Tag Archives: Dongeng Anak

Boneka Tua

Dalam sebuah kotak tua, Beruang tua duduk kesepian. Tubuhnya berdebu, matanya hilang satu… Tidak berapa lama, kotak tua dibuka.

“Heei, kuda… akhirnya kamu juga disini…”seru Beruang tua.

Kuda nampak sedih.

“Aku masuk kotak ini, karena Dea punya boneka kelinci baru.” Beruang tua tertawa.

“Kubilang juga apa, jangan terlalu bangga disayang Dea.”

Kotak tua gelap gulita. Namun kuda melihat penghuni yang lain.

“Hei, apakah itu boneka Noni?” tanya kuda.

“Betul, boneka Noni tidak bisa bicara lagi. Batere nya habis!” gerutu Beruang Tua.

Kotak tua kembali sunyi, hingga pagi datang. Gelak tawa Dea terdengar sayup sayup. Ia senang dengan boneka kelinci baru. Sementara itu, mainan lama di kotak tua dilupakan begitu saja.

Pada suatu hari, Dea tidak terdengar suaranya.

“Mengapa Dea tidak terdengar suaranya?” bisik Beruang Tua.

“Sebetulnya sudah 1 minggu sepi dari suara Dea…” gerutu Kuda. Boneka Noni menganggukan kepala, wajahnya khawatir.

Kuda pelan keluar dari kotak tua. Sunyi sepi….

Beruang Tua mengikuti dari belakang. Boneka Noni tidak mau kalah…

Mereka bertiga berjalan menuju kamar Dea.

Dea tertidur ditempat tidur. Wajahnya pucat.

“Banyak sekali obat yang harus diminum Dea.” Bisik Beruang Tua.

“Berarti, dia sakit sekali…”kata Kuda. Boneka Noni wajahnya nampak sedih.

“Ayo Noni, kita kembali ke kotak…” ajak Beruang Tua. Noni menggelengkan kepala. Kuda menarik tangan Noni, namun Noni berpegang pada kaki tempat tidur. Tempat tidur bergoyang keras, dan Dea terbangun.

“Hei, mainan lama ku…” Dea takjub melihat 3 mainan tuanya di pinggir tempat tidurnya. Mama masuk kamar, dan kaget melihat Dea bermain dengan mainan tua.

Dea minta batere untuk Noni. Beruang Tua dijahit kembali matanya. Kuda dilap dengan lap basah. Mereka bertiga nampak kinclong lagi!

“Mana boneka kelinci barumu, Dea?” tanya Boneka Noni.

“Boneka kelinci tidak mau main dengan aku, karena aku flu…” jawab Dea sedih.

Beruang & Kuda saling pandang. “Dea, kami akan selalu setia dengan kamu. Sehat ataupun sakit…” seru Beruang.

“Ooo… aku sayang sama mainan lama ku… Tetap disini, dan jangan kembali ke kotak tua ya?” jawab Dea. Ia kembali menaruh Boneka Noni, Beruang Tua dan Kuda dirak mainannya yang bersih dan tidak jauh dari tempat tidurnya.

Salam Dongeng
Kak Heru – 0852 5575 1971

Silakan follow akun media sosial dibawah ini :
IG : RumahDongeng
FB Fan Page : RumahDongengID
www.rumahdongeng.id

Dongeng Trauma Healing Untuk Siswa Korban BTS Roboh

Dongeng Trauma Healing di SDN 240 Baddo Baddo Mandai

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Maros kerjasama Rumah Dongeng (Puguh Herumawan) melaksanakan kegiatan dongeng Trauma Healing di SD Negeri 240 Baddo-Baddo Mandai, Rabu ( 21/08/2019).

Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Aisyiah, Nasyiatul Aisyiah dan Pemuda Muhammadiyah dengan menyiapkan paket snack dan hadiah berupa mainan dan boneka yang dibagikan ke siswa yang menjawab pertanyaan dan aktif dalam mengikuti dongeng, serta difasilitasi dan dipandu oleh Lory Hendrajaya Direktur Radio Maros FM.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Maros Idrus menyampaikan bahwa kegiatan ini sebagai upaya pemulihan kondisi psikologis siswa dengan mengajak penggiat dongeng untuk melakukan trauma healing dengan dongeng.

“Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya
membangun keceriaan siswa yang sempat beberapa hari tidak masuk sekolah pasca rubuhnya tower jaringan seluler yang menimpa bangunan sekolah dan melukai beberapa siswa yang juga membuat trauma seluruh siswa yang melihat peristiwa tersebut,” ujar Idrus.

“Selain dongeng akan dilakukan terapi psikologis bekerjasama dengan psikolog Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) Provinsi Sulawesi Selatan dan Kabupaten Maros bersama Psikolog Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi Sulawesi Selatan dan Kabupaten Maros yang akan dilaksanakan pada hari Jumat (23/08/2019)”, lanjut Idrus.

