Category Archives: Dongeng Anak

Workshop Dongeng dan Polisi Sahabat Anak Polres Bone

Yayasan Kemala Bhayangkari pada tahun 2018 ini sudah berusia 38 tahun. Yayasan Kemala Bhayangkari dibentuk karena adanya rasa tanggung jawab, rasa senasib sepenanggungan, persaudaraan, persatuan dan kesatuan. Atas prakarsa ibu Widodo Budidarmo selaku ketua umum bhayangkari pada saat itu mencetuskan ide pembentukan yayasan, gagasan tersebut dilanjutkan oleh Ketua Umum Bhayangkari Ibu Poppy Awaluddin Djamin dengan mendaftarkan akte pendirian ke Notaris Ny. Hidayati Ananta Prajitno Nitisastro SH pada tanggal 5 Mei 1980, dengan nama “YAYASAN KEMALA BHAYANGKARI” yang berkedudukan dan berkantor pusat di Jakarta.

Sebagai rangkaian kegiatan ulang tahun yang ke-38 ini, Yayasan Kemala Bhayangkari Polres Bone mengadakan kegiatan yang bekerjasama dengan Rumah Dongeng ID dalam bentuk pelatihan mendongeng bagi guru TK se Kabupaten Bone. Bertempat di aula Pemadam Kebakaran Bone, pada hari Sabtu 10 Maret 2018 kegiatan pelatihan ini dibuka secara langsung oleh Ibu Yani Kadarislam selaku ketua Yayasan Kemala Bhayangkari Polres Bone.

Pelatihannya mendongeng ini diikuti oleh 159 guru TK yang berasal dari berbagai kecamatan yang ada di Kabupaten Bone. Selama kurang lebih 5 jam, peserta kegiatan diberikan tips dan teknik dasar mendongeng dengan teknik membacakan cerita atau Read Aloud. Mereka nampak antusias dan senang mendapatkan pengalaman baru dalam mendongeng. Dalam kegiatan praktek membacakan buku dongeng, peserta sepertinya tidak mengalami kesulitan untuk mendongeng dengan teknik Read Aloud ini.

Peserta workshop juga diberikan beberapa tips agar anak anak suka membaca buku dongeng, tips tersebut disingkat dengan 3B (Book, Basket dan Bed Lamp).

Yang pertama adalah Book.

Sebagai orang tua yang cerdas, cobalah membeli 1 buku lalu berikan kepada anak. Buku tersebut adalah buku pribadi anak anda. Tuliskan namanya di bagian dalamnya sebagai identitas kepemilikan buku. Katakan kepadanya bahwa buku itu adalah miliknya dan tidak perlu dikembalikan ke perpustakaan. Atau katakan juga kepadanya bahwa buku tersebut tidak boleh dipinjamkan kepada orang lain. Beri aturan kepadanya agar menjaga buku itu dengan baik. Ada penjelasan tersendiri nanti tentang kepemilikan buku pribadi dan prestasi membaca anak.

Yang kedua adalah Book Basket atau keranjang buku.
Letakkan keranjang buku di tempat

yang mudah dijangkau oleh anak.
Anda bisa juga meletakkan keranjang buku di tempat yang sering digunakan oleh anak. Misalkan di tempat bermainnya, atau bahkan dapat diletakkan di kamar mandi. Saya yakin dulu kita sering membaca koran atau majalah ketika sedang berada di kamar mandi. Sayangnya sekarang keberadaan koran sudah digantikan oleh gadget.

Yang ketiga adalah Bed Lamp atau Lampu Tidur.

Apakah di kamar anak anda sudah dipasangi lampu tidur? Jika belum belilah lampu tidur dan pasang di dekat tempat tidurnya. Kebanyakan anak yang sulit tidur biasanya akan membaca terlebih dahulu buku favoritnya. Matikan terlebih dahulu lampu utama di kamar tidurnya dan nyalakan lampu tidur. Dengan membaca sekitar 15 menit akan memudahkan mata mulai mengantuk dan tidur dengan lelap. Namun kebanyakan juga anak anak yang sudah senang membaca novel atau buku yang lebih tebal, proses membaca bisa sampai 1-2 jam lamanya.

Setelah memberikan sambutan sebagai tanda pembukaan acara secara resmi, Kapolres Bone tetap mengikuti kegiatan dongeng sampai selesai. Bahkan beliau duduk bersama anak anak mendengarkan dongeng yang dibawakan oleh Kak Heru dari Rumah Dongeng ID.

Tips Agar Anak Suka Membaca

Saya akan berbagi tips agar anak kita membaca lebih baik.

Tips ini saya ambil dari buku karya Jim Trelease Bab 2 Kapan Mulai Membacakan Buku Untuk Anak.

Sebelum saya memulai untuk membagi tips tersebut, apakah kita di rumah sudah punya kartu anggota perpustakaan?

Bagi yang belum silakan menghubungi Ibu Tasya di WA – 085242969090.

Khusus pecinta buku di Kota Makassar pembuatan kartu anggota perpustakaan dapat dilakukan secara online melalui media sosial. Cukup kirimkan foto dan data diri ke nomor WA diatas.

Kembali ke tips tentang bagaimana agar anak membaca lebih baik, berikut saya rangkumkan secara ringkas dan pendek.
Tips tersebut disingkat dengan 3B (Book, Basket dan Bed Lamp).

Yang pertama adalah Book.

Sebagai orang tua yang cerdas, cobalah membeli 1 buku lalu berikan kepada anak. Buku tersebut adalah buku pribadi anak anda. Tuliskan namanya di bagian dalamnya sebagai identitas kepemilikan buku. Katakan kepadanya bahwa buku itu adalah miliknya dan tidak perlu dikembalikan ke perpustakaan. Atau katakan juga kepadanya bahwa buku tersebut tidak boleh dipinjamkan kepada orang lain. Beri aturan kepadanya agar menjaga buku itu dengan baik. Ada penjelasan tersendiri nanti tentang kepemilikan buku pribadi dan prestasi membaca anak.

Yang kedua adalah Book Basket atau keranjang buku.
Letakkan keranjang buku di tempat

yang mudah dijangkau oleh anak.
Anda bisa juga meletakkan keranjang buku di tempat yang sering digunakan oleh anak. Misalkan di tempat bermainnya, atau bahkan dapat diletakkan di kamar mandi. Saya yakin dulu kita sering membaca koran atau majalah ketika sedang berada di kamar mandi. Sayangnya sekarang keberadaan koran sudah digantikan oleh gadget.

Yang ketiga adalah Bed Lamp atau Lampu Tidur.

Apakah di kamar anak anda sudah dipasangi lampu tidur? Jika belum belilah lampu tidur dan pasang di dekat tempat tidurnya. Kebanyakan anak yang sulit tidur biasanya akan membaca terlebih dahulu buku favoritnya. Matikan terlebih dahulu lampu utama di kamar tidurnya dan nyalakan lampu tidur. Dengan membaca sekitar 15 menit akan memudahkan mata mulai mengantuk dan tidur dengan lelap. Namun kebanyakan juga anak anak yang sudah senang membaca novel atau buku yang lebih tebal, proses membaca bisa sampai 1-2 jam lamanya.

