Dongeng Mencari Awan

Penampilan Safira di event BaKTI dan Unicef di Swiss Bell Hotel

Event Langkah Langkah menuju Akselerasi Universal Akses 2019.

UNICEF melakukan pendampingan di Sulawesi Selatan sejak 2013. Sejak pendampingan hingga saat ini, diidentifikasi bahwa Pokja AMPL kabupatenmaupun tokoh-tokoh masyarakat pada khususnya telah melakukan
berbagai kegiatan yang berhasil menciptakan perubahan didaerahnyakhususnya terkait Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Kesadaranmasyarakat mulai terbangun dan kolaborasi antar stakeholder telah terjalin
dan sinergi untuk bersama-sama mecapai tujuan pembangunan AMPL.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh Yayasan BaKTI bekerjasama dengan Unicef dan Bappeda Propinsi dan Kabupaten se Sulawesi Selatan.
Ditampilkan juga praktik-praktik cerdas terkait AMPL yang telah dilaksanakan di olehpelaku-pelaku pernbanqunan AMPL terpublikasi dan dapat menjadipembelajaran bagi stakeholder lainnya.

Ada dongeng bersama Safira Devi Amorita yang berjudul Mencari Awan bersama adik adik dari SD Pacinongan Makassar.

Berikut videonya :

 

Mengapa Harus Mudik?

Monumen Kota Kelahiran JK di batas kota Bone

Memasuki awal puasa Ramadhan 1438 H, biasanya orang mulai sibuk merencanakan mudik ke kampung halaman.
Kadang saya hanya punya senyum getir tiap mendengar kata ‘mudik’. Wong kampung halaman di sebuah desa kecil bernama Cepoko Sawit yang letaknya di Jawa Tengah. Cukup memakan biaya yang besar bila harus mudik kesana. Akhirnya pilihan saya untuk mudik adalah ke kampung halaman istri saya di Bone yang jaraknya sekitar 200 km dari Makassar.
Seperti biasa, istri tercinta dan Safira putri saya yang sudah beranjak dewasa menyiapkan segala perlengkapan mudik. Tas besar berisi pakaian, beberapa tas kecil untuk peralatan make up mereka berdua dan makanan ringan untuk oleh oleh keluarga di Bone. Sedangkan saya cukup menyiapkan ransel hitam berisi beberapa buku bacaan dan laptop.

Sebelum berangkat, saya sempat menyelesaikan beberapa dokumen yang diminta oleh salah seorang teman pendongeng di Jakarta. Namanya sama dengan nama saya, Kak Heru Prakoso yang sudah malang melintang cukup lama sebagai pendongeng dan pengisi acara di salah satu TV Nasional. Dokumen yang diminta adalah sertifikat nara sumber workshop dongeng yang pernah saya ikuti. Dokumen tersebut akan digunakan sebagai salah satu persyaratan untuk menjadi Tutor Pendongeng Nasional oleh Kemendiknas Republik Indonesia. Untunglah panitia yang pernah melaksanakan workshop pagi ini satu persatu sudah mengirimkan sertifikat nara sumber workshop. Mulai dari workshop dongeng di Bantaeng, Soppeng, Sinjai, Toraja dan Manado sudah membuat sertifikat yang dimaksud. Padahal sebelumnya saya tidak pernah berpikir untuk membuat sertifikat tersebut, ternyata dokumen itu sangat bermanfaat. Selesai mengirimkan dokumen melalui email, perjalanan mudikpun segera dimulai.

Mobil kecil si “Mona” berwarna merah kali ini ditumpangi oleh 5 orang. Saya dan “Mami” panggilan keluarga kami untuk ibu mertua duduk di depan. Sedangkan Safira, Andi Rima dan istri saya duduk di bagian belakang. Biasanya boneka Bona ikut juga Mudik, namun kali ini dia tetap tinggal di rumah ditemani oleh si Momo dan Winnetou boneka hasil karya istri saya ketika mengikuti workshop Puppet bersama Mbak Ria Papermoon.

Momo – Winnetou – Bona

Rute yang saya pilih melewati jalan tol reformasi dengan pertimbangan arus lalu lintas yang lebih lancar bila lewat jalan tol. Hari Kamis tanggal 25 Mei adalah hari libur nasional, biasanya jalan arteri Perintis Kemerdekaan macet di persimpangan bandara Sultan Hasanuddin Maros. Suasana jalan tol memang sangat lancar pagi ini, saking lancarnya beberapa beberapa mobil kadang saling berebutan hanya untuk masuk ke gerbang tol. Hasilnya ada 2 mobil yang saling menjepit ketika tidak ada yang saling mengalah untuk  antri di gerbang pembayaran tol Reformasi.

Rebutan Mudik di gerbang Tol Makassar

Sampai di ujung jalan tol yang berbatasan dengan simpang lima bandara Sultan Hasanuddin Maros jalanan mulai macet. Pertemuan arus lalu lintas antara jalan arteri Perintis Kemerdekaan dan Jalan Tol Reformasi membuat kemacetan cukup parah. Perlu sekitar 45 menit untuk bisa lolos dari kemacetan ini. Pembangunan under pass di kawasan ini belum nampak usai juga. Kabarnya menjelang Lebaran under pass ini akan difungsikan untuk mengurai kemacetan yang sudah setahun ini sering terjadi.

Memasuki Kabupaten Maros arus lalu lintas mulai lancar, apalagi di sepanjang jalan menuju ke arah Camba. Ada pemandangan menarik di daerah Pattunuang, di tempat ini banyak sekali gerombolan monyet hutan yang berdiri di sisi jalan. Beberapa pengendara berhenti sejenak untuk melihat kawanan monyet yang nampak duduk dengan rapi di tepi jalan. Kawanan ini terbagi menjadi beberapa kelompok kecil. Nampaknya kawanan monyet menunggu diberi makanan oleh pengendara yang lewat. Lucu sekali melihat kawanan monyet duduk dengan rapi dengan tatapan mata yang terlihat ingin makanan. Cukup melemparkan snack ke arah kawanan monyet, seketika langsung dikerubuti dan ludes tanpa sisa. Padahal terlihat ada papan kecil yang berisi pengumuman untuk tidak memberi makanan kepada kawanan monyet.

Pengendara di sepanjang area ini harus waspada mengemudi, jalanan yang berkelok kelok dan sempit serta banyaknya lubang bisa membuat pengendara roda dua terperosok dan jatuh. Sayapun menjadi salah satu korban akibat lubang tersebut, mobil Agya yang berpostur rendah satu kali terbentur dengan keras di salah satu lubang. Membuat saya terkejut dan kuatir dengan kondisi roda mobil yang bisa robek. Untungnya tidak ada sesuatu yang terjadi dengan roda mobil.

