Tag Archives: aksi kolektif hari perempuan internasional

Dongeng Keliling dalam Aksi Kolektif Hari Perempuan Internasional 2018

Banyak cara unik untuk memperingati sebuah perayaan, salah satunya dilakukan oleh salah satu NGO di Makassar dengan menggelar Aksi Kolektif. Kegiatan yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 24 Maret 2018 di Fort Rotterdam Makassar diinisiasi oleh Yayasan Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI) yang mengajak beberapa komunitas untuk mengelar kolaborasi kegiatan.

Komunitas tersebut antara lain Mampu BaKTI, Koalisi NGO Sulawesi Selatan, KPI Sulawesi Selatan, HIPJ2 FPMP Sulawesi Selatan, Saya Perempuan Anti Korupsi Sulsel, Institute Of Community Justice, HWDI Sulawesi Selatan, Dewi Keadilan, YAPMI Sulselbar, YKPM Sulsel, Sekolah Perempuan, Maupe Maros, PW Aisia Sulsel, Lemina, Lembaga Perlindungan Anak Sulawesi Selatan, Kitab Rumah Kita Bersama, QQ Recycle Art, Dongeng Keliling, Forum Jurnalis Sanitasi, Kita Bhinneka, Sekolah PRP Paraikatte, Forum Anak Maros, serta beberapa individu dan jurnalis,
menggelar aksi kolektif untuk memperingati hari perempuan internasional 2018. Aksi kolektif ini adalah salah satu cara perempuan dan pemerintah kota Makassar untuk bersinergi mendorong pengesahan RUU pengahapusan kekerasan seksual.

Panggung utama dibuat sangat sederhana dan terbuka tanpa tenda. Hanya ada backdrop berupa kegiatan aksi dan sofa sederhana diatas panggung di samping Chappel Fort Rotterdam. Tepat pada pukul 15:00 WITA, acara dimulai dengan pembukaan oleh Plt Kepala Disdik Makassar, Mukhtar Tahir.

“Ini salah satu tugas pemerintah di dalam hal mengamankan yang namanya kekerasan perempuan yang memang menjadi tupoksi dari kami selaku orang yang diamanahkan di dinas sosial, karena dinas sosial sebenarnya menyelesaikan 27 perkara, salah satunya adalah bagaimana kita memberikan keamanan bagi para perempuan, sehingga tidak mendapatkan perlakuan- perlakuan kekerasan khususnya perlakuan kekerasan seksual.” ujar Mukhtar yang mewakili Plt Walikota Makassar.

Yang paling seru adalah ketika semua komunitas diundang untuk naik ke atas panggung dan membaca deklarasi dukungan pengesahan RUU penghapusan kekerasan seksual bersama dengan peserta aksi kolektif yang berisi:

“Mendukung percepatan pengesahan rancangan undang-undang penghapusan kekerasan seksual, pada hari ini, Sabtu 24 Maret 2018, kami organisasi pemerhati peduli dan bekerja pada hak-hak perempuan dan anak yang terdiri dari program Mampu BaKTI, Koalisi NGO Sulawesi Selatan, KPI Sulawesi Selatan, HIPJ2 FPMP Sulawesi Selatan, Saya Perempuan Anti Korupsi Sulsel, Institute Of Community Justice, HWDI Sulawesi Selatan, Dewi Keadilan, YAPMI Sulselbar, YKPM Sulsel, Sekolah Perempuan, Maupe Maros, PW Aisia Sulsel, Lemina, Lembaga Perlindungan Anak Sulawesi Selatan, Kitab Rumah Kita Bersama, QQ Recycle Art, Dongeng Keliling, Forum Jurnalis Sanitasi, Kita Bhinneka, Sekolah PRP Paraikatte, Forum Anak Maros, dan individu perempuan, aktivis, akademis, jurnalis, menyatakan bahwa angka kekerasan terhadap terus meningkat setiap tahun, kekerasan seksual adalah kejahatan terhadap perempuan dan martabat kemanusiaan serta pelanggaran terhadap hak asasi manusia, negara tidak mempunyai instrumen untuk mencegah dan melidungi perempuan dari kekerasan seksual, negara dan pemerintah berkewajiban untuk mencegah dan melindungi perempuan dari kekerasan seksual, karena itu kami mendukung dan mendesak kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia untuk segera mengesahkan rancangan undang-undang penghapusan kekerasan seksual.”

Setelah pembacaan deklarasi, acara ini dilanjutkan dengan penampilan live music dari Ariel Matulessy dan talkshow yang dipandu oleh Luna Vidya serta diisi oleh narasumber yang berhubungan dengan penangan kasus kekerasan seksual, yaitu; Lusia Palulungan (Yayasan BaKTI), Meisy Papayungan (P2TP2A Sulsel), dan Andi Sri Wulandani (Masika Makassar) yang dipandu oleh Luna Vidya. Talkshow ini sendiri terlihat sangat diminati oleh diikuti para perempuan yang hadir, kebanyakan dari mereka adalah ibu ibu dan perempuan muda.

Di bagian lain, anak anak yang hadir juga nampak asyik mendengarkan dongeng yang dibawakan oleh Dongkel With Library Perpustakaan Kota Makassar. Tim Dongkel yang berasal dari 2 komunitas yaitu Rumah Dongeng ID dan Kampung Dongeng Mardati menampilkan para pendongeng perempuan yang siap mengedukasi anak anak melalui dongeng.

