Tag Archives: Kisah Islami

Kerumunan Dongeng

Sabtu akhir pekan ini agenda kegiatan Sedekah Dongeng adalah di SD Bakung 1 Bumi Permata Sudiang Makassar. Sabtu sebelumnya juga di tempat yang sama, yaitu di SD Bakung 2, sekolah yang berada di satu kompleks.

Lalu lintas di hari Sabtu terasa sekali perbedaannya bila dibandingkan dengan hari hari lainnya. Oleh karena itu, saya pagi ini mengantar dulu istri tercinta ke sekolahnya baru saya berangkat ke Sudiang. Tiba di sekolah ini waktu sudah menunjukkan pukul 08:15. Telat sekitar 15 menit dari jadwal yang sudah ditentukan. Pesan WA dari Yoga masuk di smartphone, sekilas saya melirik isinya.

” Anak anak sudah tidak sabar menunggu kedatangan ta”

Halaman sekolah sudah digelar karpet untuk alas duduk para murid. Melihat kedatangan saya, serentak mereka duduk dengan rapi. Murid kelas kecil duduk di barisan depan, di bagian belakang duduk murid kelas besar. Ketika saya mulai mendongeng Pung Julung Julung, mereka masih duduk dengan rapi dan tenang. Namun ketika saya mulai memanggil Bona, beberapa dari mereka mulai berdiri dan merengsek maju ke depan.

Hal yang sama juga diikuti oleh murid murid SD Bakung 2. Mereka juga mulai merengsek maju dan berdesakan di depan saya. Maklum saja, minggu lalu mereka masih penasaran dengan Bona. Dan hari ini nampaknya mereka sengaja menunggu kemunculan Bona.

Datangnya Disambut Kabut dan Hujan.

Milad 25 tahun Yatim Mandiri Maros tahun ini berbeda dibandingkan dengan tahun tahun sebelumnya. Biasanya milad dilaksanakan di gedung yang letaknya di dalam kota dan mudah dijangkau.Namun di usianya yang ke 25, kegiatan milad dilaksanakan di sebuah pesantren yang berada di Desa Mangilu Kecamatan Bungoro Pangkep.

Letaknya sekitar 70 km dari Makassar atau sekitar 3 km dari kawasan pabrik Semen Tonasa 2.Pesantren Shela adalah nama dari pesantren yang dipimpin oleh Ustad Siradjang. Keberadaannya juga masih bisa dikatakan sangat muda dan baru. Beberapa dokter yang ikut sebagai tim medis bakti sosial ini baru tahu nama pesantren ini. Padahal mereka bertugas di Pangkep dalam kesehariannya.Bangunan pesantren masih dalam konstruksi, ada sebuah mushola sementara dan sebuah bangunan kelas yang dindingnya sangat artistik karena terbuat dari bambu dan kayu. Muridnya baru ada 60 siswa yang kebanyakan berasal dari desa sekitarnya.

Appang Bugis dan Kinder Huiz

Entah karena faktor kedekatan jarak yang mungkin menyebabkan kedua nama itu juga saling berdekatan satu dengan lainnya. Appang Bugis di seberang jalan, Kinder Huiz berada di depannya.

Appang Bugis adalah salah satu kue tradisional khas Bugis. Bahannya dibuat dari tepung yang dicampur dengan gula merah. Ada sebuah tradisi di kalangan Bugis Makassar, kalo hari Jumat jangan lupa makan appang. Manisnya gula merah akan membuat hidupmu nanti akan semanis rasa gula merah ini. Sedangkan Kinder Huiz adalah nama sebuah sekolah di Jalan Mappaodang Makassar. Kalo tidak salah “huiz” itu artinya rumah. Jadi Kinder Huiz bisa berarti “Rumah Anak Anak”.

Seharusnya hari ini ada 2 jadwal mendongeng. Yang pertama di TK Dharma Wanita Maros dan yang kedua di TK Kinder Huiz Makassar. Untuk mengefektifkan waktu karena hari ini adalah Hari Jumat, maka saya minta kepada Laznas Yatim Mandiri Maros pukul 08:00 pagi dimulai acara dongengnya.

Namun sejak subuh Makassar dan Maros diguyur hujan lebat. Bagaimana pun juga saya tetap harus ke lokasi di Maros. Menjelang tiba di Sudiang, notifikasi WA masuk dari Sri, staf YM Maros. Isinya kegiatan dongeng di Maros ditunda karena siswa yang datang hari ini sedikit. Dari 60 siswa, baru 10 orang saja yang datang. Hujan menjadi alasan ketidakhadiran siswanya.

