Tag Archives: Jumat Bersedekah

Appang Bugis dan Kinder Huiz

Entah karena faktor kedekatan jarak yang mungkin menyebabkan kedua nama itu juga saling berdekatan satu dengan lainnya. Appang Bugis di seberang jalan, Kinder Huiz berada di depannya.

Appang Bugis adalah salah satu kue tradisional khas Bugis. Bahannya dibuat dari tepung yang dicampur dengan gula merah. Ada sebuah tradisi di kalangan Bugis Makassar, kalo hari Jumat jangan lupa makan appang. Manisnya gula merah akan membuat hidupmu nanti akan semanis rasa gula merah ini. Sedangkan Kinder Huiz adalah nama sebuah sekolah di Jalan Mappaodang Makassar. Kalo tidak salah “huiz” itu artinya rumah. Jadi Kinder Huiz bisa berarti “Rumah Anak Anak”.

Seharusnya hari ini ada 2 jadwal mendongeng. Yang pertama di TK Dharma Wanita Maros dan yang kedua di TK Kinder Huiz Makassar. Untuk mengefektifkan waktu karena hari ini adalah Hari Jumat, maka saya minta kepada Laznas Yatim Mandiri Maros pukul 08:00 pagi dimulai acara dongengnya.

Namun sejak subuh Makassar dan Maros diguyur hujan lebat. Bagaimana pun juga saya tetap harus ke lokasi di Maros. Menjelang tiba di Sudiang, notifikasi WA masuk dari Sri, staf YM Maros. Isinya kegiatan dongeng di Maros ditunda karena siswa yang datang hari ini sedikit. Dari 60 siswa, baru 10 orang saja yang datang. Hujan menjadi alasan ketidakhadiran siswanya.

Saya pun segera memutar stir.
Balik kanan menuju ke Makassar lagi.

Hi..hi…
Emang Sudiang bukan Makassar ya..?

Di lokasi kedua jadwal dimulai pukul 09:15. TK Kinderhuiz berada di jalan Mappaodang Makassar. Bagi yang sering ke jalan ini, ada sebuah warung yang menjual “Appang Bugis” yang sudah sangat terkenal enaknya. Biasanya kalo pagi sudah banyak pembeli yang antre di depan warungnya. Karena banyak yang antri, biasanya menjelang pukul 10, kue khas Bugis ini sudah habis.

Sekitar tahun 2011 saya mengenal TK Kinder Huiz ini. Dulunya berlokasi di samping rumah jabatan Kapolda Sulsel yang berada di jalan yang sama. Waktu itu saya diundang oleh Kak Awam Prakoso dan tim kampung dongeng untuk menyaksikan dongengnya. Saat ini lokasi sekolah berada tak jauh dari jalan Ratulangi Makassar.

Setelah bertemu dengan Ibu Nunu, sembari menunggu adik adik yang masih makan bekalnya, saya ngobrol ringan dengan beliau. Salah satu keinginannya adalah membangun sekolah dasar untuk para lulusan TK Kinder Huiz.

“Semua orang tua ingin anaknya tetap berada di lingkungan Kinder Huiz. Mereka berharap agar yayasan membangun sekolah dasar,” ungkap beliau.

Beberapa orang tua siswa sudah mengenal cara mendidik guru guru di sekolah ini. Sehingga mereka ingin anaknya terus bersekolah lanjut di tingkat sekolah dasar.

Suasana di dalam ruangan kelas nampak riuh. Beberapa dari mereka ternyata menunggu dongeng.

“Bahkan ada siswa yang sempat sempatin masuk sekolah karena mau dengar dongengnya Kak Heru,” papar bunda Nunu.

Dan ketika waktu mendongeng sudah tiba, keriuhan dan tingkah laku adik adik yang berusia 2 sampai 5 tahun pun semakin ramai.
Siswa yang duduk di kelas A dan B duduk dengan tertib di bagian belakang. Tetapi yang play grup dan kinder tak mau duduk lama. 2 dari mereka malah berdiri di depannya Kak Heru.

Salah satunya adalah Dzaky Prananda.
Lihatlah lirikannya..!
Kira kira apa yang menyebabkan dia melirik seperti itu ya?

Padahal 15 menit pertama, Dzaky tak mau duduk. Dia terus berdiri di depan. Walaupun begitu matanya tetap melekat ke arah Kak Heru.
Nampaknya dia serius.
Sesekali dia tertawa dan senang dengan dongeng Om Singa dan si Tikus. Bahkan ketika om Singa menyuruh si Tikus pergi, dengan patuhnya Dzaky ikutan pergi bersama si Tikus.

Dan tanpa terasa hampir 60 menit kebersamaan ini harus diakhiri.
Kehadiran Bona menjadi magnet bagi mereka.
Bona yang lucu dan menggemaskan..!

Hasil sedekah dongeng di TK Kinder Huiz sebesar Rp. 2.090.000,- untuk selanjutnya disalurkan kepada Laznas Yatim Mandiri.

