Hari Buku Sedunia di Kendari

Hari Buku Sedunia di Kendari

Pada tahun 1995, UNESCO memutuskan Hari Buku Sedunia dan Hari Hak Cipta Sedunia dirayakan pada tanggal 23 April, sebab tanggal tersebut juga merupakan hari kematian William Shakespeare dan penulis terkenal lainnya.
Penulis lainnya yang juga lahir maupun meninggal pada tanggal 23 April yaitu Maurixe Druon, seorang novelis Prancis, lahir 23 April 1918, Manuel Mejia Vallejo, ia seorang penulis Kolombia yang lahir 23 April 1923 dan Halldor Laxness, seorang penulis Islandia yang lahir 23 April 1902

Dilansir dari Hindustan Times, Direktur Jenderal UNESCO yaitu Audrey Azoulay merangkum tema Hari Buku Sedunia di tahun 2019 ini melalui kata-kata berikut.
“Buku adalah bentuk ekspresi budaya yang hidup dan sebagai bagian dari bahasa yang dipilih. Setiap publikasi yang dibuat dalam bahasa yang berbeda dan ditujukan untuk para pembacanya. Dengan demikian sebuah buku ditulis, diproduksi, dipertukarkan, digunakan dan dihargai dalam latar bahasa dan budaya tertentu. Tahun ini kami menyoroti dimensi yang penting karena 2019 menjadi Tahun Internasional Bahasa Pribumi yang dipimpin oleh UNESCO. Untuk menegaskan kembali komitmen masyarakat internasional dalam mendukung masyarakat adat untuk melestarikan budaya, pengetahuan dan hak-hak mereka.”
Melalui Hari Buku Sedunia 2019 ini, UNESCO bertujuan untuk memperjuangkan buku-buku dan merayakan kreativitas, keragaman dan akses yang sama terhadap pengetahuan. Hari ini telah menjadi platform bagi orang-orang di seluruh dunia dan terutama bagi kepentingan industri buku termasuk penulis, penerbit, guru, pustakawan, lembaga publik dan swasta, LSM kemanusiaan dan media massa untuk bersama-sama mempromosikan literasi dan membantu semua orang untuk memiliki akses ke sumber daya pendidikan.

Hari Buku Sedunia di Kendari

Kak Heru di Kendari merayakan hari buku sedunia

Pagi ini bersama adik adik TK dan SD di area pameran Hallo Sultra di kawasan lapangan MTQ Kendari Sulawesi Tenggara.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Propinsi Sulawesi Tenggara ini dirangkaikan dengan perayaan Hari Buku Sedunia.

Kerumunan Dongeng

Sabtu akhir pekan ini agenda kegiatan Sedekah Dongeng adalah di SD Bakung 1 Bumi Permata Sudiang Makassar. Sabtu sebelumnya juga di tempat yang sama, yaitu di SD Bakung 2, sekolah yang berada di satu kompleks.

Lalu lintas di hari Sabtu terasa sekali perbedaannya bila dibandingkan dengan hari hari lainnya. Oleh karena itu, saya pagi ini mengantar dulu istri tercinta ke sekolahnya baru saya berangkat ke Sudiang. Tiba di sekolah ini waktu sudah menunjukkan pukul 08:15. Telat sekitar 15 menit dari jadwal yang sudah ditentukan. Pesan WA dari Yoga masuk di smartphone, sekilas saya melirik isinya.

” Anak anak sudah tidak sabar menunggu kedatangan ta”

Halaman sekolah sudah digelar karpet untuk alas duduk para murid. Melihat kedatangan saya, serentak mereka duduk dengan rapi. Murid kelas kecil duduk di barisan depan, di bagian belakang duduk murid kelas besar. Ketika saya mulai mendongeng Pung Julung Julung, mereka masih duduk dengan rapi dan tenang. Namun ketika saya mulai memanggil Bona, beberapa dari mereka mulai berdiri dan merengsek maju ke depan.

Hal yang sama juga diikuti oleh murid murid SD Bakung 2. Mereka juga mulai merengsek maju dan berdesakan di depan saya. Maklum saja, minggu lalu mereka masih penasaran dengan Bona. Dan hari ini nampaknya mereka sengaja menunggu kemunculan Bona.

Datangnya Disambut Kabut dan Hujan.

Milad 25 tahun Yatim Mandiri Maros tahun ini berbeda dibandingkan dengan tahun tahun sebelumnya. Biasanya milad dilaksanakan di gedung yang letaknya di dalam kota dan mudah dijangkau.Namun di usianya yang ke 25, kegiatan milad dilaksanakan di sebuah pesantren yang berada di Desa Mangilu Kecamatan Bungoro Pangkep.

Letaknya sekitar 70 km dari Makassar atau sekitar 3 km dari kawasan pabrik Semen Tonasa 2.Pesantren Shela adalah nama dari pesantren yang dipimpin oleh Ustad Siradjang. Keberadaannya juga masih bisa dikatakan sangat muda dan baru. Beberapa dokter yang ikut sebagai tim medis bakti sosial ini baru tahu nama pesantren ini. Padahal mereka bertugas di Pangkep dalam kesehariannya.Bangunan pesantren masih dalam konstruksi, ada sebuah mushola sementara dan sebuah bangunan kelas yang dindingnya sangat artistik karena terbuat dari bambu dan kayu. Muridnya baru ada 60 siswa yang kebanyakan berasal dari desa sekitarnya.

