Tag Archives: Dongeng Anak

Datangnya Disambut Kabut dan Hujan.

Milad 25 tahun Yatim Mandiri Maros tahun ini berbeda dibandingkan dengan tahun tahun sebelumnya. Biasanya milad dilaksanakan di gedung yang letaknya di dalam kota dan mudah dijangkau.Namun di usianya yang ke 25, kegiatan milad dilaksanakan di sebuah pesantren yang berada di Desa Mangilu Kecamatan Bungoro Pangkep.

Letaknya sekitar 70 km dari Makassar atau sekitar 3 km dari kawasan pabrik Semen Tonasa 2.Pesantren Shela adalah nama dari pesantren yang dipimpin oleh Ustad Siradjang. Keberadaannya juga masih bisa dikatakan sangat muda dan baru. Beberapa dokter yang ikut sebagai tim medis bakti sosial ini baru tahu nama pesantren ini. Padahal mereka bertugas di Pangkep dalam kesehariannya.Bangunan pesantren masih dalam konstruksi, ada sebuah mushola sementara dan sebuah bangunan kelas yang dindingnya sangat artistik karena terbuat dari bambu dan kayu. Muridnya baru ada 60 siswa yang kebanyakan berasal dari desa sekitarnya.

Appang Bugis dan Kinder Huiz

Entah karena faktor kedekatan jarak yang mungkin menyebabkan kedua nama itu juga saling berdekatan satu dengan lainnya. Appang Bugis di seberang jalan, Kinder Huiz berada di depannya.

Appang Bugis adalah salah satu kue tradisional khas Bugis. Bahannya dibuat dari tepung yang dicampur dengan gula merah. Ada sebuah tradisi di kalangan Bugis Makassar, kalo hari Jumat jangan lupa makan appang. Manisnya gula merah akan membuat hidupmu nanti akan semanis rasa gula merah ini. Sedangkan Kinder Huiz adalah nama sebuah sekolah di Jalan Mappaodang Makassar. Kalo tidak salah “huiz” itu artinya rumah. Jadi Kinder Huiz bisa berarti “Rumah Anak Anak”.

Seharusnya hari ini ada 2 jadwal mendongeng. Yang pertama di TK Dharma Wanita Maros dan yang kedua di TK Kinder Huiz Makassar. Untuk mengefektifkan waktu karena hari ini adalah Hari Jumat, maka saya minta kepada Laznas Yatim Mandiri Maros pukul 08:00 pagi dimulai acara dongengnya.

Namun sejak subuh Makassar dan Maros diguyur hujan lebat. Bagaimana pun juga saya tetap harus ke lokasi di Maros. Menjelang tiba di Sudiang, notifikasi WA masuk dari Sri, staf YM Maros. Isinya kegiatan dongeng di Maros ditunda karena siswa yang datang hari ini sedikit. Dari 60 siswa, baru 10 orang saja yang datang. Hujan menjadi alasan ketidakhadiran siswanya.

Saya pun segera memutar stir.
Balik kanan menuju ke Makassar lagi.

Hi..hi…
Emang Sudiang bukan Makassar ya..?

Di lokasi kedua jadwal dimulai pukul 09:15. TK Kinderhuiz berada di jalan Mappaodang Makassar. Bagi yang sering ke jalan ini, ada sebuah warung yang menjual “Appang Bugis” yang sudah sangat terkenal enaknya. Biasanya kalo pagi sudah banyak pembeli yang antre di depan warungnya. Karena banyak yang antri, biasanya menjelang pukul 10, kue khas Bugis ini sudah habis.

Sekitar tahun 2011 saya mengenal TK Kinder Huiz ini. Dulunya berlokasi di samping rumah jabatan Kapolda Sulsel yang berada di jalan yang sama. Waktu itu saya diundang oleh Kak Awam Prakoso dan tim kampung dongeng untuk menyaksikan dongengnya. Saat ini lokasi sekolah berada tak jauh dari jalan Ratulangi Makassar.

Setelah bertemu dengan Ibu Nunu, sembari menunggu adik adik yang masih makan bekalnya, saya ngobrol ringan dengan beliau. Salah satu keinginannya adalah membangun sekolah dasar untuk para lulusan TK Kinder Huiz.

“Semua orang tua ingin anaknya tetap berada di lingkungan Kinder Huiz. Mereka berharap agar yayasan membangun sekolah dasar,” ungkap beliau.

Beberapa orang tua siswa sudah mengenal cara mendidik guru guru di sekolah ini. Sehingga mereka ingin anaknya terus bersekolah lanjut di tingkat sekolah dasar.

Suasana di dalam ruangan kelas nampak riuh. Beberapa dari mereka ternyata menunggu dongeng.

“Bahkan ada siswa yang sempat sempatin masuk sekolah karena mau dengar dongengnya Kak Heru,” papar bunda Nunu.

Dan ketika waktu mendongeng sudah tiba, keriuhan dan tingkah laku adik adik yang berusia 2 sampai 5 tahun pun semakin ramai.
Siswa yang duduk di kelas A dan B duduk dengan tertib di bagian belakang. Tetapi yang play grup dan kinder tak mau duduk lama. 2 dari mereka malah berdiri di depannya Kak Heru.

Salah satunya adalah Dzaky Prananda.
Lihatlah lirikannya..!
Kira kira apa yang menyebabkan dia melirik seperti itu ya?