Kami singgah di salah satu mesjid di daerah Camba untuk sholat Ashar sekaligus untuk menjemput Tika, kemenakan saya yang tinggal bersama orangtuanya di salah satu proyek mesjid tempat saya sholat. Mesjidnya sementara dalam renovasi dan dibiayai oleh salah seorang dermawan yang tinggal tak jauh dari proyek. Pemandangan di sekitar mesjid sangat bagus untuk dinikmati, sayapun sempat berfoto dengan latar belakang bukit batu yang menjulang tinggi. Setelah berbincang sejenak dengan Mas Joko dan Titin, kamipun pamit untuk melanjutkan perjalanan ke Bone. Tika yang berumur 7 tahun menjadi penumpang tambahan di mobil.

Sekitar pukul 19:00 kami tiba di BTN Lonrae tempat mertua saya tinggal. Nampak Papi dengan wajah sumringah menjemput cucu cucunya yang turun dari mobil. Raut bahagia selalu terpancar bila kami mudik ke rumahnya.

Bagi saya mudik sebenarnya sebuah perjalanan spiritual, dimana kita dituntut harus sejenak meninggalkan segala hiruk pikuk kota dan rumitnya pekerjaan kita. Sebuah perjalanan dimana kita kembali melihat jejak jejak kita sebelum menjadi apa-apa atau siapa-siapa. Dan saat inilah kita semua tunduk dan bersimpuh di kaki orang tua kita untuk meminta maaf atas segala dosa dan khilaf kita selama ini. Ketika semua tangan saling berjabat, ketika semua bibir tersenyum dan ketika semua kata maaf diucap, tiada hal di dunia ini yang bisa menggantikan saat seperti ini. Ratusan kilo dan jutaan rupiah tidak bisa menghalangi untuk merasakan kembali hari seperti ini. Jadi ketika banyak yang bertanya kenapa mereka mengorbankan apa saja demi mudik, mungkin mereka yang tidak pernah melakukan perjalanan ini tidak akan pernah tahu nikmatnya mudik.

Saya selalu menikmati setiap bagian dari mudik ini. Sebuah kilas balik dari sejarah hidup kita. Yang terkadang kita lupakan dan tanpa sadari dari sinilah kita bisa sampai berdiri dan duduk di posisi kita saat ini. Dan ini adalah tulisan pertama saya tentang mudik.

Anak Makassar mencari ikan
Perahu cadik berlayar ke lautan
Sambil menunggu datangnya Ramadhan
Jari bertaut memohon ampunan

Burung Camar burung Merpati
Sayapnya hitam tanda tercoreng
Bila ada cerita tak berkenan di hati
Maafkan daku yang hanya seorang pendongeng

Selamat menyambut Bulan Ramadhan 1438 H

Special Program MIWF for Kids

Diskusi bersama Clara Ng, Ria Papermoon dan Kak Heru

“Sebuah program untuk anak anak, orang tua dan guru yang ingin belajar dan menikmati indahnya dongengnya”

Kalimat itu terpampang jelas dalam buku program Makassar International Writers Festival yang kali ini memasuki tahun ke-7. Selama 3 hari mulai dari 17-20 Mei 2017, publik Makassar dimanjakan dengan kegiatan literasi terbesar di Kawasan Timur Indonesia. Bagi saya yang sudah hampir 3 tahun dilibatkan dalam kegiatan ini, tahun ini adalah tahun yang amat spesial untuk program Kids Corner. Ada 3 nara sumber yang dihadirkan oleh panitia khusus untuk kegiatan StoryTelling di Kids Program, mereka antara lain Clara Ng, penulis buku anak; Ria Papermoon dari Yogyakarta; Wendy Miller dari Australia dan tentunya didukung oleh Rumah Dongeng.

Pesta Pendidikan 2017

Kegiatan pra event MIWF dimulai tanggal 15 Mei 2017 di salah satu sudut gedung Benteng Rotterdam Makassar. Sore itu, Clara Ng dan Ria Papermoon serta Kak Heru sebagai moderator berbicara tentang Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Membaca. Meskipun Clara berlatar belakang sebagai penulis, banyak tips membaca yang diberikan dalam diskusi ini. Salah satunya adalah rumus Tangga Membaca 5M 1B. M yang pertama adalah Meramal, M yang kedua Melamun, M yang ketiga Mengait, M yang keempat Mengklarifikasi, M yang kelima Mengevaluasi dan B yang terakhir adalah Bertanya.

“Meramal dalam tangga membaca ini berhubungan dengan imajinasi pembaca. Ketika anak membaca, kira kira apa yang akan terjadi di halaman selanjutnya?” ungkap Clara ketika menjelaskan M yang pertama. Menurutnya, kekuatan imajinasi akan membuat anak merasa penasaran dengan kelanjutan dari isi buku yang dibaca oleh anak. Apakah tokohnya berhasil memecahkan sebuah masalah?
Ria Papermoon membeberkan kaitan rumus Tangga Membaca pada point terakhir, yaitu Bertanya.
“Papermoon dalam membuat sebuah konsep cerita akan selalu riset dan bertanya ke berbagai nara sumber. Saya akan selalu bertanya ke berbagai macam orang ketika membuat naskah”, ungkap pendiri kelompok teater boneka Papermoon yang berdiri sejak tahun 2006. Ria Papermoon juga menjelaskan bahwa menerjemahkan sebuah naskah yang penuh dengan kata ke dalam konsep boneka tanpa kata merupakan suatu kesulitan tersendiri baginya.
“Kekuatan utama Papermoon adalah penampilan boneka tanpa kata. Dalam setiap penampilan kami berupaya untuk meminimalisasi penggunaan kata”.

Kalimat terakhir itu membuat Arif, salah seorang peserta diskusi semakin penasaran. Dalam sesi tanya jawab dia langsung menanyakan hal tersebut kepada Ria.
“Kami saja yang sudah maksimal untuk berlatih dialog kadang kadang penonton belum mengerti dengan alur ceritanya. Ini Papermoon kok malah menampilkan pertunjukan tanpa kata. Bagaimana membuat penonton bisa mengerti?” tanya Arif yang aktif dalam pertunjukan sinrilik di berbagai negara.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Ria menyarankan Arif untuk mengikuti sessi Workshop Puppetry For Beginner yang berlangsung selama 2 hari mulai tanggal 15-16 Mei 2017.

