World Oral Health Day 2018: Jendral Kuman Pencari Gigi Berlubang

Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Sedunia diperingati setiap tahun pada tanggal 20 Maret. Hari ini merupakan hari internasional untuk memperingati akan pentingnya kesehatan gigi dan mulut serta untuk meningkatkan kepedulian masyarakat dunia akan pentingnya kebersihan gigi dan mulut. Hari ini merupakan hari untuk setiap orang bersenang-senang dengan aktifitas yang membuat tertawa, bernyanyi dan tersenyum.

WOHD 2018 bertujuan agar setiap orang mengetahui dampak kesehatan gigi dan mulutnya terhadap kesehatan tubuhnya secara menyeluruh.

Tema World Oral Health Day 2018 adalah “Say Ahh! Think Mouth, Think Health” bertujuan agar selalu menjaga kesehatan mulut dan membantu untuk tetap menjaga kesehatan diri kita sendiri. Mulut yang sehat dan tubuh yang sehat berjalan seiring seirama. Mempertahankan mulut yang sehat sangat penting untuk menjaga agar berfungsi dengan benar dan untuk menjaga kesehatan dan kualitas hidup secara keseluruhan.

Bertempat di Kecamatan Marusu Kabupaten Maros, Sabtu (31/3/2018) dilaksanakan peringatan World Oral Health Day 2018 yang dihadiri oleh segenap pengurus Persatuan Dokter Gigi Indonesia Cabang Maros. Tak ketinggalan juga ada sekitar 500 anak anak tingkat SD yang diundang dan menjadi target pelaksanaan kegiatan WOHD 2018. Walaupun cuaca hari ini hujan turun dengan derasnya, tak mengurangi antusias mereka untuk hadir di lapangan tepat di samping kantor Kecamatan Marusu Kabupaten Maros.

Ketua PDGI Maros, drg. Andi Sunniati, MARS dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan WOHD di Marusu adalah kegiatan yang ketiga dilaksanakan oleh PDGI Maros. Sedangkan Kepala PKM Marusu, drg. Andi Ilham juga hadir mewakili Kepala Kecamatan Marusu memberikan kata sambutan sekaligus membuka kegiatan dengan menerbangkan balon ke udara.

Kak Heru dari Rumah Dongeng ID turut hadir juga dalam kegiatan keren ini. Tentu saja kehadirannya sangat ditunggu adik adik yang sudah menunggu di tengah rintik hujan. Dongeng hari ini bercerita tentang Jendral Kuman Jahat yang mencari anak anak yang tak pernah menggosok gigi. Sang jendral kuman yang tinggal di sebuah pesawat besar yang berisi jutaan kuman dan monster gigi. Mereka siap mencari anak anak yang tidak pernah menggosok giginya.

Seorang anak yang bernama Baco jika makan malam langsung saja tidur, tak mau gosok gigi.
Giginya yang berlubang membuat pasukan kuman jahat bisa masuk ke dalam giginya.
Pesannya sangat sederhana dan tentu saja isinya mudah diserap oleh anak anak melalui dongeng.

Saksikan keseruan videonya disini.:

Kids Great Time with TK Menara St. Martinus.

Dengan mengambil tema “We Cook We Have Fun” ratusan adik adik kecil pagi ini memenuhi swimming pool di area Gammara Hotel Makassar. Hujan yang sudah turun semenjak pagi tak menghalangi mereka untuk datang ke tempat ini. Bagi mereka mungkin kegiatan berenang sudah biasa dilakukan di akhir pekan bersama keluarga.
Tapi dalam kegiatan ini ada yang istimewa loh..!

Apakah itu???

Ya.. hari ini adik adik dari TK Menara St. Martinus akan belajar memasak bersama para chef hebat di Gammara Hotel. Sekolah yang beralamat di Jalan Timor No. 102 Makassar, Senin 25 Maret 2018 mengajak murid muridnya untuk belajar memasak di luar kelas. Secara langsung mereka belajar memasak dan menyajikan makanan. Namun ada yang lebih menarik lagi. Selain cooking class, pagi ini ada kegiatan storytelling bersama Kak Heru dan Bona dari Rumah Dongeng ID.

Waktu sudah menunjukkan pukul 08:30, sejak dini hari Makassar diguyur oleh rintik hujan yang sampai pagi belum pernah berhenti. Cuaca yang kurang bersahabat tak menyurutkan ratusan murid TK Menara untuk melakukan kegiatan awal di area swimming pool Hotel Gammara. Kolam renang yang berada disamping restauran letaknya sangat strategis dan tidak menyulitkan para tamu hotel. Boleh jadi sembari menikmati sarapan pagi, tamu hotel bisa langsung berenang di kolam renangnya.