Saya pun segera memutar stir.
Balik kanan menuju ke Makassar lagi.

Hi..hi…
Emang Sudiang bukan Makassar ya..?

Di lokasi kedua jadwal dimulai pukul 09:15. TK Kinderhuiz berada di jalan Mappaodang Makassar. Bagi yang sering ke jalan ini, ada sebuah warung yang menjual “Appang Bugis” yang sudah sangat terkenal enaknya. Biasanya kalo pagi sudah banyak pembeli yang antre di depan warungnya. Karena banyak yang antri, biasanya menjelang pukul 10, kue khas Bugis ini sudah habis.

Sekitar tahun 2011 saya mengenal TK Kinder Huiz ini. Dulunya berlokasi di samping rumah jabatan Kapolda Sulsel yang berada di jalan yang sama. Waktu itu saya diundang oleh Kak Awam Prakoso dan tim kampung dongeng untuk menyaksikan dongengnya. Saat ini lokasi sekolah berada tak jauh dari jalan Ratulangi Makassar.

Setelah bertemu dengan Ibu Nunu, sembari menunggu adik adik yang masih makan bekalnya, saya ngobrol ringan dengan beliau. Salah satu keinginannya adalah membangun sekolah dasar untuk para lulusan TK Kinder Huiz.

“Semua orang tua ingin anaknya tetap berada di lingkungan Kinder Huiz. Mereka berharap agar yayasan membangun sekolah dasar,” ungkap beliau.

Beberapa orang tua siswa sudah mengenal cara mendidik guru guru di sekolah ini. Sehingga mereka ingin anaknya terus bersekolah lanjut di tingkat sekolah dasar.

Suasana di dalam ruangan kelas nampak riuh. Beberapa dari mereka ternyata menunggu dongeng.

“Bahkan ada siswa yang sempat sempatin masuk sekolah karena mau dengar dongengnya Kak Heru,” papar bunda Nunu.

Dan ketika waktu mendongeng sudah tiba, keriuhan dan tingkah laku adik adik yang berusia 2 sampai 5 tahun pun semakin ramai.
Siswa yang duduk di kelas A dan B duduk dengan tertib di bagian belakang. Tetapi yang play grup dan kinder tak mau duduk lama. 2 dari mereka malah berdiri di depannya Kak Heru.

Salah satunya adalah Dzaky Prananda.
Lihatlah lirikannya..!
Kira kira apa yang menyebabkan dia melirik seperti itu ya?

Padahal 15 menit pertama, Dzaky tak mau duduk. Dia terus berdiri di depan. Walaupun begitu matanya tetap melekat ke arah Kak Heru.
Nampaknya dia serius.
Sesekali dia tertawa dan senang dengan dongeng Om Singa dan si Tikus. Bahkan ketika om Singa menyuruh si Tikus pergi, dengan patuhnya Dzaky ikutan pergi bersama si Tikus.

Dan tanpa terasa hampir 60 menit kebersamaan ini harus diakhiri.
Kehadiran Bona menjadi magnet bagi mereka.
Bona yang lucu dan menggemaskan..!

Hasil sedekah dongeng di TK Kinder Huiz sebesar Rp. 2.090.000,- untuk selanjutnya disalurkan kepada Laznas Yatim Mandiri.

Sampai bertemu lagi di bulan Ramadhan ya…

#SedekahDongeng
#YatimMandiri
#RumahDongeng
#Storytelling

Petualangan Bersama Hujan di Segeri Pangkep

Hari Selasa, 12 Maret 2019 adalah hari pertama roadshow Sedekah Dongeng di Segeri Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan. Jarak sekitar 70 km harus kami tempuh sepanjang perjalanan dari Makassar ke Pangkep.
Hujan begitu derasnya ketika kami memasuki wilayah Kecamatan Segeri Pangkep.
Lokasi pertama adalah di MTS Negeri DDI Segeri Pangkep.
Derasnya hujan masih belum berhenti di tempat ini. Halaman sekolah yang biasanya dipakai untuk upacara tergenang oleh air. Pikir saya, nampaknya dongeng tidak bisa diluar ruangan.

Ruangan kecil di MTS DDI Segeri Pangkep yang masih beralas ubin biasa

Sambutan hangat dari Bapak Kepala Sekolah membuat suasana menjadi lebih akrab. Atas anjuran beliau, kegiatan dongeng dilaksanakan di sebuah aula kecil yang masih beralaskan lantai biasa.