Sampai bertemu lagi di bulan Ramadhan ya…

#SedekahDongeng
#YatimMandiri
#RumahDongeng
#Storytelling

Dongeng Jumat Bersedekah

Jumat pagi ini kembali mengunjungi kompleks sekolah dasar Bawakaraeng. Ini adalah kunjungan ketiga kalinya di sekolah ini. Dan pagi ini giliran adik adik dari SDN Bawakaraeng 3 yang mendengarkan dongeng.

Seperti biasanya, setiap hari Jumat diadakan senam pagi di sekolah ini. Karena jadwalnya yang bersamaan dengan jadwal senam pagi, maka kegiatan Sedekah Dongeng hari menunggu sampai senam selesai.

Kegiatan senam pagi diikuti oleh murid dari SDN Bawakaraeng 2. Joget Maumere sepertinya sudah menjadi senam wajib untuk anak anak sekolah. Saya ingat ketika masih SD dulu namanya adalah SKJ atau Senam Kesegaran Jasmani. Saya selalu menjadi leader kalo senam ini dilakukan di sekolah.
Setelah musik Maumere yang bergoyang ke kanan dan ke kiri selesai, masih ada lagi senam Pinguin yang tak kalah seru dan lucu. Biasanya senam ini dilakukan di taman kanak kanak. Gerakannya berputar putar seperti seekor burung Pinguin.

Setelah kegiatan senam selesai, giliran murid murid SDN Bawakaraeng 3 yang nampaknya tak sabar untuk mendengarkan cerita. Pagi ini Kak Heru membawakan cerita dari Soppeng yang berjudul Nenek Pakande. Sebuah cerita tentang seorang Nenek yang suka menculik anak anak kecil di Kampung Soppeng. Cerita ini pernah dibawakan oleh Rahardi pada tahun 2012 ketika mewakili Makassar sebagai peserta Lomba Bercerita tingkat Nasional yang dilaksanakan oleh Perpustakaan Nasional.

Selain kegiatan mendengarkan cerita, murid murid di sekolah ini juga memberikan donasi kepada Laznas Yatim Mandiri Makassar. Kegiatan inilah yang disebut dengan Sedekah Dongeng kerjasama antara Rumah Dongeng dan Laznas Yatim Mandiri MakassarLaznas. Selain dengan Yatim Mandiri, Rumah Dongeng juga bekerjasama dengan Laznas lainnya seperti PPPA Daarul Quran dan BSMI Sulselbar.

Hari ini donasi yang dikumpulkan berjumlah Rp. 1.293.000,- dan langsung diserahkan kepada Laznas Yatim Mandiri Makassar.

#SedekahDongeng
#RumahDongeng
#YatimMandiri
#JumatBersedekah
#Storytelling

Sedekah Dongeng di SDN 21 Sanggalea Maros.

Sekitar 450 adik adik di sekolah ini, Jumat 13 April 2018 mendapatkan edukasi tentang keutamaan bersedekah dari Kak Heru dan Tim Sedekah Dongeng dari Yatim Mandiri Maros.

Sedekah Dongeng Untuk Yatim Dhuafa adalah salah satu program yang dilaksanakan oleh Rumah Dongeng ID bekerjasama dengan Laznas Yatim Mandiri. Kegiatan ini mengunjungi langsung adik adik di berbagai sekolah sebagau salah satu media edukasi pendidikan karakter melalui dongeng sekaligus bersedekah bagi anak yatim dhuafa.

Mengapa harus bersedekah?

Saat kita bersedekah, banyak manfaat yang mengalir dari arti sedekah itu, sedekah akan menggerakkan roda ekonomi dan menjadi lokomotif pertumbuhan untuk membangun peradaban. Sedekah yg kita berikan akan mengikat kita dalam kemaslahatan untuk bersama menjadi kekuatan mengatasi krisis pangan, pendidikan, kesehatan, hingga ekonomi. Dengan bersedekah kita sebarluaskan rasa keadilan untuk kehidupan yang lebih sejahtera dan bermartabat.

“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apapun yang kamu infakkan tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui”
(QS Ali Imron:92)

Mengapa harus dongeng?
Dongeng adalah salah satu media pendidikan yang sangat menyenangkan bagi anak anak. Nilai nilai moral yang positif dapat disampaikan dengan tidak menggurui mereka. Rasa empati dan simpati terhadap penderitaan yang sedang dialami oleh orang lain dapat disampaikan dengan mudah melalui tokoh tokoh dalam dongeng. Ada tokoh yang sedang sedih karena rumahnya terbakar, ada tokoh yang menangis karena kehilangan keluarganya dan masih banyak sisi sisi kemanusiaan lain yang bisa disampaikan kepada anak anak melalui dongeng

Bagi sekolah yang ingin dikunjungi silakan menghubungi tim Sedekah Dongeng di nomor 0852 5575 1971.