Seperti pagi ini, saya sudah dihidangkan secangkir kopi dan lembutnya roti panggang yang langsung keluar dari oven roti. Meskipun sudah sarapan di rumah, tak enak rasanya menolak ajakan Mr. Armady salah satu pengajar di TK Menara yang bertanggungjawab untuk mengurusi kegiatan murid.

“Maaf Kak Heru agak molor kegiatan pagi ini karena hujan yang turun dari tadi malam”, ucap Mr. Armady ketika menemui saya di lobby hotel.

Saya dan Mr. Armady memang baru bertemu secara langsung. Biasanya kami hanya berkomunikasi melalui aplikasi media sosial untuk berkoordinasi dalam kegiatan ini. Sekitar 35 menit saya menunggu murid murid selesai berenang. Beberapa menu sarapan pagi saya coba nikmati sembari menyiapkan materi dongeng.

Hari ini ada 2 sessi dongeng yang harus saya bawakan. Murid murid dibagi menjadi 2 kelompok ketika kelas memasak dimulai. Satu kelompok terdiri dari 50 anak dan 2 orang guru yang segera beranjak ke restauran. Sedangkan sisanya tetap berada di hall hotel untuk mendengarkan dongeng. Beberapa orang tua juga ikut menikmati keseruan dongeng hari ini.

Dongeng Keliling dalam Aksi Kolektif Hari Perempuan Internasional 2018

Banyak cara unik untuk memperingati sebuah perayaan, salah satunya dilakukan oleh salah satu NGO di Makassar dengan menggelar Aksi Kolektif. Kegiatan yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 24 Maret 2018 di Fort Rotterdam Makassar diinisiasi oleh Yayasan Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI) yang mengajak beberapa komunitas untuk mengelar kolaborasi kegiatan.

Komunitas tersebut antara lain Mampu BaKTI, Koalisi NGO Sulawesi Selatan, KPI Sulawesi Selatan, HIPJ2 FPMP Sulawesi Selatan, Saya Perempuan Anti Korupsi Sulsel, Institute Of Community Justice, HWDI Sulawesi Selatan, Dewi Keadilan, YAPMI Sulselbar, YKPM Sulsel, Sekolah Perempuan, Maupe Maros, PW Aisia Sulsel, Lemina, Lembaga Perlindungan Anak Sulawesi Selatan, Kitab Rumah Kita Bersama, QQ Recycle Art, Dongeng Keliling, Forum Jurnalis Sanitasi, Kita Bhinneka, Sekolah PRP Paraikatte, Forum Anak Maros, serta beberapa individu dan jurnalis,
menggelar aksi kolektif untuk memperingati hari perempuan internasional 2018. Aksi kolektif ini adalah salah satu cara perempuan dan pemerintah kota Makassar untuk bersinergi mendorong pengesahan RUU pengahapusan kekerasan seksual.

Panggung utama dibuat sangat sederhana dan terbuka tanpa tenda. Hanya ada backdrop berupa kegiatan aksi dan sofa sederhana diatas panggung di samping Chappel Fort Rotterdam. Tepat pada pukul 15:00 WITA, acara dimulai dengan pembukaan oleh Plt Kepala Disdik Makassar, Mukhtar Tahir.

“Ini salah satu tugas pemerintah di dalam hal mengamankan yang namanya kekerasan perempuan yang memang menjadi tupoksi dari kami selaku orang yang diamanahkan di dinas sosial, karena dinas sosial sebenarnya menyelesaikan 27 perkara, salah satunya adalah bagaimana kita memberikan keamanan bagi para perempuan, sehingga tidak mendapatkan perlakuan- perlakuan kekerasan khususnya perlakuan kekerasan seksual.” ujar Mukhtar yang mewakili Plt Walikota Makassar.

Yang paling seru adalah ketika semua komunitas diundang untuk naik ke atas panggung dan membaca deklarasi dukungan pengesahan RUU penghapusan kekerasan seksual bersama dengan peserta aksi kolektif yang berisi:

