Category Archives: Sedekah Dongeng

Roadshow Dongeng Ramadhan 1440 H

Roadshow Dongeng Ramadhan 1440 bersama Rumah Dongeng

Bulan Ramadhan adalah bulan agung yang dimuliakan Allah SWT dan Rasulullah SAW, sebagai sarana meningkatkan amal, apalagi membantu anak-anak Yatim. Begitu istimewanya anak-anak Yatim itu, sehingga Rasulullah SAW mengatakan:

“Aku dan orang-orang yang mengasuh/menyantuni anak yatim di surga seperti ini,”sambil Rasulullah SAW memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah seraya sedikit merenggangkannya. (HR. Bukhori)

Anak-anak Yatim memang istimewa, sehingga amat disayangkan jika Ramadhan yang agung ini berlalu tanpa kebaikan untuk mereka. Alangkah bahagianya jika kita bisa berbagi keceriaan bersama mereka.

Laznas Yatim Mandiri dan Rumah Rumah Dongeng mengadakan Safari Dongeng Ramadhan ke berbagai sekolah dan kelompok pengajian anak di Makassar, Maros, Pangkep, Gowa dan Sinjai.
Dalam program ini tim Sedekah Dongeng akan berkunjung ke  berbagai Masjid atau Sekolah yang menyelenggarakan acara  Pesantren Kilat atau Berbuka Puasa.

Adik adik akan mendengarkan Kisah Islami bersama Kak Heru, Mami Kiko, Kak Mangga dan Safira serta Bona sekaligus memberikan infaq terbaik untuk anak yatim dhuafa binaan Laznas Yatim Mandiri.

Program ini dilaksanakan dengan perincian waktu sebagai berikut :

Sessi 1 : pukul 08:00-09:00
Sessi 2 : pukul 09:00-10:00
Sessi 3 : pukul 11:00-12:00
Sessi 4 : pukul 15:30-16:30
Sessi 5 : pukul 17:00-17:45

Buku Kisah Islami
Buku Kisah Islami yang berisi 50 cerita Islami

Siapkan infaq terbaikmu bagi 23.300 anak anak Yatim Dhuafa yang dibina oleh Laznas Yatim Mandiri.

Yuk mengisi Ramadhan dengan kisah kisah Islami yang penuh Amanah.

Informasi kegiatan silakan hubungi :

Yatim Mandiri Makassar – 0823 4866 6693 (Ismul)
Yatim Mandiri Maros – 0853 9944 8861 (Sari)
Rumah Dongeng – 0852 5575 1971 (Kak Heru)
Kak Yani (Sinjai) – 0852 4461 8283

———————-
Yatim Mandiri : www.yatimmandiri.org

Rumah Dongeng  : www.rumahdongeng.id

Kerumunan Dongeng

Sabtu akhir pekan ini agenda kegiatan Sedekah Dongeng adalah di SD Bakung 1 Bumi Permata Sudiang Makassar. Sabtu sebelumnya juga di tempat yang sama, yaitu di SD Bakung 2, sekolah yang berada di satu kompleks.

Lalu lintas di hari Sabtu terasa sekali perbedaannya bila dibandingkan dengan hari hari lainnya. Oleh karena itu, saya pagi ini mengantar dulu istri tercinta ke sekolahnya baru saya berangkat ke Sudiang. Tiba di sekolah ini waktu sudah menunjukkan pukul 08:15. Telat sekitar 15 menit dari jadwal yang sudah ditentukan. Pesan WA dari Yoga masuk di smartphone, sekilas saya melirik isinya.

” Anak anak sudah tidak sabar menunggu kedatangan ta”

Halaman sekolah sudah digelar karpet untuk alas duduk para murid. Melihat kedatangan saya, serentak mereka duduk dengan rapi. Murid kelas kecil duduk di barisan depan, di bagian belakang duduk murid kelas besar. Ketika saya mulai mendongeng Pung Julung Julung, mereka masih duduk dengan rapi dan tenang. Namun ketika saya mulai memanggil Bona, beberapa dari mereka mulai berdiri dan merengsek maju ke depan.

Hal yang sama juga diikuti oleh murid murid SD Bakung 2. Mereka juga mulai merengsek maju dan berdesakan di depan saya. Maklum saja, minggu lalu mereka masih penasaran dengan Bona. Dan hari ini nampaknya mereka sengaja menunggu kemunculan Bona.

Datangnya Disambut Kabut dan Hujan.

Milad 25 tahun Yatim Mandiri Maros tahun ini berbeda dibandingkan dengan tahun tahun sebelumnya. Biasanya milad dilaksanakan di gedung yang letaknya di dalam kota dan mudah dijangkau.Namun di usianya yang ke 25, kegiatan milad dilaksanakan di sebuah pesantren yang berada di Desa Mangilu Kecamatan Bungoro Pangkep.

