Menjadikan Dongeng sebagai Teladan bagi Anak.

(Memaknai Hari Pendidikan Nasional 2018)

“Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri andayani” –

Kalimat tersebut masih terasa tergiang di telinga saya. Ketika saya duduk di sekolah dasar, Pak Harjo seorang guru kelas selalu memberikan kata kata tersebut sembari menceritakan kisah Ki Hajar Dewantara sang Bapak Pendidikan Indonesia. Gaya bercerita sangat menarik dan sangat berkesan bagi saya. Hingga sekarangpun saya masih bisa mengingat apa yang beliau ceritakan.

Ing ngarsa sung tuladha

‘Ing Ngarso’ arti dari ‘di depan’
‘Sung Tulodho’ arti dari ‘sebagai contoh atau panutan’

Ingat cerita si Kancil?
Ya..! Kancil bisa menjadi salah satu teladan bagi anak anak bila ingin menjadi anak yang pintar dan suka menolong. Lihatlah bagaimana si Kancil menolong para warga ketika sedang kesulitan mencari sumber air. Bacalah buku karya Kak Aio dari Ayo Dongeng Indonesia dalam bukunya “Kanchil Kisah Sebenarnya”.

Menjadi teladan itu artinya si pemberi teladan harus senantiasa sadar, aware terhadap pikiran, perkataan dan tindakannya. Melakukan segala sesuatu secara benar. Memberi contoh yang baik itu sulit. Alamiahnya manusia itu selalu mondar-mandir di dua kutub. Mana bisa menjadi baik terus. Seharusnya juga tidak buruk terus.
Menyeimbangkan dua kutub itu adalah perjuangan seumur hidup. Lalu kalau untuk seimbang saja harus berjuang seumur hidup, sewaktu-waktu bisa tergelincir jatuh, bagaimana memberi teladan? Ya dengan menunjukkan usaha yang sungguh-sungguh untuk tetap seimbang itu tadi. Saat kita senantiasa sadar dan berusaha menyeimbangkan diri, tidak perlu repot-repot memikirkan apa teladan yang baik, sebenarnya kita sudah memberi teladan.

‘Ing Madyo’ arti dari ‘Di tengah’
‘Mangun Karso ‘ arti dari ‘Sebagai pelopor atau pemrakarsa ‘

Ini juga sulit. Bagaimana membuat situasi yang kondusif untuk orang lain agar bisa berkembang, menggugah semangat untuk dapat memecahkan masalah.
Cobalah baca legenda klasik Nenek Pakande dari Soppeng. Kisah menarik dan sangat terkenal yang bercerita tentang musibah yang terjadi di Soppeng. Anak anak diculik oleh penculik misterius dan punya kekuatan magic. Penduduk ketakutan!
Di tengah perdebatan warga yang ingin mengusir Nenek Pakande, muncullah sosok La Bedu yang mampu memberikan solusi dengan daya pikir yang cerdik. Kecerdikannya ternyata mampu mengalahkan kekuatan magic Nenek Pakande.
Atau fabel Singa dan Tikus. Dongeng klasik yang sering saya bawakan ketika mendongeng untuk adik adik kecil di TK. Dongeng yang bercerita tentang seekor tikus kecil yang hampir dimakan oleh om Singa yang sedang kelaparan. Namun siapa nyana ketika om Singa tiba tiba terjerat oleh jaring pemburu, dan ternyata si tikus kecil yang menjadi penolong dengan cara mengigit jaring sampai putus.

“Tut wuri ” artian makna ” Dari belakang ”
“Handayani ” artian makna ” Berupaya penuh memberi dorongan dan arahan”

Di belakang memberi dorongan moral. Nah ini dia. Katanya seorang pemimpin atau guru atau orang yang lebih pandai, lebih tahu– saat membimbing orang lainnya harus bersikap sebagai among atau pengasuh.
Ajarkan teladan melalui dongeng kepada ananda. Sebagai orang tua sudah melakoni berbagai kisah kehidupan yang dapat dijadikan sebagai model pengasuhan bagi anak.
Ajarkanlah teladan dalam dongeng Malin Kundang. Sebuah dongeng yang nilai teladannya adalah bagaimana menghormati ibu sebagai orang yang melahirkan kita di dunia.
Berilah keteladanan yang diajarkan oleh Nene Malommo dari Sidrap. Kejujurannya sebagai orang tua tetap dipegang walaupun anaknya sendiri harus dihukum mati karena mengambil kayu bitti yang bukan haknya.

Memaknai pendidikan cukup dengan tiga tindakan seperti apa yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara. Buka buku dari halaman depan, bacakan isinya di halaman tengah dan tutuplah halaman belakangnya dengan nilai keteladanan. Hanya dengan satu buku sudah merangkai ketiga motto pendidikan Indonesia.

Banyak Baca Banyak Tahu
Tak Membaca Sok Tahu

Sedekah Dongeng di Griya Mulya Asri

Sedekah Dongeng untuk Yatim Dhuafa, digelar pendiri Rumah Dongeng Makassar, Kak Heru, di kompleks Perumahan Griya Mulya Asri, Sudiang Makassar, Minggu (29/4/2018) sore.

Kak Heru yang sekaligus merupakan pendongeng nasional, menjelaskan sedekah dongeng merupakan salah satu kegiatan Rumah Dongeng Indonesia bekerja sama dengan Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Yatim Mandiri untuk mengedukasi anak usia dini dalam bersedekah.

“Tujuan sedekah Dongeng adalah untuk mengedukasi anak usia dini dalam bersedekah, agar membantu teman-teman mereka para yatim Dhuafa,” sebut kak Heru.

Kak Heru menambahkan bahwa menggalang dana melalui Dongeng merupakan salah satu cara menggugah anak usia dini untuk bersedekah dalam membantu sesama.

Sementara itu, terkait materi Dongeng yang diberikan dalam mengajak anak usia dini bersedekah, kak Heru mengemukakan kebanyakan berasal dari kisah-kisah Islami, yang diambil dari ayat-ayat suci Al-qur’an.

“Dalam Al-qur’an banyak kisah-kisah Islami yang bisa dijadikan materi Dongeng, seperti misalnya surah Al-Qari’ah tentang hari kiamat dan surah Al-Fil tentang penyerangan pasukan gajah,” jelasnya.

Sedekah Dongeng di Perumahan Griya Mulya Asri diikuti seratusan lebih anak-anak di kompleks tersebut. “Anak-anak yang diikut dalam sedekah Dongeng ini, sebagian berasal dari Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA),” sebut ketua pelaksana, Sirmayanti.

Penggalangan dana lewat sedekah Dongeng ini, Rumah Dongeng Indonesia berhasil mengumpulkan donasi lebih dari Rp 1.5 juta dan selanjutnya disalurkan ke Laznas Yatim Mandiri Makassar

Sumber: CelebesOnline