“Kami juga akan melaksanakan kegiatan Berbagi Kebahagiaan kerjasama Forum Anak Buttasalewanga Kabupaten Maros dengan membuat kegiatan lomba dan permainan yang akan membuat siswa dapat bergembira dan melupakan peristiwa kecelakaan tersebut serta berharap dukungan dari lembaga lainnya untuk terlibat dalam pemulihan kondisi lingkungan sekolah sehingga aktivitas belajar bisa kembali seperti semula,” tutupnya.

Kepala SDN 240 Baddo- Baddo Hj. Nurmiati menyambut baik kegiatan ini dan mengucapkan terima kasih, serta berharap kegiatan ini bisa membuat siswa bisa kembali ceria dan mengikuti pembelajaran tanpa ada perasaan takut.

Kondisi siswa yang masih di rawat di Rumah Sakit saat ini sudah membaik dan semoga cepat pulih dan bisa kembali masuk sekolah mengikuti pembelajaran, ujar Hj. Nurmiati.

Sementara itu Pendiri Rumah dongeng Makassar, Heru mengatakan, maksud dari kegiatan dongeng ini, untuk mengembalikan kembali rasa percaya diri siswa agar mereka kembali bersekolah.

“Maksud dan tujuan dongeng ini untuk mengembalikan kepercayaan diri anak anak agar mereka mau kembali bersekolah. Karena kami mendapat kabar, pasca robohnya menara tersebut, banyak siswa yang takut untuk pergi sekolah karena masih mengalami trauma berat. Untuk itu kami datang untuk memberikan motivasi memberikan trauma healing kepada anak-anak agar mereka kembali berani dan ceria seperti semula,” tutupnya.

 

*) dikutip dari KLA

Back to School 2019

Dongeng Back To School 2019

Jumat, 19 Juli 2019 ada 2 agenda dongeng di Makassar. Yang pertama pukul 08:00 di SDN Minasa Upa yang lokasinya tidak terlalu jauh dari rumahnya Bona. Saya berusaha hadir lebih cepat karena menurut pak Yoga, pukul 07:30 sudah bisa dimulai acaranya.

Seperti sekolah lainnya, di hari ke 5 pertama masuk sekolah, beberapa ortu masih juga sibuk menemani anak anak mereka masing masing. Seperti pagi ini di sekolah ini, ruang belajar untuk kelas 1 SD penuh dengan anak didik baru yang jumlahnya sekitar 80 anak. Mereka dibagi menjadi 3 rombongan belajar.

Kebanyakan ibu ibu masih setia berdiri di depan kelas. Menunggu anak mereka yang pagi sedang mendapatkan pengarahan di kelasnya. Sedangkan murid kelas lainnya nampak asyik bermain di halaman sekolahnya. Beberapa dari mereka juga nampak menyiapkan karpet plastik untuk alas duduk.
Halaman sekolah yang masih basah tak menyurutkan mereka untuk duduk mendengarkan dongeng bersama Kak Heru dan Bona.
———

Siswa dan siswi SDIT Insantama Makassar

Jadwal selanjutnya adalah menuju ke SDIT Insantama yang berlokasi di Jalan Perintis Kemerdekaan sampingnya Kantor Imigrasi Sulsel. Sekolah ini dikelola oleh rekan saya yang dulu pernah satu tim ketika pembentukan ICMI Muda. Namanya  Bahrul Ulum Ilham, sekarang dia berkiprah di dunia UMKM dan pelatihan wirausaha.

Sekolah ini untuk sementara berlokasi di deretan ruko yang lokasinya mudah dijangkau oleh kendaraan umum. Ruko berlantai 3 menjadi home base sekolah yang sudah berdiri sekitar 4 tahun lalu. Tak susah menemukan lokasi sekolah ini. Kalo nggak salah disampingnya ada sebuah pangkalan bus jurusan Makassar –  Palopo.

Pukul 09.15 saya tiba di sekolah ini. Ternyata murid murid sudah menunggu kedatangan saya semenjak pukul 08:30. Jarak antara SDN Minasa Upa menuju ke SDIT Insantama cukup jauh. Saya berinisiatif untuk menggunakan kendaraan roda dua punyanya Pak Nizar, staf Yatim Mandiri Makassar. Dengan roda dua, perjalanan lebih cepat dan anti macet. Rutenya melalui Moncongloe  yang bebas macet.

Aula sekolah berasa di lantai 3. Sekitar 70 murid sudah siap mendengarkan kisah tentang Idul Adha dengan mengambil sudut pandang dari Ismail, putra tercinta dari Nabi Ibrahim.
Keseruan cerita ini ketika saya berpura pura me jadi Iblis yang menganggu Nabi Ibrahim  ketika sedang membawa Ismail ke atas bukit untuk dikorbankan. Beberapa anak anak dengan penuh semangat berusaha melempar si Iblis dengan batu imaginasi mereka.