Workshop Puppet Papermoon
Selama 2 hari sebanyak 18 peserta mendapatkan pelatihan langsung dari 2 nara sumber utama yaitu Ria selaku Founder Papermoon Puppet Teater dan Iwan selalu Artistic Director. Keduanya  memberikan materi yang terbagi menjadi 2 hari pelaksanaan workshop. Di hari pertama peserta diberikan materi  “Puppet making for Beginners”. Bahan utama pembuatan boneka adalah kertas koran. Secara detail peserta diajari cara membuat boneka, mulai dari kaki sampai kepala boneka. Peserta dibagi menjadi 3 kelompok sekaligus mendapatkan tugas yang berbeda di setiap kelompoknya. Mereka harus membuat sebuah konsep cerita yang kemudian diwujudkan dalam bentuk boneka.

Workshop Puppet Papermoon di MIWF

Di hari kedua, kegiatan workshop dilanjutkan dengan materi “Object and Puppetry”. Boneka yang dibuat harus sesuai dengan konsep cerita dalam masing masing kelompok. Tema anak anak diberikan untuk kelompok 1, tema orangtua untuk kelompok 2 dan tema suami istri untuk kelompok 3. Setiap kelompok akan diberikan kesempatan untuk tampil pada acara pembukaan MIWF tanggal 17 Mei 2017.

General Lecture
Aula Aksa Mahmud Universitas Bosowa yang berlokasi di Jl Urip Sumohardjo menjadi tempat dilaksanakannya kuliah umum bersama Clara Ng pada hari Selasa 16 Mei 2017. Tema yang diambil dalam kuliah umum ini adalah StoryTelling Empathy :
Moral in Everywhere and Children’s Literature. Dekan Fakultas Psikologi Unibos, Minarni mengapresiasi kegiatan MIWF 2017 yang dikhususkan untuk mahasiswa Fakultas Psikologi Unibos.

General Lecture bersama Clara

Clara mengawali kuliah umum ini dengan mengenalkan konsep moralitas versi Jonathan Hegde. Menurutnya, moralitas erat kaitannya dengan emosi atau feeling manusia. Selanjutnya Clara memberikan beberapa contoh buku buku anak yang banyak mengandung nilai moral bagi anak anak. Buku tersebut antara lain The Big Orange Splot, Harold and the Purple Crayon, Let’s Do Nothing, Morris the Moose, Stella Linna dan Dru karya Clara Ng.

Diskusi The Power of Story

Mengawali kegiatan Kids Program MIWF 2017, diadakan diskusi yang membahas tentang Kekuatan Bercerita di area Taman Baca. Bincang santai di sore hari menghadirkan Ria Papermoon Puppet Theather dan Clara Ng  serta dipandu oleh kak Heru dari Rumah Dongeng. Kedua nara sumber, berbicara tentang dahsyatnya dongeng bagi anak anak dan orang tua. Dongeng akan selalu menghadirkan imajinasi, baik melalui buku atau boneka.
Pengunjung yang hadir sempat dibuat takjub oleh penampilan Ria yang memperagakan kemampuannya bermain boneka tanpa kata.

Panel Discussion:
How to Rise Readers in Your Family

Di hari kedua, Kamis 18 Mei 2017 berlangsung kegiatan Diskusi Panel dengan menghadirkan nara sumber yaitu Hasanuddin Abdurakhman dan Matsui Kazuhisa dan Wendy Miller sebagai moderator.

Mr. Hasan lebih menekankan bahwa tehnologi sangat membantu anak anak untuk mengenal dan menyukai buku.

Mr. Kazuhisa berbicara tentang kisahnya ketika dia masih kecil suka didongengkan oleh ibunya. Dongeng yang diceritakan sangat membantu imajinasinya dalam memahami sebuah kisah. Dongeng yang dibacakan oleh ibunya sangat ekspresif dan beliau kagum dengan kemampuan ibunya dalam menirukan suara suara hewan ketika sedang mendongeng.

Wendy Miller membeberkan kegiatan membaca di Australia dimulai dari umur 0 -18 bulan di perpustakaan daerah. Jenis buku tergantung dari usia anak, dengan gambar yang menarik bagi mereka. Ada yang menarik ketika Wendy berbicara tentang Dog’s Read, anak anak yang malu ketika sedang belajar membaca di depan temannya atau di kelas dapat menggunakan hewan sebagai teman membacanya.

Dalam sessi tanya jawab, Mey dari komunitas Sokola Kaki Langit mengungkapkan betapa sekolah binaannya sangat kurang dengan media baca. Bahkan ketika ditunjukkan dengan buku, anak anak binaannya malah bertanya “apa itu Kak?”

Menarik sekali diskusi sore ini karena kita bisa mengetahui bagaimana budaya baca di 3 negara yang berbeda. Dari ketiga nara sumber yang hadir ada satu titik temu bagaimana meningkatkan budaya baca bagi anak anak. Mereka sepakat untuk menggunakan dongeng sebagai satu satunya cara yang menarik bagi anak dalam mengenalkan literasi sejak dini.

Kid’s Corner: StoryTelling Show
Di hari ke-3 dan ke-4, adalah hari yang dinantikan oleh anak anak. Ada dongeng bersama Kak Heru dari Rumah Dongeng Indonesia, Wendy Miller yang khusus datang setiap tahun dengan cerita khas Australia. Ada juga Mami Kiko dengan dongeng Timun Mas dan Kak Titi dengan dengan Piknik di Kumbinesia.


Secara khusus ada penampilan Farah, pendongeng cilik dari Pangkep yang membawakan cerita tentang asal usul Kampung JawaE yang ada di kabupaten Pangkep. Murid kelas 5 SD ini fasih mengolah cerita rakyat yang menceritakan tentang kerajaan Labakkang dan kerajaan Madura yang mengadakan pertandingan laga fisik. Atas kemenangan panglima Labakkang akhirnya raja Madura memberikan hadiah berupa kendi. Dimanapun kendi itu berlabuh, maka disitulah tanah yang dapat ditempati oleh orang orang Madura sebagai hadiah kemenangan panglima Labakkang. Kehadiran Kak Safira, pendongeng yang setiap tahun selalu hadir di MIWF sejak tahun 2013 membuat keriuhan anak anak semakin ramai. Selain dongeng, penampilan kelompok girl band Happy Belle yang membawakan 2 lagu dan artis cilik yang menyanyikan Lagu The Power of Love juga membuat suasana Kids Corner semakin meriah. 

Sampai bertemu di MIWF tahun depan…!

Dongeng Keliling Mendapatkan Penghargaan Nasional 2017

Top Inovik 2017 (foto by Fajaronline)

Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemempan RB) kembali menetapkan Top 99 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2017.

Menurut Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Reformasi Birokrasi (Menpan RB), Asman Abnur, untuk meraih top 99 inovasi nasional tersebut tidaklah gampang.

