Petualangan Bersama Hujan di Segeri Pangkep

Hari Selasa, 12 Maret 2019 adalah hari pertama roadshow Sedekah Dongeng di Segeri Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan. Jarak sekitar 70 km harus kami tempuh sepanjang perjalanan dari Makassar ke Pangkep.
Hujan begitu derasnya ketika kami memasuki wilayah Kecamatan Segeri Pangkep.
Lokasi pertama adalah di MTS Negeri DDI Segeri Pangkep.
Derasnya hujan masih belum berhenti di tempat ini. Halaman sekolah yang biasanya dipakai untuk upacara tergenang oleh air. Pikir saya, nampaknya dongeng tidak bisa diluar ruangan.

Ruangan kecil di MTS DDI Segeri Pangkep yang masih beralas ubin biasa

Sambutan hangat dari Bapak Kepala Sekolah membuat suasana menjadi lebih akrab. Atas anjuran beliau, kegiatan dongeng dilaksanakan di sebuah aula kecil yang masih beralaskan lantai biasa.

Tuh lihat.., sampai sampai kak Heru harus buka sepatu di depan adik adik. Walau begitu kak Heru tetap ganteng khan..?

SMP Negeri 1 Segeri Pangkep

Selanjutnya tim Sedekah Dongeng bergerak ke SMP Negeri 1 Segeri. Cuaca masih belum bersahabat dengan kami. Hujan masih enggan untuk berhenti. Lapangan upacara basah dan tergenang air.

Pilihan tempat kegiatan akhirnya adalah di ruang kelas. Wakil Kepala SMP meminta kepada pengurus OSIS agar hanya perwakilan siswa saja yang mengikuti kegiatan dongeng ini.

Tak mengapa ruangan kelas hanya bisa ditempati oleh sekitar 50 anak yang merupakan perwakilan dari 200 murid lainnya.

Terima kasih untuk bunda AL Djibran Evi yang seharian ini bersedia meluangkan waktu dan sup ubinya untuk kami santap di sela hujan di Segeri.

SD Negeri 23 Takku Kecamatan Segeri Pangkep.

Roadshow di hari kedua Sedekah Dongeng di Segeri Pangkep hari ini berjalan tanpa ada hujan. Walaupun dini hari tadi sekolah ini sempat diguyur hujan, namun ketika dongeng berlangsung hujan sudah berhenti. Beberapa tempat di halaman sekolah masih tergenang air.
Kegiatan dongengpun tetap berlangsung di teras depan kelas.

Teras kelas yang berbentuk selasar panjang dipenuhi oleh 300 adik adik mulai dari kelas 1 sampai kelas 6. Beberapa guru yang hari ini tidak mengikuti pelatihan kelas inklusif juga ikut dalam barisan dongeng muridnya.

Ternyata selasar yang sempit tak mampu menampung barisan dongeng yang ada. Beberapa murid terpaksa harus memanjat pohon agar bisa menyaksikan dongeng seru hari ini. Walaupun berdesak desakan, namun tidak terjadi keributan di antara mereka.

SDN 34 Citta Segeri Pangkep

Sedari pagi, Makassar diguyur hujan yang cukup lebat. Dan seperti sudah menjadi pasangan peristiwa bila hujan pasti macet.
Kemacetan panjang Kamis pagi ini dimulai dari pertigaan jalan Borong dan Antang. Sampai di perempatan jalan masuk Bukit Baruga, kemacetan masih terjadi. Salah satu ruas jalan inspeksi PAM ditutup karena ada pesta pernikahan.

“Kayaknya hujan pindah ke Maret ya..”, ungkap saya kepada penumpang cantik yang duduk disampingku.

“Iya…,” jawabannya singkat sembari terus memainkan ipad mininya.

Agenda dongeng pagi ini masih menuju ke Segeri Pangkep. Ini adalah hari ketiga roadshow ke kabupaten penghasil ikan bolu dan jeruk Pangkep. Semestinya pukul 09:00 sudah harus tiba di Segeri, namun pagi ini pukul 07:30 masih berkutat macet di jalan Leimina Antang.

Hujan mulai berhenti ketika tiba di Maros untuk menjemput Ibu Ani dan Jene, staf Yatim Mandiri Maros yang pagi ini bertugas mendampingi saya ke Pangkep. Bergegas mereka naik ke mobil karena waktu sudah menunjukkan pukul 08:40. Spanduk dan majalah bulanan Yatim Mandiri sudah disiapkan oleh mereka berdua.
Menyusuri jalanan ke arah Pangkep, cuaca mulai tak bersahabat. Gerimis kecil mulai menghadang perjalanan kami.

Saya mencoba menelpon Ibu AL Djibran Evi yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan kami di Segeri.

“Hujan qi di Segeri?,” tanyaku dengan intonasi yang agak kuatir.
Memang harus kuatir karena lokasi pertama adalah SD 34 Citta yang biasanya tergenang air bila hujan.

“Masih gerimis kak,” jawab bunda Evi di ujung telepon. Agak lega saya mendengarnya.

Namun ketika kami tiba di Segeri, hujan malah semakin deras. Dengan payung pinjaman, bunda Evi susah payah mengendong si kecil masuk ke dalam mobil kami.

“Gara gara lihat kakaknya foto dengan Bona, ini adiknya mau ikut dengar dongeng,” ujar bunda Evi ketika sudah duduk di dalam mobil. Naufal, si anak yang sulung kemarin berfoto bersama Bona di sekolahnya. Dan semalam adiknya rewel mau juga berfoto.
Pantesan saja hari ini dia ikut.