Tuh lihat.., sampai sampai kak Heru harus buka sepatu di depan adik adik. Walau begitu kak Heru tetap ganteng khan..?

SMP Negeri 1 Segeri Pangkep

Selanjutnya tim Sedekah Dongeng bergerak ke SMP Negeri 1 Segeri. Cuaca masih belum bersahabat dengan kami. Hujan masih enggan untuk berhenti. Lapangan upacara basah dan tergenang air.

Pilihan tempat kegiatan akhirnya adalah di ruang kelas. Wakil Kepala SMP meminta kepada pengurus OSIS agar hanya perwakilan siswa saja yang mengikuti kegiatan dongeng ini.

Tak mengapa ruangan kelas hanya bisa ditempati oleh sekitar 50 anak yang merupakan perwakilan dari 200 murid lainnya.

Terima kasih untuk bunda AL Djibran Evi yang seharian ini bersedia meluangkan waktu dan sup ubinya untuk kami santap di sela hujan di Segeri.

SD Negeri 23 Takku Kecamatan Segeri Pangkep.

Roadshow di hari kedua Sedekah Dongeng di Segeri Pangkep hari ini berjalan tanpa ada hujan. Walaupun dini hari tadi sekolah ini sempat diguyur hujan, namun ketika dongeng berlangsung hujan sudah berhenti. Beberapa tempat di halaman sekolah masih tergenang air.
Kegiatan dongengpun tetap berlangsung di teras depan kelas.

Teras kelas yang berbentuk selasar panjang dipenuhi oleh 300 adik adik mulai dari kelas 1 sampai kelas 6. Beberapa guru yang hari ini tidak mengikuti pelatihan kelas inklusif juga ikut dalam barisan dongeng muridnya.

Ternyata selasar yang sempit tak mampu menampung barisan dongeng yang ada. Beberapa murid terpaksa harus memanjat pohon agar bisa menyaksikan dongeng seru hari ini. Walaupun berdesak desakan, namun tidak terjadi keributan di antara mereka.

SDN 34 Citta Segeri Pangkep

Sedari pagi, Makassar diguyur hujan yang cukup lebat. Dan seperti sudah menjadi pasangan peristiwa bila hujan pasti macet.
Kemacetan panjang Kamis pagi ini dimulai dari pertigaan jalan Borong dan Antang. Sampai di perempatan jalan masuk Bukit Baruga, kemacetan masih terjadi. Salah satu ruas jalan inspeksi PAM ditutup karena ada pesta pernikahan.

“Kayaknya hujan pindah ke Maret ya..”, ungkap saya kepada penumpang cantik yang duduk disampingku.

“Iya…,” jawabannya singkat sembari terus memainkan ipad mininya.

Agenda dongeng pagi ini masih menuju ke Segeri Pangkep. Ini adalah hari ketiga roadshow ke kabupaten penghasil ikan bolu dan jeruk Pangkep. Semestinya pukul 09:00 sudah harus tiba di Segeri, namun pagi ini pukul 07:30 masih berkutat macet di jalan Leimina Antang.

Hujan mulai berhenti ketika tiba di Maros untuk menjemput Ibu Ani dan Jene, staf Yatim Mandiri Maros yang pagi ini bertugas mendampingi saya ke Pangkep. Bergegas mereka naik ke mobil karena waktu sudah menunjukkan pukul 08:40. Spanduk dan majalah bulanan Yatim Mandiri sudah disiapkan oleh mereka berdua.
Menyusuri jalanan ke arah Pangkep, cuaca mulai tak bersahabat. Gerimis kecil mulai menghadang perjalanan kami.

Saya mencoba menelpon Ibu AL Djibran Evi yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan kami di Segeri.

“Hujan qi di Segeri?,” tanyaku dengan intonasi yang agak kuatir.
Memang harus kuatir karena lokasi pertama adalah SD 34 Citta yang biasanya tergenang air bila hujan.

“Masih gerimis kak,” jawab bunda Evi di ujung telepon. Agak lega saya mendengarnya.

Namun ketika kami tiba di Segeri, hujan malah semakin deras. Dengan payung pinjaman, bunda Evi susah payah mengendong si kecil masuk ke dalam mobil kami.