Dongeng Jelajah Maros

 

Sabtu 11 Nopember 2017 Kak Heru diundang oleh sekelompok anak anak muda yang bergabung di Komunitas Fosma 165 dalam program Peduli Masyarakat Pedalaman.
Lokasi dongeng kali ini bertempat di Dusun Tala Tala Desa Bontomanai Kecamatan Tompobulu Maros yang berjarak sekitar 70 km dari Makassar.

Untuk menuju ke lokasi ini saya mengandalkan Maps dari Google. Pukul 10:15 saya memulai perjalanan ini dari Jalan Gunung Salahutu Makassar. Namun ternyata perjalanan tak semudah yang nampak di layar smartphone. Mendekati lokasi meeting point di kawasan Wisata Alam Pucak, ada penutupan jalan karena sementara proses betonisasi. Padahal menurut Maps, hanya butuh 10 menit lagi utk sampai di meeting point.

Terpaksa mobil memutar arah dan menyisir jalanan sepanjang sungai yang merupakan sumber utama air PAM Maros di bendungan Lekopaccing. Tiba di Pucak pukul sekitar pukul 12:15 dan menunaikan Sholat Dzuhur di mesjid yang berada persis di samping Kantor Kecamatan Tompobulu Maros. Saya mencoba menghubungi panitia namun karena sinyal HP mulai bergoyang tak beraturan, beberapa kali nomor yang dituju tidak dapat tersambung.
Sembari menunggu jemputan, saya update status di Facebook sambil mengambil beberapa foto lokasi sekitaran mesjid. Tak lama mucul komentar dari Bunda Artika Purnamasari yang ternyata bekerja di Puskesmas Tompobulu yang tak jauh dari mesjid. Sayapun bergegas menyambangi puskemas yang lokasinya hanya berjarak 300 m dari mesjid.
Usut punya usut anaknya bunda Artika adalah salah satu temannya Bona !!!.
Si kecil sudah 2 kali bertemu dengan Bona di TK Asoka Sudiang.

Setelah ngobrol dengan beliau, saya baru tahu kalau ibu bidan ini berasal dari desa Tlawong Boyolali yang tak jauh dari kampung halamanku di desa Cepoko Sawit. Senang rasanya bisa bertemu dengan keluarga muda ini. Ketika sedang asyik chit chat di depan puskesmas, dari jauh nampak muncul mobil panitia baksos yang siap mengantarkan kami menuju lokasi kegiatan yang jaraknya masih sekitar 1 jam lagi.

Jalanan menuju lokasi memang hanya bisa dilalui oleh mobil dengan spesifikasi khusus mengingat kondisi jalanan yang masih seperti rute off road. Pemandangan yang sangat menawan seakan menemami perjalanan kami yang penuh dengan goncangan ke kanan dan kiri. Seperti lirik lagu “Pemandangan”; kiri kanan kulihat saja banyak pohon cemara…
Kak Erlan sang driver seakan sudah hapal dengan rute off ini. Hari ini mobil yang kami tumpangi sudah 10 x bolak balik menjemput beberapa tamu penting yang sempat datang dalam kegiatan ini termasuk Ibu Wagub Sulsel sebagai salah satu pembina Fosma 165. Termasuk juga sponsor dari BUMN Pegadaian yang juga harus naik ke lokasi menggunakan motor karena kapasitas mobil yang cukup hanya untuk 7 orang saja.

Dongeng Jelajah Maros9

Mobil ini sangat tangguh digunakan ke lokasi. Bahkan sehari sebelumnya digunakan untuk mengangkut 50 zak semen. Ada jembatan kecil yang cukup mengerikan untuk dilalui. Harus esktra hati hati bila melewati jembatan ini. Bahkan ketika perjalanan pulang, roda bagian kanan mobil sempat terjerumus ke sisi jembatan. Kami harus turun untuk mencari batu batu sebagai penopang roda. Alhamdulillah mobil bisa lolos dan melanjutkan perjalanan.

Sekitar pukul 14:00 kami tiba di lokasi baksos. Bertempat di sebuah mushola kecil, ratusan adik adik sudah tak sabar menunggu dongeng.
Walaupun sedari pagi listrik padam di desa ini, namun tak mengurangi antusias mereka. Untungnya saya membawa sound sytem portable yang siap dipakai meskipun listrik padam (ternyata baru saya tahu kalau hari Sabtu, listrik se Sulawesi Selatan lagi BlackOut alias pemadaman total selama hampir 10 jam..!).

Serunya dongeng bersama Kak Heru dan si Bona harus berakhir pada pukul 15:00. Setelah mencicipi jamuan makan siang yang sudah disiapkan oleh penduduk setempat, kamipun harus bergegas meninggalkan lokasi kegiatan untuk melanjutkan perjalanan menuju ke Kabupaten Bone yang berjarak sekitar 150 km dari lokasi ini.

#RumahDongeng
#Pendongeng
#StorytellingAndTraveling

Special Program MIWF for Kids

Diskusi bersama Clara Ng, Ria Papermoon dan Kak Heru

“Sebuah program untuk anak anak, orang tua dan guru yang ingin belajar dan menikmati indahnya dongengnya”

Kalimat itu terpampang jelas dalam buku program Makassar International Writers Festival yang kali ini memasuki tahun ke-7. Selama 3 hari mulai dari 17-20 Mei 2017, publik Makassar dimanjakan dengan kegiatan literasi terbesar di Kawasan Timur Indonesia. Bagi saya yang sudah hampir 3 tahun dilibatkan dalam kegiatan ini, tahun ini adalah tahun yang amat spesial untuk program Kids Corner. Ada 3 nara sumber yang dihadirkan oleh panitia khusus untuk kegiatan StoryTelling di Kids Program, mereka antara lain Clara Ng, penulis buku anak; Ria Papermoon dari Yogyakarta; Wendy Miller dari Australia dan tentunya didukung oleh Rumah Dongeng.

Pesta Pendidikan 2017

Kegiatan pra event MIWF dimulai tanggal 15 Mei 2017 di salah satu sudut gedung Benteng Rotterdam Makassar. Sore itu, Clara Ng dan Ria Papermoon serta Kak Heru sebagai moderator berbicara tentang Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Membaca. Meskipun Clara berlatar belakang sebagai penulis, banyak tips membaca yang diberikan dalam diskusi ini. Salah satunya adalah rumus Tangga Membaca 5M 1B. M yang pertama adalah Meramal, M yang kedua Melamun, M yang ketiga Mengait, M yang keempat Mengklarifikasi, M yang kelima Mengevaluasi dan B yang terakhir adalah Bertanya.