Padahal 15 menit pertama, Dzaky tak mau duduk. Dia terus berdiri di depan. Walaupun begitu matanya tetap melekat ke arah Kak Heru.
Nampaknya dia serius.
Sesekali dia tertawa dan senang dengan dongeng Om Singa dan si Tikus. Bahkan ketika om Singa menyuruh si Tikus pergi, dengan patuhnya Dzaky ikutan pergi bersama si Tikus.

Dan tanpa terasa hampir 60 menit kebersamaan ini harus diakhiri.
Kehadiran Bona menjadi magnet bagi mereka.
Bona yang lucu dan menggemaskan..!

Hasil sedekah dongeng di TK Kinder Huiz sebesar Rp. 2.090.000,- untuk selanjutnya disalurkan kepada Laznas Yatim Mandiri.

Sampai bertemu lagi di bulan Ramadhan ya…

#SedekahDongeng
#YatimMandiri
#RumahDongeng
#Storytelling

Petualangan Bersama Hujan di Segeri Pangkep

Hari Selasa, 12 Maret 2019 adalah hari pertama roadshow Sedekah Dongeng di Segeri Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan. Jarak sekitar 70 km harus kami tempuh sepanjang perjalanan dari Makassar ke Pangkep.
Hujan begitu derasnya ketika kami memasuki wilayah Kecamatan Segeri Pangkep.
Lokasi pertama adalah di MTS Negeri DDI Segeri Pangkep.
Derasnya hujan masih belum berhenti di tempat ini. Halaman sekolah yang biasanya dipakai untuk upacara tergenang oleh air. Pikir saya, nampaknya dongeng tidak bisa diluar ruangan.

Ruangan kecil di MTS DDI Segeri Pangkep yang masih beralas ubin biasa

Sambutan hangat dari Bapak Kepala Sekolah membuat suasana menjadi lebih akrab. Atas anjuran beliau, kegiatan dongeng dilaksanakan di sebuah aula kecil yang masih beralaskan lantai biasa.

Tuh lihat.., sampai sampai kak Heru harus buka sepatu di depan adik adik. Walau begitu kak Heru tetap ganteng khan..?

SMP Negeri 1 Segeri Pangkep

Selanjutnya tim Sedekah Dongeng bergerak ke SMP Negeri 1 Segeri. Cuaca masih belum bersahabat dengan kami. Hujan masih enggan untuk berhenti. Lapangan upacara basah dan tergenang air.

Pilihan tempat kegiatan akhirnya adalah di ruang kelas. Wakil Kepala SMP meminta kepada pengurus OSIS agar hanya perwakilan siswa saja yang mengikuti kegiatan dongeng ini.

Tak mengapa ruangan kelas hanya bisa ditempati oleh sekitar 50 anak yang merupakan perwakilan dari 200 murid lainnya.

Terima kasih untuk bunda AL Djibran Evi yang seharian ini bersedia meluangkan waktu dan sup ubinya untuk kami santap di sela hujan di Segeri.

SD Negeri 23 Takku Kecamatan Segeri Pangkep.

Roadshow di hari kedua Sedekah Dongeng di Segeri Pangkep hari ini berjalan tanpa ada hujan. Walaupun dini hari tadi sekolah ini sempat diguyur hujan, namun ketika dongeng berlangsung hujan sudah berhenti. Beberapa tempat di halaman sekolah masih tergenang air.
Kegiatan dongengpun tetap berlangsung di teras depan kelas.

Teras kelas yang berbentuk selasar panjang dipenuhi oleh 300 adik adik mulai dari kelas 1 sampai kelas 6. Beberapa guru yang hari ini tidak mengikuti pelatihan kelas inklusif juga ikut dalam barisan dongeng muridnya.

Ternyata selasar yang sempit tak mampu menampung barisan dongeng yang ada. Beberapa murid terpaksa harus memanjat pohon agar bisa menyaksikan dongeng seru hari ini. Walaupun berdesak desakan, namun tidak terjadi keributan di antara mereka.

SDN 34 Citta Segeri Pangkep

Sedari pagi, Makassar diguyur hujan yang cukup lebat. Dan seperti sudah menjadi pasangan peristiwa bila hujan pasti macet.
Kemacetan panjang Kamis pagi ini dimulai dari pertigaan jalan Borong dan Antang. Sampai di perempatan jalan masuk Bukit Baruga, kemacetan masih terjadi. Salah satu ruas jalan inspeksi PAM ditutup karena ada pesta pernikahan.

“Kayaknya hujan pindah ke Maret ya..”, ungkap saya kepada penumpang cantik yang duduk disampingku.

“Iya…,” jawabannya singkat sembari terus memainkan ipad mininya.

Agenda dongeng pagi ini masih menuju ke Segeri Pangkep. Ini adalah hari ketiga roadshow ke kabupaten penghasil ikan bolu dan jeruk Pangkep. Semestinya pukul 09:00 sudah harus tiba di Segeri, namun pagi ini pukul 07:30 masih berkutat macet di jalan Leimina Antang.

Hujan mulai berhenti ketika tiba di Maros untuk menjemput Ibu Ani dan Jene, staf Yatim Mandiri Maros yang pagi ini bertugas mendampingi saya ke Pangkep. Bergegas mereka naik ke mobil karena waktu sudah menunjukkan pukul 08:40. Spanduk dan majalah bulanan Yatim Mandiri sudah disiapkan oleh mereka berdua.
Menyusuri jalanan ke arah Pangkep, cuaca mulai tak bersahabat. Gerimis kecil mulai menghadang perjalanan kami.