“Mendukung percepatan pengesahan rancangan undang-undang penghapusan kekerasan seksual, pada hari ini, Sabtu 24 Maret 2018, kami organisasi pemerhati peduli dan bekerja pada hak-hak perempuan dan anak yang terdiri dari program Mampu BaKTI, Koalisi NGO Sulawesi Selatan, KPI Sulawesi Selatan, HIPJ2 FPMP Sulawesi Selatan, Saya Perempuan Anti Korupsi Sulsel, Institute Of Community Justice, HWDI Sulawesi Selatan, Dewi Keadilan, YAPMI Sulselbar, YKPM Sulsel, Sekolah Perempuan, Maupe Maros, PW Aisia Sulsel, Lemina, Lembaga Perlindungan Anak Sulawesi Selatan, Kitab Rumah Kita Bersama, QQ Recycle Art, Dongeng Keliling, Forum Jurnalis Sanitasi, Kita Bhinneka, Sekolah PRP Paraikatte, Forum Anak Maros, dan individu perempuan, aktivis, akademis, jurnalis, menyatakan bahwa angka kekerasan terhadap terus meningkat setiap tahun, kekerasan seksual adalah kejahatan terhadap perempuan dan martabat kemanusiaan serta pelanggaran terhadap hak asasi manusia, negara tidak mempunyai instrumen untuk mencegah dan melidungi perempuan dari kekerasan seksual, negara dan pemerintah berkewajiban untuk mencegah dan melindungi perempuan dari kekerasan seksual, karena itu kami mendukung dan mendesak kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia untuk segera mengesahkan rancangan undang-undang penghapusan kekerasan seksual.”

Setelah pembacaan deklarasi, acara ini dilanjutkan dengan penampilan live music dari Ariel Matulessy dan talkshow yang dipandu oleh Luna Vidya serta diisi oleh narasumber yang berhubungan dengan penangan kasus kekerasan seksual, yaitu; Lusia Palulungan (Yayasan BaKTI), Meisy Papayungan (P2TP2A Sulsel), dan Andi Sri Wulandani (Masika Makassar) yang dipandu oleh Luna Vidya. Talkshow ini sendiri terlihat sangat diminati oleh diikuti para perempuan yang hadir, kebanyakan dari mereka adalah ibu ibu dan perempuan muda.

Di bagian lain, anak anak yang hadir juga nampak asyik mendengarkan dongeng yang dibawakan oleh Dongkel With Library Perpustakaan Kota Makassar. Tim Dongkel yang berasal dari 2 komunitas yaitu Rumah Dongeng ID dan Kampung Dongeng Mardati menampilkan para pendongeng perempuan yang siap mengedukasi anak anak melalui dongeng.

Simak videonya disini :

Tim Dongkel with Library

Dongeng Keliling dalam Aksi Kolektif Hari Perempuan Internasional 2018

Banyak cara unik untuk memperingati sebuah perayaan, salah satunya dilakukan oleh salah satu NGO di Makassar dengan menggelar Aksi Kolektif. Kegiatan yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 24 Maret 2018 di Fort Rotterdam Makassar diinisiasi oleh Yayasan Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI) yang mengajak beberapa komunitas untuk mengelar kolaborasi kegiatan. Komunitas tersebut antara lain Mampu BaKTI, Koalisi NGO Sulawesi Selatan, KPI Sulawesi Selatan, HIPJ2 FPMP Sulawesi Selatan, Saya Perempuan Anti Korupsi Sulsel, Institute Of Community Justice, HWDI Sulawesi Selatan, Dewi Keadilan, YAPMI Sulselbar, YKPM Sulsel, Sekolah Perempuan, Maupe Maros, PW Aisia Sulsel, Lemina, Lembaga Perlindungan Anak Sulawesi Selatan, Kitab Rumah Kita Bersama, QQ Recycle Art, Dongeng Keliling, Forum Jurnalis Sanitasi, Kita Bhinneka, Sekolah PRP Paraikatte, Forum Anak Maros, serta beberapa individu dan jurnalis,
menggelar aksi kolektif untuk memperingati hari perempuan internasional 2018. Aksi kolektif ini adalah salah satu cara perempuan dan pemerintah kota Makassar untuk bersinergi mendorong pengesahan RUU pengahapusan kekerasan seksual.

Panggung utama dibuat sangat sederhana dan terbuka tanpa tenda. Hanya ada backdrop berupa kegiatan aksi dan sofa sederhana diatas panggung di samping Chappel Fort Rotterdam. Tepat pada pukul 15:00 WITA, acara dimulai dengan pembukaan oleh Plt Kepala Disdik Makassar, Mukhtar Tahir.

“Ini salah satu tugas pemerintah di dalam hal mengamankan yang namanya kekerasan perempuan yang memang menjadi tupoksi dari kami selaku orang yang diamanahkan di dinas sosial, karena dinas sosial sebenarnya menyelesaikan 27 perkara, salah satunya adalah bagaimana kita memberikan keamanan bagi para perempuan, sehingga tidak mendapatkan perlakuan- perlakuan kekerasan khususnya perlakuan kekerasan seksual.” ujar Mukhtar yang mewakili Plt Walikota Makassar.