“Meramal dalam tangga membaca ini berhubungan dengan imajinasi pembaca. Ketika anak membaca, kira kira apa yang akan terjadi di halaman selanjutnya?” ungkap Clara ketika menjelaskan M yang pertama. Menurutnya, kekuatan imajinasi akan membuat anak merasa penasaran dengan kelanjutan dari isi buku yang dibaca oleh anak. Apakah tokohnya berhasil memecahkan sebuah masalah?
Ria Papermoon membeberkan kaitan rumus Tangga Membaca pada point terakhir, yaitu Bertanya.
“Papermoon dalam membuat sebuah konsep cerita akan selalu riset dan bertanya ke berbagai nara sumber. Saya akan selalu bertanya ke berbagai macam orang ketika membuat naskah”, ungkap pendiri kelompok teater boneka Papermoon yang berdiri sejak tahun 2006. Ria Papermoon juga menjelaskan bahwa menerjemahkan sebuah naskah yang penuh dengan kata ke dalam konsep boneka tanpa kata merupakan suatu kesulitan tersendiri baginya.
“Kekuatan utama Papermoon adalah penampilan boneka tanpa kata. Dalam setiap penampilan kami berupaya untuk meminimalisasi penggunaan kata”.

Kalimat terakhir itu membuat Arif, salah seorang peserta diskusi semakin penasaran. Dalam sesi tanya jawab dia langsung menanyakan hal tersebut kepada Ria.
“Kami saja yang sudah maksimal untuk berlatih dialog kadang kadang penonton belum mengerti dengan alur ceritanya. Ini Papermoon kok malah menampilkan pertunjukan tanpa kata. Bagaimana membuat penonton bisa mengerti?” tanya Arif yang aktif dalam pertunjukan sinrilik di berbagai negara.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Ria menyarankan Arif untuk mengikuti sessi Workshop Puppetry For Beginner yang berlangsung selama 2 hari mulai tanggal 15-16 Mei 2017.

Workshop Puppet Papermoon
Selama 2 hari sebanyak 18 peserta mendapatkan pelatihan langsung dari 2 nara sumber utama yaitu Ria selaku Founder Papermoon Puppet Teater dan Iwan selalu Artistic Director. Keduanya  memberikan materi yang terbagi menjadi 2 hari pelaksanaan workshop. Di hari pertama peserta diberikan materi  “Puppet making for Beginners”. Bahan utama pembuatan boneka adalah kertas koran. Secara detail peserta diajari cara membuat boneka, mulai dari kaki sampai kepala boneka. Peserta dibagi menjadi 3 kelompok sekaligus mendapatkan tugas yang berbeda di setiap kelompoknya. Mereka harus membuat sebuah konsep cerita yang kemudian diwujudkan dalam bentuk boneka.

Workshop Puppet Papermoon di MIWF

Di hari kedua, kegiatan workshop dilanjutkan dengan materi “Object and Puppetry”. Boneka yang dibuat harus sesuai dengan konsep cerita dalam masing masing kelompok. Tema anak anak diberikan untuk kelompok 1, tema orangtua untuk kelompok 2 dan tema suami istri untuk kelompok 3. Setiap kelompok akan diberikan kesempatan untuk tampil pada acara pembukaan MIWF tanggal 17 Mei 2017.

General Lecture
Aula Aksa Mahmud Universitas Bosowa yang berlokasi di Jl Urip Sumohardjo menjadi tempat dilaksanakannya kuliah umum bersama Clara Ng pada hari Selasa 16 Mei 2017. Tema yang diambil dalam kuliah umum ini adalah StoryTelling Empathy :
Moral in Everywhere and Children’s Literature. Dekan Fakultas Psikologi Unibos, Minarni mengapresiasi kegiatan MIWF 2017 yang dikhususkan untuk mahasiswa Fakultas Psikologi Unibos.

General Lecture bersama Clara

Clara mengawali kuliah umum ini dengan mengenalkan konsep moralitas versi Jonathan Hegde. Menurutnya, moralitas erat kaitannya dengan emosi atau feeling manusia. Selanjutnya Clara memberikan beberapa contoh buku buku anak yang banyak mengandung nilai moral bagi anak anak. Buku tersebut antara lain The Big Orange Splot, Harold and the Purple Crayon, Let’s Do Nothing, Morris the Moose, Stella Linna dan Dru karya Clara Ng.

Diskusi The Power of Story

Mengawali kegiatan Kids Program MIWF 2017, diadakan diskusi yang membahas tentang Kekuatan Bercerita di area Taman Baca. Bincang santai di sore hari menghadirkan Ria Papermoon Puppet Theather dan Clara Ng  serta dipandu oleh kak Heru dari Rumah Dongeng. Kedua nara sumber, berbicara tentang dahsyatnya dongeng bagi anak anak dan orang tua. Dongeng akan selalu menghadirkan imajinasi, baik melalui buku atau boneka.
Pengunjung yang hadir sempat dibuat takjub oleh penampilan Ria yang memperagakan kemampuannya bermain boneka tanpa kata.

Panel Discussion:
How to Rise Readers in Your Family

Di hari kedua, Kamis 18 Mei 2017 berlangsung kegiatan Diskusi Panel dengan menghadirkan nara sumber yaitu Hasanuddin Abdurakhman dan Matsui Kazuhisa dan Wendy Miller sebagai moderator.

Mr. Hasan lebih menekankan bahwa tehnologi sangat membantu anak anak untuk mengenal dan menyukai buku.

Mr. Kazuhisa berbicara tentang kisahnya ketika dia masih kecil suka didongengkan oleh ibunya. Dongeng yang diceritakan sangat membantu imajinasinya dalam memahami sebuah kisah. Dongeng yang dibacakan oleh ibunya sangat ekspresif dan beliau kagum dengan kemampuan ibunya dalam menirukan suara suara hewan ketika sedang mendongeng.

Wendy Miller membeberkan kegiatan membaca di Australia dimulai dari umur 0 -18 bulan di perpustakaan daerah. Jenis buku tergantung dari usia anak, dengan gambar yang menarik bagi mereka. Ada yang menarik ketika Wendy berbicara tentang Dog’s Read, anak anak yang malu ketika sedang belajar membaca di depan temannya atau di kelas dapat menggunakan hewan sebagai teman membacanya.

Dalam sessi tanya jawab, Mey dari komunitas Sokola Kaki Langit mengungkapkan betapa sekolah binaannya sangat kurang dengan media baca. Bahkan ketika ditunjukkan dengan buku, anak anak binaannya malah bertanya “apa itu Kak?”

Menarik sekali diskusi sore ini karena kita bisa mengetahui bagaimana budaya baca di 3 negara yang berbeda. Dari ketiga nara sumber yang hadir ada satu titik temu bagaimana meningkatkan budaya baca bagi anak anak. Mereka sepakat untuk menggunakan dongeng sebagai satu satunya cara yang menarik bagi anak dalam mengenalkan literasi sejak dini.

Kid’s Corner: StoryTelling Show
Di hari ke-3 dan ke-4, adalah hari yang dinantikan oleh anak anak. Ada dongeng bersama Kak Heru dari Rumah Dongeng Indonesia, Wendy Miller yang khusus datang setiap tahun dengan cerita khas Australia. Ada juga Mami Kiko dengan dongeng Timun Mas dan Kak Titi dengan dengan Piknik di Kumbinesia.


