Tag Archives: Kids Corner MIWF

Special Program MIWF for Kids

Diskusi bersama Clara Ng, Ria Papermoon dan Kak Heru

“Sebuah program untuk anak anak, orang tua dan guru yang ingin belajar dan menikmati indahnya dongengnya”

Kalimat itu terpampang jelas dalam buku program Makassar International Writers Festival yang kali ini memasuki tahun ke-7. Selama 3 hari mulai dari 17-20 Mei 2017, publik Makassar dimanjakan dengan kegiatan literasi terbesar di Kawasan Timur Indonesia. Bagi saya yang sudah hampir 3 tahun dilibatkan dalam kegiatan ini, tahun ini adalah tahun yang amat spesial untuk program Kids Corner. Ada 3 nara sumber yang dihadirkan oleh panitia khusus untuk kegiatan StoryTelling di Kids Program, mereka antara lain Clara Ng, penulis buku anak; Ria Papermoon dari Yogyakarta; Wendy Miller dari Australia dan tentunya didukung oleh Rumah Dongeng.

Pesta Pendidikan 2017

Kegiatan pra event MIWF dimulai tanggal 15 Mei 2017 di salah satu sudut gedung Benteng Rotterdam Makassar. Sore itu, Clara Ng dan Ria Papermoon serta Kak Heru sebagai moderator berbicara tentang Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Membaca. Meskipun Clara berlatar belakang sebagai penulis, banyak tips membaca yang diberikan dalam diskusi ini. Salah satunya adalah rumus Tangga Membaca 5M 1B. M yang pertama adalah Meramal, M yang kedua Melamun, M yang ketiga Mengait, M yang keempat Mengklarifikasi, M yang kelima Mengevaluasi dan B yang terakhir adalah Bertanya.

“Meramal dalam tangga membaca ini berhubungan dengan imajinasi pembaca. Ketika anak membaca, kira kira apa yang akan terjadi di halaman selanjutnya?” ungkap Clara ketika menjelaskan M yang pertama. Menurutnya, kekuatan imajinasi akan membuat anak merasa penasaran dengan kelanjutan dari isi buku yang dibaca oleh anak. Apakah tokohnya berhasil memecahkan sebuah masalah?
Ria Papermoon membeberkan kaitan rumus Tangga Membaca pada point terakhir, yaitu Bertanya.
“Papermoon dalam membuat sebuah konsep cerita akan selalu riset dan bertanya ke berbagai nara sumber. Saya akan selalu bertanya ke berbagai macam orang ketika membuat naskah”, ungkap pendiri kelompok teater boneka Papermoon yang berdiri sejak tahun 2006. Ria Papermoon juga menjelaskan bahwa menerjemahkan sebuah naskah yang penuh dengan kata ke dalam konsep boneka tanpa kata merupakan suatu kesulitan tersendiri baginya.
“Kekuatan utama Papermoon adalah penampilan boneka tanpa kata. Dalam setiap penampilan kami berupaya untuk meminimalisasi penggunaan kata”.

Kalimat terakhir itu membuat Arif, salah seorang peserta diskusi semakin penasaran. Dalam sesi tanya jawab dia langsung menanyakan hal tersebut kepada Ria.
“Kami saja yang sudah maksimal untuk berlatih dialog kadang kadang penonton belum mengerti dengan alur ceritanya. Ini Papermoon kok malah menampilkan pertunjukan tanpa kata. Bagaimana membuat penonton bisa mengerti?” tanya Arif yang aktif dalam pertunjukan sinrilik di berbagai negara.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Ria menyarankan Arif untuk mengikuti sessi Workshop Puppetry For Beginner yang berlangsung selama 2 hari mulai tanggal 15-16 Mei 2017.

Workshop Puppet Papermoon
Selama 2 hari sebanyak 18 peserta mendapatkan pelatihan langsung dari 2 nara sumber utama yaitu Ria selaku Founder Papermoon Puppet Teater dan Iwan selalu Artistic Director. Keduanya  memberikan materi yang terbagi menjadi 2 hari pelaksanaan workshop. Di hari pertama peserta diberikan materi  “Puppet making for Beginners”. Bahan utama pembuatan boneka adalah kertas koran. Secara detail peserta diajari cara membuat boneka, mulai dari kaki sampai kepala boneka. Peserta dibagi menjadi 3 kelompok sekaligus mendapatkan tugas yang berbeda di setiap kelompoknya. Mereka harus membuat sebuah konsep cerita yang kemudian diwujudkan dalam bentuk boneka.

Workshop Puppet Papermoon di MIWF

Di hari kedua, kegiatan workshop dilanjutkan dengan materi “Object and Puppetry”. Boneka yang dibuat harus sesuai dengan konsep cerita dalam masing masing kelompok. Tema anak anak diberikan untuk kelompok 1, tema orangtua untuk kelompok 2 dan tema suami istri untuk kelompok 3. Setiap kelompok akan diberikan kesempatan untuk tampil pada acara pembukaan MIWF tanggal 17 Mei 2017.