#sedekahdongeng
#rumahdongeng
#yatimmandiri
#storytelling
#dongengIslami

Datangnya Disambut Kabut dan Hujan.

Milad 25 tahun Yatim Mandiri Maros tahun ini berbeda dibandingkan dengan tahun tahun sebelumnya. Biasanya milad dilaksanakan di gedung yang letaknya di dalam kota dan mudah dijangkau.Namun di usianya yang ke 25, kegiatan milad dilaksanakan di sebuah pesantren yang berada di Desa Mangilu Kecamatan Bungoro Pangkep.

Letaknya sekitar 70 km dari Makassar atau sekitar 3 km dari kawasan pabrik Semen Tonasa 2.Pesantren Shela adalah nama dari pesantren yang dipimpin oleh Ustad Siradjang. Keberadaannya juga masih bisa dikatakan sangat muda dan baru. Beberapa dokter yang ikut sebagai tim medis bakti sosial ini baru tahu nama pesantren ini. Padahal mereka bertugas di Pangkep dalam kesehariannya.Bangunan pesantren masih dalam konstruksi, ada sebuah mushola sementara dan sebuah bangunan kelas yang dindingnya sangat artistik karena terbuat dari bambu dan kayu. Muridnya baru ada 60 siswa yang kebanyakan berasal dari desa sekitarnya.

Appang Bugis dan Kinder Huiz

Entah karena faktor kedekatan jarak yang mungkin menyebabkan kedua nama itu juga saling berdekatan satu dengan lainnya. Appang Bugis di seberang jalan, Kinder Huiz berada di depannya.

Appang Bugis adalah salah satu kue tradisional khas Bugis. Bahannya dibuat dari tepung yang dicampur dengan gula merah. Ada sebuah tradisi di kalangan Bugis Makassar, kalo hari Jumat jangan lupa makan appang. Manisnya gula merah akan membuat hidupmu nanti akan semanis rasa gula merah ini. Sedangkan Kinder Huiz adalah nama sebuah sekolah di Jalan Mappaodang Makassar. Kalo tidak salah “huiz” itu artinya rumah. Jadi Kinder Huiz bisa berarti “Rumah Anak Anak”.

Seharusnya hari ini ada 2 jadwal mendongeng. Yang pertama di TK Dharma Wanita Maros dan yang kedua di TK Kinder Huiz Makassar. Untuk mengefektifkan waktu karena hari ini adalah Hari Jumat, maka saya minta kepada Laznas Yatim Mandiri Maros pukul 08:00 pagi dimulai acara dongengnya.

Namun sejak subuh Makassar dan Maros diguyur hujan lebat. Bagaimana pun juga saya tetap harus ke lokasi di Maros. Menjelang tiba di Sudiang, notifikasi WA masuk dari Sri, staf YM Maros. Isinya kegiatan dongeng di Maros ditunda karena siswa yang datang hari ini sedikit. Dari 60 siswa, baru 10 orang saja yang datang. Hujan menjadi alasan ketidakhadiran siswanya.

Saya pun segera memutar stir.
Balik kanan menuju ke Makassar lagi.

Hi..hi…
Emang Sudiang bukan Makassar ya..?

Di lokasi kedua jadwal dimulai pukul 09:15. TK Kinderhuiz berada di jalan Mappaodang Makassar. Bagi yang sering ke jalan ini, ada sebuah warung yang menjual “Appang Bugis” yang sudah sangat terkenal enaknya. Biasanya kalo pagi sudah banyak pembeli yang antre di depan warungnya. Karena banyak yang antri, biasanya menjelang pukul 10, kue khas Bugis ini sudah habis.

Sekitar tahun 2011 saya mengenal TK Kinder Huiz ini. Dulunya berlokasi di samping rumah jabatan Kapolda Sulsel yang berada di jalan yang sama. Waktu itu saya diundang oleh Kak Awam Prakoso dan tim kampung dongeng untuk menyaksikan dongengnya. Saat ini lokasi sekolah berada tak jauh dari jalan Ratulangi Makassar.

Setelah bertemu dengan Ibu Nunu, sembari menunggu adik adik yang masih makan bekalnya, saya ngobrol ringan dengan beliau. Salah satu keinginannya adalah membangun sekolah dasar untuk para lulusan TK Kinder Huiz.

“Semua orang tua ingin anaknya tetap berada di lingkungan Kinder Huiz. Mereka berharap agar yayasan membangun sekolah dasar,” ungkap beliau.

Beberapa orang tua siswa sudah mengenal cara mendidik guru guru di sekolah ini. Sehingga mereka ingin anaknya terus bersekolah lanjut di tingkat sekolah dasar.

Suasana di dalam ruangan kelas nampak riuh. Beberapa dari mereka ternyata menunggu dongeng.

“Bahkan ada siswa yang sempat sempatin masuk sekolah karena mau dengar dongengnya Kak Heru,” papar bunda Nunu.

