Dongeng di TK Azzahra Takalar

Sabtu 22 Desember 2018 berkunjung ke TK Azzahra Takalar.

Hari ini adik adik menerima raport hasil belajarnya di awal semester 2018. Kegembiraan mereka bertambah karena hari ini ada dongeng bersama Kak Heru dan Momo. Beberapa anak yang sedianya tidak mau datang ke sekolah, namun mendengar ada dongengnya Kak Heru, serentak mereka berdatangan ke sekolah.

Dongeng memang kata magic bagi anak anak. Seperti kegembiraan adik adik bersama sama mendengarkan dongeng yang sekaligus ditemani oleh orang tuanya.

Sampai jumpa di lain waktu ya…

#DongengAnak
#rumahdongeng
#storytelling

Sedekah Dongeng di SD Maccini 3 dan 4

Asyiknya Mendongeng di SD Maccini 3 dan 4 pagi ini bersama tim Sedekah Dongeng dari Laznas Yatim Mandiri Makassar.

Menjelang berakhirnya semester awal tahun ajaran 2018 ini, murid murid di sekolah ini tetap masuk Sekolah dan mengadakan berbagai macam kegiatan. Salah satunya adalah mengundang tim Sedekah Dongeng untuk datang ke sekolah ini.

Halaman sekolah yang masih tergenang air hujan membuat kegiatan dongeng dipindahkan ke sebuah mini hall ala SD Maccini 3. Walaupun harus duduk melantai, tak membuat semangat mereka kendor untuk berbagi kepada sesama melalui sedekah bagi yatim dhuafa.

#sedekahdongeng
#rumahdongeng

Sudiang? Kayaknya Jauh Sekali!

Hujan mendera Makassar dengan kerasnya.
Anehnya Sudiang tidak hujan?

Ah… Jadi ingat anekdot tentang Sudiang.
Katanya Sudiang itu bukan wilayah Makassar.
Ada yang bilang Sudiang itu jauuuhhhh….!

Kalo jualan online bakalan batal transaksi karena kejauhan letak Sudiang.

Kegiatan Sedekah Dongeng di TK Islam Sudiang

Walau jauh dan kena macet, pagi ini tepat pukul 9 pagi Kak Heru sudah berada di TK Islam Sudiang. Karena sudah beberapa kali datang ke sekolah ini, pak Satpam sampai hapal dengan si Bona.

“Selamat pagi Bona!”, sapa pak satpam ketika saya memarkir mobil di depan sekolah.

Kegiatan Sedekah Dongeng di TK Islam Sudiang

Biasanya jalanan di depan sekolah penuh dengan mobil yang berlalu lalang dan parkir di depan sekolah. Namun pagi ini ada tempat parkir spesial buat Kak Heru yang tepat di depan sekolah.

Asman dan Joharni dari Laznas Yatim Mandiri sudah datang duluan di sekolah ini. Kamipun segera naik ke lantai dua. Terdengar pengumuman dari speaker sekolah yang menginformasikan kedatang tim Sedekah Dongeng. Tak butuh waktu lama, aula serbaguna di lantai 2 segera penuh dengan ratusan adik adik TK Islam Sudiang.

Kegiatan Sedekah Dongeng di TK Islam Sudiang

Hari ini kegiatan Sedekah Dongeng mengumpulkan infaq berjumlah Rp. 3.070.000,- yang selanjutnya disalurkan kepada Laznas Yatim Mandiri Makassar.

Panggilan ke Takalar : Ma’udu Lompoa

Perayaan Ma’udu Lompoa di Takalar (Foto Tribun Timur)

Pemerintah Kabupaten Takalar menggelar perayaan Ma’udu Lompoa di Desa Cikoang, Kec. Manggarabombang, Kab. Takalar, Kamis (6/12/2018). Bagi yang masih asing dengan istilah Ma’udu Lompoa, artinya kurang lebih adalah Maulid Besar. Kegiatan ini adalah rangkain peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan setiap tahunnya di desa ini. Biasanya dalam acara ini ada berbagai perahu hiasan yang berisi telur dan makanan songkolo’ atau ketan hitam.