Perjalanan menuju ke SD 34 Citta masih ditemani oleh hantaman air hujan yang tak mau berhenti. Saya harus waspada karena banyak lubang di sepanjang jalan. Beberapa kali roda Mobil Bona alias Mona terantuk di lubang aspal yang tak terlihat karena genangan air menutupi lubang.

Dan setelah 20 menit berlalu, kami tiba di sekolah. Seperti biasanya, adik adik kecil sudah tak sabar menunggu kedatangan kami. Hari ini ruangan perpustakaan menjadi panggung dongeng. Sekitar 70 siswa duduk dengan rapi di dalam ruangan ini. Beberapa guru dan orang tua juga nampak bergabung dan bersempit ria di dalam ruangan yang berukuran 5 x 5 meter. Walau ini adalah perpustakaan sekolah, jangan ditanya jumlah koleksi buku bukunya.
Yang ada hanya rak buku yang masih kosong. Bahkan saya sempat mendorong rak buku ini agar adik adik dapat duduk dengan nyaman.

SMP Negeri 2 Segeri Pangkep

Dan lokasi terakhir kegiatan hari ini berlabuh di SMPN 2 Segeri Pangkep. Seperti anak SMP di sekolah sebelumnya, beberapa dari mereka masih merasa asing dan aneh kalau di usianya masih harus mendengar dongeng.

Love you Bona..!

Saya sih asyik asyik saja dengan kondisi ini. Karena di akhir kegiatan, wajah mereka nampak gembira dan sumringah setelah mengikuti alur dongeng yang saya sampaikan. Apalagi ketika mereka ketemu dengan si Bona.

Sekolah Kecil di Pangkep, Tempat Para To Barani

Tim Dongeng dan Pajokka Balocci berpose di depan sekolah

Ketika saya diundang oleh Amal, seorang lelaki muda yang berkecimpung di Komunitas Pajokka Balocci Pangkep, ingatan saya kembali ke sebuah cerita rakyat yang pernah dibawakan oleh Fara, salah satu murid sekolah dasar di Pangkep. Sekitar 2 tahun lalu Fara diutus oleh sekolahnya untuk mengikuti Lomba Bercerita Tingkat SD se Sulawesi Selatan mewakili Kabupaten Pangkep. Kala itu Fara membawakan sebuah cerita rakyat yang berjudul Asal Usul Kampung Jawwaya. Dalam cerita tersebut ada sebuah istilah yang mengelitik pikiran saya. Istilah itu adalah To Barani.

To Barani atau tobarani artinya adalah para pemberani yang terdiri dari kumpulan para pendekar di kerajaan Pangkep. Menurut Amal, yang tadi sempat bercerita sedikit kepada saya. Dahulu daerah ini merupakan tempat asal para pemberani (to-barani – tobarani) yang mempunyai kebiasaan minum arak (anginung ballo’), sabung ayam (assaung jangang / massaung manu), judi (abbotoro’). Kebiasaan ini adalah kebiasaan umum masyarakat pada masa itu. Tidak disebut seseorang itu pemberani jika tidak melakoni kebiasaan – kebiasaan tersebut diatas. Para pemberani di Balocci itu mendapatkan julukan “Koro – korona Balocci”, karena kebiasaan yang terkenalnya meminum “Ballo Kecci” dan memang ballo’ yang terkenal di Balocci pada masa itu adalah Ballo Kecci.

Begitulah asal usul nama Balocci.

Amal juga bercerita tentang sepak terjang komunitasnya yang saat ini sudah beranggotakan 48 orang. Komunitas Pajokka Balocci adalah komunitas traveling dan education. Nah, ketika mereka sedang traveling, mereka juga mengeksplore dan mengembangkan potensi wisata serta memberikan edukasi kepada masyarakat sekitar lokasi potensi wisata yang mereka kunjungi.

Kegiatan Dongeng Ceria ini sempat 2x ditunda pelaksanaannya karena berbagai kendala. Seharusnya tanggal 16 Februari 2019 dilaksanakan namun pada tanggal tersebut pihak sekolah memberitahukan ada gerak jalan dalam rangka ulang tahun Kabupaten Pangkep. Sedangkan yang kedua karena bertabrakan dengan jadwal Roadshow Disaster Risk Reduction di Palu. Dan akhirnya pada hari ini, 2 Maret 2019 bisa dilaksanakan.

Hari ini saya berangkat ke Balocci ditemani oleh 3 orang staf dari Yatim Mandiri Maros. Ada Sari yang baru saja menikah, ada Rahmi salah satu staf Fundraising dan Sri, staf keuangan yang kalo naik mobil biasanya tidur nyenyak. Perjalanan dimulai dari kantor Yatim Mandiri Maros sekitar pukul 08:15 WITA. Beberapa dus susu dan kaleng sosis sudah siap dipacking dan dinaikkan ke bagasi mobil merah yang setiap hari saya gunakan untuk operasional dongeng.

“Mobil ini namanya Mona, alias Mobilnya Bona,” ujarku ketika mereka bertiga sudah duduk di dalam mobil.

Rahmi hanya tertawa saja. Dari ketiga penumpang hari ini, hanya Rahmi yang paling suka tertawa. Sedangkan Sari sedang tidak enak badan.

“Sari lagi ngidam Kak,” jelas Sri yang duduk di sampingnya.

Wah, pengantin baru kayaknya lagi bahagia nih…!

Tak terasa perjalanan kami berempat sudah tiba di kawasan perumahan Tonasa 1 Pangkep. Sebuah gerbang selamat datang nampak masih terpampang dengan jelas di depan perumahan. Saya pun menepikan mobil karena harus menelpon Amal untuk minta dijemput. Lokasi sekolah katanya masih sekitar 5 km lagi.