Saya mencoba menelpon Ibu AL Djibran Evi yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan kami di Segeri.

“Hujan qi di Segeri?,” tanyaku dengan intonasi yang agak kuatir.
Memang harus kuatir karena lokasi pertama adalah SD 34 Citta yang biasanya tergenang air bila hujan.

“Masih gerimis kak,” jawab bunda Evi di ujung telepon. Agak lega saya mendengarnya.

Namun ketika kami tiba di Segeri, hujan malah semakin deras. Dengan payung pinjaman, bunda Evi susah payah mengendong si kecil masuk ke dalam mobil kami.

“Gara gara lihat kakaknya foto dengan Bona, ini adiknya mau ikut dengar dongeng,” ujar bunda Evi ketika sudah duduk di dalam mobil. Naufal, si anak yang sulung kemarin berfoto bersama Bona di sekolahnya. Dan semalam adiknya rewel mau juga berfoto.
Pantesan saja hari ini dia ikut.

Perjalanan menuju ke SD 34 Citta masih ditemani oleh hantaman air hujan yang tak mau berhenti. Saya harus waspada karena banyak lubang di sepanjang jalan. Beberapa kali roda Mobil Bona alias Mona terantuk di lubang aspal yang tak terlihat karena genangan air menutupi lubang.

Dan setelah 20 menit berlalu, kami tiba di sekolah. Seperti biasanya, adik adik kecil sudah tak sabar menunggu kedatangan kami. Hari ini ruangan perpustakaan menjadi panggung dongeng. Sekitar 70 siswa duduk dengan rapi di dalam ruangan ini. Beberapa guru dan orang tua juga nampak bergabung dan bersempit ria di dalam ruangan yang berukuran 5 x 5 meter. Walau ini adalah perpustakaan sekolah, jangan ditanya jumlah koleksi buku bukunya.
Yang ada hanya rak buku yang masih kosong. Bahkan saya sempat mendorong rak buku ini agar adik adik dapat duduk dengan nyaman.

SMP Negeri 2 Segeri Pangkep

Dan lokasi terakhir kegiatan hari ini berlabuh di SMPN 2 Segeri Pangkep. Seperti anak SMP di sekolah sebelumnya, beberapa dari mereka masih merasa asing dan aneh kalau di usianya masih harus mendengar dongeng.

Love you Bona..!

Saya sih asyik asyik saja dengan kondisi ini. Karena di akhir kegiatan, wajah mereka nampak gembira dan sumringah setelah mengikuti alur dongeng yang saya sampaikan. Apalagi ketika mereka ketemu dengan si Bona.

Sekolah Kecil di Pangkep, Tempat Para To Barani

Tim Dongeng dan Pajokka Balocci berpose di depan sekolah

Ketika saya diundang oleh Amal, seorang lelaki muda yang berkecimpung di Komunitas Pajokka Balocci Pangkep, ingatan saya kembali ke sebuah cerita rakyat yang pernah dibawakan oleh Fara, salah satu murid sekolah dasar di Pangkep. Sekitar 2 tahun lalu Fara diutus oleh sekolahnya untuk mengikuti Lomba Bercerita Tingkat SD se Sulawesi Selatan mewakili Kabupaten Pangkep. Kala itu Fara membawakan sebuah cerita rakyat yang berjudul Asal Usul Kampung Jawwaya. Dalam cerita tersebut ada sebuah istilah yang mengelitik pikiran saya. Istilah itu adalah To Barani.

To Barani atau tobarani artinya adalah para pemberani yang terdiri dari kumpulan para pendekar di kerajaan Pangkep. Menurut Amal, yang tadi sempat bercerita sedikit kepada saya. Dahulu daerah ini merupakan tempat asal para pemberani (to-barani – tobarani) yang mempunyai kebiasaan minum arak (anginung ballo’), sabung ayam (assaung jangang / massaung manu), judi (abbotoro’). Kebiasaan ini adalah kebiasaan umum masyarakat pada masa itu. Tidak disebut seseorang itu pemberani jika tidak melakoni kebiasaan – kebiasaan tersebut diatas. Para pemberani di Balocci itu mendapatkan julukan “Koro – korona Balocci”, karena kebiasaan yang terkenalnya meminum “Ballo Kecci” dan memang ballo’ yang terkenal di Balocci pada masa itu adalah Ballo Kecci.

Begitulah asal usul nama Balocci.

Amal juga bercerita tentang sepak terjang komunitasnya yang saat ini sudah beranggotakan 48 orang. Komunitas Pajokka Balocci adalah komunitas traveling dan education. Nah, ketika mereka sedang traveling, mereka juga mengeksplore dan mengembangkan potensi wisata serta memberikan edukasi kepada masyarakat sekitar lokasi potensi wisata yang mereka kunjungi.

Kegiatan Dongeng Ceria ini sempat 2x ditunda pelaksanaannya karena berbagai kendala. Seharusnya tanggal 16 Februari 2019 dilaksanakan namun pada tanggal tersebut pihak sekolah memberitahukan ada gerak jalan dalam rangka ulang tahun Kabupaten Pangkep. Sedangkan yang kedua karena bertabrakan dengan jadwal Roadshow Disaster Risk Reduction di Palu. Dan akhirnya pada hari ini, 2 Maret 2019 bisa dilaksanakan.