Letaknya sekitar 70 km dari Makassar atau sekitar 3 km dari kawasan pabrik Semen Tonasa 2.Pesantren Shela adalah nama dari pesantren yang dipimpin oleh Ustad Siradjang. Keberadaannya juga masih bisa dikatakan sangat muda dan baru. Beberapa dokter yang ikut sebagai tim medis bakti sosial ini baru tahu nama pesantren ini. Padahal mereka bertugas di Pangkep dalam kesehariannya.Bangunan pesantren masih dalam konstruksi, ada sebuah mushola sementara dan sebuah bangunan kelas yang dindingnya sangat artistik karena terbuat dari bambu dan kayu. Muridnya baru ada 60 siswa yang kebanyakan berasal dari desa sekitarnya.

Malam Bina Iman dan Taqwa PAUD Insan Kamil Gowa

Biasanya kalo di kegiatan Pramuka ada yang namanya Persami atau Perkemahan Sabtu Minggu. Kegiatan berkemah ini hanya untuk adik adik di tingkat Siaga atau yang masih duduk di sekolah dasar. Selama 2 hari mereka bermalam di tenda dan berkegiatan ditempat terbuka.

Namun di PAUD Insan Kamil ini, adik adik yang masih duduk di taman kanak kanak sudah berani untuk bermalam di sekolahnya tanpa didampingi oleh ayah dan ibunya. Meskipun hanya 1 malam, namun perlu diacungi jempol karena biasanya orang tua agak rewel bila buah hatinya dipisahkan dari mereka. Keberadaan para guru yang standby selama 24 jam tentu bisa mengurangi kekuatiran orang tua siswa.

PAUD Insan Kamil ini letaknya hanya 200 meter dari rumah Kak Heru di perumahan Zarindah Permai Samata Gowa. Hanya perlu waktu 5 menit berjalan kaki seusai sholat Isya, tepat pukul 19:45 saya tiba di sekolah ini.

Saat tiba, adik adik masih khusyuk melaksanakan sholat Isya yang dipimpin oleh seorang imam cilik. Bunda bunda guru terus mendampingi sang imam ketika membacakan bacaan sholatnya.

Walaupun saya masuk dengan perlahan lahan karena takut menganggu sholat mereka, namun tak urung beberapa mata sempat menoleh ke arah saya.

“Datang mi Kak Heru..!,” teriak salah satu siswa yang berada di barisan paling kiri.

Terjadi keributan kecil ketika dengan serentak para makmun menoleh ke arah kedatangan saya. Bunda guru dengan tegas dan berwibawa terus mengarahkan anak didiknya untuk terus khusyuk dalam sholatnya.

Dan tak lama setelah selesai sholat Isya berjamaah, mereka segera berhamburan ke arah saya sembari bertanya keberadaan Bona. Semenjak siang hari, adik adik di PAUD ini sudah diberitahu kalo ba’da Isya akan ada dongeng bersama Kak Heru dan Laznas Yatim Mandiri.

Pantas saja mereka seakan tak sabar menunggu kedatangan saya. Tahun sebelumnnya saya juga mengisi dongeng di tempat ini. Beberapa siswanya juga adalah anak dari tetangga Kak Heru di perumahan Zarindah Permai.

Malam ini saya membawakan sebuah buku cerita yang berjudul Fabels on Muhammad SAW. Ada 11 cerita fabel Islami yang ada dalam buku ini. Salah satunya berjudul Burung Ababil. Kisah yang diambil dari surah Al Fiil ini saya sampaikan sembari duduk dan memegang buku setebal 71 halaman. Judul lainnya ada Kambing Halimah, Unta Khadijah, Buraq dan lain lain.

Selain mendengarkan dongeng Islami, malam adik adik juga memberikan sedekahnya kepada Laznas Yatim Mandiri. Sedekah yang dikumpulkan berjumlah Rp. 1.550.000,-.

Donasi yang dikumpulkan selanjutnya disalurkan kepada Laznas Yatim Mandiri untuk pengembangan kegiatan sosial kemanusiaan.

Appang Bugis dan Kinder Huiz

Entah karena faktor kedekatan jarak yang mungkin menyebabkan kedua nama itu juga saling berdekatan satu dengan lainnya. Appang Bugis di seberang jalan, Kinder Huiz berada di depannya.

Appang Bugis adalah salah satu kue tradisional khas Bugis. Bahannya dibuat dari tepung yang dicampur dengan gula merah. Ada sebuah tradisi di kalangan Bugis Makassar, kalo hari Jumat jangan lupa makan appang. Manisnya gula merah akan membuat hidupmu nanti akan semanis rasa gula merah ini. Sedangkan Kinder Huiz adalah nama sebuah sekolah di Jalan Mappaodang Makassar. Kalo tidak salah “huiz” itu artinya rumah. Jadi Kinder Huiz bisa berarti “Rumah Anak Anak”.