Simak videonya disini :

Tim Dongkel with Library

Dongeng Keliling dalam Aksi Kolektif Hari Perempuan Internasional 2018

Banyak cara unik untuk memperingati sebuah perayaan, salah satunya dilakukan oleh salah satu NGO di Makassar dengan menggelar Aksi Kolektif. Kegiatan yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 24 Maret 2018 di Fort Rotterdam Makassar diinisiasi oleh Yayasan Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI) yang mengajak beberapa komunitas untuk mengelar kolaborasi kegiatan. Komunitas tersebut antara lain Mampu BaKTI, Koalisi NGO Sulawesi Selatan, KPI Sulawesi Selatan, HIPJ2 FPMP Sulawesi Selatan, Saya Perempuan Anti Korupsi Sulsel, Institute Of Community Justice, HWDI Sulawesi Selatan, Dewi Keadilan, YAPMI Sulselbar, YKPM Sulsel, Sekolah Perempuan, Maupe Maros, PW Aisia Sulsel, Lemina, Lembaga Perlindungan Anak Sulawesi Selatan, Kitab Rumah Kita Bersama, QQ Recycle Art, Dongeng Keliling, Forum Jurnalis Sanitasi, Kita Bhinneka, Sekolah PRP Paraikatte, Forum Anak Maros, serta beberapa individu dan jurnalis,
menggelar aksi kolektif untuk memperingati hari perempuan internasional 2018. Aksi kolektif ini adalah salah satu cara perempuan dan pemerintah kota Makassar untuk bersinergi mendorong pengesahan RUU pengahapusan kekerasan seksual.

Panggung utama dibuat sangat sederhana dan terbuka tanpa tenda. Hanya ada backdrop berupa kegiatan aksi dan sofa sederhana diatas panggung di samping Chappel Fort Rotterdam. Tepat pada pukul 15:00 WITA, acara dimulai dengan pembukaan oleh Plt Kepala Disdik Makassar, Mukhtar Tahir.

“Ini salah satu tugas pemerintah di dalam hal mengamankan yang namanya kekerasan perempuan yang memang menjadi tupoksi dari kami selaku orang yang diamanahkan di dinas sosial, karena dinas sosial sebenarnya menyelesaikan 27 perkara, salah satunya adalah bagaimana kita memberikan keamanan bagi para perempuan, sehingga tidak mendapatkan perlakuan- perlakuan kekerasan khususnya perlakuan kekerasan seksual.” ujar Mukhtar yang mewakili Plt Walikota Makassar.

Yang paling seru adalah ketika semua komunitas diundang untuk naik ke atas panggung dan membaca deklarasi dukungan pengesahan RUU penghapusan kekerasan seksual bersama dengan peserta aksi kolektif yang berisi:

“Mendukung percepatan pengesahan rancangan undang-undang penghapusan kekerasan seksual, pada hari ini, Sabtu 24 Maret 2018, kami organisasi pemerhati peduli dan bekerja pada hak-hak perempuan dan anak yang terdiri dari program Mampu BaKTI, Koalisi NGO Sulawesi Selatan, KPI Sulawesi Selatan, HIPJ2 FPMP Sulawesi Selatan, Saya Perempuan Anti Korupsi Sulsel, Institute Of Community Justice, HWDI Sulawesi Selatan, Dewi Keadilan, YAPMI Sulselbar, YKPM Sulsel, Sekolah Perempuan, Maupe Maros, PW Aisia Sulsel, Lemina, Lembaga Perlindungan Anak Sulawesi Selatan, Kitab Rumah Kita Bersama, QQ Recycle Art, Dongeng Keliling, Forum Jurnalis Sanitasi, Kita Bhinneka, Sekolah PRP Paraikatte, Forum Anak Maros, dan individu perempuan, aktivis, akademis, jurnalis, menyatakan bahwa angka kekerasan terhadap terus meningkat setiap tahun, kekerasan seksual adalah kejahatan terhadap perempuan dan martabat kemanusiaan serta pelanggaran terhadap hak asasi manusia, negara tidak mempunyai instrumen untuk mencegah dan melidungi perempuan dari kekerasan seksual, negara dan pemerintah berkewajiban untuk mencegah dan melindungi perempuan dari kekerasan seksual, karena itu kami mendukung dan mendesak kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia untuk segera mengesahkan rancangan undang-undang penghapusan kekerasan seksual.”

Setelah pembacaan deklarasi, acara ini dilanjutkan dengan penampilan live music dari Ariel Matulessy dan talkshow yang dipandu oleh Luna Vidya serta diisi oleh narasumber yang berhubungan dengan penangan kasus kekerasan seksual, yaitu; Lusia Palulungan (Yayasan BaKTI), Meisy Papayungan (P2TP2A Sulsel), dan Andi Sri Wulandani (Masika Makassar) yang dipandu oleh Luna Vidya. Talkshow ini sendiri terlihat sangat diminati oleh diikuti para perempuan yang hadir, kebanyakan dari mereka adalah ibu ibu dan perempuan muda.

Di bagian lain, anak anak yang hadir juga nampak asyik mendengarkan dongeng yang dibawakan oleh Dongkel With Library Perpustakaan Kota Makassar. Tim Dongkel yang berasal dari 2 komunitas yaitu Rumah Dongeng ID dan Kampung Dongeng Mardati menampilkan para pendongeng perempuan yang siap mengedukasi anak anak melalui dongeng.

Simak videonya disini :

Tim Dongkel with Library