Hari ini saya berangkat ke Balocci ditemani oleh 3 orang staf dari Yatim Mandiri Maros. Ada Sari yang baru saja menikah, ada Rahmi salah satu staf Fundraising dan Sri, staf keuangan yang kalo naik mobil biasanya tidur nyenyak. Perjalanan dimulai dari kantor Yatim Mandiri Maros sekitar pukul 08:15 WITA. Beberapa dus susu dan kaleng sosis sudah siap dipacking dan dinaikkan ke bagasi mobil merah yang setiap hari saya gunakan untuk operasional dongeng.

“Mobil ini namanya Mona, alias Mobilnya Bona,” ujarku ketika mereka bertiga sudah duduk di dalam mobil.

Rahmi hanya tertawa saja. Dari ketiga penumpang hari ini, hanya Rahmi yang paling suka tertawa. Sedangkan Sari sedang tidak enak badan.

“Sari lagi ngidam Kak,” jelas Sri yang duduk di sampingnya.

Wah, pengantin baru kayaknya lagi bahagia nih…!

Tak terasa perjalanan kami berempat sudah tiba di kawasan perumahan Tonasa 1 Pangkep. Sebuah gerbang selamat datang nampak masih terpampang dengan jelas di depan perumahan. Saya pun menepikan mobil karena harus menelpon Amal untuk minta dijemput. Lokasi sekolah katanya masih sekitar 5 km lagi.

Sembari menunggu tim penjemput, saya sempat melihat beberapa bangunan di perumahan Tonasa 1 sudah tak terurus lagi. Sebuah bangunan besar yang dulunya sebagai kantor pusat, kini nampak tak terurus dan dimakan rayap. Beberapa dindingnya sudah jebol. Demikian juga dengan atapnya yang sudah terlepas sengnya. Saya teringat sekitar tahun 1992 pernah menjalani training center selama hampir 2 minggu di gedung olah raga di Tonasa 1. Bangunan tersebut masih berdiri dengan kokoh dan nampak di bagian samping digunakan untuk toko serba ada.

Setelah menunggu selama kurang lebih 15 menit, akhirnya yang ditunggu pun sudah tiba. Dengan mengendarai sebuah motor berwarna hitam Putri salah satu anggota komunitas Pajokka Balocci menemui kami. Tanpa berbasa basi dan tak menunggu segeralah kami mengekor di belakangnya. Di sepanjang perjalanan kami disuguhi dengan pemandangan bukit kapur yang tinggi menjulang di kanan dan kiri jalan. Sesekali terdengar bunyi air sungai yang airnya jernih mengalir di sisi kiri jalan. Sengaja saya membuka jendela dan mematikan pendingin udara mobil supaya udara Balocci bisa masuk ke dalam mobil. Secara administratif, Kecamatan Balocci terbagi atas 4 Kelurahan, 1 Desa, 8 Lingkungan, 2 Dusun, 25 RW, dan 83 RT. Kelima Kelurahan/Desa tersebut adalah Kassi, Tonasa, Balocci Baru, Balleangin, dan Tompobulu.

Sebuah spanduk kecil nampak sudah dipasang di pintu gerbang sekolah. Terdengar riuh suara adik adik yang sudah duduk dengan rapi dibawah pohon mangga besar di belakang sekolah.

Aksi Bona yang selalu dirindukan adik adik

“Tadi mereka menunggu di halaman sekolah. Tapi karena panas matahari sudah menerpa halaman, maka saya pindahkan ke belakang sekolah,” kata Bunda Hj. Rosmini, kepala sekolah SDN 31 Senggerang yang nampaknya sudah tak sabar untuk memulai acara.

Segera beliau mengajak tim Sedekah Dongeng ke belakang sekolah. Dan benar, sekitar 90 murid sudah duduk tanpa alas kaki diatas karpet berwarna biru di bawah rindangnya pohon mangga yang tinggi menjulang. Melihat mereka duduk tanpa alas kaki, sayapun juga melepas sepatu dan mulai menyapa mereka sambil mengenalkan maksud dan tujuan kami datang.

Bunda Hj. Rosmini menyerahkan piagam kepada Kak Heru dan Bona

Tak butuh waktu lama bagi saya untuk bisa akrab dengan mereka. Teknik ice breaking sangat dibutuhkan dalam segala suasana. Apalagi untuk adik adik yang belum sama sekali mengenal saya dan tim Sedekah Dongeng dari Laznas Yatim Mandiri. Ibu guru dan bapak guru juga sekali tertawa melihat anak anak mereka cepat akrab dengan kami. Suasana semakin riuh ketika Bona, mulai keluar dari tas hitamnya. Celoteh nakal mulai keluar dari mulut Bona. Beberapa anak laki laki yang duduk di bagian depan nampak sampai tertawa berguling guling mendengar ocehan Bona.

Dan akhirnya kegiatan Dongeng Ceria hari ini diakhiri dengan pembagian susu dan sosis kaleng. Kakak kakak dari Yatim Mandiri dengan sabar mulai membagikan hadiah tersebut dibantu oleh Putri, Nisa, Haerul, Nasrul dan Rika dari Pajokka Balocci.

Bagi teman teman komunitas lain yang ingin mengenal komunitas Pajokka Balocci, silakan datang langsung ke markasnya di :

Jl.Bulusaraung Kampung Dujie Kelurahan Balleangin Kecamatan Balocci Kab.Pangkep

Dongeng di TPA Antang bersama Garuda Indonesia di

Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun ke-70 PT Garuda Indonesia Tbk yang jatuh pada 26 Januari 2019 mendatang, maskapai bintang lima ini menggelar bakti sosial berupa pemberian bingkisan berupa makanan dan paket ATK (buku, pulpen, meja belajar, dll) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang Makassar, 16 Januari 2019.

