Interactive Story Telling bersama Wyeth Nutrition

Interactive Story Telling

Setelah bulan lalu bekerjasama dengan Mimi Susu dengan konsep roadshow dongeng ke 22 sekolah TK, kali ini kembali saya ditantang oleh salah satu produsen susu anak kelas premium Wyeth Nutrition untuk mengedukasi anak anak usia dini. Konsep yang diusung oleh Wyeth Nutrition jelas berbeda dengan kegiatan sebelumnya. Jika produk Mimi Susu harus berkeliling ke beberapa sekolah, kali ini saya cukup standby di satu tempat saja.
Tempat yang dipilih adalah Polianak RS Stella Maris Makassar.
Selama 6 hari mulai tanggal 6 – 13 Mei 2017 kegiatan ini berlangsung.
Tema yang diusung oleh Wyeth Nutrition adalah Dukung Sinergi Kepintarannya dengan hash tag #pintarnyaberbeda.

Melalui briefing yang dilakukan di sebuah kamar di Hotel Santika, saya diberi tugas untuk berbagi cerita tentang stimulasi sinergi kepintaran Akal, Fisik dan Social melalui Interactive Story Telling. Bagaimana
pentingnya Story Telling untuk menstimulasi sinergi kepintaran Akal, Fisik & Sosial.
Dongeng atau StoryTelling tentu saja memiliki beberapa manfaat yang penting bagi perkembangan anak, diantaranya :
1. Melatih daya tangkap dan daya konsentrasi anak
2. Melatih daya pikir dan fantasi anak.
3. Meningkatkan emotional bonding antara orang tua dan anak
4. Menanamkan nilai-nilai moral kepada anak

Secara umum, pola pertumbuhan dan perkembangan anak relatif sama, meski kecepatannya berbeda antara anak satu dengan yang lain. Perkembangan otak anak turut dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Faktor genetik bertanggung jawab atas pembentukan semua neuron dan sinaps utama antara berbagai bagian otak. Sementara, pengalaman atau stimulasi bertanggung jawab atas hubungan yang lebih halus dan membantu anak untuk beradaptasi terhadap lingkungannya, seperti keluarga, sekolah, teman sebaya, adat istiadat, dan sebagainya.

Menurut Howard Gardner, pakar pendidikan dari Harvard University, mengatakan bahwa setiap anak memiliki setidaknya 8 jenis kepintaran. Namun, potensi kepintaran anak yang satu dengan yang lain pasti berbeda-beda.

Delapan jenis kepintaran yang dikemukakan Gardner dapat digolongkan ke dalam sinergi kepintaran akal, fisik, dan sosial dengan penjelasan sebagai berikut:
● Akal, meliputi word smart, number smart, picture smart dan music smart.
● Fisik, meliputi body smart dan nature smart.
● Sosial, meliputi self smart dan people smart.

Agak asing istilahnya ya?
Mari kita lihat tentang istilah Interactive Story Telling.
Biasanya ketika saya mendongeng, jumlah audiensnya berkisar diatas 20 anak anak. Bahkan pernah sampai 1.500 anak anak ketika mendongeng di Kabupaten Enrekang. Namun kalo ini pihak penyelenggara hanya menyiapkan sebuah panggung kecil yang ukurannya sekitar 2 x 2 meter. Panggung tersebut lebih mirip panggung sandiwara boneka. Posisi pendongeng berada di belakang panggung, sedangkan di bagian depan ada 4 buah kursi kecil dan sebuah meja. Jadi maksimal jumlah anak hanya sekitar 4-6 anak saja.

Materi cerita juga cukup singkat dan sederhana. Ada 3 tema yang diusung dalam interactive story telling ini. Ketiganya adalah tema pantai, laut dan hutan. Setiap anak akan mendapatkan satu gambar dan beberapa stiker yang berkaitan dengan tema. Jadi jika temanya hutan, maka stiker yang diberikan adalah gambar hewan dan jenis jenis pohon. Tokoh utama dalam dongeng ini adalah Vano,seorang anak kecil yang tinggal bersama ayah dan Ibu serta nenek dan kakeknya. Bila Vano pergi ke hutan, maka semua stiker yang berhubungan dengan hutan akan ditempelkan di media gambar hutan. Selain menempelkan stiker, anak anak diajak juga untuk berlatih sifat sosial, seperti mengucapkan salam ketika bertemu dengan ayah. Mengucapkan terima kasih bila sudah ditolong dan beberapa hal lain.

Sepertinya sangat simple dan mudah untuk dilakukan. Apalagi jumlah anak juga tidak terlalu banyak sehingga tidak perlu untuk menaikkan volume suara. Penyelenggara juga tidak menyiapkan sound system karena bisa menganggu pengunjung lain. Bagaimana kisah seru event ini?