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di TK Andika Takalar

Hanya saja Kak Heru kali ini bukan diundang ke Desa Cikoang Takalar, tetapi ke TK Andika miliknya bunda Sumiati Madeali di Jalan Pramuka 1 Takalar. Di sekolah ini turut juga diadakan kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang tak kalah seru dong dengan perayaan Maudu Lompoa di Cikoang.

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di TK Andika Takalar

Di halaman belakang rumah yang dijadikan sebagai sekolah, pagi ini sudah berdatangan adik adik sangat bersemangat. Hari sebelumnya ibu guru sudah mengumunkan bahwa hari ini mereka akan mendengarkan kisah Muhammad semasa masih kecil di sekolahnya. Ini adalah kunjungan pertama saya ke sekolah ini, walaupun sudah beberapa kali mengunjungi Takalar untuk kegiatan dongeng tahun lalu.

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di TK Andika Takalar

Hampir semua murid sudah datang sewaktu saya tiba di sekolah ini. Kebanyakan dari mereka sepertinya belum mengenal saya. Hanya ibu Sumiati, kepala sekolah TK yang sudah mengenal saya ketika beliau ikut workshop dongeng bersama KPK tahub 2017 di Makassar. Setelah semua peralatan sound system terpasang dengan rapi, saya mulai menyapa adik adik kecil ini. Sapaan saya dibalas dengan begitu bersemangat dan tak sabar untuk mendengar dongeng pagi ini.

Dahulu kala, hiduplah seorang pemuda yang gagah perkasa. Badannya tinggi besar, wajahnya bersinar terang dan sangat ramah. Namanya adalah Abdullah…….

Itulah awal mula kisah tentang Muhammad sewaktu kecil hari ini.

Ruang Ekspresi: Panggung Para Seniman Sulsel 2018

Gadis kecil berbaju kuning bergegas turun dari kursi rodanya. Saya tak menyadari kehadirannya karena sedang asyik berbincang dengan Yaser, seorang teman yang suka baca puisi.

Tak lama berlalu si gadis kecil ini segera memeluk saya dengan eratnya. Seakan akan lama tak berjumpa dengan saya. Sang ibu yang sedang mendorong kursi roda hanya bisa tersenyum memandang putri kecilnya. Sayapun segera jongkok supaya bisa juga membalas pelukannya.

“Apa kabar? Sudah kelas berapa sekarang?”, tanyaku sembari mencoba mengingat ingat nama gadis ini.

Terus terang saya ini punya ingatan yang parah. Saya lupa nama gadis kecil ini. Bahkan ketika Yaser bertanya kepadanya, saya hanya bisa mendengar sayup sayup ucapannya. Memang dia sudah beberapa kali ikut mendengarkan dongeng ketika saya manggung di beberapa acara.

” Kelas 6 kak…, Bona mana?”, jawabnya sembari matanya melihat ke kiri dan ke kanan mencari Bona.

Pelukannya mulai lepas ketika dia melihat tasnya Bona. Si boneka tersebut memang sangat disukainya. Dan sepertinya anak anak lebih suka dengan Bona dibandingkan dengan saya. Hanya dengan melihat tas Si Bona, gadis kecil ini sudah merasa puas dan yakin nanti akan melihat langsung aksi Si Bona. Tak lama kemudian diapun berlalu dari hadapan saya setelah berfoto bersama.

Hari ini saya bertemu dengan banyak penggiat seni di Makassar. Kebanyakan dari mereka adalah para perupa. Bertempat di Baruga Laki Padada, hari ini Minggu 2 Desember berlangsung kegiatan Ruang Ekspresi 2018. Beberapa kegiatan antara lain video art, mural, live painting, live music, sharing discussion, temu komunitas dilaksanakan dalam kegiatan yang diinisiasi oleh Ibu Gubernur Sulawesi Selatan.

