Tag Archives: cerita rakyat

Keke Panagian – Cerita Rakyat Sulawesi Utara

Keke Panagian
Cerita Rakyat Sulawesi Utara

Di sebuah desa yang  bernama Wanua Uner, hiduplah sepasang  suami istri.  Sang   suami bernama Pontohroring dan  sang istri bernama Mamalauan. Mereka sudah lama  menikah, tetapi  belum  dikaruniai seorang anak pun.  Mereka sudah semakin tua, tetapi tidak pernah berhenti berharap bahwa suatu saat nanti dikaruniai seorang anak.

“Bu,   apa  yang    sedang  kau    kerjakan?”  tanya Pontohroring kepada Mamalauan pada suatu sore.

“Ini  coba  lihat, aku  sedang membuat baju  untuk anak kita  nanti. Dia pasti kelihatan cantik dengan baju ini,”  jawab Mamalauan tanpa mengalihkan pandangan dari  baju  yang  sedang dijahitnya.

“Memangnya,  kau   sudah  tahu  bahwa anak kita nantinya perempuan?”

“Aku  punya firasat bahwa anak kita  pasti perempuan, Pak.  Akan tetapi, kalau anak kita  nantinya laki-laki, aku  akan menjahit baju  untuk anak laki-laki juga.”

Suami  istri itu  tertawa dengan mesranya. Namun, lama-kelamaan mereka terdiam  seperti  sedang  me- lamunkan sesuatu.

“Mengapa terdiam? Apakah kau  juga  memikirkan apa yang  aku pikirkan?”

“Iya suamiku, ratusan purnama telah berlalu sejak kita  menikah. Berbagai upaya sudah kita  lakukan. Doa dan  puasa tidak pernah kita  abaikan. Tetapi doa  kita belum  juga  dikabulkan. Kita belum  diberi seorang anak pun.”

“Kita tidak boleh putus asa, istriku. Kita harus terus berdoa dan  juga  berusaha. Tuhan pasti memperhatikan doa  kita, asalkan kita  tidak putus harapan. Lebih baik, sekarang kau  siapkan  makanan  untuk  makan malam kita. Aku mau  ke rumah Tonaas (pemimpin atau kepala kampung) dulu.  Tadi  Tonaas mengirim pesan agar aku ke rumahnya sore ini.”

Pontohroring lalu  pergi menuju rumah Tonaas. Mamalauan mengantarnya sampai depan pintu. Sambil menatap kepergian suaminya, Mamalauan berdoa dalam hati, “Ya Tuhan, kami tidak pernah meragukan Engkau sampai kapan pun. Kami yakin bahwa saatnya akan tiba, seorang anak akan Kau berikan dalam pelukan kami.”

…. bersambung

 

 

 

Wayang Digital : Sureq Lagaligo

Photo by : JakartaPost

Bugis adalah salah satu suku yang terkenal akan keberaniannya berpetualangan melintasi lautan yang luas. Hingga saat ini mereka masih ini memegang nilai-nilai luhur yang diwariskan dari nenek moyangnya.

Bagaimanakah sejarah raja raja Bugis yang berkembang hingga saat ini? Perjalanan panjang Suku Bugis terangkum dalam Sureq Lagaligo. Sebuah epik mitos penciptaan yang merupakan awal dari proses penciptaan dunia.

Kisah dimulai ketika ketika Penguasa Langit, Patotoe mengundang beberapa dewa dewa  di kahyangan untuk berkumpul di utamanya. Undangan itu untuk melantik anak laki lakinya menjadi penguasa pertiwi atau dunia tengah.

Patotoe pun bertitah : Apa gunanya kita para dewa tinggal di langit, tapi tak ada makhluk yang menyembah para dewa. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk melantik anak laki lakiku sebagai penguasa di dunia tengah

Penguasa dunia tengah diberi gelar Batara Guru. Beliau lalu turun ke bumi,  tepatnya di sebuah daerah di Sulawesi Selatan yang bernama Luwu. Luwu adalah sebuah daerah yang terletak di Teluk Bone. Sebagai penguasa bumi, Batara Guru harus meninggalkan segala kemewahannya yang sebelumnya diperoleh sebagai seorang dewa. Dia harus hidup sebagai manusia biasa. Untuk menemani Batara Guru, Patotoe kemudian mengirimkan seorang dewi dari langit yang bernama We Milik Ti’no. Mereka pun menikah sebagai sepasang penguasa bumi. Pernikahannya melahirkan Batara Latu yang kelak menjadi raja di Luwu.