Yang paling seru adalah ketika semua komunitas diundang untuk naik ke atas panggung dan membaca deklarasi dukungan pengesahan RUU penghapusan kekerasan seksual bersama dengan peserta aksi kolektif yang berisi:

“Mendukung percepatan pengesahan rancangan undang-undang penghapusan kekerasan seksual, pada hari ini, Sabtu 24 Maret 2018, kami organisasi pemerhati peduli dan bekerja pada hak-hak perempuan dan anak yang terdiri dari program Mampu BaKTI, Koalisi NGO Sulawesi Selatan, KPI Sulawesi Selatan, HIPJ2 FPMP Sulawesi Selatan, Saya Perempuan Anti Korupsi Sulsel, Institute Of Community Justice, HWDI Sulawesi Selatan, Dewi Keadilan, YAPMI Sulselbar, YKPM Sulsel, Sekolah Perempuan, Maupe Maros, PW Aisia Sulsel, Lemina, Lembaga Perlindungan Anak Sulawesi Selatan, Kitab Rumah Kita Bersama, QQ Recycle Art, Dongeng Keliling, Forum Jurnalis Sanitasi, Kita Bhinneka, Sekolah PRP Paraikatte, Forum Anak Maros, dan individu perempuan, aktivis, akademis, jurnalis, menyatakan bahwa angka kekerasan terhadap terus meningkat setiap tahun, kekerasan seksual adalah kejahatan terhadap perempuan dan martabat kemanusiaan serta pelanggaran terhadap hak asasi manusia, negara tidak mempunyai instrumen untuk mencegah dan melidungi perempuan dari kekerasan seksual, negara dan pemerintah berkewajiban untuk mencegah dan melindungi perempuan dari kekerasan seksual, karena itu kami mendukung dan mendesak kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia untuk segera mengesahkan rancangan undang-undang penghapusan kekerasan seksual.”

Setelah pembacaan deklarasi, acara ini dilanjutkan dengan penampilan live music dari Ariel Matulessy dan talkshow yang dipandu oleh Luna Vidya serta diisi oleh narasumber yang berhubungan dengan penangan kasus kekerasan seksual, yaitu; Lusia Palulungan (Yayasan BaKTI), Meisy Papayungan (P2TP2A Sulsel), dan Andi Sri Wulandani (Masika Makassar) yang dipandu oleh Luna Vidya. Talkshow ini sendiri terlihat sangat diminati oleh diikuti para perempuan yang hadir, kebanyakan dari mereka adalah ibu ibu dan perempuan muda.

Di bagian lain, anak anak yang hadir juga nampak asyik mendengarkan dongeng yang dibawakan oleh Dongkel With Library Perpustakaan Kota Makassar. Tim Dongkel yang berasal dari 2 komunitas yaitu Rumah Dongeng ID dan Kampung Dongeng Mardati menampilkan para pendongeng perempuan yang siap mengedukasi anak anak melalui dongeng.

Simak videonya disini :

Tim Dongkel with Library

Read Aloud Workshop di Watampone

Ide membuat sebuah buku yang berjudul The Read-Aloud Handbook muncul ketika Jim Trelease mulai menjadi sukarelawan di sebuah kelas pada saat yang sama ketika dia dan istrinya membesarkan dua anak mereka dan membacakan untuk mereka setiap hari.

Jim adalah mantan jurnalis dan penulis The Read-Aloud Handbook , salah satu buku paling menakjubkan yang pernah saya baca. Ini adalah buku yang dengan mudah saya pahami secara intuitif tentang membaca sekaligus bagaimana dapat mengartikulasikan bacaan tersebut.

Dalam pelatihan “Membaca Nyaring” yang saya lakukan bersama 200 guru TK se Kabupaten Bone, saya ingin menunjukkan betapa mudahnya mendongeng dengan teknik Read Aloud ini. Selama hampir 5 jam saya memaparkan langkah langkah mudah yang dilakukan mulai dari awal membaca sampai aktifitas setelah membaca buku.

Dalam video ini, beberapa orang guru sedang asyik mempraktekkan betapa mudahnya membacakan cerita bagi murid muridnya.
Salah satu buku yang dibaca adalah buku berjudul “Piknik di Kumbinesia” dari KPK RI.

Yuk disimak videonya disini :

Mudahnya Mendongeng dengan Read Aloud

Hari Dongeng Sedunia, ratusan siswa terbius cerita Kak Heru

Kak Heru bersama ratusan siswa di Pangkep

Hari Dongeng Sedunia jatuh pada hari ini. Komunitas pendongeng dari Makassar memperingatinya dengan berkunjung ke salah satu SD di Kecamatan Minasa Tene, Pangkep, Sulawesi Selatan. Mereka mendongeng di depan 500 murid dari beberapa sekolah di kabupaten itu.
Peringatan Hari Dongeng Sedunia ini dilakukan dengan maksud untuk menumbuhkan kembali tradisi bercerita lisan yang kini mulai terkikis oleh perkembangan zaman. Bahkan, mereka juga mengajak orang tua dan guru untuk bercerita dalam bahasa daerah sendiri.
“Di momen Hari Dongeng Internasional ini, kami di komunitas Rumah Dongeng Indonesia, sengaja turun ke beberapa sekolah untuk berdongeng di depan siswa. Kami mengajak orang tua dan guru kembali menghidupkan tradisi ini,” kata pendiri Rumah Dongeng, Herumawan atau Kak Heru, Selasa (20/3/2018).