Secara khusus ada penampilan Farah, pendongeng cilik dari Pangkep yang membawakan cerita tentang asal usul Kampung JawaE yang ada di kabupaten Pangkep. Murid kelas 5 SD ini fasih mengolah cerita rakyat yang menceritakan tentang kerajaan Labakkang dan kerajaan Madura yang mengadakan pertandingan laga fisik. Atas kemenangan panglima Labakkang akhirnya raja Madura memberikan hadiah berupa kendi. Dimanapun kendi itu berlabuh, maka disitulah tanah yang dapat ditempati oleh orang orang Madura sebagai hadiah kemenangan panglima Labakkang. Kehadiran Kak Safira, pendongeng yang setiap tahun selalu hadir di MIWF sejak tahun 2013 membuat keriuhan anak anak semakin ramai. Selain dongeng, penampilan kelompok girl band Happy Belle yang membawakan 2 lagu dan artis cilik yang menyanyikan Lagu The Power of Love juga membuat suasana Kids Corner semakin meriah. 

Sampai bertemu di MIWF tahun depan…!

Dongeng Keliling Mendapatkan Penghargaan Nasional 2017

Top Inovik 2017 (foto by Fajaronline)

Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemempan RB) kembali menetapkan Top 99 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2017.

Menurut Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Reformasi Birokrasi (Menpan RB), Asman Abnur, untuk meraih top 99 inovasi nasional tersebut tidaklah gampang.

“Tidak mudah untuk mencapai Top 99, yang pada dasarnya merupakan inovasi terbaik di tingkat nasional ini. Dalam kompetisi tahun 2017 ini, tercatat 3.054 inovasi pelayanan publik yang terdaftar melalui aplikasi Sistem Informasi Inovasi Pelayanan Publik (SiNovik) dan berkompetisi,” ucapnya, di sela- sela penganugerahan penghargaan Top 99 inovasi pelayanan publik nasional 2017 di Gelora Joko Samudro, Gresik, Jawa Timur, Sabtu (20/5).

Penetapan diperoleh setelah melalui evaluasi mendalam dan menetapkan 20 kementerian, 3 lembaga, 21 provinsi, 34 kabupaten, 15 kota, 2 BUMN, dan 4 BUMD sebagai peraih Top 99 Inovasi Pelayanan Publik Tahun ini.

Untuk kategori kota, Pemerintah Kota Makassar berhasil menempatkan dua program unggulannya masuk di jejeran 99 inovasi tersebut. Program itu yakni Dongeng Keliling (Dongkel) with mobile library yang dikembangkan di Dinas Perpustakaan dan Lorong Sehat (Longset) oleh Dinas Kesehatan Pemerintah Kota Makassar.

Asman Abnur menjeaskan dari hasil seleksi administrasi, terdapat 1.373 inovasi yang lolos ke tahap selanjutnya. Dari jumlah itu, dilakukan desk evaluation oleh Tim Evaluasi, yang terdiri dari para dosen senior perguruan tinggi yang berpengalaman sebagai asesor. Hasilnya, terpilih 150 proposal dengan nilai tertinggi untuk diserahkan kepada Tim Panel Independen.

Tim yang diketuai oleh mantan Kapala Lembaga Administrasi Negara (LAN) Prof J.B. Kristiadi ini terdiri dari figur dari berbagai profesi dan mempunyai minat dalam pelayanan pelayanan publik, seperti mantan Wamen PANRB Prof. Eko Prasojo, Prof. Siti Zuhro dan lain-lain. Tim Panel Independen ini melakukan review kemudian memilih Top 99 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2017.

“Sengaja kami pilih tim juri ini karena meski disiram air tidak akan basah. Kami jamin 99,9 persen tidak akan terkontaminasi. Jadi penilaian masuk di top 99 ini benar- benar murni. Kepala daerah yang hadir di sini benar- benar kepala daerah terbaik yang menjadi model pelayanan publik ke depan,” pungkasnya.

Wali Kota Makassar, Moh. Ramdhan ‘Danny’ Pomanto menjelaskan, Dongkel adalah terobosan Pemkot Makassar melalui Dinas Perpustakaan untuk mendongkrak minat baca warga utamanya dikalangan pelajar. Petugas dari Dinas Perpustakaan berkeliling membacakan dongeng kepada anak- anak dan pelajar.

“Namun dongeng yang diceritakan sengaja tidak diselesaikan. Anak- anak atau pelajar inilah nantinya yang dianjurkan mencari sendiri kelanjutan ceritanya pada buku- buku yang di sediakan sehingga rasa penasaran akan cerita lengkapnya secara tidak sadar telah mendongkel minat baca mereka,” terang Danny.

Sementara Longset yang menjadi trobosan Dinas Kesehatan Makassar merupakan upaya menyehatkan lorong- lorong dengan dibantu Puskesmas masing- masing kecamatan.

Adapun syarat penetapan Longset yakni lorong yang dimaksud terdapat fasilitas kesehatan, dan berjalannya program keaehatan lainnya seperti program keluarga berencana (KB), imunisasi dasar lengkap, asi eksklusif, pemantauan pertumbuhan bayi, dan penanganan tubekolosis yang sesuai standar.

“Semua itu harus lengkap dan benar-benar mampu diterapkan oleh masyarakat setempat. Artinya kita harus memaksimalkan pelibatan warga yang ada di dalam lorong. Jadi tidak hanya lorong yang cantik, tapi warganya juga sehat,” kata Danny. 

Sumber : FajarOnline

Paupau ri Kadong : Buku Dongeng Makassar

Paupau ri Kadong Buku Dongeng Makassar

Kembali saya menerima undangan dari Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Makassar  untuk hadir dalam acara Bedah Buku Terbitan Lokal. Ini adalah kedua kalinya saya diundang setelah bulan lalu hadir di acara yang sama di salah satu hotel di kawasan China Town Makassar. Yang menarik bagi saya adalah ajakan dari TWJ alias Tulus Wulan Juni bagi para pendongeng.

“Dalam buku ini banyak sekali dongeng yang wajib dibawakan oleh tim DongKel loh..!. Salah satunya adalah kisah Si Dungu yang lucu. Saya sampai tertawa terbahak-bahak ketika membacanya!”, ucap pustakawan teladan nasional ini dalam akun Facebooknya. Makin penasaran saja rasanya ingin melihat langsung buku yang berjudul Pau Pau Ri Kadong.

Keesokan pagi di hari Rabu, 10 Mei 2017 tepat pukul 08:45 saya sudah hadir di tempat acara Bedah Buku. Setelah mengisi deretan daftar hadir sebanyak 3 rangkap dan berita acara serah terima buku, akhirnya buku yang berdampak kuning muda sudah ada di tangan. Sampulnya bergambar seorang lelaki berjenggot yang sedang duduk dan dikelilingi oleh beberapa pemuda. Dalam gambaran saya, bisa jadi lelaki tua itu sedang “mendongeng” sebuah cerita khas Makassar dan nampak 5 orang duduk dan serius mendengarkan ceritanya. Dibawah gambar tersebut tertulis nama Nurdin Yusuf – Sherly Asriani – Ridwan yang merupakan penulis buku ini.