Seharusnya hari ini ada 2 jadwal mendongeng. Yang pertama di TK Dharma Wanita Maros dan yang kedua di TK Kinder Huiz Makassar. Untuk mengefektifkan waktu karena hari ini adalah Hari Jumat, maka saya minta kepada Laznas Yatim Mandiri Maros pukul 08:00 pagi dimulai acara dongengnya.

Namun sejak subuh Makassar dan Maros diguyur hujan lebat. Bagaimana pun juga saya tetap harus ke lokasi di Maros. Menjelang tiba di Sudiang, notifikasi WA masuk dari Sri, staf YM Maros. Isinya kegiatan dongeng di Maros ditunda karena siswa yang datang hari ini sedikit. Dari 60 siswa, baru 10 orang saja yang datang. Hujan menjadi alasan ketidakhadiran siswanya.

Saya pun segera memutar stir.
Balik kanan menuju ke Makassar lagi.

Hi..hi…
Emang Sudiang bukan Makassar ya..?

Di lokasi kedua jadwal dimulai pukul 09:15. TK Kinderhuiz berada di jalan Mappaodang Makassar. Bagi yang sering ke jalan ini, ada sebuah warung yang menjual “Appang Bugis” yang sudah sangat terkenal enaknya. Biasanya kalo pagi sudah banyak pembeli yang antre di depan warungnya. Karena banyak yang antri, biasanya menjelang pukul 10, kue khas Bugis ini sudah habis.

Sekitar tahun 2011 saya mengenal TK Kinder Huiz ini. Dulunya berlokasi di samping rumah jabatan Kapolda Sulsel yang berada di jalan yang sama. Waktu itu saya diundang oleh Kak Awam Prakoso dan tim kampung dongeng untuk menyaksikan dongengnya. Saat ini lokasi sekolah berada tak jauh dari jalan Ratulangi Makassar.

Setelah bertemu dengan Ibu Nunu, sembari menunggu adik adik yang masih makan bekalnya, saya ngobrol ringan dengan beliau. Salah satu keinginannya adalah membangun sekolah dasar untuk para lulusan TK Kinder Huiz.

“Semua orang tua ingin anaknya tetap berada di lingkungan Kinder Huiz. Mereka berharap agar yayasan membangun sekolah dasar,” ungkap beliau.

Beberapa orang tua siswa sudah mengenal cara mendidik guru guru di sekolah ini. Sehingga mereka ingin anaknya terus bersekolah lanjut di tingkat sekolah dasar.

Suasana di dalam ruangan kelas nampak riuh. Beberapa dari mereka ternyata menunggu dongeng.

“Bahkan ada siswa yang sempat sempatin masuk sekolah karena mau dengar dongengnya Kak Heru,” papar bunda Nunu.

Dan ketika waktu mendongeng sudah tiba, keriuhan dan tingkah laku adik adik yang berusia 2 sampai 5 tahun pun semakin ramai.
Siswa yang duduk di kelas A dan B duduk dengan tertib di bagian belakang. Tetapi yang play grup dan kinder tak mau duduk lama. 2 dari mereka malah berdiri di depannya Kak Heru.

Salah satunya adalah Dzaky Prananda.
Lihatlah lirikannya..!
Kira kira apa yang menyebabkan dia melirik seperti itu ya?

Padahal 15 menit pertama, Dzaky tak mau duduk. Dia terus berdiri di depan. Walaupun begitu matanya tetap melekat ke arah Kak Heru.
Nampaknya dia serius.
Sesekali dia tertawa dan senang dengan dongeng Om Singa dan si Tikus. Bahkan ketika om Singa menyuruh si Tikus pergi, dengan patuhnya Dzaky ikutan pergi bersama si Tikus.

Dan tanpa terasa hampir 60 menit kebersamaan ini harus diakhiri.
Kehadiran Bona menjadi magnet bagi mereka.
Bona yang lucu dan menggemaskan..!

Hasil sedekah dongeng di TK Kinder Huiz sebesar Rp. 2.090.000,- untuk selanjutnya disalurkan kepada Laznas Yatim Mandiri.

Sampai bertemu lagi di bulan Ramadhan ya…

#SedekahDongeng
#YatimMandiri
#RumahDongeng
#Storytelling

Petualangan Bersama Hujan di Segeri Pangkep

Hari Selasa, 12 Maret 2019 adalah hari pertama roadshow Sedekah Dongeng di Segeri Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan. Jarak sekitar 70 km harus kami tempuh sepanjang perjalanan dari Makassar ke Pangkep.
Hujan begitu derasnya ketika kami memasuki wilayah Kecamatan Segeri Pangkep.
Lokasi pertama adalah di MTS Negeri DDI Segeri Pangkep.
Derasnya hujan masih belum berhenti di tempat ini. Halaman sekolah yang biasanya dipakai untuk upacara tergenang oleh air. Pikir saya, nampaknya dongeng tidak bisa diluar ruangan.