Hari Dongeng Sedunia 2019

Hari ini 20 Maret 2019 untuk sejenak ribuan anak anak di Makassar melepaskan gadget di tangannya. Berbondong bondong mereka datang ke perpustakaan umum Makassar di Jalan Lamadukelleng. Bahkan sedari pagi, Afyad putra dari Bunda Mugniar, salah satu anggota komunitas Rumah Dongeng sudah bersiap mengantar anaknya.

Rabu, 20 Maret 2019 adalah Hari Dongeng Sedunia atau World Storytelling Day. Sebuah hari dimana seluruh pendongeng di dunia berkumpul untuk berbagi ceria dan cerita bagi seluruh anak anak dari berbagai penjuru.

Hal yang sama juga terjadi di Makassar. Anak anak dari Ujung Tanah, dari Parang Tambung, dari Sudiang, dari Tanjung Bunga berdatangan menuju ke gedung berlantai dua yang pagi ini menjadi tempat berkumpulnya para kurcaci kecil untuk bersama sama mendengarkan dongeng. Coba bayangkan hari ini ada 20 pendongeng yang akan bercerita sepanjang 2 jam terus menerus tanpa henti.

Ya..! 2 sessi bersama 20 pendongeng keren Makassar. Coba siapa pendongeng Makassar yang sudah kalian kenal? Ada Kak Heru yang tampil bersama Bona. Ada Kak Madia dengan dongeng Perpustakaan Pak Burhan, ada Kak Icha dengan dandanan Nenek Pakandenya. Ada Kak Manggazali, Bunda Sri, Kak Mul, Kak Ridho, Kak Yusran, Kak Rini dan masih banyak lagi yang lainnya. Bahkan ada juga adik Aqila, sang juara dua nasional lomba bercerita tingkat SD tahun 2018.

Perjalanan dongeng hari ini dimulai dari TK Aisyiah 3 Manggala Antang. Catatan di agenda kegiatan, hari ini ada 4 lokasi yang harus dikunjungi satu demi satu. Kadangkala saya berpikir bisa atau tidak bila di Makassar harus mengisi dongeng di 4 lokasi yang berbeda dalam sehari. Saya mencoba membuat catatan waktu dan jarak. Dari 4 lokasi ini, yang pertama di Perumnas Antang. Saya putuskan di sekolah ini adalah tenpat pertama yang harus didatangi. Tempat lainnya adalah Sekolah Cendekia Berseri, TK Nurul Askar dan perpustakaan umum Makassar. Harusnya menurut perhitungan, pukul 08:00 WITA, kegiatan pertama di TK Aisyiah harus dimulai.

Ini adalah kunjungan pertama saya ke sekolah ini. Lokasinya di Perumnas Antang blok 8. Biasanya di daerah ini kalo musim hujan sering kebanjiran. Mungkin karena letaknya rendah dan dekat dengan daerah tampungan air. Setelah bertanya beberapa kali kepada kerumunan ibu ibu di depan SD Inpres Antang, akhirnya TK Aisyiah 3 saya temukan juga. Jaraknya sekitarnya 250 meter dari jalan raya blok 8 Perumnas Antang. Waktu menunjukkan pukul 08:05 ketika saya tiba di sekolah ini. Beberapa guru nampak masih duduk di depan sekolah sambil sesekali menyambut kedatangan murid muridnya. Tak mau ketinggalan, Heru staf dari Yatim Mandiri Makassar segera memasang spanduk kegiatan Sedekah Dongeng di dinding sekolah. Para murid harus melaksanakan sholat Dhuha terlebih dahulu sebelum mendengarkan dongeng. Dan baru pukul 08:30 WITA dongeng dimulai. Saya pun mulai memikirkan kira kira berapa durasi dongeng di sekolah ini. Pesan Whatsapp dari Joharni sudah masuk dan mengingatkan bahwa di TK Nurul Askar kegiatan harus dimulai sebelum pukul 10:00 WITA. Dan setelah sekitar 40 menit, saya mengakhiri kegiatan di sekolah ini. Bergegas saya menuju ke lokasi kedua.

Lokasi kedua adalah TK Nurul Askar di Asrama Mattoangin Makassar. Seharus sekolah ini jadwalnya pukul 09:00. Namun karena murid muridnya harus pulang pukul 10:00, maka saya harus merubah jadwal dan rute perjalanan. Sekolah Cendekia Berseri saya rubah ke pukul 10:30. Padahal ketika saya menuju ke TK Nurul Askar, rute perjalanannya melewati depan sekolah Cendekia Berseri di Jalan Hertasning. Saya sempat melirik sekolah ini sembari memacu Mona (Mobil Bona) agar cepat tiba di lokasi kedua.

Ada sekitar 35 murid di sekolah yang letaknya berdampingan dengan mesjid di perumahan yang penghuninya kebanyakan anggota TNI Angkatan Darat.

Sedangkan lokasi ketiga adalah sekolah Cendekia Berseri Makassar di Jalan Hertasning. Adik adik disini sudah menunggu sejak pukul 09:00 dan baru pukul 10:40 saya tiba di sekolah yang kebanyakan muridnya tidak memakai baju seragam. Mereka diperbolehkan oleh sekolah untuk memakai baju bebas setiap hari. Kesabaran mereka dalam menunggu patut diacungi jempol.
Terima kasih untuk kesabarannya yang akhirnya dibayar dengan senyum dan tawa yang seru.

Senang sekali hari ini bisa berbagi kebahagiaan dan keceriaan dalam hari dongeng sedunia.

Malam Bina Iman dan Taqwa PAUD Insan Kamil Gowa

Biasanya kalo di kegiatan Pramuka ada yang namanya Persami atau Perkemahan Sabtu Minggu. Kegiatan berkemah ini hanya untuk adik adik di tingkat Siaga atau yang masih duduk di sekolah dasar. Selama 2 hari mereka bermalam di tenda dan berkegiatan ditempat terbuka.