Sementara anak anak Batara Guru yang lainnya menjadi penguasa di beberapa daerah di sekitar Luwu. Batara Latu kemudian memiliki dua anak kembar, yang laki laki bernama Sawerigading, dan kembarannya seorang perempuan bernama We Tenri Abeng.

Berdasarkan pesan Batara Guru,kedua anak kembar tersebut nantinya akan saling jatuh cinta. Maka Batara Guru pun mengambil keputusan,  mereka berdua harus dipisahkan satu dengan lainnya.

Sawerigading pun tumbuh tanpa mengetahui bahwa dia mempunyai saudara kembar yang cantik jelita. Sebagai seorang lelaki Bugis, dia lebih suka berpetualangan melintasi lautan yang maha luas. Namun sepertinya sudah menjadi suratan takdir, ketika sedang berpetualangan di tengah laut, akhirnya Sawerigading mengetahui bahwa dia mempunyai seorang saudara kembar yang cantik jelita.

Iapun segera pulang untuk mencari saudaranya dan ketika melihat wajahnya yang cantik jelita, ia pun langsung jatuh cinta hingga ingin menikahinya. Namun adat Bugis melarang pernikahan sedarah, keinginan Sawerigading pun ditentang oleh keluarganya. Sebagai jalan keluarnya, We Tenri Abeng membujuk Sawerigading untuk menikah dengan wanita lain yang memiliki wajah dan perawakan yang mirip dengan We Tanri Abeng. Wanita tersebut bernama I We Cudai, yang berada di negeri Cina.

Sawerigading dengan berat hati menerima permintaan dari saudara kembarnya tersebut. Namun dia bersumpah untuk tidak akan kembali lagi ke tanah Luwu.

“Aku Sawerigading bersumpah atas nama dewa langit, bahwa aku tidak akan kembali lagi ke Tanah Luwu..!”

Perjalanan Sawerigading menuju ke Cina adalah perjalanan yang sangat berat dan jauh. Perahu yang ditumpanginya sering diserang oleh perompak yang jahat. Pertarungan demi pertarungan terjadi di tengah lautan. Sawerigading menunjukkan keperkasaannya dengan mengalahkan lawan lawannya sampai akhirnya berhasil tiba di negeri Cina dan menikahi I We Cudai. Disini pula Sawerigading memutuskan untuk menetap tinggal dan memiliki beberapa anak. Salah satunya adalah I Lagaligo.

Suatu hari I We Cudai mengajak Sawerigading untuk kembali ke Luwu dan menemui keluarganya. Meskipun sebelumya Sawerigading  sempat menolak ajakan istrinya karena dia teringat dengan sumpahnya sendiri, mereka pun kembali ke tanah Luwu karena Sawerigading sebenarnya juga merindukan kampung halaman dan orang tua yang lama ditinggalkannya.

Kedatangan Sawerigading dari laut ke tanah Luwu, semua keturunan Batara Guru pun bersatu kembali. Melihat semua sudah berkumpul, Sang Penguasa Langit  Patotoe segera memanggil semua keturunan dewa dewa di bumi untuk kembali ke langit. Dengan selesainya penciptaan kehidupan di bumi, maka sureq Galigopun berakhir.

Cuplikan I Lagaligo versi wayang digital

The Flooded Cloud

This is a folklore from Thailand about a little girl who cares about her dry village.

She finally decides to do something to make call the rain, so that her village will not be dry anymore.

She almost gives up, but then she meets something that encourages her to keep trying. Do you want to know what is that?

Will the rain fall in her village?

Go get the answer in this sixth episode.

Here to listen The Flooded Cloud

*)remember to install Spotify before listening the story

Dongeng “Jarum” Menjadi Pemenang Lomba Bercerita di Enrekang

Technical Meeting Lomba Bercerita

Salah satu agenda kegiatan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia adalah Lomba Bercerita Tingkat SD yang rutin dilaksnakan setiap tahunnya. Dalam lomba ini setiap propinsi diharuskan mengirimkan satu orang wakil untuk berlomba di Jakarta. Dan wakil propinsi tersebut adalah hasil dari seleksi yang dilakukan secara berjenjang dimulai dari tingkat kabupaten dan tingkat propinsi. Materi lomba bercerita umumnya berupa cerita rakyat setempat. Peserta yang mengikuti lomba ini berasal dari sekolah yang sudah memiliki perpustakaan sekolah.