“Tidak mudah untuk mencapai Top 99, yang pada dasarnya merupakan inovasi terbaik di tingkat nasional ini. Dalam kompetisi tahun 2017 ini, tercatat 3.054 inovasi pelayanan publik yang terdaftar melalui aplikasi Sistem Informasi Inovasi Pelayanan Publik (SiNovik) dan berkompetisi,” ucapnya, di sela- sela penganugerahan penghargaan Top 99 inovasi pelayanan publik nasional 2017 di Gelora Joko Samudro, Gresik, Jawa Timur, Sabtu (20/5).

Penetapan diperoleh setelah melalui evaluasi mendalam dan menetapkan 20 kementerian, 3 lembaga, 21 provinsi, 34 kabupaten, 15 kota, 2 BUMN, dan 4 BUMD sebagai peraih Top 99 Inovasi Pelayanan Publik Tahun ini.

Untuk kategori kota, Pemerintah Kota Makassar berhasil menempatkan dua program unggulannya masuk di jejeran 99 inovasi tersebut. Program itu yakni Dongeng Keliling (Dongkel) with mobile library yang dikembangkan di Dinas Perpustakaan dan Lorong Sehat (Longset) oleh Dinas Kesehatan Pemerintah Kota Makassar.

Asman Abnur menjeaskan dari hasil seleksi administrasi, terdapat 1.373 inovasi yang lolos ke tahap selanjutnya. Dari jumlah itu, dilakukan desk evaluation oleh Tim Evaluasi, yang terdiri dari para dosen senior perguruan tinggi yang berpengalaman sebagai asesor. Hasilnya, terpilih 150 proposal dengan nilai tertinggi untuk diserahkan kepada Tim Panel Independen.

Tim yang diketuai oleh mantan Kapala Lembaga Administrasi Negara (LAN) Prof J.B. Kristiadi ini terdiri dari figur dari berbagai profesi dan mempunyai minat dalam pelayanan pelayanan publik, seperti mantan Wamen PANRB Prof. Eko Prasojo, Prof. Siti Zuhro dan lain-lain. Tim Panel Independen ini melakukan review kemudian memilih Top 99 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2017.

“Sengaja kami pilih tim juri ini karena meski disiram air tidak akan basah. Kami jamin 99,9 persen tidak akan terkontaminasi. Jadi penilaian masuk di top 99 ini benar- benar murni. Kepala daerah yang hadir di sini benar- benar kepala daerah terbaik yang menjadi model pelayanan publik ke depan,” pungkasnya.

Wali Kota Makassar, Moh. Ramdhan ‘Danny’ Pomanto menjelaskan, Dongkel adalah terobosan Pemkot Makassar melalui Dinas Perpustakaan untuk mendongkrak minat baca warga utamanya dikalangan pelajar. Petugas dari Dinas Perpustakaan berkeliling membacakan dongeng kepada anak- anak dan pelajar.

“Namun dongeng yang diceritakan sengaja tidak diselesaikan. Anak- anak atau pelajar inilah nantinya yang dianjurkan mencari sendiri kelanjutan ceritanya pada buku- buku yang di sediakan sehingga rasa penasaran akan cerita lengkapnya secara tidak sadar telah mendongkel minat baca mereka,” terang Danny.

Sementara Longset yang menjadi trobosan Dinas Kesehatan Makassar merupakan upaya menyehatkan lorong- lorong dengan dibantu Puskesmas masing- masing kecamatan.

Adapun syarat penetapan Longset yakni lorong yang dimaksud terdapat fasilitas kesehatan, dan berjalannya program keaehatan lainnya seperti program keluarga berencana (KB), imunisasi dasar lengkap, asi eksklusif, pemantauan pertumbuhan bayi, dan penanganan tubekolosis yang sesuai standar.

“Semua itu harus lengkap dan benar-benar mampu diterapkan oleh masyarakat setempat. Artinya kita harus memaksimalkan pelibatan warga yang ada di dalam lorong. Jadi tidak hanya lorong yang cantik, tapi warganya juga sehat,” kata Danny. 

Sumber : FajarOnline

Ngopi di Fort Rotterdam bareng KPK

Ngobrol Publik di Pesta Pendidikan

Ajakan dari Kang Sandri untuk Ngopi bareng di salah satu sudut bangunan Benteng Rotterdam membuat saya bergegas melangkah ke tempatnya. Rasa kantuk pagi masih terasa di kepala, hasil begadang seusai melaksanakan Workshop Mendongeng Kreatif KPK di hari sebelumnya. Mungkin dengan segelas kopi akan membuat semangatku bangkit lagi.
Bertempat di belakang Gedung D Museum Lagaligo Makassar, kegiatan Ngopi yang nggak pakai kopi sudah siap berlangsung. Ah… ternyata Kang Sandri pandai selalu membuat frase singkatan nama. Ngopi pagi ini ternyata adalah Ngobrol Pengalaman Inspiratif. Salah satu kegiatan Ngobrol Publik di Pesta Pendidikan 2017.
Ternyata di area belakang museum ada sebuah taman kecil yang letaknya cukup tersembunyi dari keramaian acara Pesta Pendidikan. Di tengah taman ada sebuah replika perahu yang ukurannya cukup besar. Perahunya adalah ciri khas bentuk tradisional nelayan Makassar dan dicat warna putih tanpa menorehkan nama di dindingnya. Pengunjung boleh berfoto di atas perahu atau hanya sekedar nampang di depannya.

Kegiatan Ngopi ini dimoderasi oleh Kang Sandri menghadirkan 3 nara sumber, mereka adalah Kak Heru dari Rumah Dongeng Indonesia, Kak Karin dari Elmuloka Bandung dan Kak Rona Mentari dari Rumah Dongeng Mentari Yogyakarta. Di deretan pengunjung sudah hadir peserta yang berasal dari berbagai latar belakang dan tentu saja mereka adalah orang orang yang peduli dengan Dongeng. Tema obrolan memang sangat keren dan sedikit bombastis, terpampang di dinding museum kalimat Membangun Karakter Anak Berani Jujur Dengan Dongeng.
Kang Sandri mengawali acara dengan memutarkan video profil ketiga nara sumber. Nampak sebuah tayangan bergerak yang menampilkan Rona Mentari yang nampak piawai dalam memainkan gitar okulele sambil mendongeng di depan anak anak. Rona Mentari hanya bisa tertawa saat mengisahkan masa kecilnya. Sebagai tukang dongeng, dirinya sama sekali tak menyangka jadi jagoan ngomong di mana-mana, di hadapan banyak orang pula.