Saya langsung membuka segel plastik yang membungkus buku ini. Rasa penasaran dari tadi malam membuat jari tanganku langsung mencari deretan 23 cerita yang terpampang di halaman judul. Mataku langsung terpaku di judul Si Dungu yang berada di halaman 98. Sembari duduk di jejeran kursi paling depan, secepat kilat saya buka halaman 98 dan mulai membacanya perlahan-lahan. Isinya bercerita tentang seorang anak yang sangat bodoh dan malas ke sekolahnya. Bila diberi tugas oleh ayahnya, pasti hasilnya selalu salah. Ketika disuruh oleh ayahnya untuk menyalakan rokok, si dungu malah membakar rokok itu sampai habis. Juga ketika disuruh oleh ayahnya untuk membeli korek api, si dungu malah mencoba satu persatu isi korek api sampai habis. Saya langsung teringat dengan salah satu pendongeng cilik dari SD Inpres Galangan Kapal IV yang membawakan cerita yang berjudul La Bengo. Cerita tersebut membawanya menjadi juara 1 Lomba Bercerita tingkat Kota Makassar. Antara cerita La Bengo dengan Si Dungu isinya hampir sama.

Ada juga cerita betapa serunya jika petani tahu bahasa binatang peliharaannya sendiri dalam judul Petani dan Ternaknya di bagian 13. Sedangkan dalam judul Nasib di Tangan Tuhan ada seseorang yang  saat jatuh miskin dan sengsara ingin segera mati. Si miskin malah berteman dengan Malaikat Pencabut Nyawa.  Akan tetapi ketika nasibnya berubah  dan sudah menikmati betapa enaknya jadi orang kaya, dia lupa akan kematian.
Saya juga tak menyangka bila pengarang buku bertajuk “Paupau ri Kadong” ini usianya 78 tahun. Di usia yang sudah cukup lanjut ternyata Nurdin Yusuf masih aktif menelorkan karya tulisnya.
“Bapak berkeliling ke beberapa daerah di Sulawesi Selatan untuk mengumpulkan dongeng ini. Dongeng yang dikisahkan oleh temannya di kampung kemudian direkam langsung oleh Bapak dalam bentuk pita kaset,” papar Sherly anak dari Nurdin Yusuf sekaligus salah satu pengarang buku ini.
“Sayangnya pernah ada kejadian banjir dirumah dan pita kaset terendam air. Rusak semua kasetnya. Dan hilang juga beberapa dongeng yang telah direkam,” lanjut alumni Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur Unhas angkatan 1991.

“Paupau ri Kadong berarti cerita yang dianggukkan atau di-iya-kan. Walaupun orang tahu cerita itu bohong (fiktif), tetapi disetujui bagi yang mendengarnya,” kata mantan dosen Sastra Unhas ini. Hal itu karena ceritanya hanya menjadi media untuk menyampaikan pesan moral bagi yang mendengarnya.

Lebih lanjut, Paupau ri Kadong adalah tradisi lisan atau budaya tutur dari mulut ke mulut yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat. Tradisi tutur ini menggambarkan cara berpikir dan membentuk pola tingkah laku masyarakat yang bisa menghibur hingga menghayati nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Muhlis Hadrawi yang hadir sebagai pembedah buku mengapresiasi terbitnya buku ini. “Hadirnya buku Paupau ri Kadong adalah usaha untuk merawat tradisi kita yang mulai luntur,” tutur Dosen Sastra Unhas.
Ditambahkannya, kehadiran komunitas pendongeng dalam bedah buku ini sangat berkaitan erat dengan Paupau ri Kadong.
“Saya baru mendapat informasi kalo di Makassar sudah ada komunitas pendongeng. Jadi merekalah yang nantinya meneruskan cerita dalam buku ini kepada anak anak di sekolah”,

Muhlis juga memaparkan sejarah singkat tentang sastra Bugis Makassar. Dilihat dari tradisi perkembangannya, pau pau ri kadong masuk dalam periode kedua yang disebut dengan jaman tomanurung atau periode yang ditandai dengan munculnya sebuah bentuk pustaka bugis yang berbeda dengan pustaka galigo (sastra). Dalam periode ini muncul dua bentuk pustaka bugis, ada yang tergolong karya sastra yang disebut tolok dan yang bukan karya sastra yang disebut lontara.

Ketika periode lontara berkembang, muncul pula bentuk pustaka bugis yang lain dari kedua bentuk karya sastra yang berkembang sebelumnya (galigo dan tolok), yakni pau-pau atau pau-pau rikadong serta pustaka lontara yang berbau Islami.

Dalam sesi tanya jawab, Kak Heru yang juga pendongeng menanyakan tentang penamaan tokoh dalam buku ini. Beberapa cerita tidak menyebutkan nama, hanya julukan saja seperti si sulung, si bungsu, si kaya dan lainnya.
“Sebaiknya dalam setiap cerita, dibuatkan nama tokoh supaya mudah diingat oleh anak anak. Nama Abunawas sangat melegenda karena cerita 1001 malam hanya fokus ke satu tokoh yang punya nama Abunawas. Mungkin cerita Bugis Makassar harus juga punya satu nama tokoh sehingga isi cerita mudah dipahami dan direkam oleh anak anak”, pinta Kak Heru kepada penulis buku ini.

Dan hari ini, sebuah khasanah baru dongeng Makassar kembali mendapatkan suntikan referensi baru dalam mendongeng. Sebanyak 23 cerita yang tentunya akan membuat anak anak kembali “ri kadong” atau mengangguk-anggukkan kepalanya ketika mendengarkan dongeng Si Dungu.

Mendongeng di Kampung Savana

Kampung Bersih bersama Ikasa Makassar dan Rumah Dongeng

Mendengar kata Savana, imajinasi kita pasti akan membayangkan sebuah padang rumput yang luas dan hijau. Membentang bak permadani yang lembut. Hijaunya rumput bak film Little House on the Prairie, film keluarga cowboy di era 1980-an. Anginnya bertiup  sepoi sepoi seakan berbisik kepada manusia tentang indahnya karya Tuhan.
Dan pada suatu pagi yang cerah, tiga motor besi merambah jalanan yang kurang bersahabat menuju ke Kampung Savana. Ketiga pengendara seakan tak memperdulikan kondisi jalanan yang berlubang di sisi kiri kanan. Bak mulut harimau yang seakan siap menerkam ban motor yang mereka naiki. Mereka adalah Kak Mangga, Mami Kiko dan Kak Titi, tiga pendongeng dari Rumah Dongeng yang bertugas mendampingi komunitas Ikasa untuk program Kampung Bersih di Kampung Savana.

