk beralaskan koran, namun tak mengurangi antusias dan semangat untuk mendengarkan dongeng. Menurut Rini Nella, Kepala Cabang Yatim Mandiri Maros, kegiatan dongeng ini baru pertama kali dilaksanakan di sekolah ini.  Dari catatan perjalanan agenda dongeng yang saya miliki, kegiatan dongeng di Maros memang masih jarang dilakukan. Di awal tahun 2017 sampai bulan April ini, baru 3 sekolah yang melaksanakan kegiatan Sedekah Dongeng.

Setelah hampir satu jam mendengarkan dongeng dan aksi centil Si Bona, kegiatan dilanjutkan dengan penyuluhan kesehatan secara singkat Tim Kesehatan Yatim Mandiri. Sedangkan saya mulai membenahi si Bona. Beberapa murid murid mulai mendatangi saya sambil memanggil nama Bona. Lama kelamaan kerumunan menjadi bertambah banyak dan ingin berfoto dengan Bona. Memang dalam berbagai Bona selalu menarik perhatian anak anak. Dan untuk tidak mengecewakan mereka, sayapun segera mengatur barisan sesuai dengan kelas untuk sesi foto bersama Bona.

Perlu ekstra tenaga dan suara agar mereka antri sesuai dengan urutan. Agaknya kebiasaan antri masih sangat perlu diajarkan dan diterapkan secara berulang ulang agar mereka terbiasa tertib. Sesi foto pun dimulai dari kelas 1 sampai kelas 6 untuk SDN 30 dan 31 Maros. Tak ketinggalan  beberapa orang tua dan guru mengambil kesempatan untuk berfoto juga. 

Pihak Yatim Mandiri secara khusus memberikan bantuan beasiswa kepada murid sekolah ini. Sehingga hasil donasi yang telah dikumpulkan langsung dirasakan manfaatnya oleh murid muridnya. Donasi sebesar Rp. 3.292.000 diserahterimakan kepada Kepala Sekolah SDN 30 dan 31. Ibu Kasmawati selaku kepala sekolah SDN sangat senang dengan bantuan beasiswa yang diterima oleh muridnya. Beliau tidak menyangka bahwa kegiatan dongeng bisa dirangkaikan dengan penyerahan beasiswa juga. ” Teryata bantuan yang diterima ini berasal dari teman mereka sendiri. Ini adalah salah satu cara untuk meningkatkan budaya saling bantu terhadap sesama” ujar beliau.

Selain bantuan uang kepada murid, Yatim Mandiri juga menyerahkan bantuan makanan dalam bentuk daging sapi yang dikemas dalam kaleng. 

Belajar tentang Kejujuran di Warung Coto

Minggu pagi ini saya bersama keluarga menyempatkan diri menikmati Coto, salah satu dari 10 kuliner khas Kota Makassar. Salah satu warung Coto yang menjadi favorit kami adalah warung Coto Gagak. Dinamakan coto Gagak bukan karena menggunakan daging burung gagak, tapi ternyata tempat makan ini berada di Jalan Gagak 27 Makassar. Waktu baru menunjukkan pukul 08:30, namun suasana warung sudah terlihat ramai, banyak mobil parkir di depan tempat makan.

Ada dua jenis tempat makan yang disediakan Coto Gagak, yaitu yang biasa dan yang ber-AC. Tapi jika ingin merasakan sensasi makan coto yang nikmat, sebaiknya pilih tempat makan biasa yang masing menggunakan kipas angin.

Tempat makan yang satu itu jauh dari kesan modern. Bahkan, masih cenderung tradisional. Di bagian dalam, terdapat meja panjang dan kursi plastik. Ada ketupat berukuran mini, sambal, dan kecap tersaji di atas meja.

Tak hanya meja makan, ternyata ruangan tersebut menjadi satu dengan dapur. Anda pun bisa melihat langsung bagaimana coto diracik dan akhirnya tiba di meja pembeli.
Tak sampai 10 menit, pesanan saya datang. Dengan asap yang masih mengepul di mangkuk, saya mulai mencicipi coto dengan ketupat.

Biasanya saya makan semangkuk Coto yang berisi daging dan hati disertai dengan 2 potong ketupat sudah cukup mengenyangkan perut. Kita bisa memesan beberapa jenis olahan dalam semangkuk Coto. Bisa isi daging, hati, jantung, otak dan semuanya dicampur dalam satu mangkuk sesuai dengan selera. 