Salah satu peserta lomba beraksi diatas panggung

Untuk mendapatkan satu wakil di tingkat kabupaten, Dinas Perpustakaan Kabupaten Enrekang juga mengadakan seleksi dalam bentuk Lomba Bercerita Tingkat SD se Kabupaten Enrekang yang dilaksanakan pada tanggal 25 Juni 2019 bertempat di lantai 2 perpustakaan. Sebanyak 20 peserta yang rata rata duduk di kelas 5 mengikuti kegiatan ini didampingi oleh masing maaing guru pembimbing.

Berfoto bersama dewan juri dan pemenang lomba.

Berbagai macam judul cerita dibawakan dengan apik oleh para perserta lomba. Mulai dari Asal Usul Tanah Duri, Lajana, Sumur Jodoh, Ladana dan Kerbau dibawakan dengan penuh ekspresif dan menarik dalam durasi waktu 10-15 menit untuk setiap peserta. Salah satu peserta dengan nomor urut 19, tampil membawakan sebuah cerita yang berjudul “Jarum”. Cerita ini berkisah tentang seorang bangsawan kaya yang meminjam sebatang jarum dari indo kalobe. Tak lama berselang si bangsawan meninggal dunia karena sakit, dan sang anak lupa menaruh jarum yang dipinjam dari indo kalobe.

Salah satu judul dongeng dari Enrekang

Hal itu dimanfaatkan oleh indo kalobe untuk mengeruk harta dari anak bangsawan. Setiap hari dia menagih jarum yang dipinjamkan. Celakanya si anak tidak mengetahui keberadaan jarum tersebut. Untuk mengganti jarum tersebut, indo kalobe ditawari pengganti berupa 10 ekor kerbau. Tapi indo kalobe tidak mau menerima tawaran itu. Dia tahu harta kekayaan si anak bangsawan sangat banyak. Dia ingin lebih banyak kerbau sebagai pengganti jarumnya. Walaupun sampai ditawari 100 kerbau, namun indo kalobe tidak mau menerimanya. Si anak mulai kebingungan mencari jarum tersebut. Sampai akhirnya dia bermimpi bertemu dengan ibunya. Ketika terbangun si anak segera ingat dimana jarum itu berada.

Lalu apa yang terjadi dengan indo kalobe?

Apakah dia akan mendapatkan 100 ekor kerbau?

Tradisi lisan, dari Steve Jobs hingga Jaka Tarub

Safira dan Arief, mereka adalah salah satu pendongeng masa kini

Apa pekerjaan paling berpengaruh dalam sejarah manusia?

Menurut inovator dan pendiri Apple, Steve Jobs, profesi paling berpengaruh di dunia adalah pendongeng.

“Pendongeng menetapkan visi, nilai, dan agenda dari seluruh generasi yang akan datang.”

Tak heran, Jobs sendiri adalah seorang pendongeng. Dalam setiap presentasi peluncuran produk Apple, alih-alih mengutarakan keunggulan produk, ia malah kerap mendongeng, menghadirkan drama di atas panggung. Jobs dikenal sebagai pendongeng tingkat wahid.
Salah satu dongengnya yang banyak dibicarakan adalah pidatonya saat melepas lulusan Stanford University, pada 12 Juni 2005.

Jobs menceritakan tiga cerita tentang menghubungkan peristiwa, cinta dan kehilangan, dan kematian. Dongeng itu dikenang dengan pesannya bagi generasi muda untuk ‘tetap lapar dan tetap bodoh’ (stay hungry, stay foolish).
Pesannya ini banyak dikutip. Dongengnya menembus lintas generasi.

Jika Jobs mendongeng di masa belum dikenal tulisan, ceritanya akan dikemas dalam tradisi lisan. Menurut Sejarawan Belgia, Jan Vansina, tradisi lisan (oral tradition) adalah kesaksian yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.

Dr Leo Agung S M.Pd, dosen program studi Pendidikan Sejarah UNS Surakarta, bersama rekan-rekannya dalam makalah berjudul Tradisi Lisan sebagai Sejarah, Redefinisi Pembelajaran Kurikulum 2013, menulis tradisi lisan dapat diartikan sebagai kebiasaan yang berkembang dalam suatu komunitas yang direkam yang diwariskan antargenerasi lewat bahasa lisan.
Misalnya, cerita, syair, legenda, atau yang lain. Banyak peristiwa yang direkam dalam syair dan cerita. Dalam konteks Indonesia, salah satu rekaman ini bisa ditemui dalam tradisi lisan Tanggamo, dari Gorontalo.