Kak Manggazali mendongeng di TK Islam Unggul

Kegiatan ini sengaja menggandeng pihak Perpustakaan Daerah. Jadi, selain berdongeng, anak-anak juga dirangsang untuk menumbuhkan minta baca mereka. Dongeng tidak cukup mendengarkan saja, tapi juga akan lebih baik jika dibaca langsung. Mereka juga akan diajarkan untuk bercerita.
“Setelah membaca, mereka juga diajak untuk menceritakan apa yang mereka telah baca di depan teman-temannya. Mereka ternyata sangat antusias mendengarkan kami bercerita. Orang tuanya juga sangat senang, karena mereka dilatih bagaimana berdongeng dengan baik,” lanjutnya.

Mami Kiko beraksi di SDN Tamalanrea

Selain di Pangkep, komunitas Rumah Dongeng Indonesia, juga berkunjung ke salah satu Taman Kanak-kanak di Kabupaten Gowa dan SD di Makassar, Sulawesi Selatan. Tidak hanya berdongeng, mereka juga mengajak siswa memainkan permainan tradisional yang juga tergerus dengan teknologi.
“Antara dongeng dengan permainan tradisional ini sama nasibnya. Sama-sama tergerus oleh zaman. Anak-anak sekarang seolah dicekoki dengan teknologi yang membuat mereka miskin pesan moral yang dulunya didapatkan dari dongeng orang tua,” pungkasnya.

Sumber: detik.com

Sedekah Dongeng #8 : TK Aisyiyah Mamajang Makassar

Mengawali pekan ketiga di Bulan Maret 2018, tim Sedekah Dongeng Yatim Mandiri Makassar dan Rumah Dongeng ID berkunjung ke TK Aisyiyah Bustanul Athfal yang berlokasi di Jalan Tupai, No. 35, 90135, Mamajang Dalam, Kec. Makassar, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90132. Sekolah yang lebih dikenal dengan nama TK Aisyiyah Mamajang ini berdiri pada tahun 1995 di Makassar. Sedangkan nama Aisyiyah sendiri merupakan salah satu organisasi ortonom bagi Wanita Muhammadiyah yang didirikan di Yogyakarta pada 27 Rajab 1335 H bertepatan dengan 19 Mei 1917 oleh Nyai Ahmad Dahlan, istri dari KH Ahmad Dahlan.

Saat ini ‘Aisyiyah telah dan tengah melakukan pengeloaan dan pembinaan sebanyak : 86 Kelompok Bermain/ Pendidikan Anak Usia Dini, 5865 Taman-Kanak-Kanak, 380 Madrasah Diniyah, 668 TPA/TPQ, 2.920 IGABA, 399 IGA, 10 Sekolah Luar Biasa, 14 Sekolah Dasar, 5 SLTP, 10 Madrasah Tsanawiyah, 8 SMU, 2 SMKK, 2 Madrasah Aliyah, 5 Pesantren Putri, serta 28 pendidikan Luar Sekolah. Saat ini Aisyiyah juga dipercaya oleh Pemerintah untuk menyelenggarakan ratusan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di seluruh Indonesia. Di Kota Makassar saat ini ada 60 TK Aisyiyah yang terbagi dalam 7 kelompok wilayah.

Senin pagi (19/03/2018) ini ada lebih dari 150 adik adik terlihat asyik mendengarkan dongeng sekaligus memberikan sedekah kepada para yatim dhuafa. Sungguh sangat menyenangkan sekali ketika mereka nampak senang dan ceria dengan dongeng yang Kak Heru bawakan pagi ini. Mereka duduk melantai di teras sekolah yang cukup luas dan memanjang bentuknya. Teras depan ini biasanya digunakan untuk berbagai macam kegiatan sekolah. Sekitar awal tahun 2017 Kak Heru pernah berkunjung ke sekolah ini bersama tim Mimi Susu yang menampilkan dongeng bertema profesi.