Dan ketika waktu mendongeng sudah tiba, keriuhan dan tingkah laku adik adik yang berusia 2 sampai 5 tahun pun semakin ramai.
Siswa yang duduk di kelas A dan B duduk dengan tertib di bagian belakang. Tetapi yang play grup dan kinder tak mau duduk lama. 2 dari mereka malah berdiri di depannya Kak Heru.

Salah satunya adalah Dzaky Prananda.
Lihatlah lirikannya..!
Kira kira apa yang menyebabkan dia melirik seperti itu ya?

Padahal 15 menit pertama, Dzaky tak mau duduk. Dia terus berdiri di depan. Walaupun begitu matanya tetap melekat ke arah Kak Heru.
Nampaknya dia serius.
Sesekali dia tertawa dan senang dengan dongeng Om Singa dan si Tikus. Bahkan ketika om Singa menyuruh si Tikus pergi, dengan patuhnya Dzaky ikutan pergi bersama si Tikus.

Dan tanpa terasa hampir 60 menit kebersamaan ini harus diakhiri.
Kehadiran Bona menjadi magnet bagi mereka.
Bona yang lucu dan menggemaskan..!

Hasil sedekah dongeng di TK Kinder Huiz sebesar Rp. 2.090.000,- untuk selanjutnya disalurkan kepada Laznas Yatim Mandiri.

Sampai bertemu lagi di bulan Ramadhan ya…

#SedekahDongeng
#YatimMandiri
#RumahDongeng
#Storytelling

Petualangan Bersama Hujan di Segeri Pangkep

Hari Selasa, 12 Maret 2019 adalah hari pertama roadshow Sedekah Dongeng di Segeri Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan. Jarak sekitar 70 km harus kami tempuh sepanjang perjalanan dari Makassar ke Pangkep.
Hujan begitu derasnya ketika kami memasuki wilayah Kecamatan Segeri Pangkep.
Lokasi pertama adalah di MTS Negeri DDI Segeri Pangkep.
Derasnya hujan masih belum berhenti di tempat ini. Halaman sekolah yang biasanya dipakai untuk upacara tergenang oleh air. Pikir saya, nampaknya dongeng tidak bisa diluar ruangan.

Ruangan kecil di MTS DDI Segeri Pangkep yang masih beralas ubin biasa

Sambutan hangat dari Bapak Kepala Sekolah membuat suasana menjadi lebih akrab. Atas anjuran beliau, kegiatan dongeng dilaksanakan di sebuah aula kecil yang masih beralaskan lantai biasa.

Tuh lihat.., sampai sampai kak Heru harus buka sepatu di depan adik adik. Walau begitu kak Heru tetap ganteng khan..?

SMP Negeri 1 Segeri Pangkep

Selanjutnya tim Sedekah Dongeng bergerak ke SMP Negeri 1 Segeri. Cuaca masih belum bersahabat dengan kami. Hujan masih enggan untuk berhenti. Lapangan upacara basah dan tergenang air.

Pilihan tempat kegiatan akhirnya adalah di ruang kelas. Wakil Kepala SMP meminta kepada pengurus OSIS agar hanya perwakilan siswa saja yang mengikuti kegiatan dongeng ini.

Tak mengapa ruangan kelas hanya bisa ditempati oleh sekitar 50 anak yang merupakan perwakilan dari 200 murid lainnya.

Terima kasih untuk bunda AL Djibran Evi yang seharian ini bersedia meluangkan waktu dan sup ubinya untuk kami santap di sela hujan di Segeri.

SD Negeri 23 Takku Kecamatan Segeri Pangkep.

Roadshow di hari kedua Sedekah Dongeng di Segeri Pangkep hari ini berjalan tanpa ada hujan. Walaupun dini hari tadi sekolah ini sempat diguyur hujan, namun ketika dongeng berlangsung hujan sudah berhenti. Beberapa tempat di halaman sekolah masih tergenang air.
Kegiatan dongengpun tetap berlangsung di teras depan kelas.

Teras kelas yang berbentuk selasar panjang dipenuhi oleh 300 adik adik mulai dari kelas 1 sampai kelas 6. Beberapa guru yang hari ini tidak mengikuti pelatihan kelas inklusif juga ikut dalam barisan dongeng muridnya.

Ternyata selasar yang sempit tak mampu menampung barisan dongeng yang ada. Beberapa murid terpaksa harus memanjat pohon agar bisa menyaksikan dongeng seru hari ini. Walaupun berdesak desakan, namun tidak terjadi keributan di antara mereka.

SDN 34 Citta Segeri Pangkep

Sedari pagi, Makassar diguyur hujan yang cukup lebat. Dan seperti sudah menjadi pasangan peristiwa bila hujan pasti macet.
Kemacetan panjang Kamis pagi ini dimulai dari pertigaan jalan Borong dan Antang. Sampai di perempatan jalan masuk Bukit Baruga, kemacetan masih terjadi. Salah satu ruas jalan inspeksi PAM ditutup karena ada pesta pernikahan.