Ruang Ekspresi 2018 di Rujab Gubernur Sulsel

Dan sayapun juga diminta oleh pihak panitia pelaksana untuk mengisi dongeng dalam kegiatan Ruang Ekspresi ini. Pilihan dongeng dalam kegiatan ini adalah cerita rakyat Makassar yang berjudul Pung Julung Julung, kisah persahabatan antara ikan lumba lumba dengan I Barani. Ketika saya mulai tampil di panggung, nampak si gadis kecil tadi duduk paling depan dan selalu tersenyum bahkan tertawa ketika Bona mulai beraksi.

Duduk di depan panggung dan asyik dengar dongeng

Dan sampai malam ini setiba di rumah, saya masih belum ingat nama gadis kecil berbaju kuning tadi…!

Kare-Karena bersama UNHCR dan Komunitas Makassar

Kare Karena, kegiatan yang dilaksanakan oleh UNHCR dan Komunitas Makassar

Sebuah spanduk terpasang di dinding utara Chappel Fort Rotterdam Makassar. Spanduk berukuran 5m x 6m bertuliskan “Kare-Karena“, kata yang masih asing di kosa kata saya.

Tak mau berlama lama memandang spanduk ini, sayapun segera menaiki anak tangga menuju lantai 2 bangunan Chappel yang berada di tengah Fort Rotterdam. Di lantai bawah digunakan sebagai musium yang menyimpan peta benteng Panyulla yang nampak dari atas. Sedangkan lantai 2 biasanya digunakan untuk berbagai kegiatan komunitas.

Kare Karena, kegiatan yang dilaksanakan oleh UNHCR dan Komunitas Makassar

Hari ini, Sabtu 1 Desember 2018 salah satu badan PBB yakni UNHCR mengadakan kegiatan yang berjudul Kare-Karena. Setelah bertanya kepada salah satu panitia, makna dari kata tersebut adalah “main main”. UNHCR adalah United Nations High Commissioner for Refugees, bermarkas di Jenewa, Swis. Badan ini didirikan pada tanggal 14 Desember 1950, bertujuan untuk melindungi dan memberikan bantuan kepada pengungsi berdasarkan permintaan sebuah pemerintahan atau PBB kemudian untuk mendampingi para pengungsi tersebut dalam proses pemindahan tempat menetap mereka ke tempat yang baru.

Kare Karena merupakan salah satu program yang mengajak adik adik pengungsi yang berada di Kota Makassar untuk bermain dan bergembira. Ada permainan tradisional bersama Kika Aksara; Kelas Tangan Kreatif bersama Nita Sbj; Dongeng dari Safira Rumah Dongeng dan live music bersama HAS. Kegiatan ini berlangsung mulai dari pagi sampai sore.

Beberapa anak anak pengungsi sedang asyik bermain monopoli

Ada kurang lebih 20 anak anak refugees yang datang untuk bermain dan mendengarkan dongeng. Mereka didampingi oleh mbak Mayrina dari UNHCR yang secara khusus membuat kegiatan yang melibatkan komunitas di Makassar. Selain itu juga nampak hadir beberapa adik adik non refugees yang sengaja dihadirkan di kegiatan ini supaya ada interaksi langsung antar anak anak. Ada sekitar 10 anak yang berasal dari SD Samiun Makassar yang datang dan ikut bermain bersama anak lainnya.

Safira dari Rumah Dongeng asyik bermain dengan salah anak refugees

Menurut Mayrina, setiap kegiatan yang melibatkan pengungsi harus diawasi dan disetujui oleh UNHCR. Ada beberapa ketentuan khusus yang harus dipenuhi oleh pelaksana kegiatan apabila membuat kegiatan yang melibatkan anak anak pengungsi dibawah pengawasan UNHCR. Salah satu aturannya adalah tidak boleh mengambil foto yang langsung mengarah ke wajah anak anak pengungsi. Pengunjung juga harus meminta ijin kepada orang tua anak bila ingin mengambil gambar mereka. Beberapa orang tua sudah fasih berbicara dalam bahasa Indonesia, bahkan ada yang tahu bahasa Makassar. Demikian pula dengan anak anak mereka yang sudah fasih berbicara dalam bahasa walaupun mereka lebih sering memakai bahasa dari negaranya sendiri bila sedang bermain dengan teman sesamanya.