Selain pemberian seratusan bingkisan, manajemen Garuda Indonesia juga memberikan edukasi dan hiburan kepada ratusan anak pemulung di TPA tersebut. Beberapa diantaranya seperti Dongeng bersama Kak Heru, kemudian ada Batman dan Spiderman

Vice President Garuda Sulawesi, Kalimantan, dan Papua Region Garuda Indonesia, TB Irfan Farhan Fuadi mengatakan program ini adalah kegiatan rutin sebagai wujud berbakti dan berbagi kasih kepada masyarakat yang ada di TPA Antang dalam rangkaian menyambut HUT Garuda Indonesia yang ke-70 tahun.

Ruang Ekspresi: Panggung Para Seniman Sulsel 2018

Gadis kecil berbaju kuning bergegas turun dari kursi rodanya. Saya tak menyadari kehadirannya karena sedang asyik berbincang dengan Yaser, seorang teman yang suka baca puisi.

Tak lama berlalu si gadis kecil ini segera memeluk saya dengan eratnya. Seakan akan lama tak berjumpa dengan saya. Sang ibu yang sedang mendorong kursi roda hanya bisa tersenyum memandang putri kecilnya. Sayapun segera jongkok supaya bisa juga membalas pelukannya.

“Apa kabar? Sudah kelas berapa sekarang?”, tanyaku sembari mencoba mengingat ingat nama gadis ini.

Terus terang saya ini punya ingatan yang parah. Saya lupa nama gadis kecil ini. Bahkan ketika Yaser bertanya kepadanya, saya hanya bisa mendengar sayup sayup ucapannya. Memang dia sudah beberapa kali ikut mendengarkan dongeng ketika saya manggung di beberapa acara.

” Kelas 6 kak…, Bona mana?”, jawabnya sembari matanya melihat ke kiri dan ke kanan mencari Bona.

Pelukannya mulai lepas ketika dia melihat tasnya Bona. Si boneka tersebut memang sangat disukainya. Dan sepertinya anak anak lebih suka dengan Bona dibandingkan dengan saya. Hanya dengan melihat tas Si Bona, gadis kecil ini sudah merasa puas dan yakin nanti akan melihat langsung aksi Si Bona. Tak lama kemudian diapun berlalu dari hadapan saya setelah berfoto bersama.

Hari ini saya bertemu dengan banyak penggiat seni di Makassar. Kebanyakan dari mereka adalah para perupa. Bertempat di Baruga Laki Padada, hari ini Minggu 2 Desember berlangsung kegiatan Ruang Ekspresi 2018. Beberapa kegiatan antara lain video art, mural, live painting, live music, sharing discussion, temu komunitas dilaksanakan dalam kegiatan yang diinisiasi oleh Ibu Gubernur Sulawesi Selatan.

Ruang Ekspresi 2018 di Rujab Gubernur Sulsel

Dan sayapun juga diminta oleh pihak panitia pelaksana untuk mengisi dongeng dalam kegiatan Ruang Ekspresi ini. Pilihan dongeng dalam kegiatan ini adalah cerita rakyat Makassar yang berjudul Pung Julung Julung, kisah persahabatan antara ikan lumba lumba dengan I Barani. Ketika saya mulai tampil di panggung, nampak si gadis kecil tadi duduk paling depan dan selalu tersenyum bahkan tertawa ketika Bona mulai beraksi.

Duduk di depan panggung dan asyik dengar dongeng

Dan sampai malam ini setiba di rumah, saya masih belum ingat nama gadis kecil berbaju kuning tadi…!

Dengarkan Jesica Bicara : Dongeng Trauma Healing di Palu

Ketika Professor Husni Tanra meminta kesediaan saya untuk menjadi relawan AMDA, maka dengan senang hati saya menerima ajakan beliau.

AMDA adalah sebuah organisasi internasional yang didedikasikan untuk mewujudkan komunitas dunia yang damai melalui upaya kemanusiaan di sektor perawatan kesehatan medis. Didirikan di Okayama City, Jepang, pada tahun 1984.

AMDA adalah organisasi non-pemerintah, nirlaba dengan jaringan internasional dari 30 cabang dan 47 organisasi yang berkolaborasi di seluruh dunia.

AMDA telah bekerja di lebih dari 50 negara di Asia, Afrika, Amerika Latin dan Eropa bekerja sama dengan pemerintah, badan PBB, seperti UNHCR, WHO, WFP, UNOCHA, dan lembaga dan lembaga khusus lainnya.

Dan hari Minggu siang, 25 Nopember 2018 saya tiba di Palu. Setelah beristirahat sejenak di salah satu guest house yang tak jauh dari Bandar Udara Mutiara SIS Al-Jufrie, saya diajak oleh tim AMDA untuk makan siang di Rumah Makan Padaidi Palu. Sempat bertanya dalam hati, kok jauh jauh ke Palu tapi makannya di rumah makan punyanya orang Pangkep ya..?

Sempat saya melirik tak jauh dari rumah makan ini ada tempat makan khas orang Palu yaitu Kaledo Stereo. Maunya sih saya bisa makan Kaledo dulu. Tapi tak apalah karena pasti di lain waktu masih ada kesempatan untuk merasakan makanan khas Palu ini.

Aksi Dongeng Kak Heru di Sigi Sulawesi Tengah

Usai makan siang, kami beristirahat sejenak di salah satu lokasi pemancingan di Kabupaten Sigi. Jaraknya tak jauh dari dari Kota Palu. Dan sekitar pukul 16:00 WITA tim AMDA sudah berada di JonoOge Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah. Sore ini saya beraksi menghibur adik adik sekolah minggu di tempat ini.

Sebelum memulai kegiatan dongeng, saya sempat duduk di barisan anak anak yang sudah hadir di lokasi kegiatan. Saya melihat ada seorang gadis kecil yang duduk paling depan. Namanya Jesica, umurnya baru 6 tahun. Saya mencoba berbincang dengan si kecil pemberani ini sembari menunggu acara dimulai.

Kak Heru asyik ngobrol dengan Jesica

Di tangannya nampak sebuah kertas yang dilipat dengan rapinya. Saya mencoba mendekati gadis kecil ini dan bertanya kertas apa itu?

“Ini surat untuk ibu guru Krista,” jawabnya.

“Boleh Kak Heru lihat apa isinya?,” tanyaku. Tanpa ragu ragu dia meyerahkan kertas kecil berwarna putih.
Ada kalimat kalimat yang ditulis dengan guratan pensil.
Saya nggak terlalu hapal isinya, namun surat itu berisi ucapan terima kasih kepada ibu guru Krista yang telah membuat Jesica menjadi anak pintar.

Ibu Krista adalah salah satu relawan pengajar di tempat ini. Dan besok pagi ibu Krista akan pergi meninggalkan Palu karena masa tugasnya sudah selesai. Dan besok pula surat itu akan diberikannya kepada ibu guru Krista.

Mengajak berbincang dan bercerita adalah salah satu metode yang baik dilakukan di lokasi bencana.
Dengarkan apa yang anak katakan. Lihat matanya agar dia tahu bahwa dia didengar oleh orang dewasa.

#traumahealing
#RumahDongeng
#Palubangkit
#sigibangkit
#DonggalaBangkit

4 lokasi Dongeng dalam sehari

Sabtu ini, 24 Nopember 2018 agenda kegiatan dongeng sangat padat. Ada 4 titik yang harus saya kunjungi. Satu titik di Kabupaten Pangkep terpaksa saya batalkan karena faktor jarak dan waktu yang sangat mepet. Setelah saya perhitungan dengan seksama dengan melihat lokasi ke-4 titik tersebut, maka saya mulai mengatur satu persatu titik kunjungan mana yang harus pertama kali didatangi.

1. SDS Nasional Jln Ratulangi Makassar.

Kegiatan Sedekah Dongeng di SD Nasional Makassar

Sekitar tahun 1999 saya pernah menjadi pengajar komputer di SMP Nasional. Kala itu mengajar Lotus dan Wordstar. Bagi pengguna awal komputer, kedua program itu sangat familiar dan dikenal sebagai software pengolah data dan kata. Sistem operasinya juga masih menggunakan DOS versi 6.0.

Kegiatan Sedekah Dongeng di SD Nasional Makassar

Dan hari ini saya hadir kembali di sekolah ini dengan profesi sebagai pendongeng. Antusias anak anak disini luar biasa ketika mendengarkan dongeng. Usai mendongeng, saya dihampiri oleh Bapak Kepala yayasan yang sedari awal turut mendengarkan dongeng yang saya bawakan. Beliau dulu juga sering mendongeng untuk anak anak.
Dari hasil bincang bincang kecil, beliau mengajak saya untuk membuat sedekah dongeng secara rutin di sekolahnya.

2. TK Masita Jalan Muhajirin Malengkeri Makassar

Kegiatan Sedekah Dongeng di TK Masita Makassar

Lokasi kedua seharusnya bertempat di SAIK ( Sekolah Alam Insan Kamil) Gowa. Namun karena ada beberapa tamu undangan yang masih harus ditunggu, saya memutuskan untuk menunda dongeng di sekolah ini. Kepada panitia saya berjanji akan datang pukul 13:00 WITA.

Selanjutnya saya ditemani oleh Joharni menuju ke TK Masita di Jln. Muhajirin Malengkeri Makassar.
Ibu Een, Kepala sekolah TK Masita sekaligus ketua IGTKI Makassar secara khusus meminta Kak Heru untuk datang di acara Maulid Nabi Muhammad SAW.

Kegiatan Sedekah Dongeng di TK Masita Makassar

Acara ini turut juga dihadiri oleh orang tua terutama ibu ibu yang juga ikut mendengarkan dongeng Islami tentang masa kecil Muhammad ketika diasuh oleh Halimah, ibu susunya.

3. SD Inpres Maccini Sombala 1

Kegiatan Sedekah Dongeng di SD Inpres Maccini Sombala 1 Makassar

Setelah menyelesaikan misi dongeng di TK Masita, mbah Google Maps menyarankan kepada saya untuk bergerak ke lokasi 3 di SD Inpres Maccini Sombala di Jln. Abdul Kadir Makassar. Kalo tidak salah sekitar 4 tahun lalu saya biasa diundang oleh Ibu Neneng untuk mendongeng di sekolah ini. Semenjak ada pergantian kepala sekolah, saya sudah jarang ke sekolah ini. Beberapa murid masih mengenal wajah saya ketika saya masuk di ruangan guru.

Dan yang selalu ditanyakan oleh anak anak adalah “Kak, mana Bona?”.

Kegiatan Sedekah Dongeng di SD Inpres Maccini Sombala 1 Makassar

Donasi yang dikumpulkan dalam kegiatan sedekah dongeng ini berjumlah Rp. 2.127.000,- yang selanjutnya disalurkan kepada Laznas Yatim Mandiri .

4. Sekolah Alam Insan Kamil Gowa

Rasanya sangat pas ketika tepat pukul 11:00 ketika saya tiba di kantor Laznas Yatim Mandiri Makassar di Jalan Andi Tonro. Oleh oleh kue dan telur maulid hasil kegiatan dongeng di TK Masita kami nikmati bersama sama. Ada Linda ibu admin sekaligus keuangan yang nampaknya sudah lapar berat.

Ada juga Feby, salah satu mahasiswi UIN yang barusan pulang dari lokasi KKN di Malino Gowa. Kelihatannya Feby agak kurusan sedikit walau baru seminggu di lokasi KKN yang lokasinya diatas Malino. Wajar saja kalo siang ini Feby langsung makan songkolo plus serundeng sepiring penuh…

Setelah menikmati sedikit makan siang ala maulid, saya segera bergegas menuju lokasi ke-4 kegiatan Sedekah Dongeng di Sekolah Alam Insan Kamil di Gowa. Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya bahwa kegiatan di sekolah ini diundurkan waktunya ke pukul 13:00 WITA.

Kegiatan Sedekah Dongeng di Sekolah Alam Insan Kamil

Hari ini di halaman Sekolah Alam Insan Kamil sedang diadakan Open House dengan beragam lomba dan kegiatan. Ada lomba menggambar, mewarnai, futsal dan berbagai lomba lainnya dilaksanakan di lapangan sekolah. Beberapa sekolah yang berada di sekitar sekolah ini turut juga diundang untuk menyemarakkan acara Open House.

Kegiatan Sedekah Dongeng di Sekolah Alam Insan Kamil

Kegiatan Sedekah Dongeng sudah dua kali diadakan di tempat ini, dan hari ini dongengnya juga ditonton oleh para peserta lomba yang sudah selesai mengikuti kegiatan lomba. Tak ketinggalan orang tua juga turut mendengarkan dongeng sembari menemani anaknya yang sedang mengikuti kegiatan.

MenDongKel ke SD Negeri Jongaya

DongKel datang, DongKol-pun hilang…!

Mobil DongKel di SD Negeri Jongaya Makassar

Menjelang tengah malam, muncul notifikasi di WAG DongKel Kota Makassar. Seperti biasa, setiap akhir pekan selalu ada jadwal kunjungan mendongeng yang muncul di grup WAG Dongkel perpusling. Grup ini berisikan kumpulan para pendongeng di Kota Makassar yang bertugas bersama mobil layanan perpustakaan keliling dinas perpustakaan Kota Makassar. Ada sekitar 40 anggota di grup DongKel ini, kebanyakan adalah para pendongeng dari berbagai komunitas dongeng di Makassar. Selain itu ada juga para driver andalan dan pustakawan Makassar. Salah satu komunitas yang bergabung adalah komunitas Rumah Dongeng.

Jadwal DongKel untuk minggu keempat Bulan Oktober 2018

Tertera nama Kak Heru dan Kak Anty dalam jadwal kegiatan mendongeng yang sudah disusun selama seminggu kedepan. Tugas saya hari ini, Senin 29 Oktober 2018 adalah mendongeng di SD Negeri Jongaya Makassar. Setiap hari ada 3 titik lokasi yang dikunjungi oleh tim Layanan Perpustakaan Keliling Kota Makassar, dan 2 diantaranya diisi oleh masing masing satu orang pendongeng.

Aksi Kak Heru di SD Negeri Jongaya Makassar

Tak terlalu susah untuk menemukan lokasi SD Negeri Jongaya Makassar. Saya selalu mengandalkan Google Maps untuk membantu pencarian lokasi sekolah. Lokasinya berada di belakang Rumah Sakit Bhayangkara Makassar. Rumah sakit ini sudah sangat familiar bagi saya karena Safira Devi Amorita, putri semata wayang kami lahir di rumah sakit ini. Beberapa keluarga lain juga masih bekerja di tempat ini.

Tiba di sekolah ini waktu sudah menunjukkan pukul 09:30 WITA. Setelah menengok kiri dan kanan, sayapun segera menuju ke ruangan kepala sekolah. Sosok yang sangat kebapakan dan ramah nampak dari sambutan bapak Kepala Sekolah. Beliau bernama Abdul Madjid, orangnya sangat ramah kepada setiap tamu yang datang ke ruangannya. Bahkan ketika tamu tersebut adalah anak anak SMP yang datang untuk mengambil ijazah, pak Madjid melayaninya dengan ramah. Sayapun harus menunggu dengan sabar di ruangan yang berukuran 3×4 meter. Sebuah sofa berwarna coklat tua digunakan untuk menerima tamu sekolah. Sebuah komputer diletakkan di sisi kanan pintu masuk ruangan dan sedang dihandle oleh seorang operator komputer.

Pak Madjid ketika menerima siswa pengungsi dari UNHCR (dok : UNHCR.org)

Pak Madjid merasa sangat senang ketika saya menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan tim DongKel ke sekolahnya. Bahkan beliau sempat bercerita ketika dirinya masih duduk di sekolah dasar, mendengarkan dongeng adalah salah satu kegiatan yang paling disukainya.

“Saya pernah belajar dibawah kolong rumah ketika sekolah SD di Selayar”, ujar beliau ketika bercerita tentang masa kecilnya. Sebagai seorang pendongeng, tak ada salahnya untuk menyimak lanjutan cerita yang disampaikan olehnya. Termasuk ketika pak Madjid harus belajar menggunakan batu untuk alat menulis pelajaran.

“Batu hitam itu saya bawa ke sekolah untuk mencatat pelajaran. Kalo sudah penuh dengan catatan, mau tak mau harus dihapus lagi!”, ungkapnya dengan penuh semangat sembari matanya menerawang ke masa kecilnya. Tahun ini beliau sudah harus pensiun sebagai kepala sekolah. Baginya sudah cukup lama merasakan pahit dan manis sebagai guru dan kepala sekolahnya.

“Mau ja tinggal di rumah bersama cucuku saja kalo sudah pensiun…”, kata beliau. Pak Madjid saat ini mempunyai 2 orang cucu dari kedua putrinya yang sudah menikah. Salah satu putrinya sudah meninggal dunia karena sakit yang dideritanya. Namun beliau sangat ikhlas dengan kepergian putrinya.

Teras di depan kelas menjadi panggung dongeng keliling

Tak lama kami berbincang, mobil layanan perpustakaan keliling sudah tiba di halaman sekolah. Hari ini yang bertugas sebagai driver adalah Andarias dan ditemani oleh salah satu co-drivernya. Setelah mobil parkir di halaman sekolah, serentak anak anak berkumpul dan duduk rapi di teras depan kelas untuk mendengarkan dongeng. Sebelum memulai kegiatan, saya menyampaikan kepada anak anak bahwa buku buku yang ada di mobil boleh dibaca sepuasnya tapi tidak boleh dibawa pulang ke rumah.

Dongeng Keliling atau yang lebih dikenal dengan DongKel adalah salah satu program unggulan dari Dinas Perpustakaan Kota Makassar yang berkolaborasi dengan komunitas dongeng di Makassar. Rumah Dongeng (www.rumahdongeng.id) turut menjadi salah satu pionir dalam kolaborasi ini.

Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk lebih meningkatkan minat baca melalui dongeng yang dibawakan oleh para pendongeng keren di Makassar. Fokus kunjungan mobil DongKel adalah ke titik sekolah sekolah tingkat TK dan SD yang berada di Makassar.

Tertarik untuk dikunjungi oleh tim DongKel?

#ReadAloud
#DongkelWithMobileLibrary
#rumahdongeng
#storytelling

Rompi Baru Tim Sedekah Dongeng

Sedekah Dongeng bersama Laznas Yatim Mandiri

Wah… tim Sedekah Dongeng hari ini sudah memakai seragam baru dalam melaksanakan kegiatannya. Sebuah rompi berwarna hitam yang bertuliskan Sedekah Dongeng di bagian belakang serta logo Laznas Yatim Mandiri di bagian kanan depan dipakai untuk pertama kalinya di sekolah ini. Sabtu sebelumnya Kak Safira Devi Amorita yang berkunjung ke SD Inpres Malengkeri 2, maka hari Sabtu ini 27 Oktober 2018 giliran Kak Heru yang mendongeng di SD Inpres Malengkeri 1.

Dongeng di SD Inpres Malengkeri

Kedua sekolah ini berada di dalam satu kompleks di Jalan Muhajirin 2 Makassar. Kedua sekolah ini sepertinya sudah akrab dengan kegiatan dongeng. Ketika baru sampai di gerbang sekolah, beberapa siswa yang sedang kerja bakti serentak menyapa nama “Kak Heru”.

Ada sekitar 250 murid di SD Inpres Malengkeri 1 yang pagi ini melaksanakan kegiatan Sedekah Dongeng untuk Palu dan Donggala. Mereka secara sukarela mengumpulkan uang jajannya untuk didonasikan kepada para korban gempa dan tsunami di Palu dan Donggala.

RA UIN Alauddin Makassar

Sedekah Dongeng di RA UIN Alauddin Makassar

Setelah menyelesaikan sessi pertama di SD Inpres Malengkeri 1, bergegas saya hendak menjemput Safira yang hari ini juga sedang mendongeng di RA UIN Alauddin Makassar. Jarak menuju ke sekolah tersebut tidak terlalu jauh dan hanya membutuhkan waktu 15 menit.

Sedekah Dongeng bersama Yatim Mandiri

Namun ternyata ada titik kemacetan di jalan Alauddin tepatnya di depan kampus Unismuh Makassar. Saya berpikir ada demo mahasiswa di kampus tersebut. Perjalanan sedikit merayap di tengah kemacetan ini. Dan ternyata bukan demo yang menyebabkan kemacetan tetapi sebuah truk pengangkut pasir yang sedang mogok di tengah jalan.

Sessi foto bersama Kak Safira dan Kak Heru

Kata sabar memang harus mulai dipakai bila sedang berlalu lintas di jalan ini.
Tiba di RA UIN Alauddin, waktu sudah menunjukkan pukul 09:00. Jadwal dongeng di sekolah ini dimulai pukul 08:00. Ketika saya tiba, sayup sayup masih terdengar suara Safira yang masih asyik bernyanyi di depan adik adik kecil di TK UIN Alauddin.

Hasil donasi yang dikumpulkan hari ini total berjumlah Rp. 1.970.000,- yang selanjutnya disalurkan kepada Laznas Yatim Mandiri Makassar.

#SedekahDongeng
#RumahDongeng
#YatimMandiri