Setelah  selesai makan, langsung menuju kasir untuk membayar sejumlah harga sesuai dengan apa yang dimakan tadi. Nah, disinilah sebenarnya nilai sebuah kejujuran sedang terjadi. Kasir akan menanyakan apa saja yang telah dimakan oleh pembelinya. Sedangkan pembeli  akan menyebut jumlah mangkuk dan ketupat yang telah dimakan, termasuk juga makanan lainnya. Untuk warga Makassar biasanya mereka akan berkata ” 2 : 3 ” yang artinya 2 coto dan 3 ketupat. Kasir tidak akan mengecek lagi apa yang dimakan oleh pembeli. Tugasnya hanya menghitung total rupiah yang harus dibayarkan. Biasanya di samping meja kasir ada daftar harga yang bisa dilihat sembari pembeli membayar harga. Beberapa warung Coto lainnya menerapkan pola yang sama ketika pembeli akan membayar harga makanan. Sebagai pembeli, bisa saja mereka tidak menyebutkan dengan jujur apa saja yang sudah dimakan. 

Saya langsung teringat dengan salah satu motto yang didengungkan oleh lembaga anti rasuah di negeri ini. Motto tersebut berbunyi Berani-Jujur-Hebat. Kalimat itu selalu saya ajarkan kepada anak anak ketika mereka mendengarkan dongeng yang diambil dari buku dongeng KPK. Sebagai seorang pendongeng, tentu saja tugas utama hanya menyampaikan sebuah pesan kepada semua pendengarnya. Selanjutnya orang tua yang harus kembali menyampaikan pesan tadi secara berulang-ulang kepada anaknya. Salah satunya bisa dengan makan Coto tadi. Ajak ananda tercinta ke warung Coto, sambil menikmati lezatnya kuliner ini. Setelah selesai makan, mintalah anak untuk pergi ke kasir dan menyebutkan apa apa yang sudah dimakan oleh keluarga. Ajarkan anak untuk jujur dengan menghitung jenis jenis makanan tanpa harus mengurangi jumlahnya. Jadikan anak anak sebagai anak yang ‘Berani’ ke kasir  untuk berkata “Jujur” tentang jumlah Coto yang telah dimakan dan terakhir menjadi anak yang “Hebat” karena telah menerapkan nilai nilai anti korupsi sejak dini.

Mengajarkan kejujuran bisa dari warung Coto.

Video Animasi dan Buku Komik Ekosistem Gambut

Murid murid SD di Pelalawan menghadiri peluncuran komik Gambut

Apa yang membuat 100 murid datang beramai-ramai ke SDN 006 Kabupaten Pelalawan Riau ?

Seusai melakukan roadshow Sedekah Dongeng di Kota Kendari Sulawesi Tenggara, kembali saya melakukan perjalanan yang kali ini jaraknya cukup jauh dari Makassar. Yayasan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia atau BaKTI mengundang saya untuk menjadi host sebuah acara di Propinsi Riau. Dari schedule yang diberikan oleh BaKTI, kegiatan berlangsung mulai tanggal 11-14 April 2017 di Kabupaten Pelalawan yang berjarak sekitar 60 km dari Pekanbaru Riau.

Ini adalah pertama kalinya saya mengunjungi Pekanbaru, maka sayapun mencoba mencari rekan pendongeng yang tinggal di kota ini. Dan nama Kak Agus DS muncul di daftar kontak. Beliau adalah salah satu pendongeng senior yang seangkatan dengan Kak Seto dan Kak Kusomo. Saya pun menghubungi Kak Agus untuk memberitahukan kegiatan yang akan dilaksanakan di Kabupaten Pelalawan. 

Kota Pekanbaru sangat bersih!

Itulah kesan pertama ketika tiba di kota ini. Jalanan dari bandara ke kota cukup lebar dan asri. Di kiri kanan banyak pepohonan yang nampak hijau. Namun udara di kota ini juga sangat menyengat kulit. Maklum, Riau adalah salah satu propinsi yang terletak di atas lahan gambut. Nah, disinilah Yayasan BaKTI akan mengadakan sebuah kegiatan yang berkaitan dengan lahan gambut tadi. Kegiatan ini adalah Pemutaran Video Animasi dan Sosialisasi Buku Komik Mengenal Ekosistem Gambut.