Kampung Savana adalah perkampungan kumuh yang terbentuk sejak tahun 2011. Kampung ini terletak di daerah Hertasning Baru, jalan Aroepala, Makassar Sulawesi Selatan. Tempat ini seakan menjadi pembatas antara Kota Makassar dam Kabupaten Gowa. Di awal munculnya, perkampungan ini terdapat 30 Kepala keluarga yang mengadu nasib di kota para Daeng. Kebanyakan warga yang tinggal di Kampung Savana adalah korban penggusuran lahan di daerah Talasalapang. Terdapat 16 rumah yang dihuni oleh 30 kepala keluarga, tak jarang dalam 1 rumah dihuni oleh 2 – 3 kepala keluarga.
Entah dari mana dinamakan Kampung Savana, mungkin saja ada beberapa komunitas yang sengaja menamakan Savana dengan alasan lokasinya yang bersinggungan langsung dengan padang savana yang cukup luas di antara perumahan elit dan tempat penampungan air dinas PU.

Kampung Savana juga disebut sebagai perkampungan pemulung, dimana penghasilan utama warga di perkampungan ini adalah hasil dari memulung, sebagian yang lain ada yang berprofesi sebagai tukang bentor dan pekerja lepas.
Dengan penghasilan yang pas-pasan bahkan jauh dari cukup, mereka pun memanfaatkan keterampilan yang dimiliki. Sebagian warga pun bercocok tanam dan sebagian yang lain mencari ikan di sepanjang kanal yang ada di sekitar perkampungan.

Kampung Savana disebut juga dengan surga para pemulung yang memiliki sekitar 50-an anak-anak usia sekolah. Dari jumlah keseluruhan anak-anak, sebagian besar dari mereka putus sekolah setelah menjadi korban penggusuran. Jauhnya akses pendidikan membuat mereka mengubur impian dancita-cita mereka, mereka pun ikut membantu orang tua mencari sisa-sisa barang bekas untuk disulap menjadi uang.

Kondisi lingkungan tempat tinggal warga juga sangat kotor dan jauh dari kata sehat. Beberapa anak muda yang bergabung dalam komunitas Ikasa atau Ikatan Pemuda Peduli Sosial Regional Makassar berinisiatif untuk mengadakan kegiatan Pembinaan Dan Pemberdayaan Menuju Kemandirian Warga Kampung Savana. Kegiatan ini berlangsung pada hari Sabtu 6 Mei 2017. Menurut Dewi Damayanti Abd. Karim selalu Ketua Ikasa Regional Makassar, tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menanamkan sikap cinta lingkungan untuk semua warga Savana agar selalu menjaga kebersihan kampung.

“Kami ingin menanamkan kepada adik adik disini tentang sikap menjaga kebersihan sejak dini. Karena mereka adalah generasi pelanjut yang harus tetap sehat dan kuat”, ujar Damayanti yang juga merupakan salah satu peserta Kelas Dongeng Angkatan 10 di Rumah Dongeng.

Kegiatan Kampung Bersih berlangsung selama dua hari mulai tanggal 6-7 Mei 2017.

Kegiatan Kampung Bersih diawali dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya. Meskipun kebanyakan dari  mereka adalah anak putus sekolah, tetapi sikap dan semangatnya tidak mau kalah dari anak sekolah lainnya. Maka berkumandanglah lirik lagu karya WS Supratman dari bibir mungil mereka.

” Indonesia tanah airku tanah tumpah darahku – Disanalah aku berdiri jadi pandu ibuku….”

Bait demi bait dinyanyikan dengan penuh semangat. Semacam upacara kecil kecilan di depan rumah salah satu warga

Selain membersihkan lingkungan Kampung Savana, ada kegiatan menarik yang tentu saja ditunggu oleh adik adik kecil. Sebagai hadiah untuk mereka yang telah membersihkan halaman rumahnya masing masing, maka 3 Pendongeng dari Rumah Dongeng sudah bersiap untuk memberikan edukasi melalui dongeng yang edukatif dan menarik. Dimulai dengan ice breaking yang dipandu oleh Kak Mangga, acara dongeng pun dimulai. Perlahan lahan adik adik yang semula masih asyik bermain mulai bergeser menuju ke panggung dongeng yang berada di salah satu rumah warga. Panggung alam yang dibuat dengan seadanya. Gaya yang lucu dari Kak Mangga membuat suasana menjadi lebih meriah. Gelak tawa mulai terdengar ketika pendongeng yang berbadan tambun mulai menyapa mereka satu persatu. Dongeng dari Mami Kiko dan Kak Titi membuat suasana kampung menjadi lebih meriah. Beberapa orang tua mulai mendekati area dongeng. Merela tak mau ketinggalan untuk mendengarkan dongeng yang tentu sangat jarang mereka dengar. Duet Mami Kiko dan Kak Titi yang sesekali ditimpali oleh Kak Mangga bercerita tentang Timun Mas, salah satu dongeng yang menjadi andalan dari mereka bertiga.

Dongeng Timun Mas mengisahkan tentang perjuangan perempuan kecil bernama Timun Mas yang dikejar oleh Buto Ijo. Rupanya ketiga pendongeng keren ini sudah  sepakat untuk merubah ending dari dongeng ini. Di akhir dongeng, Buto Ijo ternyata menjadi sahabat Timun Mas.

“Saya suka sekali mendengar dongeng. Terima kasih untuk Rumah Dongeng..!”, ujar Santi bersama ketiga temannya.
Memang dongeng selalu membawa keajaiban tersendiri bagi anak anak.
Semoga bisa bertemu lagi dengan Kampung Savana.

Bagi anak anak muda yang ingin bergabung dengan Ikasa Makassar, silakan mampir ke IG : @ikasaMakassar.

#MudaKreatifBersemangat

Dongeng bareng Ortu HEBAT Community

Dongeng Seru Bersama Kak Heru

Ketika Bunda Puspa Ayu menawari Kak Heru untuk mendongeng di Palopo yang jaraknya hampir 350 km atau sekitar 8 jam perjalanan darat, saya masih ragu apakah event ini bisa dilaksanakan? Hal tersebut juga masih mengganjal di benak Bunda Ayu karena beliau belum pernah membuat acara dongeng di Kota Palopo. Namun saya menyakinkan saja kepadanya untuk tetap membuat acara dongeng. Sayapun segera mengontak Pak Erik salah satu supervisor TK di PT Erlangga Makassar untuk membantu pelaksanaan acara ini. Gayungpun bersambut dan pihak penerbit siap menjadi sponsor utama dalam acara ini. Saya diminta untuk berkordinasi dengan Pak Yanis sebagai penanggung jawab PT Erlangga di Kota Palopo. 

Setelah melakukan beberapa kali meeting online melalui aplikasi LINE dan WA, akhirnya acara dongeng bisa dilaksanakan pada hari Minggu 7 Mei 2017 bertempat di KFC Palopo. Dengan menggunakan bus malam Bintang Prima type Sleeper, sayapun berangkat dari Makassar. Bus type ini memungkinkan penumpangnya untuk berbaring ala tempat tidur di dalan bus. 