Ruangan kecil di MTS DDI Segeri Pangkep yang masih beralas ubin biasa

Sambutan hangat dari Bapak Kepala Sekolah membuat suasana menjadi lebih akrab. Atas anjuran beliau, kegiatan dongeng dilaksanakan di sebuah aula kecil yang masih beralaskan lantai biasa.

Tuh lihat.., sampai sampai kak Heru harus buka sepatu di depan adik adik. Walau begitu kak Heru tetap ganteng khan..?

SMP Negeri 1 Segeri Pangkep

Selanjutnya tim Sedekah Dongeng bergerak ke SMP Negeri 1 Segeri. Cuaca masih belum bersahabat dengan kami. Hujan masih enggan untuk berhenti. Lapangan upacara basah dan tergenang air.

Pilihan tempat kegiatan akhirnya adalah di ruang kelas. Wakil Kepala SMP meminta kepada pengurus OSIS agar hanya perwakilan siswa saja yang mengikuti kegiatan dongeng ini.

Tak mengapa ruangan kelas hanya bisa ditempati oleh sekitar 50 anak yang merupakan perwakilan dari 200 murid lainnya.

Terima kasih untuk bunda AL Djibran Evi yang seharian ini bersedia meluangkan waktu dan sup ubinya untuk kami santap di sela hujan di Segeri.

SD Negeri 23 Takku Kecamatan Segeri Pangkep.

Roadshow di hari kedua Sedekah Dongeng di Segeri Pangkep hari ini berjalan tanpa ada hujan. Walaupun dini hari tadi sekolah ini sempat diguyur hujan, namun ketika dongeng berlangsung hujan sudah berhenti. Beberapa tempat di halaman sekolah masih tergenang air.
Kegiatan dongengpun tetap berlangsung di teras depan kelas.

Teras kelas yang berbentuk selasar panjang dipenuhi oleh 300 adik adik mulai dari kelas 1 sampai kelas 6. Beberapa guru yang hari ini tidak mengikuti pelatihan kelas inklusif juga ikut dalam barisan dongeng muridnya.

Ternyata selasar yang sempit tak mampu menampung barisan dongeng yang ada. Beberapa murid terpaksa harus memanjat pohon agar bisa menyaksikan dongeng seru hari ini. Walaupun berdesak desakan, namun tidak terjadi keributan di antara mereka.

SDN 34 Citta Segeri Pangkep

Sedari pagi, Makassar diguyur hujan yang cukup lebat. Dan seperti sudah menjadi pasangan peristiwa bila hujan pasti macet.
Kemacetan panjang Kamis pagi ini dimulai dari pertigaan jalan Borong dan Antang. Sampai di perempatan jalan masuk Bukit Baruga, kemacetan masih terjadi. Salah satu ruas jalan inspeksi PAM ditutup karena ada pesta pernikahan.

“Kayaknya hujan pindah ke Maret ya..”, ungkap saya kepada penumpang cantik yang duduk disampingku.

“Iya…,” jawabannya singkat sembari terus memainkan ipad mininya.

Agenda dongeng pagi ini masih menuju ke Segeri Pangkep. Ini adalah hari ketiga roadshow ke kabupaten penghasil ikan bolu dan jeruk Pangkep. Semestinya pukul 09:00 sudah harus tiba di Segeri, namun pagi ini pukul 07:30 masih berkutat macet di jalan Leimina Antang.

Hujan mulai berhenti ketika tiba di Maros untuk menjemput Ibu Ani dan Jene, staf Yatim Mandiri Maros yang pagi ini bertugas mendampingi saya ke Pangkep. Bergegas mereka naik ke mobil karena waktu sudah menunjukkan pukul 08:40. Spanduk dan majalah bulanan Yatim Mandiri sudah disiapkan oleh mereka berdua.
Menyusuri jalanan ke arah Pangkep, cuaca mulai tak bersahabat. Gerimis kecil mulai menghadang perjalanan kami.

Saya mencoba menelpon Ibu AL Djibran Evi yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan kami di Segeri.

“Hujan qi di Segeri?,” tanyaku dengan intonasi yang agak kuatir.
Memang harus kuatir karena lokasi pertama adalah SD 34 Citta yang biasanya tergenang air bila hujan.

“Masih gerimis kak,” jawab bunda Evi di ujung telepon. Agak lega saya mendengarnya.

Namun ketika kami tiba di Segeri, hujan malah semakin deras. Dengan payung pinjaman, bunda Evi susah payah mengendong si kecil masuk ke dalam mobil kami.