Di barisan paling depan sudah duduk dengan rapi adik adik dari kelompok play grup. Secara berurutan setiap kelompok duduk dengan rapi mulai dari depan sampai ke belakang. Di barisan paling belakang adalah mereka yang duduk di kelompok TK B. Beberapa orang tua juga nampak duduk menemani anak anak mereka. Tim Sedekah Dongeng dari Yatim Mandiri Makassar yang datang hari ini hanya Kak Muli saja. Biasanya ada beberapa volunter Yatim Mandiri yang berasal dari Universitas Islam Negeri kerap hadir pula untuk membantu jalannya acara. Menurut Kak Muli, volunter hari ini sedang berhalangan karena sedang ada kuliah di kampusnya masing masing.

Kegiatan Sedekah Dongeng bertujuan untuk menghimpun donasi dari siswa dan siswi di sekolah yang kemudian akan disalurkan kepada lembaga zakat yang resmi dan terdaftar di pemerintah Indonesia. Selain lembaga zakat, sedekah dongeng bisa bekerjasama dengan yayasan atau komunitas kemanusian. Gerakan ini akan memberikan edukasi khususnya anak usia sekolah dasar untuk sejak dini gemar bersedekah dan lebih peduli kepada sesama manusia.

Dongeng di 3 lokasi dalam sehari

Jumat, 16 Maret 2018 merupakan hari yang cukup melelahkan bagi Kak Heru. Di hari yang penuh berkah bagi umat muslim, ada 2 jadwal kegiatan Sedekah Dongeng dan 1 jadwal mendongeng di salah satu TPA di Bukit Baruga. Lokasi kegiatan yang sangat berjauhan cukup menyita tenaga dan raga.

Lokasi yang pertama adalah di SD Pertiwi di Jalan Bontolangkasa Makassar. Sekolah ini merupakan kompleks sekolah yang terdiri dari TK dan SD. Letaknya berdampingan dan dipisahkan oleh bangunan kantin sekolah. Bunda Vina yang merupakan penghubung dalam kegiatan Sedekah Dongeng ini adalah seorang pustakawan di SD Pertiwi. Saya meminta kepada Bunda Vina agar jadwal dongeng di sekolahnya bisa lebih awal karena harus melanjutkan kegiatan mendongeng di Kabupaten Maros.

Jumat pagi cuaca di Makassar ternyata tidak bersahabat dengan saya. Dari aplikasi Weather di smartphone, cuaca hari Jumat diperkirakan hujan dan petir. Dan ternyata prakiraan cuaca dari aplikasi tersebut cukup akurat. Semenjak subuh Kota Makassar sudah mulai diguyur rintik rintik hujan. Malahan di pukul 06:30 hujan turun dengan sangat deras, membuat saya cukup kuatir dengan kondisi lapangan di lokasi dongeng.

Tiba di SD Pertiwi pukul 07:05 WITA, dan acara baru bisa dimulai pada pukul 08:15 karena harus menunggu kedatangan murid murid ditengah turunnya hujan. Dari Yatim Mandiri Maros sudah memberikan notifikasi bahwa jadwal Sedekah Dongeng di SDN 28 Salenrang dimulai pukul 09:30 WITA.

Sayapun mengakhiri kegiatan Sedekah Dongeng di sekolah ini sekitar pukul 08:45 WITA. Tanpa menunggu lama sayapun pamit kepada Bunda Vina dan kepala sekolah untuk melanjutkan perjalanan ke sekolah lain.

Setelah selesai di SD Pertiwi Makassar, selanjutnya bergerak ke Kabupaten Maros.
Lokasinya adalah di SDN 28 Salenrang, kegiatan Sedekah Dongeng dilaksanakan di sekolah ini berkolaborasi dengan Laznas Yatim Mandiri Maros.

Desa Salenrang berjarak kurang lebih 60 km dari Makassar. Perjalanan ke sekolah ini penuh dengan tantangan cuaca. Melewati kota Maros, hujan dan petir seakan bersahutan di angkasa. Alhamdulillah perjalanan ke sekolah ini tak sia sia. Adik adik di SDN 28 Salenrang Maros tetap setia menunggu kedatangan tim Sedekah Dongeng.

Sedangkan lokasi ketiga adalah di Mushola Al Ukhuwah di Bukit Baruga. Kelompok ibu ibu di kompleks ini membina sekitar 40 anak anak untuk belajar mengaji di mushola ini. Saya ingat sekitar 3 tahun lalu mushola ini pernah saya kunjungi. Fisik dan kondisinya jauh berbeda dengan 3 tahun sebelumnya. Sekarang kondisinya sudah bagus dan bersih. Mushola sudah dilengkapi dengan 4 buah AC dan sound system yang bagus.