“Dulu aku itu penakut. Saking penakut aku pernah ngompol karena digertak atau dibentak,” ujar Rona terbahak ketika Kang Sandri bertanya tentang alasannya menjadi pendongeng.

Sedangkan Kak Karin mengungkap bahwa tugasnya sebagai pustakawan di Elmuloka membuat dirinya berkeinginan untuk menjadi pendongeng. “Mungkin karena tuntutan tugas yang membuat saya ingin menjadi pendongeng.” Dari namanya, Elmuloka yang berasal dari bahasa Sunda, yang berarti tempatnya ilmu pengetahuan.
Sedangkan Kak Heru mengungkapkan alasan yang cukup mengejutkan ketika ditanya alasan menjadi pendongeng.
“Itu adalah sebuah kecelakaan!”, ujar ayah dari Safira seorang pendongeng remaja yang telah berkiprah di tingkat internasional.
“Tugas saya hanya mendampingi Safira ketika dia mendongeng. Nah suatu saat ketika Safira diundang mendongeng, tiba tiba dia berhalangan hadir. Pihak panitia menunjuk saya untuk menggantikan Safira. Mereka pikir, kalo anaknya jago dongeng pasti ayahnya lebih jago”.
Dan itulah untuk pertama kalinya Kak Heru tampil mendongeng di depan anak anak.
Di depan sekitar 40 peserta diskusi, Kang Sandri juga menjelaskan bahwa dukungan pencegahan korupsi menjadi salah satu prioritas KPK. Melalui berbagai komunitas dongeng hingga sekarang KPK sudah membuat kanal khusus untuk dongeng Anti Korupsi yang bisa diakses di http://kanal.kpk.go.id.
“Silakan mengunjungi kanal tersebut. Banyak dongeng yang bisa dilihat dan didownload bagi guru yang ingin belajar mendongeng”, ungkap Kang Sandri.
Saat ini kanal KPK sudah banyak diisi berbagai macam dongeng yang bertema Jujur Berani dan Hebat dari berbagai komunitas yang ada di Indonesia.

Sedangkan Kak Rona mengajak semua peserta untuk mulai mendongeng.
“Semua orang bisa mendongeng. Karena mendongeng itu mudah.
Kepercayaan diri juga akan terbentuk melalui dongeng,” ujarnya. “Kalau enggak percaya diri, orang akan susah berkembang.” Dongeng menurut dia membuka banyak jalan menjadi orang yang tidak takut untuk belajar apapun”.

Sedangkan Kak Karin mengungkap hal yang sama. “Saya tak pandai mendongeng seperti gayanya Kak Rona atau Kak Heru. Ketika mendongeng saya biasanya membuat sebuah karya dari bahan bahan yang mudah didapat, seperti kertas koran atau karton yang bisa menjadi media dongeng.Jadi mendongeng bisa dengan berbagai cara”. Ketika workshop mendongeng kreatif yang dilaksanakan sehari sebelumnya, penampilan Kak Karin menggunakan media kertas yang di rubah menjadi baju pelampung yang digunakan untuk menolong seorang anak yang jatuh ke laut.
Lain halnya dengan Kak Heru yang selalu membawa boneka ketika mendongeng. Nama bonekanya adalah Bona yang berasal dari Bahasa Sangsekerta yang berarti Si Pembawa Pesan.
“Bona adalah sang ‘Messenger’ yang selalu membawa pesan pesan menarik untuk anak anak,”. Meskipun pesan yang dibawakan Bona kadang agak nakal namun tetap ada pesan rahasia di dalamnya.

Di akhir acara yang berlangsung selir 45 menit, Kang Sandri memaparkan sebuah rencana untuk membuat kegiatan untuk para pendongeng.
“KPK juga akan memprogramkan kegiatan Jambore Pendongeng Nusantara yang akan dilaksanakan tahun depan. Tempatnya bisa jadi di Makassar”, ujar moderator yang ternyata ingin menjadi pendongeng di akhir acara Ngopi.

 

 

 

Si Kumbi Ke Makassar : Workshop Mendongeng Kreatif KPK RI

Workshop Dongeng Kreatif bersama KPK RI

Untuk pertama kalinya Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia mengadakan pelatihan mendong8eng bagi 45 guru TK dan SD di Makassar.  Workshop yang diadakan  ini adalah sebuah kolaborasi antara KPK dengan Komunitas Rumah Dongeng Indonesia yang dirangkaian dengan kegiatan Pesta Pendidikan 2017. Adapun tujuan kegiatan ini adalah untuk mengimplementasikan nilai-nilai antikorupsi pada program “Tunas Integritas” dengan tokoh  si Kumbi, seekor kumbang  yang membawa pesan humanis dan antikorupsi bagi anak anak.

Workshop dengan tema Pendongeng Keren Bercerita Untuk Anak Indonesia berlangsung di Hotel Jakarta di Jalan Ance Dg. Ngoyo Makassar, Sabtu(13/5/2017). “Kumbi yang dimaksud adalah Kumbang Pemakan Kotoran atau disingkat KPK. Mirip dengan singkatan Komisi Pemberantasan Korupsi. Kumbi digambarkan sebagai hewan yang senantiasa mau membersihkan kotoran-kotoran di sekitar taman.,” ujar Sandri Justiana, Fungsional pada Direktorat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat (Dikyanmas) KPK.

Dalam kegiatan workshop ini KPK menghadirkan tiga orang narasumber, yaitu Kak Heru dari Rumah Dongeng Indonesia, Kak Rona Mentari dari Rumah Dongeng Mentari Yogyakarta dan Kak Karin dari Elmuloka Bandung. Ketiga nara sumber ini memiliki kemampuan mendongeng dengan gaya yang berbeda. Kak Heru dengan teknik “Read Aloud”, Kak Rona dengan gaya “Musical” dan Kak Karin dengan gaya “Creative Storytelling”.
Melalui workshop ini, para guru diharapkan dapat menerapkan nilai-nilai antikorupsi di sekolah masing-masing sehingga akan melahirkan sebuah generasi berintegritas. “Jangankan korupsi, kepikiran pun tidak. Inilah generasi yang di kemudian hari akan memimpin bangsa besar ini,” tambah Sandri.

Sebagai penambah amunisi bagi para Pendongeng Keren ini, KPK membagikan buku dongeng sebanyak 5 buku untuk masing masing peserta workshop. Melalui buku ini, KPK ingin menanamkan nilai-nilai antikorupsi kepada anak-anak dengan beragam cerita yang menyenangkan, menghibur, dan tidak menggurui. Keunggulan buku ini adalah dalam satu paket terdapat lima genre, yakni fabel, realistis kontemporer, dongeng, cerita fantasi, aktivitas anak, dan ditambah interaktif. Setiap buku juga memiliki style dan ilustrasi yang berbeda-beda agar dapat memberikan stimulasi visual bagi anak-anak.