“Kayaknya hujan pindah ke Maret ya..”, ungkap saya kepada penumpang cantik yang duduk disampingku.

“Iya…,” jawabannya singkat sembari terus memainkan ipad mininya.

Agenda dongeng pagi ini masih menuju ke Segeri Pangkep. Ini adalah hari ketiga roadshow ke kabupaten penghasil ikan bolu dan jeruk Pangkep. Semestinya pukul 09:00 sudah harus tiba di Segeri, namun pagi ini pukul 07:30 masih berkutat macet di jalan Leimina Antang.

Hujan mulai berhenti ketika tiba di Maros untuk menjemput Ibu Ani dan Jene, staf Yatim Mandiri Maros yang pagi ini bertugas mendampingi saya ke Pangkep. Bergegas mereka naik ke mobil karena waktu sudah menunjukkan pukul 08:40. Spanduk dan majalah bulanan Yatim Mandiri sudah disiapkan oleh mereka berdua.
Menyusuri jalanan ke arah Pangkep, cuaca mulai tak bersahabat. Gerimis kecil mulai menghadang perjalanan kami.

Saya mencoba menelpon Ibu AL Djibran Evi yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan kami di Segeri.

“Hujan qi di Segeri?,” tanyaku dengan intonasi yang agak kuatir.
Memang harus kuatir karena lokasi pertama adalah SD 34 Citta yang biasanya tergenang air bila hujan.

“Masih gerimis kak,” jawab bunda Evi di ujung telepon. Agak lega saya mendengarnya.

Namun ketika kami tiba di Segeri, hujan malah semakin deras. Dengan payung pinjaman, bunda Evi susah payah mengendong si kecil masuk ke dalam mobil kami.

“Gara gara lihat kakaknya foto dengan Bona, ini adiknya mau ikut dengar dongeng,” ujar bunda Evi ketika sudah duduk di dalam mobil. Naufal, si anak yang sulung kemarin berfoto bersama Bona di sekolahnya. Dan semalam adiknya rewel mau juga berfoto.
Pantesan saja hari ini dia ikut.

Perjalanan menuju ke SD 34 Citta masih ditemani oleh hantaman air hujan yang tak mau berhenti. Saya harus waspada karena banyak lubang di sepanjang jalan. Beberapa kali roda Mobil Bona alias Mona terantuk di lubang aspal yang tak terlihat karena genangan air menutupi lubang.

Dan setelah 20 menit berlalu, kami tiba di sekolah. Seperti biasanya, adik adik kecil sudah tak sabar menunggu kedatangan kami. Hari ini ruangan perpustakaan menjadi panggung dongeng. Sekitar 70 siswa duduk dengan rapi di dalam ruangan ini. Beberapa guru dan orang tua juga nampak bergabung dan bersempit ria di dalam ruangan yang berukuran 5 x 5 meter. Walau ini adalah perpustakaan sekolah, jangan ditanya jumlah koleksi buku bukunya.
Yang ada hanya rak buku yang masih kosong. Bahkan saya sempat mendorong rak buku ini agar adik adik dapat duduk dengan nyaman.

SMP Negeri 2 Segeri Pangkep

Dan lokasi terakhir kegiatan hari ini berlabuh di SMPN 2 Segeri Pangkep. Seperti anak SMP di sekolah sebelumnya, beberapa dari mereka masih merasa asing dan aneh kalau di usianya masih harus mendengar dongeng.

Love you Bona..!

Saya sih asyik asyik saja dengan kondisi ini. Karena di akhir kegiatan, wajah mereka nampak gembira dan sumringah setelah mengikuti alur dongeng yang saya sampaikan. Apalagi ketika mereka ketemu dengan si Bona.

Sekolah Kecil di Pangkep, Tempat Para To Barani

Tim Dongeng dan Pajokka Balocci berpose di depan sekolah

Ketika saya diundang oleh Amal, seorang lelaki muda yang berkecimpung di Komunitas Pajokka Balocci Pangkep, ingatan saya kembali ke sebuah cerita rakyat yang pernah dibawakan oleh Fara, salah satu murid sekolah dasar di Pangkep. Sekitar 2 tahun lalu Fara diutus oleh sekolahnya untuk mengikuti Lomba Bercerita Tingkat SD se Sulawesi Selatan mewakili Kabupaten Pangkep. Kala itu Fara membawakan sebuah cerita rakyat yang berjudul Asal Usul Kampung Jawwaya. Dalam cerita tersebut ada sebuah istilah yang mengelitik pikiran saya. Istilah itu adalah To Barani.