Ketika saya memulai dongeng, beberapa anak masih asyik bermain dengan gadgetnya. Ada sekitar 5 anak yang asyik bermain games. Sayapun merasa untuk tidak perlu menegur mereka yang nampak asyik. Dan benar, ketika dongeng sudah berlangsung 10 menit, tanpa dikomando, kelimanya langsung meletakkan gadgetnya dan mulai serius mendengarkan dongeng yang saya bawakan.

DongKel with Library di TK Mentari Bontoa

Memasuki minggu kedua di Bulan Maret 2018, kembali tim Dongeng Keliling Dinas Perpustakaan Kota Makassar mengeluarkan jadwal kunjungan rutin dongeng keliling. Di setiap awal pekan, Tulus Wulan Juni selaku pengatur dan penerima permintaan dongeng, selalu memberikan jadwal Dongkel With Library di grup WA dan media sosial lainnya.

Biasanya ada beberapa perubahan jadwal tukang dongengnya. Dikarenakan kesibukan dari kami sebagai pendongeng sekaligus menjalani berbagai jenis profesi yang berbeda beda, ada yang berprofesi sebagai guru TK, seperti Bunda Titi yang mengajar di salah satu TK di Maros. Ada juga kak Yusran yang saat ini mengajar di SDI Galangan Kapal IV, ada Kak Nojeng seorang penyiar TV dan Radio sekaligus seorang Doktor Bahasa Indonesia di UNM. Yang tukang masak alias ibu rumah tangga juga ada. Pokoknya macam macam profesi digeluti oleh tim pendongeng. Saat ini ada sekitar 26 tukang dongeng yang siap untuk terjun ke 360 sekolah selama tahun 2018.

Hari ini, Kamis 15 Maret 2018 Kak Heru bersama tim DongKel Dinas Perpustakaan berkunjung ke TK Mentari Bontoa di Kelurahan Barombong Makassar. Biasanya saya langsung mencari lokasi sekolah di Google Maps, namun nama TK Mentari tidak muncul di aplikasi maps ini. Beberapa kali saya mencoba menulis nama sekolah di kolom pencarian Google Maps namun hasilnya nihil. Saya sih senang bila nama sebuah tempat belum muncul di aplikasi ini, artinya bagi seorang Local Guide, istilah kami di komunitas Google Maps akan mendapat point 15 bila menambahkan sebuah tempat di aplikasi.

Sayapun mencoba alternatif pencarian lokasi sekolah dengan cara kedua. Yaitu “menelpon“..! . Dari ujung sebelah sana, suara manis seorang wanita menyapaku sembari membenarkan jadwal Dongkel With Library hari ini adalah di sekolahnya.

“Sekolah kami berada di dekatnya TK Alternatif Barombong”, ujar Bunda Mia ketika saya bertanya lokasi sekolahnya. Sayapun langsung teringat nama sekolah yang disebut Bunda Mia. Awal bulan Maret saya sudah berkunjung ke TK Alternatif. Rupanya jarak antara kedua sekolah tersebut tidak terlalu jauh. Sekitar 200 meter saja. Sayapun segera meluncur ke lokasi tanpa menunggu mobil layanan perpustakaan. Biasanya kami selalu bertemu di lokasi dongeng meskipun berbeda jadwal keberangkatan masing masing kendaraan.

TK Mentari Bontoa berada di belakang sebuah mesjid di Jalan Abd. Kadir 2 Barombong. Letaknya aman bagi anak anak untuk beraktifitas karena berada di lorong yang cukup sepi dari arus lalu lintas kendaraan. Dengan wajah yang sangat ramah, Bunda Mia menyambut kedatangan saya di halaman depan sekolah. Rupanya sekolah ini adalah sebuah rumah yang halamannya cukup luas. Ada beberapa permainan ketangkasan yang berdiri di samping halaman sekolah. Beberapa orang tua juga turut menemani anak anak mereka untuk mendengarkan dongeng.

Selain mendongeng untuk adik adik di sekolah ini, saya juga mengajak ibu ibu yang sedang berada di sekolah untuk membacakan buku cerita kepada masing masing anaknya. Ini adalah salah satu upaya agar orang tua juga turut berperan dalam mengenalkan buku kepada anak usia dini.

Pada tanggal 5 Mei 2018 akan diluncurkan Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku (Gernas BAKU) yang diinisiasi oleh Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI).

Gerakan Nasional Orang tua Membacakan Buku (GERNAS BAKU) yaitu, gerakan nasional kolaborasi antara pemerintah, pegiat peduli pendidikan anak usia dini, perguruan tinggi dan dunia usaha dalam rangka partisipasi keluarga dan lembaga PAUD untuk menumbuhkan budaya membaca.