Sembari menunggu tim penjemput, saya sempat melihat beberapa bangunan di perumahan Tonasa 1 sudah tak terurus lagi. Sebuah bangunan besar yang dulunya sebagai kantor pusat, kini nampak tak terurus dan dimakan rayap. Beberapa dindingnya sudah jebol. Demikian juga dengan atapnya yang sudah terlepas sengnya. Saya teringat sekitar tahun 1992 pernah menjalani training center selama hampir 2 minggu di gedung olah raga di Tonasa 1. Bangunan tersebut masih berdiri dengan kokoh dan nampak di bagian samping digunakan untuk toko serba ada.

Setelah menunggu selama kurang lebih 15 menit, akhirnya yang ditunggu pun sudah tiba. Dengan mengendarai sebuah motor berwarna hitam Putri salah satu anggota komunitas Pajokka Balocci menemui kami. Tanpa berbasa basi dan tak menunggu segeralah kami mengekor di belakangnya. Di sepanjang perjalanan kami disuguhi dengan pemandangan bukit kapur yang tinggi menjulang di kanan dan kiri jalan. Sesekali terdengar bunyi air sungai yang airnya jernih mengalir di sisi kiri jalan. Sengaja saya membuka jendela dan mematikan pendingin udara mobil supaya udara Balocci bisa masuk ke dalam mobil. Secara administratif, Kecamatan Balocci terbagi atas 4 Kelurahan, 1 Desa, 8 Lingkungan, 2 Dusun, 25 RW, dan 83 RT. Kelima Kelurahan/Desa tersebut adalah Kassi, Tonasa, Balocci Baru, Balleangin, dan Tompobulu.

Sebuah spanduk kecil nampak sudah dipasang di pintu gerbang sekolah. Terdengar riuh suara adik adik yang sudah duduk dengan rapi dibawah pohon mangga besar di belakang sekolah.

Aksi Bona yang selalu dirindukan adik adik

“Tadi mereka menunggu di halaman sekolah. Tapi karena panas matahari sudah menerpa halaman, maka saya pindahkan ke belakang sekolah,” kata Bunda Hj. Rosmini, kepala sekolah SDN 31 Senggerang yang nampaknya sudah tak sabar untuk memulai acara.

Segera beliau mengajak tim Sedekah Dongeng ke belakang sekolah. Dan benar, sekitar 90 murid sudah duduk tanpa alas kaki diatas karpet berwarna biru di bawah rindangnya pohon mangga yang tinggi menjulang. Melihat mereka duduk tanpa alas kaki, sayapun juga melepas sepatu dan mulai menyapa mereka sambil mengenalkan maksud dan tujuan kami datang.

Bunda Hj. Rosmini menyerahkan piagam kepada Kak Heru dan Bona

Tak butuh waktu lama bagi saya untuk bisa akrab dengan mereka. Teknik ice breaking sangat dibutuhkan dalam segala suasana. Apalagi untuk adik adik yang belum sama sekali mengenal saya dan tim Sedekah Dongeng dari Laznas Yatim Mandiri. Ibu guru dan bapak guru juga sekali tertawa melihat anak anak mereka cepat akrab dengan kami. Suasana semakin riuh ketika Bona, mulai keluar dari tas hitamnya. Celoteh nakal mulai keluar dari mulut Bona. Beberapa anak laki laki yang duduk di bagian depan nampak sampai tertawa berguling guling mendengar ocehan Bona.

Dan akhirnya kegiatan Dongeng Ceria hari ini diakhiri dengan pembagian susu dan sosis kaleng. Kakak kakak dari Yatim Mandiri dengan sabar mulai membagikan hadiah tersebut dibantu oleh Putri, Nisa, Haerul, Nasrul dan Rika dari Pajokka Balocci.

Bagi teman teman komunitas lain yang ingin mengenal komunitas Pajokka Balocci, silakan datang langsung ke markasnya di :

Jl.Bulusaraung Kampung Dujie Kelurahan Balleangin Kecamatan Balocci Kab.Pangkep

Kabut di Manipi, Dongeng di Ketinggian 800 DPL

Kabut di Manipi Sinjai Barat

Kabut pagi menyambut kedatangan tim Sedekah Dongeng dan Laznas Yatim Mandiri Maros di sekolah ini.

Perlu waktu hampir 2 jam untuk menuju ke SDN 87 Manipi Kecamatan Sinjai Barat. Jalanan yang berkelok dan sempit sungguh sangat menantang bagi kami berlima, terutama bagi Muhal sang driver kami. Tangannya cukup lihai dibelakang setir mobil Inova hitam berbelok kiri dan kanan menyesuaikan dengan tikungan yang semakin banyak. Dalam roadshow dongeng ini komposisi tim ada 5 orang. Saya selaku pendongeng, Sule dan Heri dari Laznas Yatim Mandiri Maros, Kak Yani dari Rumah Dongeng Chapter Sinjai dan Mual sang driver yang masih berstatus anak kuliah di UIN Makassar. Tajamnya tikungan membuat Heri, salah satu staf Yatim Mandiri sempat muntah dan mabuk darat. Melihat ada yang mabuk dan muntah pas dibelakangnya, sang driver malah ikut ikutan mual.

Suasana dalam mobil, ada yang muntah dan serius pegang besi

“Pantesan namamu Muhal, lihat orang mual malah kau yang jadi mual..!”, kataku sambil tertawa. Sule dan Kak Yani ikutan tertawa.

“Ai… Heri mati di T”, tak mau kalah Kak Yani menimpali. T itu tikungan.

“Tinggal 2 tikungan lagi sudah sampai di sekolah”, hibur kak Yani pada Heri yang nampaknya makin pucat saja. Tangannya terus memegang plastik hitam yang penuh dengan muntahan dari dalam perutnya.