“Gara gara lihat kakaknya foto dengan Bona, ini adiknya mau ikut dengar dongeng,” ujar bunda Evi ketika sudah duduk di dalam mobil. Naufal, si anak yang sulung kemarin berfoto bersama Bona di sekolahnya. Dan semalam adiknya rewel mau juga berfoto.
Pantesan saja hari ini dia ikut.

Perjalanan menuju ke SD 34 Citta masih ditemani oleh hantaman air hujan yang tak mau berhenti. Saya harus waspada karena banyak lubang di sepanjang jalan. Beberapa kali roda Mobil Bona alias Mona terantuk di lubang aspal yang tak terlihat karena genangan air menutupi lubang.

Dan setelah 20 menit berlalu, kami tiba di sekolah. Seperti biasanya, adik adik kecil sudah tak sabar menunggu kedatangan kami. Hari ini ruangan perpustakaan menjadi panggung dongeng. Sekitar 70 siswa duduk dengan rapi di dalam ruangan ini. Beberapa guru dan orang tua juga nampak bergabung dan bersempit ria di dalam ruangan yang berukuran 5 x 5 meter. Walau ini adalah perpustakaan sekolah, jangan ditanya jumlah koleksi buku bukunya.
Yang ada hanya rak buku yang masih kosong. Bahkan saya sempat mendorong rak buku ini agar adik adik dapat duduk dengan nyaman.

SMP Negeri 2 Segeri Pangkep

Dan lokasi terakhir kegiatan hari ini berlabuh di SMPN 2 Segeri Pangkep. Seperti anak SMP di sekolah sebelumnya, beberapa dari mereka masih merasa asing dan aneh kalau di usianya masih harus mendengar dongeng.

Love you Bona..!

Saya sih asyik asyik saja dengan kondisi ini. Karena di akhir kegiatan, wajah mereka nampak gembira dan sumringah setelah mengikuti alur dongeng yang saya sampaikan. Apalagi ketika mereka ketemu dengan si Bona.

Kabut di Manipi, Dongeng di Ketinggian 800 DPL

Kabut di Manipi Sinjai Barat

Kabut pagi menyambut kedatangan tim Sedekah Dongeng dan Laznas Yatim Mandiri Maros di sekolah ini.

Perlu waktu hampir 2 jam untuk menuju ke SDN 87 Manipi Kecamatan Sinjai Barat. Jalanan yang berkelok dan sempit sungguh sangat menantang bagi kami berlima, terutama bagi Muhal sang driver kami. Tangannya cukup lihai dibelakang setir mobil Inova hitam berbelok kiri dan kanan menyesuaikan dengan tikungan yang semakin banyak. Dalam roadshow dongeng ini komposisi tim ada 5 orang. Saya selaku pendongeng, Sule dan Heri dari Laznas Yatim Mandiri Maros, Kak Yani dari Rumah Dongeng Chapter Sinjai dan Mual sang driver yang masih berstatus anak kuliah di UIN Makassar. Tajamnya tikungan membuat Heri, salah satu staf Yatim Mandiri sempat muntah dan mabuk darat. Melihat ada yang mabuk dan muntah pas dibelakangnya, sang driver malah ikut ikutan mual.

Suasana dalam mobil, ada yang muntah dan serius pegang besi

“Pantesan namamu Muhal, lihat orang mual malah kau yang jadi mual..!”, kataku sambil tertawa. Sule dan Kak Yani ikutan tertawa.

“Ai… Heri mati di T”, tak mau kalah Kak Yani menimpali. T itu tikungan.

“Tinggal 2 tikungan lagi sudah sampai di sekolah”, hibur kak Yani pada Heri yang nampaknya makin pucat saja. Tangannya terus memegang plastik hitam yang penuh dengan muntahan dari dalam perutnya.

Perjalanan semakin dekat ke lokasi dongeng. Namun kami dihadang oleh kemacetan di pasar Arabika mengakibatkan perjalanan sedikit terlambat.
Di hari hari tertentu pasar di Manipi baru ramai dengan hari pasar. Ada 3 pasar yang kami lewati sepanjang perjalanan ini. Masing masing pasar memiliki hari tertentu untuk hari pasar. Mobil para pembeli dan penjual diparkir berjejer di tepi jalan. Jalan yang sempit semakin membuat kemacetan semakin parah karena tidak ada tukang parkir di pasar ini.

Sebuah mushala sekolah yang berada di dalam sekolah kami gunakan untuk menampung siswa dari kelas 1 sampai kelas 6. Untuk menertibkan ratusan siswa ini, tim segera mengatur tempat duduk dengan menempatkan adik adik kelas 1 dan 2 dibagian depan.

Hasil dari kegiatan sedekah dongeng berjumlah Rp. 1.485.000,-. Donasi ini akan digunakan untuk pembangunan salah satu ruangan kelas di sekolah di Sinjai Barat.