To Barani atau tobarani artinya adalah para pemberani yang terdiri dari kumpulan para pendekar di kerajaan Pangkep. Menurut Amal, yang tadi sempat bercerita sedikit kepada saya. Dahulu daerah ini merupakan tempat asal para pemberani (to-barani – tobarani) yang mempunyai kebiasaan minum arak (anginung ballo’), sabung ayam (assaung jangang / massaung manu), judi (abbotoro’). Kebiasaan ini adalah kebiasaan umum masyarakat pada masa itu. Tidak disebut seseorang itu pemberani jika tidak melakoni kebiasaan – kebiasaan tersebut diatas. Para pemberani di Balocci itu mendapatkan julukan “Koro – korona Balocci”, karena kebiasaan yang terkenalnya meminum “Ballo Kecci” dan memang ballo’ yang terkenal di Balocci pada masa itu adalah Ballo Kecci.

Begitulah asal usul nama Balocci.

Amal juga bercerita tentang sepak terjang komunitasnya yang saat ini sudah beranggotakan 48 orang. Komunitas Pajokka Balocci adalah komunitas traveling dan education. Nah, ketika mereka sedang traveling, mereka juga mengeksplore dan mengembangkan potensi wisata serta memberikan edukasi kepada masyarakat sekitar lokasi potensi wisata yang mereka kunjungi.

Kegiatan Dongeng Ceria ini sempat 2x ditunda pelaksanaannya karena berbagai kendala. Seharusnya tanggal 16 Februari 2019 dilaksanakan namun pada tanggal tersebut pihak sekolah memberitahukan ada gerak jalan dalam rangka ulang tahun Kabupaten Pangkep. Sedangkan yang kedua karena bertabrakan dengan jadwal Roadshow Disaster Risk Reduction di Palu. Dan akhirnya pada hari ini, 2 Maret 2019 bisa dilaksanakan.

Hari ini saya berangkat ke Balocci ditemani oleh 3 orang staf dari Yatim Mandiri Maros. Ada Sari yang baru saja menikah, ada Rahmi salah satu staf Fundraising dan Sri, staf keuangan yang kalo naik mobil biasanya tidur nyenyak. Perjalanan dimulai dari kantor Yatim Mandiri Maros sekitar pukul 08:15 WITA. Beberapa dus susu dan kaleng sosis sudah siap dipacking dan dinaikkan ke bagasi mobil merah yang setiap hari saya gunakan untuk operasional dongeng.

“Mobil ini namanya Mona, alias Mobilnya Bona,” ujarku ketika mereka bertiga sudah duduk di dalam mobil.

Rahmi hanya tertawa saja. Dari ketiga penumpang hari ini, hanya Rahmi yang paling suka tertawa. Sedangkan Sari sedang tidak enak badan.

“Sari lagi ngidam Kak,” jelas Sri yang duduk di sampingnya.

Wah, pengantin baru kayaknya lagi bahagia nih…!

Tak terasa perjalanan kami berempat sudah tiba di kawasan perumahan Tonasa 1 Pangkep. Sebuah gerbang selamat datang nampak masih terpampang dengan jelas di depan perumahan. Saya pun menepikan mobil karena harus menelpon Amal untuk minta dijemput. Lokasi sekolah katanya masih sekitar 5 km lagi.

Sembari menunggu tim penjemput, saya sempat melihat beberapa bangunan di perumahan Tonasa 1 sudah tak terurus lagi. Sebuah bangunan besar yang dulunya sebagai kantor pusat, kini nampak tak terurus dan dimakan rayap. Beberapa dindingnya sudah jebol. Demikian juga dengan atapnya yang sudah terlepas sengnya. Saya teringat sekitar tahun 1992 pernah menjalani training center selama hampir 2 minggu di gedung olah raga di Tonasa 1. Bangunan tersebut masih berdiri dengan kokoh dan nampak di bagian samping digunakan untuk toko serba ada.

Setelah menunggu selama kurang lebih 15 menit, akhirnya yang ditunggu pun sudah tiba. Dengan mengendarai sebuah motor berwarna hitam Putri salah satu anggota komunitas Pajokka Balocci menemui kami. Tanpa berbasa basi dan tak menunggu segeralah kami mengekor di belakangnya. Di sepanjang perjalanan kami disuguhi dengan pemandangan bukit kapur yang tinggi menjulang di kanan dan kiri jalan. Sesekali terdengar bunyi air sungai yang airnya jernih mengalir di sisi kiri jalan. Sengaja saya membuka jendela dan mematikan pendingin udara mobil supaya udara Balocci bisa masuk ke dalam mobil. Secara administratif, Kecamatan Balocci terbagi atas 4 Kelurahan, 1 Desa, 8 Lingkungan, 2 Dusun, 25 RW, dan 83 RT. Kelima Kelurahan/Desa tersebut adalah Kassi, Tonasa, Balocci Baru, Balleangin, dan Tompobulu.

Sebuah spanduk kecil nampak sudah dipasang di pintu gerbang sekolah. Terdengar riuh suara adik adik yang sudah duduk dengan rapi dibawah pohon mangga besar di belakang sekolah.