Ikuti terus kisahnya ya…

KURRE SUMANGA’, ANDARIAS

Andarias sang driver DongKel With Library

Salah satu pendukung keberhasilan Dinas Perpustakaan Makassar melaksanakan program Dongkel Perpusling adalah karena memiliki beberapa juru kemudi yang mumpuni dan handal.

Namanya Andarias Patabang. Lelaki ini memiliki pembawaan tenang. Tetapi jika berkesempatan duduk dan mengobrol dengannya, saya terkenang Ibu kost asal Rantepao Toraja yang kamarnya saya sewa selama kuliah, tidak pernah pindah saking betahnya.

Beberapa kali saya menyaksikan Andarias berhasil membawa mobil perpustakaan keliling memasuki lorong sempit, menghindari lubang dan kubangan, parkir kurang dari 1 cm dari tepi selokan, menyusur tenang di lorong pasar sayur, bahkan berhasil memutar arah mobil dengan hanya memanfaatkan lahan jalan selebar 2 meter yang dipadati penjual es dan mainan khas sekolahan.

Saya yakin orang ini cocok diajak main film Fast and Farious untuk adegan meloloskan diri dari lorong kecil pelosok kota.

Dan Andarias melakukannya setiap hari.

Lelaki ini cuma tersenyum atau tertawa sementara kami yang menumpang sesekali menjerit karena terkejut saat ujung mobil nyaris masuk parit. Beberapa pendamping malah memilih menunggu sampai posisi mobil stabil sebelum naik kembali.

Misi literasi kami di SD. Inp. Rappo Jawa hari ini kembali menantang Andarias menunjukkan kepiawaiannya di balik kemudi. Sekolah ini berada di jalan korban 40.000 jiwa, dalam lorong kecil. Tidak hanya itu, setelah berhasil masuk pagar, mobil harus menyusur lorong sekolah yang lebih sempit, berlubang-lubang, berkerikil, dengan cara …. berjalan mundur sejauh 50 meter ! Ditambah lagi harus turun membersihkan sendiri jalur dari motor2 yang parkir menghalangi.

Pendongeng boleh berganti setiap hari, begitupun tim pendamping. Tetapi juru kemudi tetap sama. Maka yang paling banyak mengunjungi lokasi pelayanan dalam rangka usaha nyata dalam menebar literasi, salah satunya adalah orang ini.

Kurre sumanga’, kakak Andarias.

Terima kasih, driver andalan.

Ditulis oleh Kak Madia, Pendongeng dan Ibu Rumah Tangga

Workshop Mendongeng Kreatif bersama KPK RI

Workshop Dongeng Gratis!

Dalam rangka Hari Pendidikan Nasional yang dirangkaikan dengan Pesta Pendidikan 2017, Pusat Edukasi Antikorupsi KPK bekerjasama dengan Rumah Dongeng Indonesia, Elmuloka dan Rumah Dongeng Mentari mengajak para pendidik tingkat TK dan SD di Kota Makassar untuk belajar mengenal dongeng sebagai salah satu metode yang efektif untuk pembelajaran anti korupsi sejak usia dini.

Yuk ikutan di acara :

Workshop Mendongeng Kreatif Menggunakan Buku Bacaan Si Kumbi

Acara ini GRATIS tanpa ada pungutan biaya!

⏰Kapan?
Sabtu, 13 Mei 2017
jam 08.00 – 16.00 WITA

?Di mana?
Hotel Jakarta, Makassar
Jl. Ance Dg Ngoyo No. J9, Panakkukang Mas, Makassar

Dalam workshop ini, peserta akan dilatih menjadi #PendongengKeren untuk menyebarkan semangat antikorupsi dan menanamkan nilai-nilai integritas kepada anak melalui dongeng

?‍? Fasilitator
Sandri Justiana dan Qilda Fathiyah
(Fungsional Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat KPK)

Kak Heru – Rumah Dongeng Makassar
Kak Rona – Rumah Dongeng Mentari Yogyakarta
Kak Karin – Elmuloka Bandung

?? Peserta akan mendapatkan fasilitas berupa paket Buku Si Kumbi yang diterbitkan KPK RI.

PESERTA TERBATAS

Yuk segera daftar menjadi Pendongeng Keren

Pendaftaran paling lambat tanggal 8 Mei 2017 pukul 23.59 WITA. 