Tanggamo bisa disebut syair jurnalisme. Wujudnya berima tapi tak terbatas jumlah barisnya. Pada masa jayanya, Tanggomo adalah sarana menyebarluaskan informasi yang berdasar pada fakta kepada masyarakat.
Salah satu pelestari Tanggamo adalah Manuli As Ali, yang sudah meninggal di era 1970-an. Menurut Yamin Husain, yang sempat hidup bersama Manuli, Tanggomo berasal dari kata molangomo atau menampung.
Tanggamo menampung berbagai peristiwa yang terjadi di masyarakat maupun fakta sejarah. “(Tanggamo) Sastra lisan daerah yang berhubungan dengan pendokementasian,” ujarnya seperti dinukil dari rri.co.id

Menurut Pakar tradisi lisan Gorontalo, Nani Tuloli, Tanggomo adalah pers pada masanya, petanggomo adalah pewarta yang mencari berita dan diceritakan kepada masyarakat di tempat lain dengan cara yang menarik. “Apa yang disampaikan adalah fakta,” kata Nani Tuloli, seperti dikutip dari Kompas.com.

Indonesia memang dikenal kaya dengan tradisi lisan. Di Indonesia Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mengumpulkan data tradisi lisan dari total 29 provinsi di Indonesia. Namun data ini masih sementara, dan masih terus dikumpulkan.

Dari data tersebut setidaknya kita bisa kita kenali dua ribu lebih tradisi lisan. Wujudnya macam-macam. Mulai cerita rakyat, teka-teki, nasihat, mitos, legenda, dan lainnya.
Provinsi yang terbanyak adalah di Kalimantan Timur yaitu sebesar 286 tradisi lisan, yang kedua adalah Jawa Tengah yaitu 275, kemudian diikuti Jawa Timur (242), NTT (146), dan Bangka Belitung (139).

Dari total sekitar dua ribu jenis tradisi lisan tersebut dibagi menjadi enam jenis. Yakni Cerita Rakyat 81,2 persen (1.769), doa atau mantera 8 persen (174), pantun 6,3 persen (137), lagu atau syair 2,7 persen (59), nasihat 1,6 persen (34), dan teka-teki 0,2 persen (5)
Dari keenam kategori tersebut, tradisi lisan yang paling banyak adalah Cerita Rakyat. Secara umum cerita rakyat dibagi menjadi tiga yaitu Epos, Mitos, dan Legenda.
Secara pengertian mitos adalah cerita yang bersifat simbolik yang mengisahkan serangkaian cerita nyata atau imajiner. Legenda adalah cerita prosa rakyat yang dianggap oleh yang empunya cerita sebagai satu yang benar-benar terjadi. Epos adalah cerita kepahlawanan.

Jawa Tengah adalah daerah dengan cerita rakyat terbanyak 264 cerita. Salah satunya Kemudian Kalimantan Timur 201, Jawa Timur 197, Bangka Belitung 129, NTT 123.
Leo dkk, mengutip Robert Sibarani, guru besar Anthropolinguistik Universitas Sumatera Utara menyatakan, persoalan bangsa ini ternyata tak dapat diselesaikan hanya mengandalkan teknologi modern dan ilmu pengetahuan dari Barat yang berasal dari sumber tertulis. Perlu pendekatan budaya dari tradisi leluluhur dari sumber lisan.

Tapi posisi tradisi lisan masih terpinggirkan dan potensinya terabaikan dan dianggap masa lalu. Keberadaan tradisi ini memang mengkhawatirkan. Padahal, perannya tak jauh beda dengan tradisi dalam wujud tulisan.
“Keduanya merupakan pesan masa lampau ke masa kini. Pesan-pesan ini merupakan elemen kunci dalam rekonstruksi sejarah. Saat tak ada tulisan, tradisi lisan menanggung beban rekonstruksi sejarah. Maka tradisi lisan tetap penting dan relevan,” tulis Leo dkk.

Usaha-usaha untuk merawat tradisi lisan telah banyak dilakukan. Di antaranya lomba cerita rakyat yang dilaksanakan oleh perpustakaan nasional Indonesia setiap tahunnya.

Jadi menjadi pendongeng adalah sebuah pilihan profesi yang dapat diandalkan.

Artikel diatas dapat juga dibaca di : https://beritagar.id/artikel/berita/tradisi-lisan-dari-steve-jobs-hingga-jaka-tarub