SD Negeri 136 Hulo

Setelah menyelesaikan satu sessi dongeng di SDN 87 Manipi, tim Sedekah Dongeng selanjutnya menuju ke lokasi kedua yang jaraknya tak jauh dari sekolah pertama. Hanya sekitar 1 km perjalanan ke SDN 136 Hulo.
Suasana halaman sekolah masih sepi. Saya pikir para siswa sudah pulang. Namun salah satu guru yang menemui saya mengatakan bahwa siswa pulang pukul 12:45 WITA.

Beberapa siswa tampak mengintip dari pintu kelasnya sembari berbisik bisik. Mereka nampaknya penasaran..!

“Eh.. datang pendongengnya..!”, terdengar teriakan dari siswa kelas 1.

Saya hanya tersenyum. Mungkin gurunya sudah menyampaikan tentang dongeng di sekolah ini. Dan dari penyampaian ibu guru bahwa memang siswanya belum pernah mendengarkan dongeng.

Setelah menikmati kue dan kopi hangat di ruangan guru, Kak Yani salah satu relawan dari Rumah Dongeng Sinjai segera bergegas mengatur ruangan dan anak anak. Ditemani oleh Kak Sule, mereka berdua mengatur sebuah ruangan yang biasanya digunakan sebagai aula mini untuk berbagai kegiatan. Sedangkan saya masih bercengkrama dengan ibu guru yang wajahnya nampak menyiratkan sebuah kekuatiran. Ternyata kekuatiran dari beliau adalah tentang masalah jumlah sedekah yang akan dibawa oleh siswanya.

“Yang penting dalam kegiatan ini adalah keutamaan sedekah melalui dongeng. Berapapun yang anak anak berikan pada Laznas Yatim Mandiri adalah keiklasan dari mereka”, ungkap saya yang membuat wajah beliau mulai bisa tersenyum.

Ikhlas dalam memberi adalah niat yang paling utama. Allah SWT menjanjikan bahwa sedekah yang diberikan kepada yatim dhuafa akan menjadikannya sebagai payung nanti di Padang Mahsyar. Ketika milyaran manusia menunggu pengadilan, matahari di padang Mahsyar begitu dekat dengan kepala manusia.

“Insya Allah, sedekah yang kalian bawa hari ini akan menjadi payung kalian di hari dimana semua manusia dikumpulkan oleh Allah untuk ditimbang amal baik dan amal buruk.” ungkap Kak Heru di akhir dongeng.

#sedekahdongeng
#rumahdongeng
#yatimmandiri
#storytelling
#roadshowDongengSinjaiBarat

Sedekah Dongeng #8 : TK Aisyiyah Mamajang Makassar

Mengawali pekan ketiga di Bulan Maret 2018, tim Sedekah Dongeng Yatim Mandiri Makassar dan Rumah Dongeng ID berkunjung ke TK Aisyiyah Bustanul Athfal yang berlokasi di Jalan Tupai, No. 35, 90135, Mamajang Dalam, Kec. Makassar, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90132. Sekolah yang lebih dikenal dengan nama TK Aisyiyah Mamajang ini berdiri pada tahun 1995 di Makassar. Sedangkan nama Aisyiyah sendiri merupakan salah satu organisasi ortonom bagi Wanita Muhammadiyah yang didirikan di Yogyakarta pada 27 Rajab 1335 H bertepatan dengan 19 Mei 1917 oleh Nyai Ahmad Dahlan, istri dari KH Ahmad Dahlan.

Saat ini ‘Aisyiyah telah dan tengah melakukan pengeloaan dan pembinaan sebanyak : 86 Kelompok Bermain/ Pendidikan Anak Usia Dini, 5865 Taman-Kanak-Kanak, 380 Madrasah Diniyah, 668 TPA/TPQ, 2.920 IGABA, 399 IGA, 10 Sekolah Luar Biasa, 14 Sekolah Dasar, 5 SLTP, 10 Madrasah Tsanawiyah, 8 SMU, 2 SMKK, 2 Madrasah Aliyah, 5 Pesantren Putri, serta 28 pendidikan Luar Sekolah. Saat ini Aisyiyah juga dipercaya oleh Pemerintah untuk menyelenggarakan ratusan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di seluruh Indonesia. Di Kota Makassar saat ini ada 60 TK Aisyiyah yang terbagi dalam 7 kelompok wilayah.

Senin pagi (19/03/2018) ini ada lebih dari 150 adik adik terlihat asyik mendengarkan dongeng sekaligus memberikan sedekah kepada para yatim dhuafa. Sungguh sangat menyenangkan sekali ketika mereka nampak senang dan ceria dengan dongeng yang Kak Heru bawakan pagi ini. Mereka duduk melantai di teras sekolah yang cukup luas dan memanjang bentuknya. Teras depan ini biasanya digunakan untuk berbagai macam kegiatan sekolah. Sekitar awal tahun 2017 Kak Heru pernah berkunjung ke sekolah ini bersama tim Mimi Susu yang menampilkan dongeng bertema profesi.

