Kare-Karena bersama UNHCR dan Komunitas Makassar

Kare Karena, kegiatan yang dilaksanakan oleh UNHCR dan Komunitas Makassar

Sebuah spanduk terpasang di dinding utara Chappel Fort Rotterdam Makassar. Spanduk berukuran 5m x 6m bertuliskan “Kare-Karena“, kata yang masih asing di kosa kata saya.

Tak mau berlama lama memandang spanduk ini, sayapun segera menaiki anak tangga menuju lantai 2 bangunan Chappel yang berada di tengah Fort Rotterdam. Di lantai bawah digunakan sebagai musium yang menyimpan peta benteng Panyulla yang nampak dari atas. Sedangkan lantai 2 biasanya digunakan untuk berbagai kegiatan komunitas.

Kare Karena, kegiatan yang dilaksanakan oleh UNHCR dan Komunitas Makassar

Hari ini, Sabtu 1 Desember 2018 salah satu badan PBB yakni UNHCR mengadakan kegiatan yang berjudul Kare-Karena. Setelah bertanya kepada salah satu panitia, makna dari kata tersebut adalah “main main”. UNHCR adalah United Nations High Commissioner for Refugees, bermarkas di Jenewa, Swis. Badan ini didirikan pada tanggal 14 Desember 1950, bertujuan untuk melindungi dan memberikan bantuan kepada pengungsi berdasarkan permintaan sebuah pemerintahan atau PBB kemudian untuk mendampingi para pengungsi tersebut dalam proses pemindahan tempat menetap mereka ke tempat yang baru.

Kare Karena merupakan salah satu program yang mengajak adik adik pengungsi yang berada di Kota Makassar untuk bermain dan bergembira. Ada permainan tradisional bersama Kika Aksara; Kelas Tangan Kreatif bersama Nita Sbj; Dongeng dari Safira Rumah Dongeng dan live music bersama HAS. Kegiatan ini berlangsung mulai dari pagi sampai sore.

Beberapa anak anak pengungsi sedang asyik bermain monopoli

Ada kurang lebih 20 anak anak refugees yang datang untuk bermain dan mendengarkan dongeng. Mereka didampingi oleh mbak Mayrina dari UNHCR yang secara khusus membuat kegiatan yang melibatkan komunitas di Makassar. Selain itu juga nampak hadir beberapa adik adik non refugees yang sengaja dihadirkan di kegiatan ini supaya ada interaksi langsung antar anak anak. Ada sekitar 10 anak yang berasal dari SD Samiun Makassar yang datang dan ikut bermain bersama anak lainnya.

Safira dari Rumah Dongeng asyik bermain dengan salah anak refugees

Menurut Mayrina, setiap kegiatan yang melibatkan pengungsi harus diawasi dan disetujui oleh UNHCR. Ada beberapa ketentuan khusus yang harus dipenuhi oleh pelaksana kegiatan apabila membuat kegiatan yang melibatkan anak anak pengungsi dibawah pengawasan UNHCR. Salah satu aturannya adalah tidak boleh mengambil foto yang langsung mengarah ke wajah anak anak pengungsi. Pengunjung juga harus meminta ijin kepada orang tua anak bila ingin mengambil gambar mereka. Beberapa orang tua sudah fasih berbicara dalam bahasa Indonesia, bahkan ada yang tahu bahasa Makassar. Demikian pula dengan anak anak mereka yang sudah fasih berbicara dalam bahasa walaupun mereka lebih sering memakai bahasa dari negaranya sendiri bila sedang bermain dengan teman sesamanya.