Dan yang paling istimewa dari kegiatan dongeng hari ini adalah jamuan makan ikan bakar yang ternyata sudah disiapkan oleh Bunda Mia dan orang tua murid. Nikmat sekali bisa merasakan enaknya ikan bakar dan sambal pedas khas Makassar yang disajikan lengkap dengan sayur dan racikan mangga muda. Saya dan tim DongKel With Library segera menuntaskan jamuan makan siang yang sangat lezat dan nikmat.

Workshop Dongeng dan Polisi Sahabat Anak Polres Bone

Yayasan Kemala Bhayangkari pada tahun 2018 ini sudah berusia 38 tahun. Yayasan Kemala Bhayangkari dibentuk karena adanya rasa tanggung jawab, rasa senasib sepenanggungan, persaudaraan, persatuan dan kesatuan. Atas prakarsa ibu Widodo Budidarmo selaku ketua umum bhayangkari pada saat itu mencetuskan ide pembentukan yayasan, gagasan tersebut dilanjutkan oleh Ketua Umum Bhayangkari Ibu Poppy Awaluddin Djamin dengan mendaftarkan akte pendirian ke Notaris Ny. Hidayati Ananta Prajitno Nitisastro SH pada tanggal 5 Mei 1980, dengan nama “YAYASAN KEMALA BHAYANGKARI” yang berkedudukan dan berkantor pusat di Jakarta.

Sebagai rangkaian kegiatan ulang tahun yang ke-38 ini, Yayasan Kemala Bhayangkari Polres Bone mengadakan kegiatan yang bekerjasama dengan Rumah Dongeng ID dalam bentuk pelatihan mendongeng bagi guru TK se Kabupaten Bone. Bertempat di aula Pemadam Kebakaran Bone, pada hari Sabtu 10 Maret 2018 kegiatan pelatihan ini dibuka secara langsung oleh Ibu Yani Kadarislam selaku ketua Yayasan Kemala Bhayangkari Polres Bone.

Pelatihannya mendongeng ini diikuti oleh 159 guru TK yang berasal dari berbagai kecamatan yang ada di Kabupaten Bone. Selama kurang lebih 5 jam, peserta kegiatan diberikan tips dan teknik dasar mendongeng dengan teknik membacakan cerita atau Read Aloud. Mereka nampak antusias dan senang mendapatkan pengalaman baru dalam mendongeng. Dalam kegiatan praktek membacakan buku dongeng, peserta sepertinya tidak mengalami kesulitan untuk mendongeng dengan teknik Read Aloud ini.

Peserta workshop juga diberikan beberapa tips agar anak anak suka membaca buku dongeng, tips tersebut disingkat dengan 3B (Book, Basket dan Bed Lamp).

Yang pertama adalah Book.

Sebagai orang tua yang cerdas, cobalah membeli 1 buku lalu berikan kepada anak. Buku tersebut adalah buku pribadi anak anda. Tuliskan namanya di bagian dalamnya sebagai identitas kepemilikan buku. Katakan kepadanya bahwa buku itu adalah miliknya dan tidak perlu dikembalikan ke perpustakaan. Atau katakan juga kepadanya bahwa buku tersebut tidak boleh dipinjamkan kepada orang lain. Beri aturan kepadanya agar menjaga buku itu dengan baik. Ada penjelasan tersendiri nanti tentang kepemilikan buku pribadi dan prestasi membaca anak.

Yang kedua adalah Book Basket atau keranjang buku.
Letakkan keranjang buku di tempat

yang mudah dijangkau oleh anak.
Anda bisa juga meletakkan keranjang buku di tempat yang sering digunakan oleh anak. Misalkan di tempat bermainnya, atau bahkan dapat diletakkan di kamar mandi. Saya yakin dulu kita sering membaca koran atau majalah ketika sedang berada di kamar mandi. Sayangnya sekarang keberadaan koran sudah digantikan oleh gadget.

Yang ketiga adalah Bed Lamp atau Lampu Tidur.

Apakah di kamar anak anda sudah dipasangi lampu tidur? Jika belum belilah lampu tidur dan pasang di dekat tempat tidurnya. Kebanyakan anak yang sulit tidur biasanya akan membaca terlebih dahulu buku favoritnya. Matikan terlebih dahulu lampu utama di kamar tidurnya dan nyalakan lampu tidur. Dengan membaca sekitar 15 menit akan memudahkan mata mulai mengantuk dan tidur dengan lelap. Namun kebanyakan juga anak anak yang sudah senang membaca novel atau buku yang lebih tebal, proses membaca bisa sampai 1-2 jam lamanya.

Setelah memberikan sambutan sebagai tanda pembukaan acara secara resmi, Kapolres Bone tetap mengikuti kegiatan dongeng sampai selesai. Bahkan beliau duduk bersama anak anak mendengarkan dongeng yang dibawakan oleh Kak Heru dari Rumah Dongeng ID.