Di barisan paling depan sudah duduk dengan rapi adik adik dari kelompok play grup. Secara berurutan setiap kelompok duduk dengan rapi mulai dari depan sampai ke belakang. Di barisan paling belakang adalah mereka yang duduk di kelompok TK B. Beberapa orang tua juga nampak duduk menemani anak anak mereka. Tim Sedekah Dongeng dari Yatim Mandiri Makassar yang datang hari ini hanya Kak Muli saja. Biasanya ada beberapa volunter Yatim Mandiri yang berasal dari Universitas Islam Negeri kerap hadir pula untuk membantu jalannya acara. Menurut Kak Muli, volunter hari ini sedang berhalangan karena sedang ada kuliah di kampusnya masing masing.

Kegiatan Sedekah Dongeng bertujuan untuk menghimpun donasi dari siswa dan siswi di sekolah yang kemudian akan disalurkan kepada lembaga zakat yang resmi dan terdaftar di pemerintah Indonesia. Selain lembaga zakat, sedekah dongeng bisa bekerjasama dengan yayasan atau komunitas kemanusian. Gerakan ini akan memberikan edukasi khususnya anak usia sekolah dasar untuk sejak dini gemar bersedekah dan lebih peduli kepada sesama manusia.

Sedekah Dongeng di Sekolah Alam Insan Kamil

Hari Rabu, 7 Maret 2018 saya bersama tim Sedekah Dongeng Yatim Mandiri Makassar berkesempatan untuk menjelajah di sebuah sekolah yang letaknya agak jauh dari Kota Makassar. Namanya adalah Sekolah Alam Insan Kamil. Seperti kebiasaan saya bila belum pernah berkunjung ke sekolah baru, saya langsung mencari lokasinya di Google Maps.

Letaknya di Jalan Dato Paggentungan, Tamaruna, Somba Opu, Gowa
Tamarunang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan 92118.

Saya memulai perjalanan dari kawasan Bukit Baruga setelah mengantarkan surat di sebuah sekolah di kawasan tersebut. Nampak di peta google perjalanan ke SAIK (Sekolah Alam Insan Kamil) tidak asa kemacetan yang berarti. Diperkirakan sekitar 40 menit durasi perjalanan ini. Setelah melewati bundaran Samata, perjalanan terasa asik karena pemandangan sawah yang hijau dan terbentang luas. Saya jadi ingat lagu “Pemandangan” yang sering dinyanyikan ketika masih duduk di TK. Liriknya kira kira seperti ini ;

Sungai nampak berliku

Sawah hijau terbentang

Bagai permadani di kaki langit

Tiba di sekolah ini sekitar pukul 08:15 WITA, masih ada waktu 15 menit sebelum kegiatan dongeng dimulai. Setelah memarkir si Mona, mobil merah kesayangan, saya bergegas mengeluarkan perlengkapan dongeng. Jalan masuk ke sekolah ini harus melewati sebuah jembatan kayu, awalnya saya ragu untuk menyeberangi jembatan tersebut. Sekilas nampak rapuh dan tak kuat untuk dilalui oleh kendaraan beroda empat. Saya harus menunggu beberapa saat sampai ada sebuah mobil yang melewati jembatan kayu dengan mulus. Akhirnya sayapun berani melewati jembatan kayu tersebut.

Sesuai dengan namanya yaitu

sekolah alam, benar-benar bernuansa alam. Ada sebuah perkebunan mini atau mini farming yang berada di halaman depan sekolah. Nampak juga lapangan sepak bola yang cukup luas untuk bermain futsal. Berbagai pohon buah-buahan terdapat di sana, di antaranya pohon durian, langsat, dan mangga.

Sebuah bangunan besar nampak menonjol berdiri dengan kokohnya. Bangunan tersebut adalah ruang-ruang kelas terbuat dari bangunan serupa saung, terbuat dari kayu. Ada pula bangunan-bangunan yang terbuat dari batu-bata. Selain itu ada fasilitas lainnya berupa aula, kantin, masjid, dan toilet.

Pagi ini dilaksanakan sebuah kegiatan yang berjuluk Festival Bahagia. Kegiatan ini mirip dengan pekan olahraga dan seni yang biasa dilakukan oleh sekolah lainnya. Dalam kegiatan ini banyak lomba yang melibatkan sekolah sekolah lain yang berada di sekitar Sekolah Alam Insan Kamil.

Beberapa anak anak nampak sedang mengadakan gladi bersih untuk pembukaan kegiatan Festiba 2018. Dari kostum dan peralatan menarinya, sepertinya anak anak tersebut akan membawakan tarian Gandrang Bulo yang memang sangat sesuai dibawakan oleh anak anak usia sekolah dasar.