Sebagian besar lahan gambut masih berupa hutan yang menjadi habitat tumbuhan dan satwa langka. Hutan gambut mempunyai kemampuan menyimpan karbon dalam jumlah yang besar. Karbon tersimpan mulai dari permukaan hingga di dalam dalam tanah, mengingat kedalamannya bisa mencapai lebih dari 10 meter.
Selain memiliki kemampuan menyimpan karbon dalam jumlah besar, tanah dalam ekosistem gambut juga mampu menyimpan air hingga 13 kali dari bobotnya. Oleh karena itu perannya sangat penting dalam hidrologi, seperti mengendalikan banjir saat musim penghujan dan mengeluarkan cadangan air saat kemarau panjang. Kerusakan yang terjadi pada lahan gambut bisa menyebabkan bencana bagi daerah sekitarnya
Sayangnya pengetahuan akan pentingnya ekosistem gambut masih sangat kecil diketahui oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Informasi terkait luas, ketebalan, dan bagaimana ekosistem ini mengalami perubahan tersedia dalam jumlah terbatas dan sering kali tidak akurat. Peran penting ekosistem gambut seperti menyimpan karbon dan air dalam bobot besar juga masih belum disadari.  Mendapatkan pengetahun yang lebih mendetail mengenai ekosistem gambut sangat diperlukan untuk dapat membantu para pengambil keputusan dalam mengelola dan atau melindungi ekosistem ini. Lebih banyak informasi perlu disebarluaskan kepada banyak pihak, dan terutama diperkenalkan sejak dini kepada anak-anak Indonesia.

Terbitnya Komik dan Video Animasi bertujuan untuk menjadi jendela visual yang menambah khazanah anak-anak usia Sekolah Dasar mengenai ekosistem gambut termasuk fungsi dan peran pentingnya. Pengetahuan yang baik mengenai ekosistem ini dapat menjadi dasar bagi anak-anak, calon pengambil keputusan pengelolaan lingkungan hidup di masa depan untuk dapat memanfaatkan dan mengelola ekosistem ini dengan baik.
Pengenalan akan beragam ekosistem gambut ini juga diharapkan dapat membuka wawasan mereka akan peluang-peluang yang tersedia di masa depan dalam mengelola sumberdaya dan melakukan inovasi teknologi pengelolaaan ekosistem ini.
Baik komik maupun video animasi akan mengadopsi konteks lokal dalam wilayah target Aktivitas Proyek Kemakmuran Hijau MCA-Indonesia.

Propinsi Riau dipilih sebagai tempat yang pertama  melaksanakan kegiatan ini. Pada hari Kamis, 13 April 2017, sebanyak 100 murid yang berasal dari SDN 006, SDN 007 dan SDN 012 diundang untuk mengikuti acara ini di salah satu aula SDN 006 Pelalawan. Dari database Dinas Pendidikan Kabupaten Pelalawan, SDN 006  termasuk dalam kategori Sekolah Bertaraf Internasional. 

Tepat pada pukul 09:00 WIB acara dimulai dengan membagikan pre test quiz kepada murid murid yang sudah duduk melantai di dalam aula. Kurang lebih 10 menit mereka diberikan waktu untuk menyelesaikan tugas tersebut. Setelah tugas pre test selesai, Ita Ibnu yang mewakili Yayasan BaKTI memberikan kata sambutan sebagai pengantar kegiatan. Dilanjutkan dengan sambutan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Pelalawan yang disampaikan oleh Bapak Asmadi. Dalam kata sambutannya Pak Asmadi bercerita tentang kampung halamannya di Indrahilir yang penuh dengan tanah gambut. 

Pemutaran video animasi membuat acara lebih meriah. Dipandu oleh 2 orang host, yaitu Kak Heru dan Pak Zein yang merupakan salah satu guru di SDN 006 Pelalawan, murid murid diajak untuk lebih mengenal lahan gambut dengan media video animasi yang cukup apik penampilannya. Di sessi ini, ada 4 orang murid yang mendapatkan hadiah karena menjawab dengan tepat pertanyaan yang diberikan oleh pembawa acara.

Sessi pembagian buku komik untuk semua murid yang hadir semakin membuat suasana semakin meriah. Mereka sangat senang dengan buku komik yang dibagikan kepada setiap murid. Buku komik yang dibuat oleh Yayasan BAKTI isinya sangat menarik dan atraktif. Komik ini berisi tentang asal usul tanah gambut yang terbentuk sekitar 40.000 tahun yang lalu. Juga memberikan edukasi tentang tanah gambut yang banyak mengandung carbon dan fungsinya sebagai salah satu penyerap air hujan. Tugas selanjutnya adalah membaca buku Komik tersebut karena setelah itu ada hadiah yang akan dibagikan lagi kepada mereka yang bisa menjawab pertanyaan seputar isi komik yang mereka baca. Dalam sessi ini, murid murid dibagi menjadi 5 kelompok dengan nama kelompok yang berbeda-beda. Nama kelompok diambil dari buku komik yang berkaitan dengan ekosistem gambut. Setiap kelompok kemudian diberikan waktu untuk berdiskusi dan membuat satu pertanyan yang nantinya akan dilontarkan kepada kelompok lainnya. 