Namun di PAUD Insan Kamil ini, adik adik yang masih duduk di taman kanak kanak sudah berani untuk bermalam di sekolahnya tanpa didampingi oleh ayah dan ibunya. Meskipun hanya 1 malam, namun perlu diacungi jempol karena biasanya orang tua agak rewel bila buah hatinya dipisahkan dari mereka. Keberadaan para guru yang standby selama 24 jam tentu bisa mengurangi kekuatiran orang tua siswa.

PAUD Insan Kamil ini letaknya hanya 200 meter dari rumah Kak Heru di perumahan Zarindah Permai Samata Gowa. Hanya perlu waktu 5 menit berjalan kaki seusai sholat Isya, tepat pukul 19:45 saya tiba di sekolah ini.

Saat tiba, adik adik masih khusyuk melaksanakan sholat Isya yang dipimpin oleh seorang imam cilik. Bunda bunda guru terus mendampingi sang imam ketika membacakan bacaan sholatnya.

Walaupun saya masuk dengan perlahan lahan karena takut menganggu sholat mereka, namun tak urung beberapa mata sempat menoleh ke arah saya.

“Datang mi Kak Heru..!,” teriak salah satu siswa yang berada di barisan paling kiri.

Terjadi keributan kecil ketika dengan serentak para makmun menoleh ke arah kedatangan saya. Bunda guru dengan tegas dan berwibawa terus mengarahkan anak didiknya untuk terus khusyuk dalam sholatnya.

Dan tak lama setelah selesai sholat Isya berjamaah, mereka segera berhamburan ke arah saya sembari bertanya keberadaan Bona. Semenjak siang hari, adik adik di PAUD ini sudah diberitahu kalo ba’da Isya akan ada dongeng bersama Kak Heru dan Laznas Yatim Mandiri.

Pantas saja mereka seakan tak sabar menunggu kedatangan saya. Tahun sebelumnnya saya juga mengisi dongeng di tempat ini. Beberapa siswanya juga adalah anak dari tetangga Kak Heru di perumahan Zarindah Permai.

Malam ini saya membawakan sebuah buku cerita yang berjudul Fabels on Muhammad SAW. Ada 11 cerita fabel Islami yang ada dalam buku ini. Salah satunya berjudul Burung Ababil. Kisah yang diambil dari surah Al Fiil ini saya sampaikan sembari duduk dan memegang buku setebal 71 halaman. Judul lainnya ada Kambing Halimah, Unta Khadijah, Buraq dan lain lain.

Selain mendengarkan dongeng Islami, malam adik adik juga memberikan sedekahnya kepada Laznas Yatim Mandiri. Sedekah yang dikumpulkan berjumlah Rp. 1.550.000,-.

Donasi yang dikumpulkan selanjutnya disalurkan kepada Laznas Yatim Mandiri untuk pengembangan kegiatan sosial kemanusiaan.

Appang Bugis dan Kinder Huiz

Entah karena faktor kedekatan jarak yang mungkin menyebabkan kedua nama itu juga saling berdekatan satu dengan lainnya. Appang Bugis di seberang jalan, Kinder Huiz berada di depannya.

Appang Bugis adalah salah satu kue tradisional khas Bugis. Bahannya dibuat dari tepung yang dicampur dengan gula merah. Ada sebuah tradisi di kalangan Bugis Makassar, kalo hari Jumat jangan lupa makan appang. Manisnya gula merah akan membuat hidupmu nanti akan semanis rasa gula merah ini. Sedangkan Kinder Huiz adalah nama sebuah sekolah di Jalan Mappaodang Makassar. Kalo tidak salah “huiz” itu artinya rumah. Jadi Kinder Huiz bisa berarti “Rumah Anak Anak”.

Seharusnya hari ini ada 2 jadwal mendongeng. Yang pertama di TK Dharma Wanita Maros dan yang kedua di TK Kinder Huiz Makassar. Untuk mengefektifkan waktu karena hari ini adalah Hari Jumat, maka saya minta kepada Laznas Yatim Mandiri Maros pukul 08:00 pagi dimulai acara dongengnya.

Namun sejak subuh Makassar dan Maros diguyur hujan lebat. Bagaimana pun juga saya tetap harus ke lokasi di Maros. Menjelang tiba di Sudiang, notifikasi WA masuk dari Sri, staf YM Maros. Isinya kegiatan dongeng di Maros ditunda karena siswa yang datang hari ini sedikit. Dari 60 siswa, baru 10 orang saja yang datang. Hujan menjadi alasan ketidakhadiran siswanya.

Saya pun segera memutar stir.
Balik kanan menuju ke Makassar lagi.

Hi..hi…
Emang Sudiang bukan Makassar ya..?

Di lokasi kedua jadwal dimulai pukul 09:15. TK Kinderhuiz berada di jalan Mappaodang Makassar. Bagi yang sering ke jalan ini, ada sebuah warung yang menjual “Appang Bugis” yang sudah sangat terkenal enaknya. Biasanya kalo pagi sudah banyak pembeli yang antre di depan warungnya. Karena banyak yang antri, biasanya menjelang pukul 10, kue khas Bugis ini sudah habis.

Sekitar tahun 2011 saya mengenal TK Kinder Huiz ini. Dulunya berlokasi di samping rumah jabatan Kapolda Sulsel yang berada di jalan yang sama. Waktu itu saya diundang oleh Kak Awam Prakoso dan tim kampung dongeng untuk menyaksikan dongengnya. Saat ini lokasi sekolah berada tak jauh dari jalan Ratulangi Makassar.