Pengumuman peserta terpilih: 10 Mei 2017
Syarat Peserta Workshop :


  1. Terdaftar sebagai Guru TK atau Guru SD di Makassar dan sekitarnya. Panitia tidak menanggung biaya transportasi bila berasal dari luar Makassar.
  2. Berkomitmen untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan Pesta Pendidikan sampai selesai.
  3. Buku Dongeng dapat didownload disini:

Piknik di Kumbinesia

Modo Tak Mau Menari

Suatu Hari di Museum_Seni_KPK

Kak Heru 085255751971 (WA & Phone)

#AksiKita
#LawanKorupsi

Formulir Pendaftaran Peserta 

 

DongKel : Energi di Tiga Lokasi

Pagi ini sesuai dengan jadwal mingguan yang dikeluarkan oleh Dinas Perpustakaan Kota Makassar, lokasi Dongkel with Library adalah di SDN 35 Melayu di Jl. Muhammadiyah Makassar. Namun tiba tiba sekitar pukul 08:30 ada notifikasi di Grup Dongkel bahwa pendongeng diharuskan berkumpul di Kantor Dinas Perpustakaan karena ada perubahan lokasi kegiatan. 

Maka mau tak mau saya bergegas memacu si Yona, mobil keluarga kami menuju kesana. Sudah menjadi kebiasaan jikalau harus memberikan nama pada kendaraan yang kami miliki. Kebiasaan ini sebagai salah satu cara kami untuk membuatkan sebuah cerita seru pada kendaraan tersebut . Motor yang pernah kami miliki namanya adalah Simpson, salah satu tokoh kartun film kesukaan Safira. Selama hampir 4 tahun Simpson menjadi satu satunya alat transportasi keluarga. Ke sekolah, belanja di pasar bahkan pulang kampung ke Bone. Sampai sampai Safira kecil menangis sedih ketika Simpson hilang dicuri!
Dan sekarang si Yona, mobil merah kecil ini sebagai penggantinya.

Tiba di depan museum Kota Makassar yang sekarang menjadi “homebase” Dinas Perpustakaan Kota Makassar, sudah berjejer rapi dua buah armada mobil layanan keliling. Sayapun masuk ke dalam kantor yang berada di bagian belakang museum kota. Beberapa karyawan sudah terlihat sibuk dengan persiapan Dongkel hari ini. Pak Andarias, sang driver masih asyik dengan segelas kopi dan sepiring pisang goreng yang masih panas. Bau sedap pisang goreng yang berasal dari wajan kecil sangat menggodaku untuk mencicipinya.
“Ayo kak, sarapan dulu disini!”, ajak pak Andarias. Sambil tersenyum sayapun hanya bisa bercanda kalo pendongeng dilarang makan gorengan. Nanti bisa rusak pita suara. He…he..he…

Dua pentolan Dongkel Makassar

Tak lama yang ditunggu-tunggupun muncul. Dia adalah Kak Hikma yang hari ini bertugas menggantikan Kak Nisa. Sepertinya untuk beberapa hari kedepan, Kak Nisa akan selalu berhalangan mendongeng keliling karena faktor usia kehamilannya. Padahal kelihatan keren kalo ada “bumil” yang tampil mendongeng di hadapan anak anak. Pasti yang di dalam perut akan senang juga. Bergegas semua tim segera menuju ke mobilnya masing masing. Saya bersama Pak Tulus dan Kak Hikma sudah siap mengikuti jalannya DP 1 dan DP 2. Baru 5 menit duduk di dalam mobil, Kak Hikma harus bersedia dioper ke mobil lainnya. Tak masalah untuk berpindah pindah mobil, meskipun saya yakin kalo Kak Hikma lebih suka dengan dinginnya AC di mobil kami.
Maka melajulah mobil layanan yang membawa ratusan buku di dalamnya. Kamipun bergerak beriringan bagaikan ular naga menuju ke lokasi Dongkel. Lokasinya berada di daerah Tanjung Bunga, nama sekolahnya adalah SD 30 Barombong. Saya sendiri belum pernah ke sekolah tersebut. Namun si Google Maps siap untuk memandu perjalanan literasi ini.

Sepanjang perjalanan, Pak Tulus sebagai koordinator Dongkel With Library  terus bercerita tentang presentasi Dongkel With Library yang minggu lalu dipresentasikan oleh Bapak Walikota Makassar di depan tim penguji independen di Jakarta. Kepiawaian Danny Pomanto ketika “mendongeng” di depan juri membuat Pak Tulus sangat yakin kalo inovasi Dongeng Keliling ini bisa masuk ke 40 besar nasional. Yang saya tahu, kalo bisa masuk di 40 besar, penghargaan inovasi layanan publik akan mendapat penghargaan langsung dari Presiden RI. Wah…! Bisa betapa serunya kalo si Bona pergi ke istana negara! Obrolan berlanjut tentang anggaran dinas. Saya baru tahu juga bahwa anggaran Dinas Perpustakaan Kota Makassar ternyata berada di angka 2 paling bawah, namun tak mengurangi semangat tim perpustakaan untuk terus melayani masyarakat.