Perjalanan semakin dekat ke lokasi dongeng. Namun kami dihadang oleh kemacetan di pasar Arabika mengakibatkan perjalanan sedikit terlambat.
Di hari hari tertentu pasar di Manipi baru ramai dengan hari pasar. Ada 3 pasar yang kami lewati sepanjang perjalanan ini. Masing masing pasar memiliki hari tertentu untuk hari pasar. Mobil para pembeli dan penjual diparkir berjejer di tepi jalan. Jalan yang sempit semakin membuat kemacetan semakin parah karena tidak ada tukang parkir di pasar ini.

Sebuah mushala sekolah yang berada di dalam sekolah kami gunakan untuk menampung siswa dari kelas 1 sampai kelas 6. Untuk menertibkan ratusan siswa ini, tim segera mengatur tempat duduk dengan menempatkan adik adik kelas 1 dan 2 dibagian depan.

Hasil dari kegiatan sedekah dongeng berjumlah Rp. 1.485.000,-. Donasi ini akan digunakan untuk pembangunan salah satu ruangan kelas di sekolah di Sinjai Barat.

SD Negeri 136 Hulo

Setelah menyelesaikan satu sessi dongeng di SDN 87 Manipi, tim Sedekah Dongeng selanjutnya menuju ke lokasi kedua yang jaraknya tak jauh dari sekolah pertama. Hanya sekitar 1 km perjalanan ke SDN 136 Hulo.
Suasana halaman sekolah masih sepi. Saya pikir para siswa sudah pulang. Namun salah satu guru yang menemui saya mengatakan bahwa siswa pulang pukul 12:45 WITA.

Beberapa siswa tampak mengintip dari pintu kelasnya sembari berbisik bisik. Mereka nampaknya penasaran..!

“Eh.. datang pendongengnya..!”, terdengar teriakan dari siswa kelas 1.

Saya hanya tersenyum. Mungkin gurunya sudah menyampaikan tentang dongeng di sekolah ini. Dan dari penyampaian ibu guru bahwa memang siswanya belum pernah mendengarkan dongeng.

Setelah menikmati kue dan kopi hangat di ruangan guru, Kak Yani salah satu relawan dari Rumah Dongeng Sinjai segera bergegas mengatur ruangan dan anak anak. Ditemani oleh Kak Sule, mereka berdua mengatur sebuah ruangan yang biasanya digunakan sebagai aula mini untuk berbagai kegiatan. Sedangkan saya masih bercengkrama dengan ibu guru yang wajahnya nampak menyiratkan sebuah kekuatiran. Ternyata kekuatiran dari beliau adalah tentang masalah jumlah sedekah yang akan dibawa oleh siswanya.

“Yang penting dalam kegiatan ini adalah keutamaan sedekah melalui dongeng. Berapapun yang anak anak berikan pada Laznas Yatim Mandiri adalah keiklasan dari mereka”, ungkap saya yang membuat wajah beliau mulai bisa tersenyum.

Ikhlas dalam memberi adalah niat yang paling utama. Allah SWT menjanjikan bahwa sedekah yang diberikan kepada yatim dhuafa akan menjadikannya sebagai payung nanti di Padang Mahsyar. Ketika milyaran manusia menunggu pengadilan, matahari di padang Mahsyar begitu dekat dengan kepala manusia.

“Insya Allah, sedekah yang kalian bawa hari ini akan menjadi payung kalian di hari dimana semua manusia dikumpulkan oleh Allah untuk ditimbang amal baik dan amal buruk.” ungkap Kak Heru di akhir dongeng.

#sedekahdongeng
#rumahdongeng
#yatimmandiri
#storytelling
#roadshowDongengSinjaiBarat

Bona Back to Makassar

Ibu Lisa dan Pak Berto berfoto dengan Bona

Setelah hampir satu minggu mengadakan roadshow Disaster Risk Reduction di Palu, Sigi dan Donggala bersama Wahana Visi Indonesia, menjelang sore di hari Sabtu, 23 Februari 2019, saya diantar oleh Ibu Lisa dan Pak Berto ke bandara Mutiara Palu. Tak mau ketinggalan melihat foto fotonya Bona, Ibu Lisapun ingin juga berfoto dengan Bona di bandara Palu.

Selama roadshow di Palu, banyak pengalaman barunya Bona. Bertemu dengan banyak adik adik dan bergembira bersama mereka. Dari satu tempat ke tempat lainnya, dari anak anak bahkan sampai orang tua senang bertemu dengan Bona.

Irma, teman sewaktu di Smansa Makassar

Setelah menunggu di gate 3 selama kurang lebih 30 menit, pesawat Batik Airpun segera take off menuju Makassar. Sungguh beruntung pada penerbangan ini tiga kursi tempat saya duduk sedang kosong semuanya. Artinya hanya saya sendiri yang duduk di baris 12. Dan seperti biasa kalo dalam keadaan seperti ini, Bona pun mendapat kesempatan untuk duduk di kursi dekat jendela.

Beberapa penumpang sepertinya heran melihat tingkah laku saya yang sedang asyik berfoto dan mengatur posisi duduknya Bona. Bahkan ketika pramugari membagikan makanan kecil, Bonapun sempat mendapat jatah snack juga. Dengan tersipu malu mbak pramugari pun akhirnya menerima kembali snack tersebut ketika saya menjelaskan bahwa yang duduk disamping itu adalah boneka Bona.

“Bisa bicara bonekanya pak..?”, tanya mbak pramugari ketika sedang membagi snack kepada saya. Sayapun hanya tersenyum kecil mendengar pertanyaan tersebut, sementara mbak pramugari terus berjalan pelan melayani penumpang lainnya sembari matanya tak lepas dari Bona.