Setelah bertemu dengan Ibu Nunu, sembari menunggu adik adik yang masih makan bekalnya, saya ngobrol ringan dengan beliau. Salah satu keinginannya adalah membangun sekolah dasar untuk para lulusan TK Kinder Huiz.

“Semua orang tua ingin anaknya tetap berada di lingkungan Kinder Huiz. Mereka berharap agar yayasan membangun sekolah dasar,” ungkap beliau.

Beberapa orang tua siswa sudah mengenal cara mendidik guru guru di sekolah ini. Sehingga mereka ingin anaknya terus bersekolah lanjut di tingkat sekolah dasar.

Suasana di dalam ruangan kelas nampak riuh. Beberapa dari mereka ternyata menunggu dongeng.

“Bahkan ada siswa yang sempat sempatin masuk sekolah karena mau dengar dongengnya Kak Heru,” papar bunda Nunu.

Dan ketika waktu mendongeng sudah tiba, keriuhan dan tingkah laku adik adik yang berusia 2 sampai 5 tahun pun semakin ramai.
Siswa yang duduk di kelas A dan B duduk dengan tertib di bagian belakang. Tetapi yang play grup dan kinder tak mau duduk lama. 2 dari mereka malah berdiri di depannya Kak Heru.

Salah satunya adalah Dzaky Prananda.
Lihatlah lirikannya..!
Kira kira apa yang menyebabkan dia melirik seperti itu ya?

Padahal 15 menit pertama, Dzaky tak mau duduk. Dia terus berdiri di depan. Walaupun begitu matanya tetap melekat ke arah Kak Heru.
Nampaknya dia serius.
Sesekali dia tertawa dan senang dengan dongeng Om Singa dan si Tikus. Bahkan ketika om Singa menyuruh si Tikus pergi, dengan patuhnya Dzaky ikutan pergi bersama si Tikus.

Dan tanpa terasa hampir 60 menit kebersamaan ini harus diakhiri.
Kehadiran Bona menjadi magnet bagi mereka.
Bona yang lucu dan menggemaskan..!

Hasil sedekah dongeng di TK Kinder Huiz sebesar Rp. 2.090.000,- untuk selanjutnya disalurkan kepada Laznas Yatim Mandiri.

Sampai bertemu lagi di bulan Ramadhan ya…

#SedekahDongeng
#YatimMandiri
#RumahDongeng
#Storytelling

Petualangan Bersama Hujan di Segeri Pangkep

Hari Selasa, 12 Maret 2019 adalah hari pertama roadshow Sedekah Dongeng di Segeri Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan. Jarak sekitar 70 km harus kami tempuh sepanjang perjalanan dari Makassar ke Pangkep.
Hujan begitu derasnya ketika kami memasuki wilayah Kecamatan Segeri Pangkep.
Lokasi pertama adalah di MTS Negeri DDI Segeri Pangkep.
Derasnya hujan masih belum berhenti di tempat ini. Halaman sekolah yang biasanya dipakai untuk upacara tergenang oleh air. Pikir saya, nampaknya dongeng tidak bisa diluar ruangan.

Ruangan kecil di MTS DDI Segeri Pangkep yang masih beralas ubin biasa

Sambutan hangat dari Bapak Kepala Sekolah membuat suasana menjadi lebih akrab. Atas anjuran beliau, kegiatan dongeng dilaksanakan di sebuah aula kecil yang masih beralaskan lantai biasa.

Tuh lihat.., sampai sampai kak Heru harus buka sepatu di depan adik adik. Walau begitu kak Heru tetap ganteng khan..?

SMP Negeri 1 Segeri Pangkep

Selanjutnya tim Sedekah Dongeng bergerak ke SMP Negeri 1 Segeri. Cuaca masih belum bersahabat dengan kami. Hujan masih enggan untuk berhenti. Lapangan upacara basah dan tergenang air.

Pilihan tempat kegiatan akhirnya adalah di ruang kelas. Wakil Kepala SMP meminta kepada pengurus OSIS agar hanya perwakilan siswa saja yang mengikuti kegiatan dongeng ini.

Tak mengapa ruangan kelas hanya bisa ditempati oleh sekitar 50 anak yang merupakan perwakilan dari 200 murid lainnya.

Terima kasih untuk bunda AL Djibran Evi yang seharian ini bersedia meluangkan waktu dan sup ubinya untuk kami santap di sela hujan di Segeri.

SD Negeri 23 Takku Kecamatan Segeri Pangkep.

Roadshow di hari kedua Sedekah Dongeng di Segeri Pangkep hari ini berjalan tanpa ada hujan. Walaupun dini hari tadi sekolah ini sempat diguyur hujan, namun ketika dongeng berlangsung hujan sudah berhenti. Beberapa tempat di halaman sekolah masih tergenang air.
Kegiatan dongengpun tetap berlangsung di teras depan kelas.

Teras kelas yang berbentuk selasar panjang dipenuhi oleh 300 adik adik mulai dari kelas 1 sampai kelas 6. Beberapa guru yang hari ini tidak mengikuti pelatihan kelas inklusif juga ikut dalam barisan dongeng muridnya.

Ternyata selasar yang sempit tak mampu menampung barisan dongeng yang ada. Beberapa murid terpaksa harus memanjat pohon agar bisa menyaksikan dongeng seru hari ini. Walaupun berdesak desakan, namun tidak terjadi keributan di antara mereka.