Aksi Bona yang selalu dirindukan adik adik

“Tadi mereka menunggu di halaman sekolah. Tapi karena panas matahari sudah menerpa halaman, maka saya pindahkan ke belakang sekolah,” kata Bunda Hj. Rosmini, kepala sekolah SDN 31 Senggerang yang nampaknya sudah tak sabar untuk memulai acara.

Segera beliau mengajak tim Sedekah Dongeng ke belakang sekolah. Dan benar, sekitar 90 murid sudah duduk tanpa alas kaki diatas karpet berwarna biru di bawah rindangnya pohon mangga yang tinggi menjulang. Melihat mereka duduk tanpa alas kaki, sayapun juga melepas sepatu dan mulai menyapa mereka sambil mengenalkan maksud dan tujuan kami datang.

Bunda Hj. Rosmini menyerahkan piagam kepada Kak Heru dan Bona

Tak butuh waktu lama bagi saya untuk bisa akrab dengan mereka. Teknik ice breaking sangat dibutuhkan dalam segala suasana. Apalagi untuk adik adik yang belum sama sekali mengenal saya dan tim Sedekah Dongeng dari Laznas Yatim Mandiri. Ibu guru dan bapak guru juga sekali tertawa melihat anak anak mereka cepat akrab dengan kami. Suasana semakin riuh ketika Bona, mulai keluar dari tas hitamnya. Celoteh nakal mulai keluar dari mulut Bona. Beberapa anak laki laki yang duduk di bagian depan nampak sampai tertawa berguling guling mendengar ocehan Bona.

Dan akhirnya kegiatan Dongeng Ceria hari ini diakhiri dengan pembagian susu dan sosis kaleng. Kakak kakak dari Yatim Mandiri dengan sabar mulai membagikan hadiah tersebut dibantu oleh Putri, Nisa, Haerul, Nasrul dan Rika dari Pajokka Balocci.

Bagi teman teman komunitas lain yang ingin mengenal komunitas Pajokka Balocci, silakan datang langsung ke markasnya di :

Jl.Bulusaraung Kampung Dujie Kelurahan Balleangin Kecamatan Balocci Kab.Pangkep

Dongeng di TPA Antang bersama Garuda Indonesia di

Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun ke-70 PT Garuda Indonesia Tbk yang jatuh pada 26 Januari 2019 mendatang, maskapai bintang lima ini menggelar bakti sosial berupa pemberian bingkisan berupa makanan dan paket ATK (buku, pulpen, meja belajar, dll) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang Makassar, 16 Januari 2019.

Selain pemberian seratusan bingkisan, manajemen Garuda Indonesia juga memberikan edukasi dan hiburan kepada ratusan anak pemulung di TPA tersebut. Beberapa diantaranya seperti Dongeng bersama Kak Heru, kemudian ada Batman dan Spiderman

Vice President Garuda Sulawesi, Kalimantan, dan Papua Region Garuda Indonesia, TB Irfan Farhan Fuadi mengatakan program ini adalah kegiatan rutin sebagai wujud berbakti dan berbagi kasih kepada masyarakat yang ada di TPA Antang dalam rangkaian menyambut HUT Garuda Indonesia yang ke-70 tahun.

Ruang Ekspresi: Panggung Para Seniman Sulsel 2018

Gadis kecil berbaju kuning bergegas turun dari kursi rodanya. Saya tak menyadari kehadirannya karena sedang asyik berbincang dengan Yaser, seorang teman yang suka baca puisi.

Tak lama berlalu si gadis kecil ini segera memeluk saya dengan eratnya. Seakan akan lama tak berjumpa dengan saya. Sang ibu yang sedang mendorong kursi roda hanya bisa tersenyum memandang putri kecilnya. Sayapun segera jongkok supaya bisa juga membalas pelukannya.

“Apa kabar? Sudah kelas berapa sekarang?”, tanyaku sembari mencoba mengingat ingat nama gadis ini.

Terus terang saya ini punya ingatan yang parah. Saya lupa nama gadis kecil ini. Bahkan ketika Yaser bertanya kepadanya, saya hanya bisa mendengar sayup sayup ucapannya. Memang dia sudah beberapa kali ikut mendengarkan dongeng ketika saya manggung di beberapa acara.

” Kelas 6 kak…, Bona mana?”, jawabnya sembari matanya melihat ke kiri dan ke kanan mencari Bona.

Pelukannya mulai lepas ketika dia melihat tasnya Bona. Si boneka tersebut memang sangat disukainya. Dan sepertinya anak anak lebih suka dengan Bona dibandingkan dengan saya. Hanya dengan melihat tas Si Bona, gadis kecil ini sudah merasa puas dan yakin nanti akan melihat langsung aksi Si Bona. Tak lama kemudian diapun berlalu dari hadapan saya setelah berfoto bersama.