Metode pelatihan dalam workshop ini dilakukan melalui teknik kelas besar dan kelas kecil. Untuk kelas besar, secara umum Sandri Justiana memberikan pengetahuan tentang 9 nilai dasar anti korupsi yang harus dimiliki oleh anak Indonesia. Peserta juga diminta untuk membuat gambaran tentang Indonesia 2045 yang bebas dari korupsi. Sedangkan di kelas kecil, masing masing nara sumber memberikan teknik mendongeng sesuai dengan keahliannya masing masing. Materi dongeng diambil dari serial si Kumbi, Piknik di Kumbinesia, Modo Tak Mau Menari, Keranjang Untuk Osyi, dan masih banyak judul lainnya.

 

 

Paupau ri Kadong : Buku Dongeng Makassar

Paupau ri Kadong Buku Dongeng Makassar

Kembali saya menerima undangan dari Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Makassar  untuk hadir dalam acara Bedah Buku Terbitan Lokal. Ini adalah kedua kalinya saya diundang setelah bulan lalu hadir di acara yang sama di salah satu hotel di kawasan China Town Makassar. Yang menarik bagi saya adalah ajakan dari TWJ alias Tulus Wulan Juni bagi para pendongeng.

“Dalam buku ini banyak sekali dongeng yang wajib dibawakan oleh tim DongKel loh..!. Salah satunya adalah kisah Si Dungu yang lucu. Saya sampai tertawa terbahak-bahak ketika membacanya!”, ucap pustakawan teladan nasional ini dalam akun Facebooknya. Makin penasaran saja rasanya ingin melihat langsung buku yang berjudul Pau Pau Ri Kadong.

Keesokan pagi di hari Rabu, 10 Mei 2017 tepat pukul 08:45 saya sudah hadir di tempat acara Bedah Buku. Setelah mengisi deretan daftar hadir sebanyak 3 rangkap dan berita acara serah terima buku, akhirnya buku yang berdampak kuning muda sudah ada di tangan. Sampulnya bergambar seorang lelaki berjenggot yang sedang duduk dan dikelilingi oleh beberapa pemuda. Dalam gambaran saya, bisa jadi lelaki tua itu sedang “mendongeng” sebuah cerita khas Makassar dan nampak 5 orang duduk dan serius mendengarkan ceritanya. Dibawah gambar tersebut tertulis nama Nurdin Yusuf – Sherly Asriani – Ridwan yang merupakan penulis buku ini.

Saya langsung membuka segel plastik yang membungkus buku ini. Rasa penasaran dari tadi malam membuat jari tanganku langsung mencari deretan 23 cerita yang terpampang di halaman judul. Mataku langsung terpaku di judul Si Dungu yang berada di halaman 98. Sembari duduk di jejeran kursi paling depan, secepat kilat saya buka halaman 98 dan mulai membacanya perlahan-lahan. Isinya bercerita tentang seorang anak yang sangat bodoh dan malas ke sekolahnya. Bila diberi tugas oleh ayahnya, pasti hasilnya selalu salah. Ketika disuruh oleh ayahnya untuk menyalakan rokok, si dungu malah membakar rokok itu sampai habis. Juga ketika disuruh oleh ayahnya untuk membeli korek api, si dungu malah mencoba satu persatu isi korek api sampai habis. Saya langsung teringat dengan salah satu pendongeng cilik dari SD Inpres Galangan Kapal IV yang membawakan cerita yang berjudul La Bengo. Cerita tersebut membawanya menjadi juara 1 Lomba Bercerita tingkat Kota Makassar. Antara cerita La Bengo dengan Si Dungu isinya hampir sama.

Ada juga cerita betapa serunya jika petani tahu bahasa binatang peliharaannya sendiri dalam judul Petani dan Ternaknya di bagian 13. Sedangkan dalam judul Nasib di Tangan Tuhan ada seseorang yang  saat jatuh miskin dan sengsara ingin segera mati. Si miskin malah berteman dengan Malaikat Pencabut Nyawa.  Akan tetapi ketika nasibnya berubah  dan sudah menikmati betapa enaknya jadi orang kaya, dia lupa akan kematian.
Saya juga tak menyangka bila pengarang buku bertajuk “Paupau ri Kadong” ini usianya 78 tahun. Di usia yang sudah cukup lanjut ternyata Nurdin Yusuf masih aktif menelorkan karya tulisnya.
“Bapak berkeliling ke beberapa daerah di Sulawesi Selatan untuk mengumpulkan dongeng ini. Dongeng yang dikisahkan oleh temannya di kampung kemudian direkam langsung oleh Bapak dalam bentuk pita kaset,” papar Sherly anak dari Nurdin Yusuf sekaligus salah satu pengarang buku ini.
“Sayangnya pernah ada kejadian banjir dirumah dan pita kaset terendam air. Rusak semua kasetnya. Dan hilang juga beberapa dongeng yang telah direkam,” lanjut alumni Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur Unhas angkatan 1991.

“Paupau ri Kadong berarti cerita yang dianggukkan atau di-iya-kan. Walaupun orang tahu cerita itu bohong (fiktif), tetapi disetujui bagi yang mendengarnya,” kata mantan dosen Sastra Unhas ini. Hal itu karena ceritanya hanya menjadi media untuk menyampaikan pesan moral bagi yang mendengarnya.

Lebih lanjut, Paupau ri Kadong adalah tradisi lisan atau budaya tutur dari mulut ke mulut yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat. Tradisi tutur ini menggambarkan cara berpikir dan membentuk pola tingkah laku masyarakat yang bisa menghibur hingga menghayati nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Muhlis Hadrawi yang hadir sebagai pembedah buku mengapresiasi terbitnya buku ini. “Hadirnya buku Paupau ri Kadong adalah usaha untuk merawat tradisi kita yang mulai luntur,” tutur Dosen Sastra Unhas.
Ditambahkannya, kehadiran komunitas pendongeng dalam bedah buku ini sangat berkaitan erat dengan Paupau ri Kadong.
“Saya baru mendapat informasi kalo di Makassar sudah ada komunitas pendongeng. Jadi merekalah yang nantinya meneruskan cerita dalam buku ini kepada anak anak di sekolah”,

Muhlis juga memaparkan sejarah singkat tentang sastra Bugis Makassar. Dilihat dari tradisi perkembangannya, pau pau ri kadong masuk dalam periode kedua yang disebut dengan jaman tomanurung atau periode yang ditandai dengan munculnya sebuah bentuk pustaka bugis yang berbeda dengan pustaka galigo (sastra). Dalam periode ini muncul dua bentuk pustaka bugis, ada yang tergolong karya sastra yang disebut tolok dan yang bukan karya sastra yang disebut lontara.