SDN 34 Citta Segeri Pangkep

Sedari pagi, Makassar diguyur hujan yang cukup lebat. Dan seperti sudah menjadi pasangan peristiwa bila hujan pasti macet.
Kemacetan panjang Kamis pagi ini dimulai dari pertigaan jalan Borong dan Antang. Sampai di perempatan jalan masuk Bukit Baruga, kemacetan masih terjadi. Salah satu ruas jalan inspeksi PAM ditutup karena ada pesta pernikahan.

“Kayaknya hujan pindah ke Maret ya..”, ungkap saya kepada penumpang cantik yang duduk disampingku.

“Iya…,” jawabannya singkat sembari terus memainkan ipad mininya.

Agenda dongeng pagi ini masih menuju ke Segeri Pangkep. Ini adalah hari ketiga roadshow ke kabupaten penghasil ikan bolu dan jeruk Pangkep. Semestinya pukul 09:00 sudah harus tiba di Segeri, namun pagi ini pukul 07:30 masih berkutat macet di jalan Leimina Antang.

Hujan mulai berhenti ketika tiba di Maros untuk menjemput Ibu Ani dan Jene, staf Yatim Mandiri Maros yang pagi ini bertugas mendampingi saya ke Pangkep. Bergegas mereka naik ke mobil karena waktu sudah menunjukkan pukul 08:40. Spanduk dan majalah bulanan Yatim Mandiri sudah disiapkan oleh mereka berdua.
Menyusuri jalanan ke arah Pangkep, cuaca mulai tak bersahabat. Gerimis kecil mulai menghadang perjalanan kami.

Saya mencoba menelpon Ibu AL Djibran Evi yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan kami di Segeri.

“Hujan qi di Segeri?,” tanyaku dengan intonasi yang agak kuatir.
Memang harus kuatir karena lokasi pertama adalah SD 34 Citta yang biasanya tergenang air bila hujan.

“Masih gerimis kak,” jawab bunda Evi di ujung telepon. Agak lega saya mendengarnya.

Namun ketika kami tiba di Segeri, hujan malah semakin deras. Dengan payung pinjaman, bunda Evi susah payah mengendong si kecil masuk ke dalam mobil kami.

“Gara gara lihat kakaknya foto dengan Bona, ini adiknya mau ikut dengar dongeng,” ujar bunda Evi ketika sudah duduk di dalam mobil. Naufal, si anak yang sulung kemarin berfoto bersama Bona di sekolahnya. Dan semalam adiknya rewel mau juga berfoto.
Pantesan saja hari ini dia ikut.

Perjalanan menuju ke SD 34 Citta masih ditemani oleh hantaman air hujan yang tak mau berhenti. Saya harus waspada karena banyak lubang di sepanjang jalan. Beberapa kali roda Mobil Bona alias Mona terantuk di lubang aspal yang tak terlihat karena genangan air menutupi lubang.

Dan setelah 20 menit berlalu, kami tiba di sekolah. Seperti biasanya, adik adik kecil sudah tak sabar menunggu kedatangan kami. Hari ini ruangan perpustakaan menjadi panggung dongeng. Sekitar 70 siswa duduk dengan rapi di dalam ruangan ini. Beberapa guru dan orang tua juga nampak bergabung dan bersempit ria di dalam ruangan yang berukuran 5 x 5 meter. Walau ini adalah perpustakaan sekolah, jangan ditanya jumlah koleksi buku bukunya.
Yang ada hanya rak buku yang masih kosong. Bahkan saya sempat mendorong rak buku ini agar adik adik dapat duduk dengan nyaman.

SMP Negeri 2 Segeri Pangkep

Dan lokasi terakhir kegiatan hari ini berlabuh di SMPN 2 Segeri Pangkep. Seperti anak SMP di sekolah sebelumnya, beberapa dari mereka masih merasa asing dan aneh kalau di usianya masih harus mendengar dongeng.

Love you Bona..!

Saya sih asyik asyik saja dengan kondisi ini. Karena di akhir kegiatan, wajah mereka nampak gembira dan sumringah setelah mengikuti alur dongeng yang saya sampaikan. Apalagi ketika mereka ketemu dengan si Bona.

Sekolah Kecil di Pangkep, Tempat Para To Barani

Tim Dongeng dan Pajokka Balocci berpose di depan sekolah

Ketika saya diundang oleh Amal, seorang lelaki muda yang berkecimpung di Komunitas Pajokka Balocci Pangkep, ingatan saya kembali ke sebuah cerita rakyat yang pernah dibawakan oleh Fara, salah satu murid sekolah dasar di Pangkep. Sekitar 2 tahun lalu Fara diutus oleh sekolahnya untuk mengikuti Lomba Bercerita Tingkat SD se Sulawesi Selatan mewakili Kabupaten Pangkep. Kala itu Fara membawakan sebuah cerita rakyat yang berjudul Asal Usul Kampung Jawwaya. Dalam cerita tersebut ada sebuah istilah yang mengelitik pikiran saya. Istilah itu adalah To Barani.

To Barani atau tobarani artinya adalah para pemberani yang terdiri dari kumpulan para pendekar di kerajaan Pangkep. Menurut Amal, yang tadi sempat bercerita sedikit kepada saya. Dahulu daerah ini merupakan tempat asal para pemberani (to-barani – tobarani) yang mempunyai kebiasaan minum arak (anginung ballo’), sabung ayam (assaung jangang / massaung manu), judi (abbotoro’). Kebiasaan ini adalah kebiasaan umum masyarakat pada masa itu. Tidak disebut seseorang itu pemberani jika tidak melakoni kebiasaan – kebiasaan tersebut diatas. Para pemberani di Balocci itu mendapatkan julukan “Koro – korona Balocci”, karena kebiasaan yang terkenalnya meminum “Ballo Kecci” dan memang ballo’ yang terkenal di Balocci pada masa itu adalah Ballo Kecci.