Dan tak terasa, kamipun sudah sampai di sekolah yang dimaksud. Disini ada 3 sekolah yang tergabung dalam satu lokasi. Letaknya berada di belakang perumahan elit di daerah Tanjung Bunga. Halaman sekolahnya masih sangat luas. Di tengah sekolah berdiri dengan kokohnya pohon yang menjulang tinggi dan membuat suasana semakin teduh. Sang mataharipun juga sangat bersahabat pagi ini. Cuaca semakin terasa sejuk dengan semilir angin yang sepoi sepoi mengayunkan dahan-dahan pohon. Serasa berbisik ” Ssstt…. ada Pendongeng datang loh..!”.
Serentak anak anak berhamburan dengan gembira ketika Kak Hikma mulai beraksi dengan lagu Disini Senang Disana Senang. Tanpa dikomandoi, merekapun bernyanyi dengan serempak dan berirama. Tak mau ketinggalan, Pak Muhyidin Sekretaris Dinas Perpustakaan turut bergoyang dan bernyanyi bersama anak anak. Tak malu malu bergabung ditengah kerumuman anak anak. Kamerapun beraksi mengabadikan keseruan ini. Sebuah perwujudan kerja tim sangat terasa terjadi disini. Semua bernyanyi dan bergembira!

Sebuah dongeng fabel menjadi menu Dongkel hari ini. Dari menit pertama dongeng ini dimulai, kerumunan mulai bertambah banyak. Tak terasa lingkaran mulai tambah mengecil. Mereka merengsek pelan pelan ke arah depan. Panggung terbuka terasa sempit oleh kerumunan anak anak yang sangat antusias mendengarkan dongeng. Raut wajah mereka menunjukkan bahwa dongeng itu asyik.
Dan sebagai hadiah pamungkas, mobil layanan mulai dibuka perlahan lahan. Serentak mereka berlarian ke arah mobil
an mulai berebutan untuk mencari buku favoritnya.
Sayapun harus segera meninggalkan lokasi ini. Ada tugas lain yang sudah menanti di TK Kemala Bhayangkari Makassar. Mereka meminta saya untuk memberikan pelatihan mendongeng. Masih bersama Yona sayapun bergerak menuju ke sekolah yang dimaksud yang berlokasi di Jl. Chairil Anwar.

Tiba di sekolah yang bersebelahan dengan Hotel Losari Metro, nampak beberapa adik adik tengah latiha menari. Sepertinya saya mengenal tarian tersebut. Kalo nggak salah itu adalah Tarian Pinguin. Mereka nampak dengan lihai meliuk-liukkan badannya seperti seekor burung pinguin di atas salju. Setelah bercakap cakap ringan dengan Bunda Irma, salah satu guru di sekolah ini, saya mendapatkan informasi bahwa ada Lomba Mendongeng antar guru TK dalam lingkup Bhayangkari Sulsel. Beliau meminta saya untuk melatih guru yang akan ikut lomba.
Namun sepertinya permintaan dari Bunda Irma tidak dapat saya penuhi karena faktor “conflict of interest”.
Sebelumnya oleh panitia lomba yang dimaksud, saya telah diminta untuk menjadi juri lomba. Sebagai alternatif, sayapun meminta kepada Kak Madia Sang Pendongeng Pung Julung Julung untuk menggantikan tugas “les privat” ini.
Sayapun meyakinkan kepada mereka bahwa Kak Madia bisa memberikan ilmu yang terbaik. Apalagi materi lomba tak jauh dari cerita rakyat Sulawesi Selatan.
Alhamdulillah, Kak Madia bersedia untuk datang ke sekolah ini. Paling tidak selama 3 hari kedepan, Kak Madia harus berjuang habis habisan karena faktor keterbatasan waktu.

Di tengah perbincangan kami tentang lomba mendongeng, sebuah pesan WA masuk di smartphone saya.
” Kak Heru, saya sudah menunggu di McD Mari Mall”.
Sebuah pesan dari salah satu orang tua murid yang tinggal di Pangkep.
Duh….! Ternyata hari ini saya punya janji dengan Ibu Tenri yang jauh jauh datang dari Pangkep.
Beliau ingin bertemu saya untuk diskusi singkat tentang persiapan anaknya yang akan mewakili Pangkep dalam lomba bercerita tingkat SD di tingkat propinsi.
Sebuah cerita singkat keluar dari mulut kecil Cara, siswa kelas 5 SD Pangkep. Ceritanya berkisah tentang Karaeng Labbakang dan Pangeran dari Madura. Beberapa dialog dan narasi saya perbaiki seraya meminta kepada sang ibu untuk memberikan naskahnya melalui email.

Cukup melelahkan tugas dongeng hari ini. Dalam durasi 3 jam harus berkelana ke tiga lokasi yang berbeda. Dan jari jari yang sempat meliuk liuk diatas layar smartphone adalah sebuah goresan kisah pendongeng hari ini.