Hari ini saya bertemu dengan banyak penggiat seni di Makassar. Kebanyakan dari mereka adalah para perupa. Bertempat di Baruga Laki Padada, hari ini Minggu 2 Desember berlangsung kegiatan Ruang Ekspresi 2018. Beberapa kegiatan antara lain video art, mural, live painting, live music, sharing discussion, temu komunitas dilaksanakan dalam kegiatan yang diinisiasi oleh Ibu Gubernur Sulawesi Selatan.

Ruang Ekspresi 2018 di Rujab Gubernur Sulsel

Dan sayapun juga diminta oleh pihak panitia pelaksana untuk mengisi dongeng dalam kegiatan Ruang Ekspresi ini. Pilihan dongeng dalam kegiatan ini adalah cerita rakyat Makassar yang berjudul Pung Julung Julung, kisah persahabatan antara ikan lumba lumba dengan I Barani. Ketika saya mulai tampil di panggung, nampak si gadis kecil tadi duduk paling depan dan selalu tersenyum bahkan tertawa ketika Bona mulai beraksi.

Duduk di depan panggung dan asyik dengar dongeng

Dan sampai malam ini setiba di rumah, saya masih belum ingat nama gadis kecil berbaju kuning tadi…!

Dengarkan Jesica Bicara : Dongeng Trauma Healing di Palu

Ketika Professor Husni Tanra meminta kesediaan saya untuk menjadi relawan AMDA, maka dengan senang hati saya menerima ajakan beliau.

AMDA adalah sebuah organisasi internasional yang didedikasikan untuk mewujudkan komunitas dunia yang damai melalui upaya kemanusiaan di sektor perawatan kesehatan medis. Didirikan di Okayama City, Jepang, pada tahun 1984.

AMDA adalah organisasi non-pemerintah, nirlaba dengan jaringan internasional dari 30 cabang dan 47 organisasi yang berkolaborasi di seluruh dunia.

AMDA telah bekerja di lebih dari 50 negara di Asia, Afrika, Amerika Latin dan Eropa bekerja sama dengan pemerintah, badan PBB, seperti UNHCR, WHO, WFP, UNOCHA, dan lembaga dan lembaga khusus lainnya.

Dan hari Minggu siang, 25 Nopember 2018 saya tiba di Palu. Setelah beristirahat sejenak di salah satu guest house yang tak jauh dari Bandar Udara Mutiara SIS Al-Jufrie, saya diajak oleh tim AMDA untuk makan siang di Rumah Makan Padaidi Palu. Sempat bertanya dalam hati, kok jauh jauh ke Palu tapi makannya di rumah makan punyanya orang Pangkep ya..?

Sempat saya melirik tak jauh dari rumah makan ini ada tempat makan khas orang Palu yaitu Kaledo Stereo. Maunya sih saya bisa makan Kaledo dulu. Tapi tak apalah karena pasti di lain waktu masih ada kesempatan untuk merasakan makanan khas Palu ini.

Aksi Dongeng Kak Heru di Sigi Sulawesi Tengah

Usai makan siang, kami beristirahat sejenak di salah satu lokasi pemancingan di Kabupaten Sigi. Jaraknya tak jauh dari dari Kota Palu. Dan sekitar pukul 16:00 WITA tim AMDA sudah berada di JonoOge Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah. Sore ini saya beraksi menghibur adik adik sekolah minggu di tempat ini.

Sebelum memulai kegiatan dongeng, saya sempat duduk di barisan anak anak yang sudah hadir di lokasi kegiatan. Saya melihat ada seorang gadis kecil yang duduk paling depan. Namanya Jesica, umurnya baru 6 tahun. Saya mencoba berbincang dengan si kecil pemberani ini sembari menunggu acara dimulai.

Kak Heru asyik ngobrol dengan Jesica

Di tangannya nampak sebuah kertas yang dilipat dengan rapinya. Saya mencoba mendekati gadis kecil ini dan bertanya kertas apa itu?

“Ini surat untuk ibu guru Krista,” jawabnya.

“Boleh Kak Heru lihat apa isinya?,” tanyaku. Tanpa ragu ragu dia meyerahkan kertas kecil berwarna putih.
Ada kalimat kalimat yang ditulis dengan guratan pensil.
Saya nggak terlalu hapal isinya, namun surat itu berisi ucapan terima kasih kepada ibu guru Krista yang telah membuat Jesica menjadi anak pintar.

Ibu Krista adalah salah satu relawan pengajar di tempat ini. Dan besok pagi ibu Krista akan pergi meninggalkan Palu karena masa tugasnya sudah selesai. Dan besok pula surat itu akan diberikannya kepada ibu guru Krista.

Mengajak berbincang dan bercerita adalah salah satu metode yang baik dilakukan di lokasi bencana.
Dengarkan apa yang anak katakan. Lihat matanya agar dia tahu bahwa dia didengar oleh orang dewasa.

#traumahealing
#RumahDongeng
#Palubangkit
#sigibangkit
#DonggalaBangkit