Ketika periode lontara berkembang, muncul pula bentuk pustaka bugis yang lain dari kedua bentuk karya sastra yang berkembang sebelumnya (galigo dan tolok), yakni pau-pau atau pau-pau rikadong serta pustaka lontara yang berbau Islami.

Dalam sesi tanya jawab, Kak Heru yang juga pendongeng menanyakan tentang penamaan tokoh dalam buku ini. Beberapa cerita tidak menyebutkan nama, hanya julukan saja seperti si sulung, si bungsu, si kaya dan lainnya.
“Sebaiknya dalam setiap cerita, dibuatkan nama tokoh supaya mudah diingat oleh anak anak. Nama Abunawas sangat melegenda karena cerita 1001 malam hanya fokus ke satu tokoh yang punya nama Abunawas. Mungkin cerita Bugis Makassar harus juga punya satu nama tokoh sehingga isi cerita mudah dipahami dan direkam oleh anak anak”, pinta Kak Heru kepada penulis buku ini.

Dan hari ini, sebuah khasanah baru dongeng Makassar kembali mendapatkan suntikan referensi baru dalam mendongeng. Sebanyak 23 cerita yang tentunya akan membuat anak anak kembali “ri kadong” atau mengangguk-anggukkan kepalanya ketika mendengarkan dongeng Si Dungu.

Daftar Peserta Workshop Dongeng KPK RI

Dibawah ini adalah Daftar Nama Peserta yang lolos seleksi untuk kegiatan Workshop Mendongeng Kreatif bersama KPK.

Dari 149 pendaftar yang masuk, maka peserta yang telah lolos seleksi sebanyak 45 orang. Diharapkan peserta yang telah lolos untuk mendaftar ulang dengan menghubungi Kak Heru di 0852 5575 1971 atau mengirim SMS dengan Format :

WSKPK#NamaLengkap#Email

Dan kirim ke 085255751971

Konfirmasi paling lambat ditunggu hari Jumat 12 Mei 2017 pukul 12:00 WITA.

Peserta yang tidak mengirimkan konfirmasi dianggap mengundurkan diri dan akan diganti dengan peserta lainnya.

Berikut Daftar Namanya : 

peserta workshop KPK

Info Tambahan :

Bagi peserta yang tidak lolos seleksi untuk kegiatan Workshop Mendongeng Kreatif, silakan datang menghadiri kegiatan Ngobrol Publik bersama KPK dengan tema Membentuk Karakter Jujur Berani Hebat dengan Dongeng pada hari Minggu, 14 Mei 2017 pukul 10:00-13:00 WITA di Gedung C  Fort Rotterdam Makassar. Kegiatan seminar ini GRATIS dan terbuka untuk UMUM.

 

Mendongeng di Kampung Savana

Kampung Bersih bersama Ikasa Makassar dan Rumah Dongeng

Mendengar kata Savana, imajinasi kita pasti akan membayangkan sebuah padang rumput yang luas dan hijau. Membentang bak permadani yang lembut. Hijaunya rumput bak film Little House on the Prairie, film keluarga cowboy di era 1980-an. Anginnya bertiup  sepoi sepoi seakan berbisik kepada manusia tentang indahnya karya Tuhan.
Dan pada suatu pagi yang cerah, tiga motor besi merambah jalanan yang kurang bersahabat menuju ke Kampung Savana. Ketiga pengendara seakan tak memperdulikan kondisi jalanan yang berlubang di sisi kiri kanan. Bak mulut harimau yang seakan siap menerkam ban motor yang mereka naiki. Mereka adalah Kak Mangga, Mami Kiko dan Kak Titi, tiga pendongeng dari Rumah Dongeng yang bertugas mendampingi komunitas Ikasa untuk program Kampung Bersih di Kampung Savana.

Kampung Savana adalah perkampungan kumuh yang terbentuk sejak tahun 2011. Kampung ini terletak di daerah Hertasning Baru, jalan Aroepala, Makassar Sulawesi Selatan. Tempat ini seakan menjadi pembatas antara Kota Makassar dam Kabupaten Gowa. Di awal munculnya, perkampungan ini terdapat 30 Kepala keluarga yang mengadu nasib di kota para Daeng. Kebanyakan warga yang tinggal di Kampung Savana adalah korban penggusuran lahan di daerah Talasalapang. Terdapat 16 rumah yang dihuni oleh 30 kepala keluarga, tak jarang dalam 1 rumah dihuni oleh 2 – 3 kepala keluarga.
Entah dari mana dinamakan Kampung Savana, mungkin saja ada beberapa komunitas yang sengaja menamakan Savana dengan alasan lokasinya yang bersinggungan langsung dengan padang savana yang cukup luas di antara perumahan elit dan tempat penampungan air dinas PU.

Kampung Savana juga disebut sebagai perkampungan pemulung, dimana penghasilan utama warga di perkampungan ini adalah hasil dari memulung, sebagian yang lain ada yang berprofesi sebagai tukang bentor dan pekerja lepas.
Dengan penghasilan yang pas-pasan bahkan jauh dari cukup, mereka pun memanfaatkan keterampilan yang dimiliki. Sebagian warga pun bercocok tanam dan sebagian yang lain mencari ikan di sepanjang kanal yang ada di sekitar perkampungan.

Kampung Savana disebut juga dengan surga para pemulung yang memiliki sekitar 50-an anak-anak usia sekolah. Dari jumlah keseluruhan anak-anak, sebagian besar dari mereka putus sekolah setelah menjadi korban penggusuran. Jauhnya akses pendidikan membuat mereka mengubur impian dancita-cita mereka, mereka pun ikut membantu orang tua mencari sisa-sisa barang bekas untuk disulap menjadi uang.

Kondisi lingkungan tempat tinggal warga juga sangat kotor dan jauh dari kata sehat. Beberapa anak muda yang bergabung dalam komunitas Ikasa atau Ikatan Pemuda Peduli Sosial Regional Makassar berinisiatif untuk mengadakan kegiatan Pembinaan Dan Pemberdayaan Menuju Kemandirian Warga Kampung Savana. Kegiatan ini berlangsung pada hari Sabtu 6 Mei 2017. Menurut Dewi Damayanti Abd. Karim selalu Ketua Ikasa Regional Makassar, tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menanamkan sikap cinta lingkungan untuk semua warga Savana agar selalu menjaga kebersihan kampung.