“Gimana Bona? Mau nggak foto sama dia?”, kutantang Bona yang ternyata malah asyik membaca majalah Batik air. Dan Alhamdulillah penerbangam Batik Air hari Sabtu ini lancar dan tiada halangan.

3 Lokasi Sedekah Dongeng.

Dan hari Senin 25 Februari 2019, jadwal kegiatan dimulai dengan mengunjungi TK Aisyiah Bustanul Athfal VI Biring Romang VI di jalan Tamangapa 3 Antang. Untuk ke sekolah ini harus menyusuri lorong khusus kendaraan roda 2. Ada sekitar 60 murid yang belajar di sekolah ini.
Pukul 08:15 kegiatan Sedekah Dongeng bersama Laznas Yatim Mandiri dimulai setelah mereka duduk dengan rapi di halaman sekolahnya.

Donasi yang dikumpulkan berjumlah Rp 1.243.000,- yang selanjutnya disalurkan kepada Laznas Yatim Mandiri Makassar.

Selanjutnya lokasi kedua kegiatan Sedekah Dongeng adalah di TKIT Ummul Mu’minin di Pesona Prima Griya Antang.

Kak Sabir dan keluarganya berfoto bersama Bona

Sebelumnya, Zabir salah satu junior Kak Heru yang masih aktif di Pramuka Unhas mengabari bahwa ini adalah sekolah anaknya. Anaknya bernama Embun, cantik dan lincah seperti ayah dan bundanya. Kebetulan ayah dan bunda Embun adalah sama sama anggota Pramuka Unhas.

Dan menjelang siang, tim Sedekah Dongeng masih menyisakan 1 lokasi lagi di TK Angkasa 2 Daya. Ini adalah kunjungan saya untuk kedua kalinya di sekolah ini.

Ketika saya baru masuk ke pintu gerbang, teriakan memanggil nama “Kak Heru datang..!” langsung menggema di teras sekolah. Serentak kaki kaki kecil segera berlarian menyambutku.

“Mana Bona..?”, itu sebuah kalimat bila mereka bertemu denganku untuk kesekian kalinya.
Sayapun hanya bisa tersenyum sembari menggandeng salah satu anak untuk menuju lokasi kegiatan di samping sekolah.

Ada sekitar 150 adik adik yang sudah duduk dengan rapi namun tak sabar. Saat saya sedang menyiapkan sound system, beberapa dari mereka mencoba untuk mengintip tasnya Bona. Walaupun ibu guru sudah melarang, namun mereka tetap kembali berdiri dan mencari tahu keberadaan Bona.

Agar mereka tak penasaran, sengaja saya menyimpan tas Bona agak jauh agar perhatian mereka tak terganggu ketika dongeng dimulai. Saya meminta pak Yoga, salah satu staf dari Laznas Yatim Mandiri untuk menjaga tas Bona dari jangkuan tangan tangan kecil mereka.

Meluangkan Waktu ke SD Al Azhar Mandiri Palu

Roadshow Disaster Risk Reduction 2019 menyasar ke 13 lokasi yang semuanya merupakan wilayah kerja pendampingan dari Yayasan Wahana Visi Indonesia. Karena keterbatasan waktu, dari sekitar 30 tempat pendampingan hanya 13 lokasi saja yang dapat dijangkau pada bulan Februari 2019.

Di tengah kepadatan jadwal Roadshow ini, atas permintaan khusus dari bunda Irma, salah satu alumni SMANSA 90 yang sekarang bermukim di Kota Palu maka hari Jumat pagi ini mampir dulu ke SD Al Azhar Mandiri Palu.

Karena jadwal Roadshow Disaster Risk Reduction baru dimulai pukul 10:00, maka tak ada salahnya untuk bertemu dengan adik adik di sekolah ini. Menurut Bunda Irma, sekolah ini belum pernah dikunjungi oleh pendongeng setelah berdiri dari tahun 2016.

Bangunan sekolah SD Al Azhar Mandiri masih kokoh berdiri meskipun juga terkena gempa tahun lalu. Menurut salah satu pengajar, efek gempa bumi yang terjadi pada bulan September 2018 lalu hanya menyebabkan retak rambut pada beberapa dinding kelas. Dan setelah ditelaah oleh tim BPPD, bangunan masih layak dan aman untuk kegiatan belajar mengajar.

Halaman sekolahnya cukup luas dan saat ini juga digunakan untuk parkir kendaraan pengantar dan guru. Tepat pukul 09:15 ditemani oleh Bunda Irma, saya bergegas menemui Ibu Kepala Sekolah yang nampaknya sudah menunggu kehadiran kami. Ada sekitar 50-an murid kelas 1 dan 2 yang sudah duduk dengan rapi di salah satu teras sekolah. Murid laki laki duduk di bagian kanan dan murid perempuan duduk di sebelah kiri. Setelah mengenalkan diri kepada mereka, sayapun memulai menghantarkan sebuah kisah tentang keutamaan bersedekah.

Dan sepertinya waktu 30 menit masih dirasakan kurang oleh mereka. Beberapa dari mereka meminta agar kisahnya ditambah lagi. Dalam kegiatan di sekolah ini, adik adik dan pengajar di SD Al Azhar Mandiri Palu juga mengumpulkan donasi yang berjumlah Rp. 5.000.000,- yang selanjutnya disalurkan kepada Laznas Yatim Mandiri. Sekitar pukul 09:45 Kak Heru harus meninggalkan tempat ini untuk menuju ke Kabupaten Sigi.