Dan tak terasa sudah dua jam berlalu. Di akhir acara, Kak Heru mengajak semua murid untuk berkomitmen dalam menjaga lahan gambut yang berada di sekitar mereka. Sebuah lagu yang berjudul Penyelamat Gambut dinyanyikan bersama oleh 100 murid sebagai penguat pesan tentang betapa pentingnya lahan gambut dalam menjaga kelangsungan hidup manusia. Pengenalan akan beragam ekosistem gambut ini juga diharapkan dapat membuka wawasan mereka akan peluang-peluang yang tersedia di masa depan dalam mengelola sumberdaya dan melakukan inovasi teknologi pengelolaaan ekosistem ini.

Silakan menikmati animasinya disini :

 

 

 

 

Komik Mengenal Ekosistem Gambut

Pemutaran Video Animasi dan Sosialisasi Buku Komik

“Mengenal Ekosistem Gambut ”

Buku Komik Mengenal Ekosistem Gambut

Latar Belakang
Sebagian besar lahan gambut masih berupa hutan yang menjadi habitat tumbuhan dan satwa langka. Hutan gambut mempunyai kemampuan menyimpan karbon dalam jumlah yang besar. Karbon tersimpan mulai dari permukaan hingga di dalam dalam tanah, mengingat kedalamannya bisa mencapai lebih dari 10 meter.
Selain memiliki kemampuan menyimpan karbon dalam jumlah besar, tanah dalam ekosistem gambut juga mampu menyimpan air hingga 13 kali dari bobotnya. Oleh karena itu perannya sangat penting dalam hidrologi, seperti mengendalikan banjir saat musim penghujan dan mengeluarkan cadangan air saat kemarau panjang. Kerusakan yang terjadi pada lahan gambut bisa menyebabkan bencana bagi daerah sekitarnya
Sayangnya pengetahuan akan pentingnya ekosistem gambut masih sangat kecil diketahui oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Informasi terkait luas, ketebalan, dan bagaimana ekosistem ini mengalami perubahan tersedia dalam jumlah terbatas dan sering kali tidak akurat. Peran penting ekosistem gambut seperti menyimpan karbon dan air dalam bobot besar juga masih belum disadari.
Mendapatkan pengetahun yang lebih mendetail mengenai ekosistem gambut sangat diperlukan untuk dapat membantu para pengambil keputusan dalam mengelola dan atau melindungi ekosistem ini. Lebih banyak informasi perlu disebarluaskan kepada banyak pihak, dan terutama diperkenalkan sejak dini kepada anak-anak Indonesia.
Komik dan Video Animasi bertujuan untuk menjadi jendela visual yang menambah khazanah anak-anak usia Sekolah Dasar mengenai ekosistem gambut termasuk fungsi dan peran pentingnya. Pengetahuan yang baik mengenai ekosistem ini dapat menjadi dasar bagi anak-anak, calon pengambil keputusan pengelolaan lingkungan hidup di masa depan untuk dapat memanfaatkan dan mengelola ekosistem ini dengan baik.
Pengenalan akan beragam ekosistem gambut ini juga diharapkan dapat membuka wawasan mereka akan peluang-peluang yang tersedia di masa depan dalam mengelola sumberdaya dan melakukan inovasi teknologi pengelolaaan ekosistem ini.

Baik komik maupun video animasi akan mengadopsi konteks lokal dalam wilayah target Aktivitas Proyek Kemakmuran Hijau MCA-Indonesia.

Komik dan Video Animasi bertujuan untuk menjadi jendela visual yang menambah khazanah anak-anak usia Sekolah Dasar mengenai mengenai pengenalan ekosistem gambut di Indonesia. Selain itu, guru-guru dapat menggunakan komik dan video animasi ini, sebagai bahan ajar di kelas. Sebanyak 1000 eksemplar komik dan 1000 keping DVD akan dicetak dan didistribusikan kepada anak-anak usia Sekolah Dasar kelas 4,5 dan 6 serta guru-guru Sekolah Dasar di 6 Kabupaten yang memiliki lahan gambut di 4 Provinsi yaitu : Riau, Jambi, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.
Hasil yang diharapkan

Sebanyak tak kurang dari 600 anak dan guru sekolah menyaksikan video animasi dan menerima komik mengenai ekosistem gambut termasuk fungsi dan peran pentingnya. Pengenalan akan beragam ekosistem gambut ini juga diharapkan dapat membuka wawasan mereka akan peluang-peluang yang tersedia di masa depan dalam mengelola sumberdaya dan melakukan inovasi teknologi pengelolaaan ekosistem ini.
Peserta
Anak-anak usia Sekolah Dasar Kelas 4,5 dan 6 dan guru-guru Sekolah Dasar di Kabupaten Pelalawan, Riau; Kabupaten Muaro Jambi dan Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi; 1 Kabupaten di Kalimantan Barat dan 2 Kabupaten di Kalimantan Tengah.

Silakan mengunduh  Buku Komiknya pada link dibawah ini :

Buku Komik Mengenal Ekosistem Gambut