“Kami ingin menanamkan kepada adik adik disini tentang sikap menjaga kebersihan sejak dini. Karena mereka adalah generasi pelanjut yang harus tetap sehat dan kuat”, ujar Damayanti yang juga merupakan salah satu peserta Kelas Dongeng Angkatan 10 di Rumah Dongeng.

Kegiatan Kampung Bersih berlangsung selama dua hari mulai tanggal 6-7 Mei 2017.

Kegiatan Kampung Bersih diawali dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya. Meskipun kebanyakan dari  mereka adalah anak putus sekolah, tetapi sikap dan semangatnya tidak mau kalah dari anak sekolah lainnya. Maka berkumandanglah lirik lagu karya WS Supratman dari bibir mungil mereka.

” Indonesia tanah airku tanah tumpah darahku – Disanalah aku berdiri jadi pandu ibuku….”

Bait demi bait dinyanyikan dengan penuh semangat. Semacam upacara kecil kecilan di depan rumah salah satu warga

Selain membersihkan lingkungan Kampung Savana, ada kegiatan menarik yang tentu saja ditunggu oleh adik adik kecil. Sebagai hadiah untuk mereka yang telah membersihkan halaman rumahnya masing masing, maka 3 Pendongeng dari Rumah Dongeng sudah bersiap untuk memberikan edukasi melalui dongeng yang edukatif dan menarik. Dimulai dengan ice breaking yang dipandu oleh Kak Mangga, acara dongeng pun dimulai. Perlahan lahan adik adik yang semula masih asyik bermain mulai bergeser menuju ke panggung dongeng yang berada di salah satu rumah warga. Panggung alam yang dibuat dengan seadanya. Gaya yang lucu dari Kak Mangga membuat suasana menjadi lebih meriah. Gelak tawa mulai terdengar ketika pendongeng yang berbadan tambun mulai menyapa mereka satu persatu. Dongeng dari Mami Kiko dan Kak Titi membuat suasana kampung menjadi lebih meriah. Beberapa orang tua mulai mendekati area dongeng. Merela tak mau ketinggalan untuk mendengarkan dongeng yang tentu sangat jarang mereka dengar. Duet Mami Kiko dan Kak Titi yang sesekali ditimpali oleh Kak Mangga bercerita tentang Timun Mas, salah satu dongeng yang menjadi andalan dari mereka bertiga.

Dongeng Timun Mas mengisahkan tentang perjuangan perempuan kecil bernama Timun Mas yang dikejar oleh Buto Ijo. Rupanya ketiga pendongeng keren ini sudah  sepakat untuk merubah ending dari dongeng ini. Di akhir dongeng, Buto Ijo ternyata menjadi sahabat Timun Mas.

“Saya suka sekali mendengar dongeng. Terima kasih untuk Rumah Dongeng..!”, ujar Santi bersama ketiga temannya.
Memang dongeng selalu membawa keajaiban tersendiri bagi anak anak.
Semoga bisa bertemu lagi dengan Kampung Savana.

Bagi anak anak muda yang ingin bergabung dengan Ikasa Makassar, silakan mampir ke IG : @ikasaMakassar.

#MudaKreatifBersemangat

Dongeng bareng Ortu HEBAT Community

Dongeng Seru Bersama Kak Heru

Ketika Bunda Puspa Ayu menawari Kak Heru untuk mendongeng di Palopo yang jaraknya hampir 350 km atau sekitar 8 jam perjalanan darat, saya masih ragu apakah event ini bisa dilaksanakan? Hal tersebut juga masih mengganjal di benak Bunda Ayu karena beliau belum pernah membuat acara dongeng di Kota Palopo. Namun saya menyakinkan saja kepadanya untuk tetap membuat acara dongeng. Sayapun segera mengontak Pak Erik salah satu supervisor TK di PT Erlangga Makassar untuk membantu pelaksanaan acara ini. Gayungpun bersambut dan pihak penerbit siap menjadi sponsor utama dalam acara ini. Saya diminta untuk berkordinasi dengan Pak Yanis sebagai penanggung jawab PT Erlangga di Kota Palopo. 

Setelah melakukan beberapa kali meeting online melalui aplikasi LINE dan WA, akhirnya acara dongeng bisa dilaksanakan pada hari Minggu 7 Mei 2017 bertempat di KFC Palopo. Dengan menggunakan bus malam Bintang Prima type Sleeper, sayapun berangkat dari Makassar. Bus type ini memungkinkan penumpangnya untuk berbaring ala tempat tidur di dalan bus. 

Dan di hari Minggu 7 Mei 2017, pukul 10:00 lantai 2 KFC Palopo sudah penuh dengan ratusan anak anak yang siap mendengarkan dongeng.  Menyenangkan sekali ketika mereka gembira dan tertawa ketika mendengarkan dongeng. Yang hebatnya lagi, orang tua duduk diantara anak anak di atas karpet yang digelar.
Mereka terus mendampingi anaknya ketika mendengarkan dongeng. Dari spanduk yang dipasang di lokasi acara, mereka bergabung dalam komunitas HEBAT.

Apa itu HEBAT?
Komunitas Home Education Based on Akhlak & Talents (HEbAT) adalah sebuah komunitas untuk bersama-sama belajar menjalankan kewajiban dan tanggung jawab kita sebagai orang tua. Komunitas ini pertama kali berdiri di Bandung. Beberapa peserta seminar Parenting bersama Bunda Septi Peni Wulandani dan Ustadz Harry Santosa, bersepakat untuk mendirikan komunitas Hebat dengan misi utama untuk menyebarkan semangat Home Education (HE) ke penjuru Nusantara.

Menurut ibu Ummuqiyan Ismi Leviyanda, sebagai ketua panitia acara ini

“Peradaban sesungguhnya berawal dari sebuah rumah, dari sebuah keluarga. Home Education itu wajib bagi kita sebagai orang tua yang berperan sebagai penjaga amanah. Karena sesungguhnya HE itu adalah kemampuan alami dan kewajiban syar’i yang harus dimiliki oleh setiap orang tua yang dipercaya menjaga amanahNya (anak)” 

Beliau juga menjelaskan bahwa syarat utama untuk bergabung dalam komunitas ini adalah “WAJIB” sepasang alias Ayah dan Bunda. Mereka wajib bersama-sama belajar, berkomitmen dan menerapkan ilmu Home Education. Karena HE adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya oleh ayah atau bunda saja.

Terima kasih untuk Bapak Yanis dari PT Erlangga yang telah mensupport acara ini. Juga kepada KFC yang sudah menyiapkan tempat dan hadiah yang banyak.

Sampai jumpa lagi di acara selanjutnya…..

(Ditulis di atas Bintang Prima Palopo – Makassar)