Dan di hari Minggu 7 Mei 2017, pukul 10:00 lantai 2 KFC Palopo sudah penuh dengan ratusan anak anak yang siap mendengarkan dongeng.  Menyenangkan sekali ketika mereka gembira dan tertawa ketika mendengarkan dongeng. Yang hebatnya lagi, orang tua duduk diantara anak anak di atas karpet yang digelar.
Mereka terus mendampingi anaknya ketika mendengarkan dongeng. Dari spanduk yang dipasang di lokasi acara, mereka bergabung dalam komunitas HEBAT.

Apa itu HEBAT?
Komunitas Home Education Based on Akhlak & Talents (HEbAT) adalah sebuah komunitas untuk bersama-sama belajar menjalankan kewajiban dan tanggung jawab kita sebagai orang tua. Komunitas ini pertama kali berdiri di Bandung. Beberapa peserta seminar Parenting bersama Bunda Septi Peni Wulandani dan Ustadz Harry Santosa, bersepakat untuk mendirikan komunitas Hebat dengan misi utama untuk menyebarkan semangat Home Education (HE) ke penjuru Nusantara.

Menurut ibu Ummuqiyan Ismi Leviyanda, sebagai ketua panitia acara ini

“Peradaban sesungguhnya berawal dari sebuah rumah, dari sebuah keluarga. Home Education itu wajib bagi kita sebagai orang tua yang berperan sebagai penjaga amanah. Karena sesungguhnya HE itu adalah kemampuan alami dan kewajiban syar’i yang harus dimiliki oleh setiap orang tua yang dipercaya menjaga amanahNya (anak)” 

Beliau juga menjelaskan bahwa syarat utama untuk bergabung dalam komunitas ini adalah “WAJIB” sepasang alias Ayah dan Bunda. Mereka wajib bersama-sama belajar, berkomitmen dan menerapkan ilmu Home Education. Karena HE adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya oleh ayah atau bunda saja.

Terima kasih untuk Bapak Yanis dari PT Erlangga yang telah mensupport acara ini. Juga kepada KFC yang sudah menyiapkan tempat dan hadiah yang banyak.

Sampai jumpa lagi di acara selanjutnya…..

(Ditulis di atas Bintang Prima Palopo – Makassar)

DongKel : Energi di Tiga Lokasi

Pagi ini sesuai dengan jadwal mingguan yang dikeluarkan oleh Dinas Perpustakaan Kota Makassar, lokasi Dongkel with Library adalah di SDN 35 Melayu di Jl. Muhammadiyah Makassar. Namun tiba tiba sekitar pukul 08:30 ada notifikasi di Grup Dongkel bahwa pendongeng diharuskan berkumpul di Kantor Dinas Perpustakaan karena ada perubahan lokasi kegiatan. 

Maka mau tak mau saya bergegas memacu si Yona, mobil keluarga kami menuju kesana. Sudah menjadi kebiasaan jikalau harus memberikan nama pada kendaraan yang kami miliki. Kebiasaan ini sebagai salah satu cara kami untuk membuatkan sebuah cerita seru pada kendaraan tersebut . Motor yang pernah kami miliki namanya adalah Simpson, salah satu tokoh kartun film kesukaan Safira. Selama hampir 4 tahun Simpson menjadi satu satunya alat transportasi keluarga. Ke sekolah, belanja di pasar bahkan pulang kampung ke Bone. Sampai sampai Safira kecil menangis sedih ketika Simpson hilang dicuri!
Dan sekarang si Yona, mobil merah kecil ini sebagai penggantinya.

Tiba di depan museum Kota Makassar yang sekarang menjadi “homebase” Dinas Perpustakaan Kota Makassar, sudah berjejer rapi dua buah armada mobil layanan keliling. Sayapun masuk ke dalam kantor yang berada di bagian belakang museum kota. Beberapa karyawan sudah terlihat sibuk dengan persiapan Dongkel hari ini. Pak Andarias, sang driver masih asyik dengan segelas kopi dan sepiring pisang goreng yang masih panas. Bau sedap pisang goreng yang berasal dari wajan kecil sangat menggodaku untuk mencicipinya.
“Ayo kak, sarapan dulu disini!”, ajak pak Andarias. Sambil tersenyum sayapun hanya bisa bercanda kalo pendongeng dilarang makan gorengan. Nanti bisa rusak pita suara. He…he..he…

Dua pentolan Dongkel Makassar

Tak lama yang ditunggu-tunggupun muncul. Dia adalah Kak Hikma yang hari ini bertugas menggantikan Kak Nisa. Sepertinya untuk beberapa hari kedepan, Kak Nisa akan selalu berhalangan mendongeng keliling karena faktor usia kehamilannya. Padahal kelihatan keren kalo ada “bumil” yang tampil mendongeng di hadapan anak anak. Pasti yang di dalam perut akan senang juga. Bergegas semua tim segera menuju ke mobilnya masing masing. Saya bersama Pak Tulus dan Kak Hikma sudah siap mengikuti jalannya DP 1 dan DP 2. Baru 5 menit duduk di dalam mobil, Kak Hikma harus bersedia dioper ke mobil lainnya. Tak masalah untuk berpindah pindah mobil, meskipun saya yakin kalo Kak Hikma lebih suka dengan dinginnya AC di mobil kami.
Maka melajulah mobil layanan yang membawa ratusan buku di dalamnya. Kamipun bergerak beriringan bagaikan ular naga menuju ke lokasi Dongkel. Lokasinya berada di daerah Tanjung Bunga, nama sekolahnya adalah SD 30 Barombong. Saya sendiri belum pernah ke sekolah tersebut. Namun si Google Maps siap untuk memandu perjalanan literasi ini.

Sepanjang perjalanan, Pak Tulus sebagai koordinator Dongkel With Library  terus bercerita tentang presentasi Dongkel With Library yang minggu lalu dipresentasikan oleh Bapak Walikota Makassar di depan tim penguji independen di Jakarta. Kepiawaian Danny Pomanto ketika “mendongeng” di depan juri membuat Pak Tulus sangat yakin kalo inovasi Dongeng Keliling ini bisa masuk ke 40 besar nasional. Yang saya tahu, kalo bisa masuk di 40 besar, penghargaan inovasi layanan publik akan mendapat penghargaan langsung dari Presiden RI. Wah…! Bisa betapa serunya kalo si Bona pergi ke istana negara! Obrolan berlanjut tentang anggaran dinas. Saya baru tahu juga bahwa anggaran Dinas Perpustakaan Kota Makassar ternyata berada di angka 2 paling bawah, namun tak mengurangi semangat tim perpustakaan untuk terus melayani masyarakat.