SD Negeri 2 Binangga Sigi

Selanjutnya Kak Fera dari tim Disaster Risk Reduction menjemput Kak Heru untuk menuju ke SD Negeri 2 Binangga Sigi. Roadshow DRR ini bertujuan untuk memberikan edukasi tentang bagaimana mengurangi resiko pada anak ketika sedang terjadi bencana.

Di halaman sekolah masih berdiri sebuah tenda besar yang sebelumnya digunakan sebagai ruang belajar sementara. Tenda berwarna putih bantuan dari Unicef mampu menampung sekitar 100 anak. Saat ini adik adik sudah belajar di dalam kelasnya masing masing.

Masih dengan tema Tas Siaga Bencana yang diolah menjadi sebuah dongeng yang tentunya akan lebih mudah dipahami oleh adik adik yang masih duduk di sekolah dasar. Memaparkan tentang jenis jenis bencana dan sesekali Kak Heru bertanya tentang jenis bencana yang bisa terjadi di lingkungannya. Kebanyakan dari mereka pasti menjawab gempa bumi dan tsunami tatkala saya bertanya tentang nama bencana. Mungkin karena mengalami sendiri bencana tersebut sehingga kejadian tersebut akan terus berbekas dalam perjalanan hidupnya kelak.

Selain tim Wahana Visi Indonesia, kunjungan hari ini juga diikuti oleh Kak Sofie berserta tim dari BPPD Sulawesi Tengah yang juga mengenalkan fungsi dan tugas dari instansi tersebut.

90 Kilometer Rute Terjauh Hari Ini

Hari ke-4 Roadshow Disaster Risk Reduction atau Pengurangan Resiko Bencana hari ini dilaksanakan di SDN Watusampu Palu.

Lokasi sekolah ini dekat dengan pantai dengan kontur tanah yang berbukit. Di sepanjang perjalanan ke tempat ini, saya melihat beberapa lokasi penambangan pasir dan batu yang diambil dari bukit yang persis berhadapan dengan laut. Terlihat juga 2 kapal tongkang yang siap mengangkut pasir dan batu hasil olahan menuju ke tempat lain.

Teluk Domino terlihat jelas dari sekolah ini. Sebuah tiang bendera yang mengibarkan bendera merah putih juga nampak gagah berada di tengah halaman sekolah. Ada 4 bangunan yang berada di sekolah ini. Masing masing digunakan sebagai ruangan kelas 1 sampai kelas 6.

Kegiatan edukasi ini juga dihadiri oleh BPPD Sulawesi Tengah. Ada Pak Hany dan Ibu Sofi yang turut membawa pesan kepada adik adik tentang fungsi instansinya dalam menangani bencana. Sedangkan dari Wahana Visi Indonesia ada 2 tim turut mendampingi Kak Heru. Ada Pak Berto yang sejak hari pertama mengikuti kegiatan DRR, ada Kak Teten yang sepertinya menjadi kakak asuh dari adik adik di sekolah ini.

Metode penyampaian tentang resiko bencana dalam bentuk dongeng sangat diapresiasi oleh Pak Haly, dari BPPD Sulteng. Menurutnya, anak anak akan dengan mudah memahami tentang apa itu bencana, mengapa bencana bisa terjadi dan apa yang disiapkan ketika terjadi bencana. Bahasa dongeng yang sederhana disertai dengan tingkah laku Bona yang lucu membuat anak anak senang dan paham dengan materi DRR.

Desa Walandano Donggala

Seusai makan siang di salah satu rumah makan di samping kantor Wahana Visi Indonesia, sessi kedua roadshow Disaster Risk Reduction pun dimulai. Target kegiatan siang ini berlokasi di Desa Walandano Kabupaten Donggala yang jaraknya sekitar 90 km dari Kota Palu.

Dalam perjalanan menuju ke lokasi tersebut, kami melewati Tondo Sirenja, sebuah daerah tempat pertama kalinya gempa bumi terjadi tahun 2018 lalu. Daerah ini adalah pusat gempa yang menyebabkan gelombang tsunami ke Kota Palu. Menurut cerita penduduk setempat, gempa yang terjadi seperti sebuah ledakan yang berasal dari dalam laut. Gelombang laut setinggi 15 meter terlihat menggulung ke arah kota Palu. Sedangkan di daerah ini sendiri tidak mengalami efek tsunami yang besar.

Desa Walandano sendiri letaknya sangat terpencil dari jalan propinsi kearah Toli Toli. Setidaknya lembah dam bukit menghadang perjalanan kami. Lebar jalanan cukup sempit, hanya bisa menampung satu kendaraan saja. Bila berpapasan dengan kendaraan lain, harus ada yang mengalah. Disisi kiri terlihat jurang dengan kedalaman sekitar 50 meter sedangkan disisi kanan bukit yang tingginya hampir sama dengan jurang tadi. Bukit bukit disini sangat rawan longsor. Sepanjang perjalanan terlihat batu dan tanah sisa longsoran masih terlihat di jalan. Supir yang membawa mobil harus ekstra hati hati, karena menurutnya ini adalah perjalanan pertamanya ke daerah ini.

Setelah hampir 3 jam perjalanan, akhirnya desa Walandano sudah terlihat dari jauh. Desa ini sebagian besar penduduknya memeluk agama Nasrani. Ada 3 buah gereja yang letaknya hampir berdekatan satu dengan lainnya. Sebuah tenda berwarna putih yang berukuran cukup besar sudah penuh dengan celoteh adik adik yang nampaknya sudah tak sabar menunggu kami.