Meskipun cuaca tidak bersahabat dan sempat turun hujan yang sangat lebat, namun kegiatan pembukaan acara tetap berlangsung sampai selesai. Sedangkan kegiatan Sedekah Dongeng harus dipindahkan lokasinya di dalam mesjid karena area lapangan becek dan tak kondusif bagi anak anak yang akan mendengarkan dongeng.

Jum’at Berkah dengan Sedekah Dongeng Terbaik

Berbahagialah bagi mereka yang selalu menyisihkan harta bendanya untuk membantu anak anak yatim dhuafa sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya.” (HR. Muslim)

Bagi orang-orang yang bersedekah atau berbuat baik bagi sesamanya apalagi kepada anak yatim dhuafa Insya Allah pahalanya akan kembali kepadanya.

Lihatlah, ketika puluhan siswa-siswi dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Quran Qaf, Maros, antusias mendengar sebuah kisah Islami yang dibawakan oleh Kak Heru dari Rumah Dongeng Indonesia dan Yatim Mandiri dalam rangkaian pengumpulan donasi melalui kegiatan mendongeng. (02/03/2018).

Kepala Sekolah Paud QAF, Fitriani mengatakan, pihak sekolah sengaja mendatangkan pendongeng untuk menghibur sekaligus memberikan pendidikan moral kepada peserta didik terkait kewajiban seseorang untuk saling membantu satu sama lain. Kegiatan ini rutin dilakukan setiap tahunnya, tahun 2017 juga digelar kegiatan serupa di sekolah yang berlokasi di Kabupaten Maros.

“Kami memang setiap minggu mengajarkan para siswa untuk bersedekah. Khusus hari ini, kami sangat senang karena pendongeng dari rumah dongeng mau hadir membawakan dongeng disini,” katanya.

“Kami bersyukur karena PAUD kami ini untuk kedua kalinya menggelar aksi sedekah dongeng ini. Kita berharap akan banyak sekolah yang bisa melaksanakan kegiatan serupa.” paparnya.

Rumah Dongeng Indonesia bekerjasama dengan Laznas (Lembaga Amil Zakat Nasional) Yatim Mandiri mengadakan kegiatan Sedekah Dongeng di berbagai sekolah di Indonesia. Tujuan dari kegiatan tersebut adalah untuk mengedukasi anak anak di sekolah tentang keutamaan bersedekah melalui kisah kisah Islami sekaligus mengumpulkan donasi bagi kegiatan sosial kemasyarakatan Laznas Yatim Mandiri.

Sampai saat ini Yatim Mandiri sudah memiliki 42 kantor Cabang di 12 Propinsi di Indonesia. Dengan berbagai program kemandirian yang ada, harapannya Yatim Mandiri semakin berkembang lebih baik dan mampu menebar manfaat lebih luas.

Saat ini Yatim Mandiri sedang membuat Sanggar Genius bagi Yatim Dhuafa di seluruh Indonesia.
Sanggar Genius adalah program bimbingan belajar yatim dhu’afa yang focus pada dua hal, yaitu matematika dan akhlak. Program ini dimaksudkan untuk melengkapi kegiatan anak-anak di masyarakat di luar sekolah. Karena selama ini tidak banyak masyarakat yang mampu menyelenggarakan bimbel gratis kepada anak-anak dilingkungannya. Yatim Mandiri hadir untuk memenuhi kebutuhan tersebut, gratis namun tetap berkualitas dengan guru-guru pilihan yang diterjunkan.

Melalui program ini anak-anak yatim dhu’afa diharapkan mampu bersaing bidang akademiknya dan dapat mengembangkan potensi dirinya. Setiap tahunnya Yatim Mandiri mengeluarkan ± 2 M untuk program tersebut. Hingga saat ini sudah tersebar sebanyak 240 sanggar di seluruh Indonesia.

Yatim Mandiri mengajak kepada semua sekolah untuk ikut berdonasi dalam pembangunan Sanggar Genius melalui kegiatan Sedekah Dongeng. Semoga segala ikhtiar dan hajat kita segera di ijabah oleh Alloh Ta’ala. Aamiin

Ayo Dukung Sanggar Genius Yatim Dhuafa melalui kegiatan Sedekah Dongeng.

Insya Allah akan menjadi amal jariah kita semua, dimana di dalamnya akan dijadikan tempat belajar dan menghafal Al Qur’an serta ilmu lainnya.

Tentang sanggar Genius silakan dilihat disini.

———————————–
Rumah Dongeng Indonesia
(www.rumahdongeng.id)
WA : 0852 5575 1971

Follow us :
IG : RumahDongeng
FP : Rumah Dongeng Indonesia