“Gara gara lihat kakaknya foto dengan Bona, ini adiknya mau ikut dengar dongeng,” ujar bunda Evi ketika sudah duduk di dalam mobil. Naufal, si anak yang sulung kemarin berfoto bersama Bona di sekolahnya. Dan semalam adiknya rewel mau juga berfoto.
Pantesan saja hari ini dia ikut.

Perjalanan menuju ke SD 34 Citta masih ditemani oleh hantaman air hujan yang tak mau berhenti. Saya harus waspada karena banyak lubang di sepanjang jalan. Beberapa kali roda Mobil Bona alias Mona terantuk di lubang aspal yang tak terlihat karena genangan air menutupi lubang.

Dan setelah 20 menit berlalu, kami tiba di sekolah. Seperti biasanya, adik adik kecil sudah tak sabar menunggu kedatangan kami. Hari ini ruangan perpustakaan menjadi panggung dongeng. Sekitar 70 siswa duduk dengan rapi di dalam ruangan ini. Beberapa guru dan orang tua juga nampak bergabung dan bersempit ria di dalam ruangan yang berukuran 5 x 5 meter. Walau ini adalah perpustakaan sekolah, jangan ditanya jumlah koleksi buku bukunya.
Yang ada hanya rak buku yang masih kosong. Bahkan saya sempat mendorong rak buku ini agar adik adik dapat duduk dengan nyaman.

SMP Negeri 2 Segeri Pangkep

Dan lokasi terakhir kegiatan hari ini berlabuh di SMPN 2 Segeri Pangkep. Seperti anak SMP di sekolah sebelumnya, beberapa dari mereka masih merasa asing dan aneh kalau di usianya masih harus mendengar dongeng.

Love you Bona..!

Saya sih asyik asyik saja dengan kondisi ini. Karena di akhir kegiatan, wajah mereka nampak gembira dan sumringah setelah mengikuti alur dongeng yang saya sampaikan. Apalagi ketika mereka ketemu dengan si Bona.

Kembali ke SD Malengkeri Bertingkat 1

Alhamdulillah cuaca pagi ini bersahabat untuk kegiatan Sedekah Dongeng Peduli Banjir Sulawesi Selatan bersama Laznas Yatim Mandiri Sulawesi Selatan.

Halaman sekolah SD Malengkeri Bertingkat 1 cukup nyaman untuk dijadikan alas duduk. Matahari nampak malu menampakan diriny. Dia bersembunyi di antara awan.

Menjelang akhir cerita tiba tiba turun gerimis yang membuat saya harus segera berkemas dari atas panggung.
Dan ketika status ini saya buat, hujan sudah mendera kota Makassar lagi.

#sedekahdongeng
#rumahdongeng
#storytelling
#YatimMandiri

Dongeng di TK Azzahra Takalar

Sabtu 22 Desember 2018 berkunjung ke TK Azzahra Takalar.

Hari ini adik adik menerima raport hasil belajarnya di awal semester 2018. Kegembiraan mereka bertambah karena hari ini ada dongeng bersama Kak Heru dan Momo. Beberapa anak yang sedianya tidak mau datang ke sekolah, namun mendengar ada dongengnya Kak Heru, serentak mereka berdatangan ke sekolah.

Dongeng memang kata magic bagi anak anak. Seperti kegembiraan adik adik bersama sama mendengarkan dongeng yang sekaligus ditemani oleh orang tuanya.

Sampai jumpa di lain waktu ya…

#DongengAnak
#rumahdongeng
#storytelling

Sudiang? Kayaknya Jauh Sekali!

Hujan mendera Makassar dengan kerasnya.
Anehnya Sudiang tidak hujan?

Ah… Jadi ingat anekdot tentang Sudiang.
Katanya Sudiang itu bukan wilayah Makassar.
Ada yang bilang Sudiang itu jauuuhhhh….!

Kalo jualan online bakalan batal transaksi karena kejauhan letak Sudiang.

Kegiatan Sedekah Dongeng di TK Islam Sudiang

Walau jauh dan kena macet, pagi ini tepat pukul 9 pagi Kak Heru sudah berada di TK Islam Sudiang. Karena sudah beberapa kali datang ke sekolah ini, pak Satpam sampai hapal dengan si Bona.

“Selamat pagi Bona!”, sapa pak satpam ketika saya memarkir mobil di depan sekolah.

Kegiatan Sedekah Dongeng di TK Islam Sudiang

Biasanya jalanan di depan sekolah penuh dengan mobil yang berlalu lalang dan parkir di depan sekolah. Namun pagi ini ada tempat parkir spesial buat Kak Heru yang tepat di depan sekolah.