Setelah semua peralatan siap, Kak Ama dari Wahana Visi Indonesia mulai menyapa adik adik sembari mengenalkan satu persatu tim yang datang. Ada Kak Lisa, Kak Mangku, Kak Teten dan Kak Juanda. Program ruang sahabat anak dilaksanakan setiap hari Rabu di desa ini. Penanggung jawab programnya adalah Kak Juanda, seorang volunteer yang masih berusia muda. Sedangkan Kak Heru sendiri mendapat giliran terakhir dalam sessi perkenalan sekaligus langsung mendongeng untuk adik adik.

Tema dongeng hari ini adalah Tas Siaga Bencana. Gambaran ceritanya adalah sebuah kampung yang rawan dengan bencana longsor yang terjadi setiap tahunnya di desa ini. Gambaran visual yang saya dapat dalam perjalanan sebelum mencapai desa ini membuat saya tanpa kesulitan menjelaskan kepada adik adik tentang bagaimana menghadapi bencana longsor dengan menyiapkan tas siaga bencana.

Sebenarnya tas siaga bencana yang saya bawa adalah tas yang biasa saya gunakan untuk menyimpan Bona. Sebelum Bona keluar dari tas tersebut, saya sedikit memperlihatkan bahwa dalam tas siaga bencana isinya adalah roti, minuman botol, senter dan baterei. Dalam praktek sebenarnya, tas siaga bencana memang harus diisi dengan berbagai keperluan praktis untuk bisa bertahan hidup jika sewaktu waktu terjadi bencana.

Kehadiran Bona sendiri sangat dinantikan oleh adik adik dan juga ibu ibu yang hadir di tempat ini. Bona juga bisa mengajak adik adik untuk tetap tersenyum dan tertawa serta tetap siaga dalam menghadapi bencana yang sewaktu waktu bisa terjadi.

Terjebak Banjir Rob di Tompe

Ketika meninggalkan Desa Walandano, waktu sudah menunjukkan pukul 17:30 WITA. Memasuki waktu Maghrib, saya pun singgah disalah satu mesjid sekitar 3 km dari Desa Walandano. Keadaan sudah mulai gelap sepanjang perjalanan menuju jalan propinsi yang jaraknya sekitar 7 km dari lokasi kegiatan DRR.

Menjelang daerah Tompe kami mendengar kabar dari tim satu bahwa sudah ada genangan air laut yang masuk ke wilayah tersebut. Genangan itu berasal dari air laut atau banjir rob. Ketika mendengar kabar ini, ketinggian banjir rob baru mencapai mata kaki orang dewasa. Namun ketika 20 menit ternyata sudah banyak kendaraan yang berhenti sebelum Tompe. Ternyata ketinggian air laut sudah mencapai lutut orang dewasa. Kendaraan trukpun sudah tidak berani melewati genangan sehingga menimbulkan kemacetan yang cukup panjang. Atas saran Kak Ama, kamipun berputar arah menuju rumahnya yang tak jauh dari area banjir rob.

Sajian durian pun segera muncul ketika kami tiba di rumahnya. Baunya sungguh mengoda hidung saya yang sudah lama tak mencicipi durian khas Donggala. Menurut Kak Ama, durian ini diambil di belakang perkampungannya. Belum usai kami menyantap durian, kami kembali disuguhi nasi kuning yang masih hangat. Lezat sekali menikmati durian, nasi kuning hangat dan teh panas. Dan akhirnya sekitar pukul 21:00 WITA, kami diberitahu bahwa banjir rob sudah mulai surut dan sudah bisa dilewati oleh mobil dan kendaraan roda dua. Selanjutnya perjalanan yang panjang masih menanti kami menuju ke Kota Palu.

Ruang Sahabat Anak di Palu

Senangnya hari ini bisa melihat sebuah bangunan perpustakaan sekolah yang masih kokoh berdiri di tengah terjangan gempa dan tsunami pada Nopember 2018.

Perpustakaan di SD Inpres Buluri Palu ini letaknya tidak terlalu jauh dari area pantai. Hanya saja buku buku koleksi perpustakaan sekolah ini sudah tidak ada lagi karena terendam air laut.

Dan pagi ini tim Disaster Risk Reduction dari Wahana Visi Indonesia berkunjung ke sekolah ini untuk mengadakan edukasi tentang pengurangan resiko bencana dalam rangka menyambut hari Kesiapsiagaan Bencana 2019. Selain dari tim WVI, ada dua SKPD dari pemda Sulteng yang ikut dalam kegiatan ini. Mereka berasal dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Sulteng dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sulteng.

Kedua SKPD tersebut memberikan penjelasan singkat kepada adik adik yang pagi ini berada di ruang perpustakaan sekolah. Penjelasan ini sangat diperlukan karena kedua instansi ini sangat erat kaitannya dengan kondisi anak anak yang terkena dampak bencana.

Posyandu KEK Baiya

Perjalanan roadshow Disaster Risk Reduction berlanjut ke daerah Baiya yang merupakan salah satu posko pengungsian yang dihuni oleh sekitar 500 keluarga. Sebuah lapangan yang berada di area KEK Baiya Palu menjadi tempat tenda tenda berdiri yang selama kurang lebih 4 bulan menjadi tempat tinggal sementara.

Saat ini kondisi tenda sudah banyak yang kosong. Di samping lapangan ini sudah dibangun kurang lebih 30 Huntara (hunian sementara) yang sudah dilengkapi dengan listrik dan jaringan air minum.

Sore ini sebuah bangunan sederhana yang dijadikan sebagai Posyandu menjadi ramai karena kehadiran adik adik yang nampak sudah tak sabar mendengarkan dongeng. Masih bersama Wahana Visi Indonesia, DPPPA dan BPPD Sulteng yang berkolaborasi melaksanakan roadshow pengurangan resiko bencana untuk anak anak. Selain sebagai posyandu, bangunan ini juga sering digunakan oleh beberapa lembaga kemanusiaan sebagai ruang sahabat anak. Berbagai kegiatan menyenangkan dilakukan di tempat ini.

Semua anak sepertinya sudah hapal lagu tentang gempa dan bagaimana cara melindungi dirinya. Lirik dari lagu Pelangi Pelangi sudah dirubah menjadi sebuah lagu yang sudah mereka hapal diluar kepala.
Kendala di beberapa posko pengungsian adalah ada beberapa anak yang belum bisa menulis. Walaupun beberapa dari mereka sudah duduk di kelas 3 SD, kemampuan menulisnya masih sangat kurang. Sebagai contoh ketika saya meminta mereka menulis namanya, sebagian anak masih bingung dan tidak tahu menulis namanya sendiri.

Padahal salah satu target dari kegiatan ini adalah anak mengenali identitas dirinya sendiri. Sehingga ketika mereka terpisah dari keluarga, pengumpulan database menjadi lebih mudah.

Saya memberikan masukan kepada volunteer dari Wahana Visi Indonesia agar kegiatan di Ruang Sahabat Anak juga mengajarkan mereka untuk lebih bisa membaca dan menulis.

#disasterriskreduction
#storytelling
#rumahdongeng
#traumahealing
#wahanavisiindonesia
#palubangkit

Tas Siaga Bencana si Pinto

Catatan tertua tentang Donggala ditemukan dalam sumber-sumber Tiongkok sebelum abad ke-15 yang ditulis oleh J. V. Mills dan disunting Marcell Bonet di buku Chinese Navigation (1965). Sejak tahun 1430, wilayah kota Donggala telah dikenal sebagai pelabuhan untuk memperdagangkan hasil bumi seperti kopra, damar dan juga ternak sapi.

Perjalanan roadshow Disaster Risk Reduction bersama Yayasan Wahana Visi Indonesia hari kedua pagi ini menuju ke wilayah Donggala sekitar 1.5 jam perjalanan dari Kota Palu. Sepanjang perjalanan masih terlihat beberapa bangunan yang masih terbengkalai akibat peristiwa gempa dan tsunami tahun 2018.

Lokasi kegiatan DRR ini adalah SDN 16 Sindue Donggala. Kondisi bangunan sekolah masih belum bisa digunakan untuk kegiatan belajar mengajar, sehingga adik adik harus belajar di tenda darurat. Ada 4 bangunan darurat yang dipasang di halaman sekolah bantuan dari beberapa lembaga kemanusiaan.

Satu buah tenda digunakan untuk 2 kelas dan 3 lainnya berupa bangunan semi permanen yang kondisinya lebih sejuk untuk digunakan belajar. Sedangkan tenda bantuan dari Wahana Visi Indonesia dipasang di halaman yang digunakan untuk bermain. Tenda ini paling besar dan mampu menampung 100 orang.

Kegiatan hari ini dipusatkan di tenda Wahana Visi Indonesia. Kondisi dalam tenda cukup gerah karena waktu sudah menujukkan pukul 10:00 WITA. Namun keadaan ini sudah biasa bagi adik adik di tempat ini.

Apalagi kegiatan dongeng tentu sangat menyenangkan bagi mereka. Target utama dari kegiatan DRR ini adalah untuk mendapatkan masukan dari peserta tentang kesiapan dalam menghadapi bencana. Saya bertugas sebagai juru bahasa anak karena materi DRR harus dirubah dari materi presentasi TOT menjadi materi dongeng yang mudah dipahami oleh anak anak.

Materi yang diberikan adalah dongeng tentang seorang anak bernama Pinto yang selalu membawa tas yang saya namakan Tas Siaga Bencana. Di dalam tas tersebut Pinto selalu membawa makanan dan minuman sebagai persiapan ketika sewaktu waktu terkena bencana. Materinya sangat sederhana dan mudah dipahami oleh adik adik kelas 1 sampai kelas 6 SD.

Roadshow Disaster Risk Reduction di Palu

Roadshow DRR (Disaster Risk Reduction) bersama Wahana Visi Indonesia di Palu Sulawesi Tengah.
Hari ini kegiatan pertama DRR mengambil lokasi di SD Inpres 5 TaipaLaga Palu Utara. Di tempat ini ada sekitar 150 adik adik yang diedukasi tentang program DRR melalui sebuah cerita.

Disaster Risk Reduction adalah pendekatan sistematis untuk mengidentifikasi, menilai, dan mengurangi risiko bencana. Ini bertujuan untuk mengurangi kerentanan sosio-ekonomi terhadap bencana serta mengatasi bahaya lingkungan dan lainnya yang memicu mereka.

Pemaparan dalam bentuk dongeng sangat mudah diterima oleh anak anak disini. Selain mendengarkan dongeng, mereka juga belajar tentang cara menghadapi bencana yang sering menimpa daerahnya.

#rumahdongeng
#disasterriskreduction
#storytelling
#Palubangkit
#wahanavisiIndonesia

Sedekah Dongeng di Carangki Maros

Sabtu pagi ini melanglang buana ke Desa Carangki Maros. SD Negeri 96 Carangki Maros. Sekolah yang letaknya tak jauh dari Pasar Carangki ini mendapat kunjungan dari Tim Sedekah Dongeng bersama Laznas Yatim Mandiri Maros.

Tak jauh dari sekolah ini ada sebuah bendungan yang bernama Bendungan Lekopacing yang berfungsi sebagai pengendali air sungai di kawasan Maros. Bulan lalu bendungan ini sempat dibuka pintu airnya yang mengakibatkan banjir di Maros dan sekitarnya

#sedekahdongeng
#yatimmandiri
#rumahdongeng
#storytelling