Begitulah asal usul nama Balocci.

Amal juga bercerita tentang sepak terjang komunitasnya yang saat ini sudah beranggotakan 48 orang. Komunitas Pajokka Balocci adalah komunitas traveling dan education. Nah, ketika mereka sedang traveling, mereka juga mengeksplore dan mengembangkan potensi wisata serta memberikan edukasi kepada masyarakat sekitar lokasi potensi wisata yang mereka kunjungi.

Kegiatan Dongeng Ceria ini sempat 2x ditunda pelaksanaannya karena berbagai kendala. Seharusnya tanggal 16 Februari 2019 dilaksanakan namun pada tanggal tersebut pihak sekolah memberitahukan ada gerak jalan dalam rangka ulang tahun Kabupaten Pangkep. Sedangkan yang kedua karena bertabrakan dengan jadwal Roadshow Disaster Risk Reduction di Palu. Dan akhirnya pada hari ini, 2 Maret 2019 bisa dilaksanakan.

Hari ini saya berangkat ke Balocci ditemani oleh 3 orang staf dari Yatim Mandiri Maros. Ada Sari yang baru saja menikah, ada Rahmi salah satu staf Fundraising dan Sri, staf keuangan yang kalo naik mobil biasanya tidur nyenyak. Perjalanan dimulai dari kantor Yatim Mandiri Maros sekitar pukul 08:15 WITA. Beberapa dus susu dan kaleng sosis sudah siap dipacking dan dinaikkan ke bagasi mobil merah yang setiap hari saya gunakan untuk operasional dongeng.

“Mobil ini namanya Mona, alias Mobilnya Bona,” ujarku ketika mereka bertiga sudah duduk di dalam mobil.

Rahmi hanya tertawa saja. Dari ketiga penumpang hari ini, hanya Rahmi yang paling suka tertawa. Sedangkan Sari sedang tidak enak badan.

“Sari lagi ngidam Kak,” jelas Sri yang duduk di sampingnya.

Wah, pengantin baru kayaknya lagi bahagia nih…!

Tak terasa perjalanan kami berempat sudah tiba di kawasan perumahan Tonasa 1 Pangkep. Sebuah gerbang selamat datang nampak masih terpampang dengan jelas di depan perumahan. Saya pun menepikan mobil karena harus menelpon Amal untuk minta dijemput. Lokasi sekolah katanya masih sekitar 5 km lagi.

Sembari menunggu tim penjemput, saya sempat melihat beberapa bangunan di perumahan Tonasa 1 sudah tak terurus lagi. Sebuah bangunan besar yang dulunya sebagai kantor pusat, kini nampak tak terurus dan dimakan rayap. Beberapa dindingnya sudah jebol. Demikian juga dengan atapnya yang sudah terlepas sengnya. Saya teringat sekitar tahun 1992 pernah menjalani training center selama hampir 2 minggu di gedung olah raga di Tonasa 1. Bangunan tersebut masih berdiri dengan kokoh dan nampak di bagian samping digunakan untuk toko serba ada.

Setelah menunggu selama kurang lebih 15 menit, akhirnya yang ditunggu pun sudah tiba. Dengan mengendarai sebuah motor berwarna hitam Putri salah satu anggota komunitas Pajokka Balocci menemui kami. Tanpa berbasa basi dan tak menunggu segeralah kami mengekor di belakangnya. Di sepanjang perjalanan kami disuguhi dengan pemandangan bukit kapur yang tinggi menjulang di kanan dan kiri jalan. Sesekali terdengar bunyi air sungai yang airnya jernih mengalir di sisi kiri jalan. Sengaja saya membuka jendela dan mematikan pendingin udara mobil supaya udara Balocci bisa masuk ke dalam mobil. Secara administratif, Kecamatan Balocci terbagi atas 4 Kelurahan, 1 Desa, 8 Lingkungan, 2 Dusun, 25 RW, dan 83 RT. Kelima Kelurahan/Desa tersebut adalah Kassi, Tonasa, Balocci Baru, Balleangin, dan Tompobulu.

Sebuah spanduk kecil nampak sudah dipasang di pintu gerbang sekolah. Terdengar riuh suara adik adik yang sudah duduk dengan rapi dibawah pohon mangga besar di belakang sekolah.

Aksi Bona yang selalu dirindukan adik adik

“Tadi mereka menunggu di halaman sekolah. Tapi karena panas matahari sudah menerpa halaman, maka saya pindahkan ke belakang sekolah,” kata Bunda Hj. Rosmini, kepala sekolah SDN 31 Senggerang yang nampaknya sudah tak sabar untuk memulai acara.

Segera beliau mengajak tim Sedekah Dongeng ke belakang sekolah. Dan benar, sekitar 90 murid sudah duduk tanpa alas kaki diatas karpet berwarna biru di bawah rindangnya pohon mangga yang tinggi menjulang. Melihat mereka duduk tanpa alas kaki, sayapun juga melepas sepatu dan mulai menyapa mereka sambil mengenalkan maksud dan tujuan kami datang.

Bunda Hj. Rosmini menyerahkan piagam kepada Kak Heru dan Bona

Tak butuh waktu lama bagi saya untuk bisa akrab dengan mereka. Teknik ice breaking sangat dibutuhkan dalam segala suasana. Apalagi untuk adik adik yang belum sama sekali mengenal saya dan tim Sedekah Dongeng dari Laznas Yatim Mandiri. Ibu guru dan bapak guru juga sekali tertawa melihat anak anak mereka cepat akrab dengan kami. Suasana semakin riuh ketika Bona, mulai keluar dari tas hitamnya. Celoteh nakal mulai keluar dari mulut Bona. Beberapa anak laki laki yang duduk di bagian depan nampak sampai tertawa berguling guling mendengar ocehan Bona.

Dan akhirnya kegiatan Dongeng Ceria hari ini diakhiri dengan pembagian susu dan sosis kaleng. Kakak kakak dari Yatim Mandiri dengan sabar mulai membagikan hadiah tersebut dibantu oleh Putri, Nisa, Haerul, Nasrul dan Rika dari Pajokka Balocci.

Bagi teman teman komunitas lain yang ingin mengenal komunitas Pajokka Balocci, silakan datang langsung ke markasnya di :

Jl.Bulusaraung Kampung Dujie Kelurahan Balleangin Kecamatan Balocci Kab.Pangkep

Kabut di Manipi, Dongeng di Ketinggian 800 DPL

Kabut di Manipi Sinjai Barat

Kabut pagi menyambut kedatangan tim Sedekah Dongeng dan Laznas Yatim Mandiri Maros di sekolah ini.

Perlu waktu hampir 2 jam untuk menuju ke SDN 87 Manipi Kecamatan Sinjai Barat. Jalanan yang berkelok dan sempit sungguh sangat menantang bagi kami berlima, terutama bagi Muhal sang driver kami. Tangannya cukup lihai dibelakang setir mobil Inova hitam berbelok kiri dan kanan menyesuaikan dengan tikungan yang semakin banyak. Dalam roadshow dongeng ini komposisi tim ada 5 orang. Saya selaku pendongeng, Sule dan Heri dari Laznas Yatim Mandiri Maros, Kak Yani dari Rumah Dongeng Chapter Sinjai dan Mual sang driver yang masih berstatus anak kuliah di UIN Makassar. Tajamnya tikungan membuat Heri, salah satu staf Yatim Mandiri sempat muntah dan mabuk darat. Melihat ada yang mabuk dan muntah pas dibelakangnya, sang driver malah ikut ikutan mual.

Suasana dalam mobil, ada yang muntah dan serius pegang besi

“Pantesan namamu Muhal, lihat orang mual malah kau yang jadi mual..!”, kataku sambil tertawa. Sule dan Kak Yani ikutan tertawa.

“Ai… Heri mati di T”, tak mau kalah Kak Yani menimpali. T itu tikungan.

“Tinggal 2 tikungan lagi sudah sampai di sekolah”, hibur kak Yani pada Heri yang nampaknya makin pucat saja. Tangannya terus memegang plastik hitam yang penuh dengan muntahan dari dalam perutnya.

Perjalanan semakin dekat ke lokasi dongeng. Namun kami dihadang oleh kemacetan di pasar Arabika mengakibatkan perjalanan sedikit terlambat.
Di hari hari tertentu pasar di Manipi baru ramai dengan hari pasar. Ada 3 pasar yang kami lewati sepanjang perjalanan ini. Masing masing pasar memiliki hari tertentu untuk hari pasar. Mobil para pembeli dan penjual diparkir berjejer di tepi jalan. Jalan yang sempit semakin membuat kemacetan semakin parah karena tidak ada tukang parkir di pasar ini.

Sebuah mushala sekolah yang berada di dalam sekolah kami gunakan untuk menampung siswa dari kelas 1 sampai kelas 6. Untuk menertibkan ratusan siswa ini, tim segera mengatur tempat duduk dengan menempatkan adik adik kelas 1 dan 2 dibagian depan.

Hasil dari kegiatan sedekah dongeng berjumlah Rp. 1.485.000,-. Donasi ini akan digunakan untuk pembangunan salah satu ruangan kelas di sekolah di Sinjai Barat.

SD Negeri 136 Hulo

Setelah menyelesaikan satu sessi dongeng di SDN 87 Manipi, tim Sedekah Dongeng selanjutnya menuju ke lokasi kedua yang jaraknya tak jauh dari sekolah pertama. Hanya sekitar 1 km perjalanan ke SDN 136 Hulo.
Suasana halaman sekolah masih sepi. Saya pikir para siswa sudah pulang. Namun salah satu guru yang menemui saya mengatakan bahwa siswa pulang pukul 12:45 WITA.

Beberapa siswa tampak mengintip dari pintu kelasnya sembari berbisik bisik. Mereka nampaknya penasaran..!

“Eh.. datang pendongengnya..!”, terdengar teriakan dari siswa kelas 1.

Saya hanya tersenyum. Mungkin gurunya sudah menyampaikan tentang dongeng di sekolah ini. Dan dari penyampaian ibu guru bahwa memang siswanya belum pernah mendengarkan dongeng.

Setelah menikmati kue dan kopi hangat di ruangan guru, Kak Yani salah satu relawan dari Rumah Dongeng Sinjai segera bergegas mengatur ruangan dan anak anak. Ditemani oleh Kak Sule, mereka berdua mengatur sebuah ruangan yang biasanya digunakan sebagai aula mini untuk berbagai kegiatan. Sedangkan saya masih bercengkrama dengan ibu guru yang wajahnya nampak menyiratkan sebuah kekuatiran. Ternyata kekuatiran dari beliau adalah tentang masalah jumlah sedekah yang akan dibawa oleh siswanya.

“Yang penting dalam kegiatan ini adalah keutamaan sedekah melalui dongeng. Berapapun yang anak anak berikan pada Laznas Yatim Mandiri adalah keiklasan dari mereka”, ungkap saya yang membuat wajah beliau mulai bisa tersenyum.

Ikhlas dalam memberi adalah niat yang paling utama. Allah SWT menjanjikan bahwa sedekah yang diberikan kepada yatim dhuafa akan menjadikannya sebagai payung nanti di Padang Mahsyar. Ketika milyaran manusia menunggu pengadilan, matahari di padang Mahsyar begitu dekat dengan kepala manusia.

“Insya Allah, sedekah yang kalian bawa hari ini akan menjadi payung kalian di hari dimana semua manusia dikumpulkan oleh Allah untuk ditimbang amal baik dan amal buruk.” ungkap Kak Heru di akhir dongeng.

#sedekahdongeng
#rumahdongeng
#yatimmandiri
#storytelling
#roadshowDongengSinjaiBarat

Bona Back to Makassar

Ibu Lisa dan Pak Berto berfoto dengan Bona

Setelah hampir satu minggu mengadakan roadshow Disaster Risk Reduction di Palu, Sigi dan Donggala bersama Wahana Visi Indonesia, menjelang sore di hari Sabtu, 23 Februari 2019, saya diantar oleh Ibu Lisa dan Pak Berto ke bandara Mutiara Palu. Tak mau ketinggalan melihat foto fotonya Bona, Ibu Lisapun ingin juga berfoto dengan Bona di bandara Palu.

Selama roadshow di Palu, banyak pengalaman barunya Bona. Bertemu dengan banyak adik adik dan bergembira bersama mereka. Dari satu tempat ke tempat lainnya, dari anak anak bahkan sampai orang tua senang bertemu dengan Bona.

Irma, teman sewaktu di Smansa Makassar

Setelah menunggu di gate 3 selama kurang lebih 30 menit, pesawat Batik Airpun segera take off menuju Makassar. Sungguh beruntung pada penerbangan ini tiga kursi tempat saya duduk sedang kosong semuanya. Artinya hanya saya sendiri yang duduk di baris 12. Dan seperti biasa kalo dalam keadaan seperti ini, Bona pun mendapat kesempatan untuk duduk di kursi dekat jendela.

Beberapa penumpang sepertinya heran melihat tingkah laku saya yang sedang asyik berfoto dan mengatur posisi duduknya Bona. Bahkan ketika pramugari membagikan makanan kecil, Bonapun sempat mendapat jatah snack juga. Dengan tersipu malu mbak pramugari pun akhirnya menerima kembali snack tersebut ketika saya menjelaskan bahwa yang duduk disamping itu adalah boneka Bona.

“Bisa bicara bonekanya pak..?”, tanya mbak pramugari ketika sedang membagi snack kepada saya. Sayapun hanya tersenyum kecil mendengar pertanyaan tersebut, sementara mbak pramugari terus berjalan pelan melayani penumpang lainnya sembari matanya tak lepas dari Bona.

“Gimana Bona? Mau nggak foto sama dia?”, kutantang Bona yang ternyata malah asyik membaca majalah Batik air. Dan Alhamdulillah penerbangam Batik Air hari Sabtu ini lancar dan tiada halangan.

3 Lokasi Sedekah Dongeng.

Dan hari Senin 25 Februari 2019, jadwal kegiatan dimulai dengan mengunjungi TK Aisyiah Bustanul Athfal VI Biring Romang VI di jalan Tamangapa 3 Antang. Untuk ke sekolah ini harus menyusuri lorong khusus kendaraan roda 2. Ada sekitar 60 murid yang belajar di sekolah ini.
Pukul 08:15 kegiatan Sedekah Dongeng bersama Laznas Yatim Mandiri dimulai setelah mereka duduk dengan rapi di halaman sekolahnya.

Donasi yang dikumpulkan berjumlah Rp 1.243.000,- yang selanjutnya disalurkan kepada Laznas Yatim Mandiri Makassar.

Selanjutnya lokasi kedua kegiatan Sedekah Dongeng adalah di TKIT Ummul Mu’minin di Pesona Prima Griya Antang.

Kak Sabir dan keluarganya berfoto bersama Bona

Sebelumnya, Zabir salah satu junior Kak Heru yang masih aktif di Pramuka Unhas mengabari bahwa ini adalah sekolah anaknya. Anaknya bernama Embun, cantik dan lincah seperti ayah dan bundanya. Kebetulan ayah dan bunda Embun adalah sama sama anggota Pramuka Unhas.

Dan menjelang siang, tim Sedekah Dongeng masih menyisakan 1 lokasi lagi di TK Angkasa 2 Daya. Ini adalah kunjungan saya untuk kedua kalinya di sekolah ini.

Ketika saya baru masuk ke pintu gerbang, teriakan memanggil nama “Kak Heru datang..!” langsung menggema di teras sekolah. Serentak kaki kaki kecil segera berlarian menyambutku.

“Mana Bona..?”, itu sebuah kalimat bila mereka bertemu denganku untuk kesekian kalinya.
Sayapun hanya bisa tersenyum sembari menggandeng salah satu anak untuk menuju lokasi kegiatan di samping sekolah.

Ada sekitar 150 adik adik yang sudah duduk dengan rapi namun tak sabar. Saat saya sedang menyiapkan sound system, beberapa dari mereka mencoba untuk mengintip tasnya Bona. Walaupun ibu guru sudah melarang, namun mereka tetap kembali berdiri dan mencari tahu keberadaan Bona.

Agar mereka tak penasaran, sengaja saya menyimpan tas Bona agak jauh agar perhatian mereka tak terganggu ketika dongeng dimulai. Saya meminta pak Yoga, salah satu staf dari Laznas Yatim Mandiri untuk menjaga tas Bona dari jangkuan tangan tangan kecil mereka.