Asman dan Joharni dari Laznas Yatim Mandiri sudah datang duluan di sekolah ini. Kamipun segera naik ke lantai dua. Terdengar pengumuman dari speaker sekolah yang menginformasikan kedatang tim Sedekah Dongeng. Tak butuh waktu lama, aula serbaguna di lantai 2 segera penuh dengan ratusan adik adik TK Islam Sudiang.

Kegiatan Sedekah Dongeng di TK Islam Sudiang

Hari ini kegiatan Sedekah Dongeng mengumpulkan infaq berjumlah Rp. 3.070.000,- yang selanjutnya disalurkan kepada Laznas Yatim Mandiri Makassar.

Panggilan ke Takalar : Ma’udu Lompoa

Perayaan Ma’udu Lompoa di Takalar (Foto Tribun Timur)

Pemerintah Kabupaten Takalar menggelar perayaan Ma’udu Lompoa di Desa Cikoang, Kec. Manggarabombang, Kab. Takalar, Kamis (6/12/2018). Bagi yang masih asing dengan istilah Ma’udu Lompoa, artinya kurang lebih adalah Maulid Besar. Kegiatan ini adalah rangkain peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan setiap tahunnya di desa ini. Biasanya dalam acara ini ada berbagai perahu hiasan yang berisi telur dan makanan songkolo’ atau ketan hitam.

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di TK Andika Takalar

Hanya saja Kak Heru kali ini bukan diundang ke Desa Cikoang Takalar, tetapi ke TK Andika miliknya bunda Sumiati Madeali di Jalan Pramuka 1 Takalar. Di sekolah ini turut juga diadakan kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang tak kalah seru dong dengan perayaan Maudu Lompoa di Cikoang.

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di TK Andika Takalar

Di halaman belakang rumah yang dijadikan sebagai sekolah, pagi ini sudah berdatangan adik adik sangat bersemangat. Hari sebelumnya ibu guru sudah mengumunkan bahwa hari ini mereka akan mendengarkan kisah Muhammad semasa masih kecil di sekolahnya. Ini adalah kunjungan pertama saya ke sekolah ini, walaupun sudah beberapa kali mengunjungi Takalar untuk kegiatan dongeng tahun lalu.

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di TK Andika Takalar

Hampir semua murid sudah datang sewaktu saya tiba di sekolah ini. Kebanyakan dari mereka sepertinya belum mengenal saya. Hanya ibu Sumiati, kepala sekolah TK yang sudah mengenal saya ketika beliau ikut workshop dongeng bersama KPK tahub 2017 di Makassar. Setelah semua peralatan sound system terpasang dengan rapi, saya mulai menyapa adik adik kecil ini. Sapaan saya dibalas dengan begitu bersemangat dan tak sabar untuk mendengar dongeng pagi ini.

Dahulu kala, hiduplah seorang pemuda yang gagah perkasa. Badannya tinggi besar, wajahnya bersinar terang dan sangat ramah. Namanya adalah Abdullah…….

Itulah awal mula kisah tentang Muhammad sewaktu kecil hari ini.

Rompi Baru Tim Sedekah Dongeng

Sedekah Dongeng bersama Laznas Yatim Mandiri

Wah… tim Sedekah Dongeng hari ini sudah memakai seragam baru dalam melaksanakan kegiatannya. Sebuah rompi berwarna hitam yang bertuliskan Sedekah Dongeng di bagian belakang serta logo Laznas Yatim Mandiri di bagian kanan depan dipakai untuk pertama kalinya di sekolah ini. Sabtu sebelumnya Kak Safira Devi Amorita yang berkunjung ke SD Inpres Malengkeri 2, maka hari Sabtu ini 27 Oktober 2018 giliran Kak Heru yang mendongeng di SD Inpres Malengkeri 1.

Dongeng di SD Inpres Malengkeri

Kedua sekolah ini berada di dalam satu kompleks di Jalan Muhajirin 2 Makassar. Kedua sekolah ini sepertinya sudah akrab dengan kegiatan dongeng. Ketika baru sampai di gerbang sekolah, beberapa siswa yang sedang kerja bakti serentak menyapa nama “Kak Heru”.

Ada sekitar 250 murid di SD Inpres Malengkeri 1 yang pagi ini melaksanakan kegiatan Sedekah Dongeng untuk Palu dan Donggala. