Tag Archives: Dongkel with Library

Jadwal Dongeng Keliling – Dongkel With Library

Dongeng Keliling With Library

Jadwal lokasi Dongkel with Mobile Library Inovasi Layanan Dinas Perpustakaan Makassar di bulan Ramadhan 1440 H – Minggu ini tanggal 13 -17 Mei 2019.(berdasarkan data titik kunjungan, surat resmi dan permintaan/ usulan melalui media sosial)

Hari Senin (13/05/19) Pukul : 09.00 – 11.30 Wita

  1. DP1 : Masjid H.M Asyik, Jl. AP. Pettarani No. 100 Buakana-Rappocini (Non Dongeng)
  2. DP2 : Panti Asuhan Rahmatullah Makassar, Jl. Nuri Baru, Jl. Manunggal 22 No. 25. A – Maccini Sombala Tamalate (Pendongeng Kak Andry Andryani Akib) – [T]
  3. DP3 : Panti Asuhan Mulia, Jl. Muhammadiyah No. 11 – Wajo (Pendongeng Bunda Sri Sri Suhesti) –

B. Hari Selasa (14/05/19) Pukul : 09.00 – 11.30

  1. DP1 : Masjid Nurul Majid Makassar, Jl. Gunung Merapi, Lajangiru – Makassar (Non Dongeng)
  2. DP2 : Panti Asuhan Al-Abrar, Jl. Monumen Emmy Saelan No. 44-C Gunung Sari – Tamalate (Pendongeng Kak Yaya Cahaya) – [T]
  3. DP3 : Panti Asuhan Guppi Tk. I Sul-Sel, Jl. Korban 40.000 jiwa selatan No. 24 (Pendongeng Kak Manggazali Anak Makassar) – [T]

C. Hari Rabu (15/05/19) Pukul : 09.00 – 11.30

  1. DP1 : Masjid Nurul Ilmi Makassar, Jl. Raya Pendidikan No. 2 Gunung Sari – Mamajang (Non Dongeng)
  2. DP2 : Panti Asuhan Bahagia, Jl. Inspeksi PAM No. 48 Batua – Panakkukang (Pendongeng Kak Muliadi AbdMunir Hustim) – [T]
  3. DP3 : Panti Asuhan Jabal Rahmah, Jl. Letjend Hertasning No. 46 Kassi-Kassi – Rappocini (Pendongeng Kak Heru Puguh Herumawan) – [T]

D. Hari Kamis (16/05/19) Pukul : 09.00 – 11.30

  1. DP1 : Masjid Darul Falah, Kompleks Minasa Upa, Jl. Aroeppala, Gunung Sari – Rappocini (Non Dongeng)
  2. DP2 : Panti Asuhan Nahdiyat, Jl. Anyang No. 138 Maricaya Selatan – Mamajang (Pendongeng Kak Madia Gaddafi)
  3. DP3 : Panti Asuhan Titipan Kasih, Jl. A. Mangerangi III No. 90 Bongaya – Tamalate (Pendongeng Kak Nisa Chairunnisa Latief)

E. Hari Jum’at (17/05/19) Pukul : 10.00 – 12.00

  1. DP1 : Masjid Agung 45, Jl. Urip Sumoharjo Km. 4 Makassar (Non Dongeng)
  2. DP2 : Masjid Raya Makassar, Jl. Masjid Raya Makassar – Bontoala (Non Dongeng)
  3. DP3 : Masjid Al-Markaz Al-Islami, Jl. Masjid Raya No. 57 Makassar-Bontoala (Non Dongeng).

Demikian jadwal dan lokasi ini disampaikan agar teman-teman tim Dongkel with Mobile Library khususnya pendongeng lebih prepare ke lokasi masing masing. Jika terjadi permasalahan teknis pada armada Perpusling akan disampaikan kemudian oleh Bidang Layanan yang menangani atau WA group Dongkel.

Seluruh layanan Dongkel Perpusling ini tidak dipungut biaya (Gratis). Seluruh pendongeng wajib memakai atribut/ Rompi Dongkel dan mematuhi kode etik serta SOP layanan.

Saran/ Kritik/ Keluhan/ Komentar penerima layanan dapat disampaikan di akun Facebook Dongkel Perpusling atau hubungi kami di nomor WhatsApp (WA) : 0852 4243 7564

Bagi masyarakat atau kelompok komunitas yang ingin memberikan bantuan di Panti Asuhan dapat bergabung langsung di lokasi titik layanan Dongkel Ramadhan dengan terlebih dahulu menyampaikan kesediaannya ingin bergabung kepada tim Dongkel Perpusling Dinas Perpustakaan Kota Makassar.

Pemesanan Dongkel hanya berlaku di wilayah Kota Makassar.

Dinas Perpustakaan Kota Makassar selalu ingin lebih dekat dan bersahabat

MenDongKel ke SD Negeri Jongaya

DongKel datang, DongKol-pun hilang…!

Mobil DongKel di SD Negeri Jongaya Makassar

Menjelang tengah malam, muncul notifikasi di WAG DongKel Kota Makassar. Seperti biasa, setiap akhir pekan selalu ada jadwal kunjungan mendongeng yang muncul di grup WAG Dongkel perpusling. Grup ini berisikan kumpulan para pendongeng di Kota Makassar yang bertugas bersama mobil layanan perpustakaan keliling dinas perpustakaan Kota Makassar. Ada sekitar 40 anggota di grup DongKel ini, kebanyakan adalah para pendongeng dari berbagai komunitas dongeng di Makassar. Selain itu ada juga para driver andalan dan pustakawan Makassar. Salah satu komunitas yang bergabung adalah komunitas Rumah Dongeng.

Jadwal DongKel untuk minggu keempat Bulan Oktober 2018

Tertera nama Kak Heru dan Kak Anty dalam jadwal kegiatan mendongeng yang sudah disusun selama seminggu kedepan. Tugas saya hari ini, Senin 29 Oktober 2018 adalah mendongeng di SD Negeri Jongaya Makassar. Setiap hari ada 3 titik lokasi yang dikunjungi oleh tim Layanan Perpustakaan Keliling Kota Makassar, dan 2 diantaranya diisi oleh masing masing satu orang pendongeng.

Aksi Kak Heru di SD Negeri Jongaya Makassar

Tak terlalu susah untuk menemukan lokasi SD Negeri Jongaya Makassar. Saya selalu mengandalkan Google Maps untuk membantu pencarian lokasi sekolah. Lokasinya berada di belakang Rumah Sakit Bhayangkara Makassar. Rumah sakit ini sudah sangat familiar bagi saya karena Safira Devi Amorita, putri semata wayang kami lahir di rumah sakit ini. Beberapa keluarga lain juga masih bekerja di tempat ini.

Tiba di sekolah ini waktu sudah menunjukkan pukul 09:30 WITA. Setelah menengok kiri dan kanan, sayapun segera menuju ke ruangan kepala sekolah. Sosok yang sangat kebapakan dan ramah nampak dari sambutan bapak Kepala Sekolah. Beliau bernama Abdul Madjid, orangnya sangat ramah kepada setiap tamu yang datang ke ruangannya. Bahkan ketika tamu tersebut adalah anak anak SMP yang datang untuk mengambil ijazah, pak Madjid melayaninya dengan ramah. Sayapun harus menunggu dengan sabar di ruangan yang berukuran 3×4 meter. Sebuah sofa berwarna coklat tua digunakan untuk menerima tamu sekolah. Sebuah komputer diletakkan di sisi kanan pintu masuk ruangan dan sedang dihandle oleh seorang operator komputer.

Pak Madjid ketika menerima siswa pengungsi dari UNHCR (dok : UNHCR.org)

Pak Madjid merasa sangat senang ketika saya menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan tim DongKel ke sekolahnya. Bahkan beliau sempat bercerita ketika dirinya masih duduk di sekolah dasar, mendengarkan dongeng adalah salah satu kegiatan yang paling disukainya.

“Saya pernah belajar dibawah kolong rumah ketika sekolah SD di Selayar”, ujar beliau ketika bercerita tentang masa kecilnya. Sebagai seorang pendongeng, tak ada salahnya untuk menyimak lanjutan cerita yang disampaikan olehnya. Termasuk ketika pak Madjid harus belajar menggunakan batu untuk alat menulis pelajaran.

“Batu hitam itu saya bawa ke sekolah untuk mencatat pelajaran. Kalo sudah penuh dengan catatan, mau tak mau harus dihapus lagi!”, ungkapnya dengan penuh semangat sembari matanya menerawang ke masa kecilnya. Tahun ini beliau sudah harus pensiun sebagai kepala sekolah. Baginya sudah cukup lama merasakan pahit dan manis sebagai guru dan kepala sekolahnya.

“Mau ja tinggal di rumah bersama cucuku saja kalo sudah pensiun…”, kata beliau. Pak Madjid saat ini mempunyai 2 orang cucu dari kedua putrinya yang sudah menikah. Salah satu putrinya sudah meninggal dunia karena sakit yang dideritanya. Namun beliau sangat ikhlas dengan kepergian putrinya.

Teras di depan kelas menjadi panggung dongeng keliling

Tak lama kami berbincang, mobil layanan perpustakaan keliling sudah tiba di halaman sekolah. Hari ini yang bertugas sebagai driver adalah Andarias dan ditemani oleh salah satu co-drivernya. Setelah mobil parkir di halaman sekolah, serentak anak anak berkumpul dan duduk rapi di teras depan kelas untuk mendengarkan dongeng. Sebelum memulai kegiatan, saya menyampaikan kepada anak anak bahwa buku buku yang ada di mobil boleh dibaca sepuasnya tapi tidak boleh dibawa pulang ke rumah.

Dongeng Keliling atau yang lebih dikenal dengan DongKel adalah salah satu program unggulan dari Dinas Perpustakaan Kota Makassar yang berkolaborasi dengan komunitas dongeng di Makassar. Rumah Dongeng (www.rumahdongeng.id) turut menjadi salah satu pionir dalam kolaborasi ini.

Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk lebih meningkatkan minat baca melalui dongeng yang dibawakan oleh para pendongeng keren di Makassar. Fokus kunjungan mobil DongKel adalah ke titik sekolah sekolah tingkat TK dan SD yang berada di Makassar.

Tertarik untuk dikunjungi oleh tim DongKel?

#ReadAloud
#DongkelWithMobileLibrary
#rumahdongeng
#storytelling

Dongeng Keliling dalam Aksi Kolektif Hari Perempuan Internasional 2018

Banyak cara unik untuk memperingati sebuah perayaan, salah satunya dilakukan oleh salah satu NGO di Makassar dengan menggelar Aksi Kolektif. Kegiatan yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 24 Maret 2018 di Fort Rotterdam Makassar diinisiasi oleh Yayasan Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI) yang mengajak beberapa komunitas untuk mengelar kolaborasi kegiatan.

Komunitas tersebut antara lain Mampu BaKTI, Koalisi NGO Sulawesi Selatan, KPI Sulawesi Selatan, HIPJ2 FPMP Sulawesi Selatan, Saya Perempuan Anti Korupsi Sulsel, Institute Of Community Justice, HWDI Sulawesi Selatan, Dewi Keadilan, YAPMI Sulselbar, YKPM Sulsel, Sekolah Perempuan, Maupe Maros, PW Aisia Sulsel, Lemina, Lembaga Perlindungan Anak Sulawesi Selatan, Kitab Rumah Kita Bersama, QQ Recycle Art, Dongeng Keliling, Forum Jurnalis Sanitasi, Kita Bhinneka, Sekolah PRP Paraikatte, Forum Anak Maros, serta beberapa individu dan jurnalis,
menggelar aksi kolektif untuk memperingati hari perempuan internasional 2018. Aksi kolektif ini adalah salah satu cara perempuan dan pemerintah kota Makassar untuk bersinergi mendorong pengesahan RUU pengahapusan kekerasan seksual.

Panggung utama dibuat sangat sederhana dan terbuka tanpa tenda. Hanya ada backdrop berupa kegiatan aksi dan sofa sederhana diatas panggung di samping Chappel Fort Rotterdam. Tepat pada pukul 15:00 WITA, acara dimulai dengan pembukaan oleh Plt Kepala Disdik Makassar, Mukhtar Tahir.

“Ini salah satu tugas pemerintah di dalam hal mengamankan yang namanya kekerasan perempuan yang memang menjadi tupoksi dari kami selaku orang yang diamanahkan di dinas sosial, karena dinas sosial sebenarnya menyelesaikan 27 perkara, salah satunya adalah bagaimana kita memberikan keamanan bagi para perempuan, sehingga tidak mendapatkan perlakuan- perlakuan kekerasan khususnya perlakuan kekerasan seksual.” ujar Mukhtar yang mewakili Plt Walikota Makassar.

Yang paling seru adalah ketika semua komunitas diundang untuk naik ke atas panggung dan membaca deklarasi dukungan pengesahan RUU penghapusan kekerasan seksual bersama dengan peserta aksi kolektif yang berisi:

“Mendukung percepatan pengesahan rancangan undang-undang penghapusan kekerasan seksual, pada hari ini, Sabtu 24 Maret 2018, kami organisasi pemerhati peduli dan bekerja pada hak-hak perempuan dan anak yang terdiri dari program Mampu BaKTI, Koalisi NGO Sulawesi Selatan, KPI Sulawesi Selatan, HIPJ2 FPMP Sulawesi Selatan, Saya Perempuan Anti Korupsi Sulsel, Institute Of Community Justice, HWDI Sulawesi Selatan, Dewi Keadilan, YAPMI Sulselbar, YKPM Sulsel, Sekolah Perempuan, Maupe Maros, PW Aisia Sulsel, Lemina, Lembaga Perlindungan Anak Sulawesi Selatan, Kitab Rumah Kita Bersama, QQ Recycle Art, Dongeng Keliling, Forum Jurnalis Sanitasi, Kita Bhinneka, Sekolah PRP Paraikatte, Forum Anak Maros, dan individu perempuan, aktivis, akademis, jurnalis, menyatakan bahwa angka kekerasan terhadap terus meningkat setiap tahun, kekerasan seksual adalah kejahatan terhadap perempuan dan martabat kemanusiaan serta pelanggaran terhadap hak asasi manusia, negara tidak mempunyai instrumen untuk mencegah dan melidungi perempuan dari kekerasan seksual, negara dan pemerintah berkewajiban untuk mencegah dan melindungi perempuan dari kekerasan seksual, karena itu kami mendukung dan mendesak kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia untuk segera mengesahkan rancangan undang-undang penghapusan kekerasan seksual.”

Setelah pembacaan deklarasi, acara ini dilanjutkan dengan penampilan live music dari Ariel Matulessy dan talkshow yang dipandu oleh Luna Vidya serta diisi oleh narasumber yang berhubungan dengan penangan kasus kekerasan seksual, yaitu; Lusia Palulungan (Yayasan BaKTI), Meisy Papayungan (P2TP2A Sulsel), dan Andi Sri Wulandani (Masika Makassar) yang dipandu oleh Luna Vidya. Talkshow ini sendiri terlihat sangat diminati oleh diikuti para perempuan yang hadir, kebanyakan dari mereka adalah ibu ibu dan perempuan muda.

Di bagian lain, anak anak yang hadir juga nampak asyik mendengarkan dongeng yang dibawakan oleh Dongkel With Library Perpustakaan Kota Makassar. Tim Dongkel yang berasal dari 2 komunitas yaitu Rumah Dongeng ID dan Kampung Dongeng Mardati menampilkan para pendongeng perempuan yang siap mengedukasi anak anak melalui dongeng.

Simak videonya disini :

Tim Dongkel with Library

Dongeng Keliling dalam Aksi Kolektif Hari Perempuan Internasional 2018

Banyak cara unik untuk memperingati sebuah perayaan, salah satunya dilakukan oleh salah satu NGO di Makassar dengan menggelar Aksi Kolektif. Kegiatan yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 24 Maret 2018 di Fort Rotterdam Makassar diinisiasi oleh Yayasan Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI) yang mengajak beberapa komunitas untuk mengelar kolaborasi kegiatan. Komunitas tersebut antara lain Mampu BaKTI, Koalisi NGO Sulawesi Selatan, KPI Sulawesi Selatan, HIPJ2 FPMP Sulawesi Selatan, Saya Perempuan Anti Korupsi Sulsel, Institute Of Community Justice, HWDI Sulawesi Selatan, Dewi Keadilan, YAPMI Sulselbar, YKPM Sulsel, Sekolah Perempuan, Maupe Maros, PW Aisia Sulsel, Lemina, Lembaga Perlindungan Anak Sulawesi Selatan, Kitab Rumah Kita Bersama, QQ Recycle Art, Dongeng Keliling, Forum Jurnalis Sanitasi, Kita Bhinneka, Sekolah PRP Paraikatte, Forum Anak Maros, serta beberapa individu dan jurnalis,
menggelar aksi kolektif untuk memperingati hari perempuan internasional 2018. Aksi kolektif ini adalah salah satu cara perempuan dan pemerintah kota Makassar untuk bersinergi mendorong pengesahan RUU pengahapusan kekerasan seksual.

Panggung utama dibuat sangat sederhana dan terbuka tanpa tenda. Hanya ada backdrop berupa kegiatan aksi dan sofa sederhana diatas panggung di samping Chappel Fort Rotterdam. Tepat pada pukul 15:00 WITA, acara dimulai dengan pembukaan oleh Plt Kepala Disdik Makassar, Mukhtar Tahir.

“Ini salah satu tugas pemerintah di dalam hal mengamankan yang namanya kekerasan perempuan yang memang menjadi tupoksi dari kami selaku orang yang diamanahkan di dinas sosial, karena dinas sosial sebenarnya menyelesaikan 27 perkara, salah satunya adalah bagaimana kita memberikan keamanan bagi para perempuan, sehingga tidak mendapatkan perlakuan- perlakuan kekerasan khususnya perlakuan kekerasan seksual.” ujar Mukhtar yang mewakili Plt Walikota Makassar.

Yang paling seru adalah ketika semua komunitas diundang untuk naik ke atas panggung dan membaca deklarasi dukungan pengesahan RUU penghapusan kekerasan seksual bersama dengan peserta aksi kolektif yang berisi:

“Mendukung percepatan pengesahan rancangan undang-undang penghapusan kekerasan seksual, pada hari ini, Sabtu 24 Maret 2018, kami organisasi pemerhati peduli dan bekerja pada hak-hak perempuan dan anak yang terdiri dari program Mampu BaKTI, Koalisi NGO Sulawesi Selatan, KPI Sulawesi Selatan, HIPJ2 FPMP Sulawesi Selatan, Saya Perempuan Anti Korupsi Sulsel, Institute Of Community Justice, HWDI Sulawesi Selatan, Dewi Keadilan, YAPMI Sulselbar, YKPM Sulsel, Sekolah Perempuan, Maupe Maros, PW Aisia Sulsel, Lemina, Lembaga Perlindungan Anak Sulawesi Selatan, Kitab Rumah Kita Bersama, QQ Recycle Art, Dongeng Keliling, Forum Jurnalis Sanitasi, Kita Bhinneka, Sekolah PRP Paraikatte, Forum Anak Maros, dan individu perempuan, aktivis, akademis, jurnalis, menyatakan bahwa angka kekerasan terhadap terus meningkat setiap tahun, kekerasan seksual adalah kejahatan terhadap perempuan dan martabat kemanusiaan serta pelanggaran terhadap hak asasi manusia, negara tidak mempunyai instrumen untuk mencegah dan melidungi perempuan dari kekerasan seksual, negara dan pemerintah berkewajiban untuk mencegah dan melindungi perempuan dari kekerasan seksual, karena itu kami mendukung dan mendesak kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia untuk segera mengesahkan rancangan undang-undang penghapusan kekerasan seksual.”

Setelah pembacaan deklarasi, acara ini dilanjutkan dengan penampilan live music dari Ariel Matulessy dan talkshow yang dipandu oleh Luna Vidya serta diisi oleh narasumber yang berhubungan dengan penangan kasus kekerasan seksual, yaitu; Lusia Palulungan (Yayasan BaKTI), Meisy Papayungan (P2TP2A Sulsel), dan Andi Sri Wulandani (Masika Makassar) yang dipandu oleh Luna Vidya. Talkshow ini sendiri terlihat sangat diminati oleh diikuti para perempuan yang hadir, kebanyakan dari mereka adalah ibu ibu dan perempuan muda.

Di bagian lain, anak anak yang hadir juga nampak asyik mendengarkan dongeng yang dibawakan oleh Dongkel With Library Perpustakaan Kota Makassar. Tim Dongkel yang berasal dari 2 komunitas yaitu Rumah Dongeng ID dan Kampung Dongeng Mardati menampilkan para pendongeng perempuan yang siap mengedukasi anak anak melalui dongeng.

Simak videonya disini :

Tim Dongkel with Library

DongKel – Dongeng Keliling di SDN Tanggul Patompo

Memulai kegiatan di minggu ketiga pada bulan Februari ini, saya mendapatkan tugas dari Tulus Wulan Juni, pustakawan sekaligus koordinator tim DongKel With Library Dinas Perpustakaan Kota Makassar. Sesuai dengan jadwal yang telah diedarkan melalui grup WA, hari Senin 19 Februari 2018 saya ditugaskan untuk mengunjungi SDN Tanggul Patompo 2 yang berlokasi di Jalan Cendrawasih Makassar.

Saya tiba di sekolah ini pukul 09:15 WITA. Disini ada 2 sekolah yaitu SD Tanggul Patompo 1 dan 2. Beberapa sekoh sekolah di Makassar sudah menjadi kebiasaan bila dalam satu tempat ada beberapa sekolah yang dijadikan satu lokasi. Memasuki gerbang sekolah nampak beberapa ibu ibu yang sedang asyik ngobrol. Saya nggak tahu persis apa yang sedang mereka obrolkan, sambil berlalu seorang ibu mengucapkan terima kasih kepada temannya karena telah mendengarkan “curhatnya”.

Tim layanan perpustakaan keliling Dinas Perpustakaan Kota Makassar berkunjung nampaknya belum tiba di sekolah ini. Sayapun menengok di grup WA Dongkel. Status mobil DP 2 dan DP 3 nampak sudah terbang dari pangkalannya masing masing. Sayapun menunggu di depan ruangan guru sambil menunggu kedatangan mobil DP 3. Tak lama ada seorang ibu guru yang menyapa saya.

“Tabe, kita Pak Tulus ?”

Nampaknya ibu guru tersebut belum kenal dengan saya.

“Saya Kak Heru yang akan mendongeng bersama Dinas Perpustakaan Kota Makassar”, jawabku sambil memperlihatkan rompi Dongkel yang saya pakai.

Ibu guru yang bernama Ibu Any Gafur kemudian menjelaskan bahwa Bapak Kepala Sekolah sedang tidak berada di sekolah karena sedang menenami siswanya yang sedang seleksi OSN – Olimpiade Sains Nasional. Sayapun juga menyampaikan bahwa kegiatan kunjungan baru bisa dimulai bila mobil layanan perpustakaan sudah tiba di sekolah. Sembari menunggu kedatangan mobil, ibu Ani meminta ijin untuk mengumpulkan siswa dan siswinya di halaman sekokah.

Namun ternyata mobil DP 3 tak kunjung datang juga. Waktu sudah menunjukkan pukul 10:00. Saya mencoba menghubungi Ibu Ully yang mengkoordinir para driver perpustakaan. Namun kendala jaringan internet membuat suara yang saya terima menjadi tidak jelas. Status driver DP 2 yang dipiloti oleh Andarias juga bermasalah karena anaknya tiba tiba panas tinggi dan harus dibawa ke rumah sakit. Sedangkan status DP 3 yang mengarah ke lokasi saya juga belum ada kabar beritanya.

Akhirnya sayapun berinisiatif untuk memulai kegiatan DongKel with Library tanpa kehadiran mobil layanan. Sesuai dengan SOP yang telah disepakati bersama bahwa apabila ada kendala atau halangan, kegiatan Dongkel tetap harus berjalan sesuai dengan kondisi yang ada. Apalagi siswa dan siswi sudah siap menunggu di halaman sekolahnya. Kabar terakhir yang saya dapat ternyata mobil DP 3 sedang mengalami masalah aki mobil yang sudah perlu dicharge sehingga berhalangan untuk beroperasi hari ini. Namun kedua petugas perpustakaan tetap datang ke sekolah dengan menaiki motor roda duanya.

Berikut beberapa foto kegiatan DongKel with Library hari ini :

Dan berikut video lengkapnya :

DongKel SDN Tanggul Patompo 2

DongKel, Nama Lain Pertemanan

“Salah satu cara paling ampuh untuk menguji pertemanan adalah dengan mendaki. Kita bisa melihat bagaimana sebuah perjalanan yang berat dan panjang akan menujukkan keaslian seseorang dan menumbuhkan solidaritas,”

Lapangan kompleks SDN Sudirman Makassar

Wejangan ini saya terima dari seorang kawan ketika kami tengah duduk menatap bintang di depan mulut gua Saripah, salah satu lokasi pendakian di kabupaten Maros. Suara kawan saya itu menggema sampai ke sudut-sudut gua, sampai ke sudut-sudut hati saya.

Mendaki, secara harfiah, memang memerlukan ketahanan fisik dan mental. Mulai dari berjalan kaki puluhan kilometer dengan jalur yang terus menanjak sambil memanggul carrier yang berat, menyeberangi sungai yang dalam dan berarus deras, menghindari serangan binatang dan tumbuhan berbahaya, menghadapi perubahan suhu dan cuaca, sampai kepada perubahan keyakinan apakah akan terus jalan, singgah, atau justru berbalik arah.

Bertahun kemudian, saya memahami bahwa mendaki tidak selalu harus di gunung. Mendaki bisa menjadi kiasan untuk sebuah perjuangan mencapai sesuatu. Terlebih jika itu adalah sebuah tujuan besar dan mulia.

Sejak dinobatkan sebagai salah satu pemenang 99 Top Inovasi Nasional oleh KemenPAN RI, program Dongkel With Mobile Library terus bergerak mengantarkan dongeng dan buku hingga ke pelosok kota Makassar. Semangat positif terus memenuhi atmosfer Dongkel Perpusling setiap hari.

Awal Mula Dongeng Keliling

Jadwal Dongeng Keliling tahun 2016

Layanan Dongkel awal mulanya bernama Dongeng Keliling Bersama Perpustakaan Keliling dimulai pada tanggal 19 Januari 2016 yang berkunjung ke SDN Komplek Pemda dengan pendongeng Ambo Upe dan TK Aisyiyah Maricaya dengan pendongeng Kak Heru. Alur kunjungan dimulai dengan sistem persuratan manual dari Badan Arsip dan Perpustakaan Kota Makassar ke sekolah yang akan dikunjungi. Seiring perkembangan jaman, di tahun 2017 dilakukan perubahan dengan mengandalkan media sosial seperti Facebook dan WhatApps.

Melalui Grup WA yang merupakan sarana komunikasi utama_selain akun facebook_gelombang semangat itu terkirim setiap hari. Selain membahas jadwal pelayanan dan koordinasi antar anggota tim, grup ini juga merupakan ‘ruang pertemuan’. Dari sekedar saling menyapa mengawali pagi, berbagi kisah inspiratif atau bacaan yang konstruktif dan informasi menarik, ruang ini juga menjadi tempat berbalas pantun, puisi, atau sekedar bergurau satu sama lain.

Pada hari Rabu (7/06/2017), ruang pertemuan kami itu kembali riuh. Semangat dan do’a dikirim untuk Kak Heru, Kak Rahmah, Kak Mangga, dan saya yang ditugaskan untuk mewakili 23 teman-teman pendongeng dalam rangka menunjukkan performa kami di lapangan kepada Tim Verifikasi Independen dari KemenPAN RI. Disaksikan ratusan anak di SD Kompleks Sudirman dan Panti Asuhan Bustanul Islamiyah, bergantian kami menuturkan kisah-kisah Islami dan cerita rakyat . Penilaian ini adalah “pendakian” menuju 40 Top Inovasi Layanan Publik Nasional. Ditambah penampilan Peter King, pendongeng cilik peraih juara mendongeng 2017, kami tunjukkan kepada Ibu Professor Margianti dan Ibu Fika Zavieria Amelia selaku tim penilai dari KemenPAN RI betapa dongeng dan buku-buku yang datang bersama perpustakaan keliling adalah sebuah usaha yang akan terus berjalan dan beregenerasi di kota Makassar.

“Terima kasih dongengnya, saya suka lagunya, dan tepuk setengah itu lucu,” ujar Ibu Fika. Kami tertawa dan saling merangkul dengan akrab. Percakapan pun mengalir sambil sesekali memperhatikan anak-anak yang tengah antusias mengambil buku.

Dalam perjalanan pulang, diam-diam saya disergap haru.

Pertama, karena mendapat dua kawan baru hari itu. Ibu Professor dan Ibu Fika adalah pribadi yang hangat dan menyenangkan diajak bicara. Kedua, karena teman-teman pendongeng, tim perpusling dan Dinas Perpustakaan Makassar tidak putus-putusnya mengirimkan do’a dan semangat sebelum kami tampil. Saya kemudian terkenang kembali wejangan kawan pendakian yang dulu sering saya lakukan semasa kuliah. “Pendakian yang tinggi tidak akan terasa berat jika kita bersama teman-teman yang solid.”

Melahirkan Pendongeng Cilik

Tim DongKel With Library saat ini digawangi oleh 20 pendongeng yang berasal dari 2 komunitas dongeng di Makassar. Keduanya adalah Rumah Dongeng  (www.rumahdongeng.id) dan Kampung Dongeng Lontara. Para pendongengnya kebanyakan berprofesi sebagai guru TK dan SD, meskipun beberapa diantaranya adalah ibu rumah tangga yang jago mendongeng. Yang menarik dari kegiatan dongeng ini adalah lahirnya beberapa jagoan pendongeng cilik yang merupakan hasil dari Lomba Bercerita tingkat SD se Kota Makassar. Dimulai dari Novi juara  tahun 2010, Safira Devi Amorita juara tahun 2011, Rahardi juara tahun 2012 dan sekarang ada Piter King murid kelas 5 SDN Sudirman IV yang merupakan juara lomba bercerita tahun 2017. Piter King sempat membawakan dongeng Lamadukeleng di hadapan tim penilai KemenPAN-RB.  Lahirnya bibit bibit ini calon calon pendongeng di masa depan, artinya program Dongeng Keliling akan tetap terus berjalan.

Piter King murid SDN Sudirman IV tampil mendongeng di depan Tim Penilai dari KemenPAN-RB

Mungkin tidak salah jika saya berkesimpulan bahwa Dongkel adalah nama lain dari pertemanan. Program ini menyatukan banyak orang dan menjalin rantai panjang pertemanan yang terus tersambung setiap harinya.

Pertemanan kami lahir dari kesamaan dalam mencintai buku, kesamaan dalam bersedia menyisihkan waktu luang dari kesibukan profesi masing-masing untuk mendongeng dan mengantarkan buku-buku, kesamaan dalam keinginan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa kami para pecinta dongeng dari Timur Indonesia, tidak pernah berhenti bergerak untuk memajukan literasi dan melestarikan budaya bertutur ini dengan sekuat tenaga yang kami bisa.

Bagaimana pun hasil penilaian dari Tim Verifikasi nantinya, saya percaya Dongkel with Mobile Library telah menang. Menang di hati anak-anak yang kami kunjungi, menang di hati para pengelola sekolah yang terus mengirim permintaan kunjungan, menang di hati kami para penutur kisah dan tim perpustakaan keliling. Kita adalah teman yang selalu bertegur sapa setiap pagi, saling mendoakan dalam hati, saling mendukung di tengah keterbatasan, dan saling memaafkan dalam setiap kekhilafan sepanjang ‘perjalanan dan pendakian’.

Berikut video dongeng Pung Julung Julung oleh Kak Madia:

Dan video dongeng Kak Heru :

Tulisan ini dikutip dari Madia, salah satu pendongeng di DongKel With Library dengan beberapa penambahan dari Admin

Bacalah Apapun Itu!

Membaca di program Dongeng Keliling 

Hari ini Rabu 7 Juni 2017 saya bertugas sebagai pendongeng di SDN Kompleks Sudirman Makassar. Sekolah yang berlokasi di kawasan elit Jalan Sudirman ini terdiri dari 4 sekolah. Mereka antara lain SDN Sudirman I, II, III dan IV. Masing masing memiliki seorang kepala sekolah yang berbeda. Ada yang istimewa dalam kegiatan dongeng keliling kali ini. Tim independen dari KemenPAN datang untuk melihat secara langsung kegiatan DongKel With Library yang tahun ini masuk sebagai 90 Inovasi PUBLIK terbaik tingkat nasional. Tim penilai yang datang ke Makassar yaitu Professor Margianti sebagai ketua tim dan Fika Zavieria Amelia selaku pendamping. Keduanya ditugaskan untuk melihat langsung kegiatan lapangan untuk 2  Inovasi Publik yaitu Lorong Sehat dan Dongeng Keliling. Sebagaimana perlu diketahui bahwa masih ada satu tahap lagi untuk menjadi 40 Inovik terbaik di Indonesia.

Sayapun mendapat tugas bersama Kak Madia untuk mendongeng di depan anak anak. Tiga hari sebelumnya kami sempat meeting bersama Kepala Dinas Perpustakaan Kota Makassar dan seluruh tim Dongkel untuk menyamakan persepsi antara kegiatan dongeng di lapangan dan teknis kegiatan yang ada di dalam proposal inovasi publik yang sudah dipresentasikan oleh Walikota Makassar. Tugas ini sepertinya adalah sebuah kegiatan rutin bagi saya yang sama seperti kegiatan mendongeng pada event  lainnya. 

Dongeng hari ini  dibuka oleh ibu Erna yang menjelaskan secara singkat tentang program layanan perpustakaan keliling. Selanjutnya saya mendapat kesempatan pertama untuk mendongeng. 5 menit dongeng dimulai, tim penilai sudah nampak datang ke lokasi kegiatan. Sayapun tetap melanjutkan dongeng selama kurang lebih 20 menit. Dilanjutkan oleh Kak Madia dengan Dongeng Pung Julung Julung yang nampak memukau anak anak dengan lagu memanggil lumba lumba.

Ketika sesi dongeng usai, anak anak diberikan waktu selama 2 jam untuk membaca buku koleksi yang ada di mobil layanan keliling Perpustakaan Kota Makassar. Ternyata kegiatan membaca ini sangat menarik bagi mereka, terbukti ketika mobil dibuka, serentak mereka berebutan untuk mencari buku bacaan sesuai dengan seleranya masing masing. Sayapun mempunyai waktu untuk beristirahat dan berjalan keliling untuk melihat aktivitas anak anak yang sedang asyik membaca buku.

Ada yang menarik perhatian daya ketika tanpa sengaja melihat seorang anak membaca sebuah buku yang cukup tebal. Anak yang ada dalam foto memilih sebuah buku yang menurut saya tidak lazim dibaca untuk anaj seusianya. Buku itu berjudul “Peraturan Presiden tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah”. Entah karena dia mengambil secara acak buku di dalam mobil layanan atau memang anak ingin menjadi seorang kontraktor pengadaan barang. Sejenak perhatian saya mulai berfokus pada anak tersebut dan nampaknya dia sangat serius membaca buku tersebut. Bahkan dia tak sadar ketika saya mengambil foto ini dari arah samping. Mulutnya terlihat komat kamit membaca buku yang dipegangnya. 

Tim Penilai dari KemenPAN bersama Tim DongKel

Sayapun sadar bahwa minat baca anak anak di Makassar tidaklah kurang seperti yang selama ini kita baca di beberapa survei tentang minat baca. Tahun 2015 angka budaya baca di Makasar adalah 28,34%, sedangkan tahun 2016 sebesar 39,49%. Saya merasa yakin bahwa bila mereka diberikan waktu dan kesempatan yang tepat, buku apapun akan dilahapnya.

Pepatah “the right man in the right place”  bukan hanya pepatah belaka. Dongeng keliling memberikan sebuah nuansa baru bagi mereka. Nuansa itu adalah membaca bersama yang tentunya akan memberikan dampak yang nyata. Ada buku, ada dongeng, ada tempat yang nyaman dan ada teman teman yang berkegiatan sama tentu akan semakin mendorong budaya baca semakin meningkat.

Maka bacalah apapun itu….!

KURRE SUMANGA’, ANDARIAS

Andarias sang driver DongKel With Library

Salah satu pendukung keberhasilan Dinas Perpustakaan Makassar melaksanakan program Dongkel Perpusling adalah karena memiliki beberapa juru kemudi yang mumpuni dan handal.

Namanya Andarias Patabang. Lelaki ini memiliki pembawaan tenang. Tetapi jika berkesempatan duduk dan mengobrol dengannya, saya terkenang Ibu kost asal Rantepao Toraja yang kamarnya saya sewa selama kuliah, tidak pernah pindah saking betahnya.

Beberapa kali saya menyaksikan Andarias berhasil membawa mobil perpustakaan keliling memasuki lorong sempit, menghindari lubang dan kubangan, parkir kurang dari 1 cm dari tepi selokan, menyusur tenang di lorong pasar sayur, bahkan berhasil memutar arah mobil dengan hanya memanfaatkan lahan jalan selebar 2 meter yang dipadati penjual es dan mainan khas sekolahan.

Saya yakin orang ini cocok diajak main film Fast and Farious untuk adegan meloloskan diri dari lorong kecil pelosok kota.

Dan Andarias melakukannya setiap hari.

Lelaki ini cuma tersenyum atau tertawa sementara kami yang menumpang sesekali menjerit karena terkejut saat ujung mobil nyaris masuk parit. Beberapa pendamping malah memilih menunggu sampai posisi mobil stabil sebelum naik kembali.

Misi literasi kami di SD. Inp. Rappo Jawa hari ini kembali menantang Andarias menunjukkan kepiawaiannya di balik kemudi. Sekolah ini berada di jalan korban 40.000 jiwa, dalam lorong kecil. Tidak hanya itu, setelah berhasil masuk pagar, mobil harus menyusur lorong sekolah yang lebih sempit, berlubang-lubang, berkerikil, dengan cara …. berjalan mundur sejauh 50 meter ! Ditambah lagi harus turun membersihkan sendiri jalur dari motor2 yang parkir menghalangi.

Pendongeng boleh berganti setiap hari, begitupun tim pendamping. Tetapi juru kemudi tetap sama. Maka yang paling banyak mengunjungi lokasi pelayanan dalam rangka usaha nyata dalam menebar literasi, salah satunya adalah orang ini.

Kurre sumanga’, kakak Andarias.

Terima kasih, driver andalan.

Ditulis oleh Kak Madia, Pendongeng dan Ibu Rumah Tangga

Satu Dongeng dan Ratusan Cerita

Tim Dongkel with Library Perpustakaan Makassar

Di grup WhatsApp Dongeng Keliling, saya diminta oleh Bunda Cahaya, salah seorang pendongeng yang bergabung dalam tim Dongkel With Library  untuk mengantikan jadwal dongengnya pada hari Selasa 25 April 2017. Bunda Cahaya berhalangan mendongeng karena ada keperluan yang tidak bisa ditinggalkan. Begitulah cara kami berkomunikasi di era digital sekarang ini. Jadwal dan permintaan kunjungan mobil layanan perpustakaan cukup diajukan melalui media sosial. Cara yang sangat efektif dan efisien bila dibandingkan dengan cara konvensional seperti persuratan yang pasti memakan waktu lebih lama. 

Sayapun segera melihat jadwal yang tertera di akun Facebook Dongkel Perpustakaan Kota Makassar. Disitu sudah dibentangkan jadwal dongeng untuk sepekan lamanya. Tercatat bahwa jari Selasa 25 April 2017, sekolah yang harus dikunjungi adalah SD Inpres Cambaya 4 Makassar. Nama sekolah itu juga masih asing di telinga. Segera saya buka aplikasi Google Maps dan jari jemaripun segera menari-nari di kolom pencarian lokasi. Tak lama nama dan alamat sekolah terpampang di layar smartphone. Lokasinya di sekitar kawasan industri galangan kapal Makassar tak jauh dari jalan Tol Reformasi. Ditambah dengan petunjuk dari Kak Yusran yang begitu mengenal daerah tersebut, maka tak sulit untuk menemukan lokasi tersebut.

Keesokan harinya saya pun segera meluncur sendirian ke SD Inpres Cambaya 4. Sesuai dengan Teknis Pelaksana Kegiatan atau TOR, pendongeng bisa datang ke kantor Dinas Perpustakaan Kota Makassar untuk bersama sama berangkat dengan mobil layanan. Namun diperbolehkan juga untuk berangkat langsung ke lokasi kegiatan. Hari ini yang bertugas bersama pendongeng adalah mobil DP 3 yang dikomandai oleh Zul, seorang anak muda yang baru bergabung sebagai honorer di SKPD Perpustakaan Makassar.  Tak memakan waktu yang lama akhirnya tim Dongkel with Library sudah  berada di sekolah yang dimaksud.

Sekitar pukul 09:30 mobil memasuki kawasan sekolah yang cukup luas. Ada lapangan bola yang berada tepat di dwpan sekolah ini. Ternyata kawasan sekolah ini ada 2 tingkatan sekolah. Selain SDI Cambaya 4, di sampingnya berdiri SMP 37 Makassar. Saya sempat melihat ada tim dari Unicef berada di sekolah ini. Kedatangan tim tersebut untuk mensosialisasikan gerakan “Anti Bullying” bagi siswa dan siswi SMP 37 Makassar. Keberadaan mobil perpustakaan keliling nampak menyolok dan menarik perhatian anak anak sekolah dasar. Serentak mereka berkerumun di sekitar mobil yang berisi ratusan cerita. 

Ya..! Misi kami adalah membawa satu dongeng dan ratusan buku cerita untuk mereka. Buku buku yang tentu saja siap dilahap oleh mata-mata yang haus dengan buku bacaan. Sebelum membaca, saya mengarahkan mereka untuk masuk ke dalam salah satu ruangan kelas. Pagi ini saya harus mendongeng tanpa tanpa sound system karena ternyata alatnya sudah rusak dimakan usia. Namun hal tersebut tak mengurangi semangat mereka untuk mendengarkan dongeng. Ruangan kelas sepertinya tak mampu menampung jumlah siswa yang ada. Beberapa dari mereka harus rela duduk di atas lantai kelas. Memang ada kendala tersendiri ketika harus mendongeng tanpa dilengkapi pengeras suara. Saya harus lebih sering menaikkan volume suara agar dongengnya dapat didengar sampai di bagian belakang ruangan.

Setelah mereka selesai mendengarkan dongeng, saya kemudian mengarahkan mereka untuk keluar dari ruangan secara tertib. Namun mereka ternyata sangat begitu tak sabar untuk mendapatkan sebuah buku di mobil perpustakaan keliling. Mobil yang mempunyai dua sayap mirip seperti pesawat terbang akhirnya diserbu oleh tangan tangan kecil yang berusaha mencari buku terbaik untuk dibaca. Bahkan ada beberapa murid lalu laki yang harus menaiki mobil demi untuk sebuah buku. Saya hanya mengamati dari kejauhan sambil sesekali berteriak untuk tidak saling berebutan. Setelah mengambil satu buku, mereka pun segera mengambil posisi duduk yang enak untuk membaca. Suara suara lirih acapkali keluar dari mulutnya sembari menyimak buku bacaannya masing masing. Asyik sekali melihat kegiatan membaca ini.

Andini salah satu siswa kelas 4 sangat senang dengan buku yang dibacanya.
“Saya tidak punya buku seperti ini di rumah. Bukunya cantik!” ujarnya sembari membaca buku yang berjudul “Orang Utan”. Terlihat dari wajahnya yang ingin mengatakan “Kak, boleh saya bawa pulang bukunya?”. Saya pun mengingatkan kembali agar buku yang sudah dibaca harus dikembalikan ke mobil keliling.

Memang perpustakaan yang ada di sekolah ini fasilitasnya masih sangat terbatas. Ruang perpustakaannya adalah ruang kelas yang disulap menjadi 2 ruang, ruang baca dan ruang administrasi sekolah yang dibatasi oleh papan partisi. Belum banyak koleksi buku yang ada di dalamnya. 

“Anak anak disini sangat senang dengan kunjungan mobil keliling dari Dinas Perpustakaan Makassar. Apalagi tadinada kegiatan mendongeng untuk anak anak. Kami ingin dibantu pengadaan buku dan rak supaya perpustakaan lebih rapi”, kata Ibu Ratna yang baru setahun menjabat kepala sekolah di SD Inpres Cambaya 4. 

Ada yang bisa bantu perpustakaan sekolah ini?