General Lecture
Aula Aksa Mahmud Universitas Bosowa yang berlokasi di Jl Urip Sumohardjo menjadi tempat dilaksanakannya kuliah umum bersama Clara Ng pada hari Selasa 16 Mei 2017. Tema yang diambil dalam kuliah umum ini adalah StoryTelling Empathy :
Moral in Everywhere and Children’s Literature. Dekan Fakultas Psikologi Unibos, Minarni mengapresiasi kegiatan MIWF 2017 yang dikhususkan untuk mahasiswa Fakultas Psikologi Unibos.

General Lecture bersama Clara

Clara mengawali kuliah umum ini dengan mengenalkan konsep moralitas versi Jonathan Hegde. Menurutnya, moralitas erat kaitannya dengan emosi atau feeling manusia. Selanjutnya Clara memberikan beberapa contoh buku buku anak yang banyak mengandung nilai moral bagi anak anak. Buku tersebut antara lain The Big Orange Splot, Harold and the Purple Crayon, Let’s Do Nothing, Morris the Moose, Stella Linna dan Dru karya Clara Ng.

Diskusi The Power of Story

Mengawali kegiatan Kids Program MIWF 2017, diadakan diskusi yang membahas tentang Kekuatan Bercerita di area Taman Baca. Bincang santai di sore hari menghadirkan Ria Papermoon Puppet Theather dan Clara Ng  serta dipandu oleh kak Heru dari Rumah Dongeng. Kedua nara sumber, berbicara tentang dahsyatnya dongeng bagi anak anak dan orang tua. Dongeng akan selalu menghadirkan imajinasi, baik melalui buku atau boneka.
Pengunjung yang hadir sempat dibuat takjub oleh penampilan Ria yang memperagakan kemampuannya bermain boneka tanpa kata.

Panel Discussion:
How to Rise Readers in Your Family

Di hari kedua, Kamis 18 Mei 2017 berlangsung kegiatan Diskusi Panel dengan menghadirkan nara sumber yaitu Hasanuddin Abdurakhman dan Matsui Kazuhisa dan Wendy Miller sebagai moderator.

Mr. Hasan lebih menekankan bahwa tehnologi sangat membantu anak anak untuk mengenal dan menyukai buku.

Mr. Kazuhisa berbicara tentang kisahnya ketika dia masih kecil suka didongengkan oleh ibunya. Dongeng yang diceritakan sangat membantu imajinasinya dalam memahami sebuah kisah. Dongeng yang dibacakan oleh ibunya sangat ekspresif dan beliau kagum dengan kemampuan ibunya dalam menirukan suara suara hewan ketika sedang mendongeng.

Wendy Miller membeberkan kegiatan membaca di Australia dimulai dari umur 0 -18 bulan di perpustakaan daerah. Jenis buku tergantung dari usia anak, dengan gambar yang menarik bagi mereka. Ada yang menarik ketika Wendy berbicara tentang Dog’s Read, anak anak yang malu ketika sedang belajar membaca di depan temannya atau di kelas dapat menggunakan hewan sebagai teman membacanya.

Dalam sessi tanya jawab, Mey dari komunitas Sokola Kaki Langit mengungkapkan betapa sekolah binaannya sangat kurang dengan media baca. Bahkan ketika ditunjukkan dengan buku, anak anak binaannya malah bertanya “apa itu Kak?”

Menarik sekali diskusi sore ini karena kita bisa mengetahui bagaimana budaya baca di 3 negara yang berbeda. Dari ketiga nara sumber yang hadir ada satu titik temu bagaimana meningkatkan budaya baca bagi anak anak. Mereka sepakat untuk menggunakan dongeng sebagai satu satunya cara yang menarik bagi anak dalam mengenalkan literasi sejak dini.

Kid’s Corner: StoryTelling Show
Di hari ke-3 dan ke-4, adalah hari yang dinantikan oleh anak anak. Ada dongeng bersama Kak Heru dari Rumah Dongeng Indonesia, Wendy Miller yang khusus datang setiap tahun dengan cerita khas Australia. Ada juga Mami Kiko dengan dongeng Timun Mas dan Kak Titi dengan dengan Piknik di Kumbinesia.


Secara khusus ada penampilan Farah, pendongeng cilik dari Pangkep yang membawakan cerita tentang asal usul Kampung JawaE yang ada di kabupaten Pangkep. Murid kelas 5 SD ini fasih mengolah cerita rakyat yang menceritakan tentang kerajaan Labakkang dan kerajaan Madura yang mengadakan pertandingan laga fisik. Atas kemenangan panglima Labakkang akhirnya raja Madura memberikan hadiah berupa kendi. Dimanapun kendi itu berlabuh, maka disitulah tanah yang dapat ditempati oleh orang orang Madura sebagai hadiah kemenangan panglima Labakkang. Kehadiran Kak Safira, pendongeng yang setiap tahun selalu hadir di MIWF sejak tahun 2013 membuat keriuhan anak anak semakin ramai. Selain dongeng, penampilan kelompok girl band Happy Belle yang membawakan 2 lagu dan artis cilik yang menyanyikan Lagu The Power of Love juga membuat suasana Kids Corner semakin meriah. 

Sampai bertemu di MIWF tahun depan…!