Dan tak terasa, kamipun sudah sampai di sekolah yang dimaksud. Disini ada 3 sekolah yang tergabung dalam satu lokasi. Letaknya berada di belakang perumahan elit di daerah Tanjung Bunga. Halaman sekolahnya masih sangat luas. Di tengah sekolah berdiri dengan kokohnya pohon yang menjulang tinggi dan membuat suasana semakin teduh. Sang mataharipun juga sangat bersahabat pagi ini. Cuaca semakin terasa sejuk dengan semilir angin yang sepoi sepoi mengayunkan dahan-dahan pohon. Serasa berbisik ” Ssstt…. ada Pendongeng datang loh..!”.
Serentak anak anak berhamburan dengan gembira ketika Kak Hikma mulai beraksi dengan lagu Disini Senang Disana Senang. Tanpa dikomandoi, merekapun bernyanyi dengan serempak dan berirama. Tak mau ketinggalan, Pak Muhyidin Sekretaris Dinas Perpustakaan turut bergoyang dan bernyanyi bersama anak anak. Tak malu malu bergabung ditengah kerumuman anak anak. Kamerapun beraksi mengabadikan keseruan ini. Sebuah perwujudan kerja tim sangat terasa terjadi disini. Semua bernyanyi dan bergembira!

Sebuah dongeng fabel menjadi menu Dongkel hari ini. Dari menit pertama dongeng ini dimulai, kerumunan mulai bertambah banyak. Tak terasa lingkaran mulai tambah mengecil. Mereka merengsek pelan pelan ke arah depan. Panggung terbuka terasa sempit oleh kerumunan anak anak yang sangat antusias mendengarkan dongeng. Raut wajah mereka menunjukkan bahwa dongeng itu asyik.
Dan sebagai hadiah pamungkas, mobil layanan mulai dibuka perlahan lahan. Serentak mereka berlarian ke arah mobil
an mulai berebutan untuk mencari buku favoritnya.
Sayapun harus segera meninggalkan lokasi ini. Ada tugas lain yang sudah menanti di TK Kemala Bhayangkari Makassar. Mereka meminta saya untuk memberikan pelatihan mendongeng. Masih bersama Yona sayapun bergerak menuju ke sekolah yang dimaksud yang berlokasi di Jl. Chairil Anwar.

Tiba di sekolah yang bersebelahan dengan Hotel Losari Metro, nampak beberapa adik adik tengah latiha menari. Sepertinya saya mengenal tarian tersebut. Kalo nggak salah itu adalah Tarian Pinguin. Mereka nampak dengan lihai meliuk-liukkan badannya seperti seekor burung pinguin di atas salju. Setelah bercakap cakap ringan dengan Bunda Irma, salah satu guru di sekolah ini, saya mendapatkan informasi bahwa ada Lomba Mendongeng antar guru TK dalam lingkup Bhayangkari Sulsel. Beliau meminta saya untuk melatih guru yang akan ikut lomba.
Namun sepertinya permintaan dari Bunda Irma tidak dapat saya penuhi karena faktor “conflict of interest”.
Sebelumnya oleh panitia lomba yang dimaksud, saya telah diminta untuk menjadi juri lomba. Sebagai alternatif, sayapun meminta kepada Kak Madia Sang Pendongeng Pung Julung Julung untuk menggantikan tugas “les privat” ini.
Sayapun meyakinkan kepada mereka bahwa Kak Madia bisa memberikan ilmu yang terbaik. Apalagi materi lomba tak jauh dari cerita rakyat Sulawesi Selatan.
Alhamdulillah, Kak Madia bersedia untuk datang ke sekolah ini. Paling tidak selama 3 hari kedepan, Kak Madia harus berjuang habis habisan karena faktor keterbatasan waktu.

Di tengah perbincangan kami tentang lomba mendongeng, sebuah pesan WA masuk di smartphone saya.
” Kak Heru, saya sudah menunggu di McD Mari Mall”.
Sebuah pesan dari salah satu orang tua murid yang tinggal di Pangkep.
Duh….! Ternyata hari ini saya punya janji dengan Ibu Tenri yang jauh jauh datang dari Pangkep.
Beliau ingin bertemu saya untuk diskusi singkat tentang persiapan anaknya yang akan mewakili Pangkep dalam lomba bercerita tingkat SD di tingkat propinsi.
Sebuah cerita singkat keluar dari mulut kecil Cara, siswa kelas 5 SD Pangkep. Ceritanya berkisah tentang Karaeng Labbakang dan Pangeran dari Madura. Beberapa dialog dan narasi saya perbaiki seraya meminta kepada sang ibu untuk memberikan naskahnya melalui email.

Cukup melelahkan tugas dongeng hari ini. Dalam durasi 3 jam harus berkelana ke tiga lokasi yang berbeda. Dan jari jari yang sempat meliuk liuk diatas layar smartphone adalah sebuah goresan kisah pendongeng hari ini.

Hari ke-10 Mimi CaraFun

Mimi CaraFun di TK Masagena

 

 

 

 

Hari ke-10 Mimi CaraFun di TK Masagena Makassar. Sekolah yang terletak di Jl Hertasning ternyata bukan hanya untuk sekolah saja tetapi juga sebagai tempat penitipan anak. Selain kelas untuk belajar dan bermain, ada sebuah ruangan khusus yang digunakan untuk tidur. Beberapa tempat tidur tersusun dengan rapinya.

TK Masagena adalah sekolah ke-10 dari 20 sekolah yang akan dikunjungi oleh Mimi CaraFun 2017. Dikarenakan ada event di lota lain, maka untuk selanjutnya bukan Kak Heru yang hadir sebagai pendongeng. Dan sebagai penggantinya yang akan hadir Kakak Manggazali salah satu pendongeng senior di Rumah Dongeng. Untuk sekolah lainnya, kegiatan ini akan tetap berlangsung sesuai dengan jadwal yang telah dibuat oleh panitia pelaksana.

Setelah sang pilot berbagi cerita di sekolah ini, selanjutnya akan mengarungi angkasa menuju ke Kendari Sulawesi Tenggara. Selama kurang lebih sepekan mulai tanggal 1-8 April 2017 Kak Heru akan roadshow ke 18 sekolah di Kendari dalam bentuk dua kegiatan, yaitu Workshop Dongeng dan Sedekah Dongeng.

Sedekah Dongeng bersama BMH Sultra

Bagi sahabat dongeng yang ingin belajar cara mendongeng, silakan mengukuti workshop mendongeng yang bertempat di aula Kendari Pos pada hari Sabtu, 1 April 2017.

Selain itu ada juga kegiatan Sedekah Dongeng, yaitu kegiatan edukasi tentang sedekah dan infaq melalui dongeng. Program ini adalah salah satu program Dongeng yang bekerjasama dengan Baitul Maal Hidayatullah Sulawesi Tenggara dan akan menyasar adik adik yang duduk di TK dan SD.

Dalam sedekah dongeng, adik adik akan mendengarkan dongeng dongeng yang edukatif dan inspiratif. Juga ada pengumpulan donasi yang nantinya akan disalurkan untuk berbagai macam kegiatan sosial di BMH Sultra.

Yuk daftarkan sekolahmu untuk ikut dalam kegiatan Sedekah Dongeng ini….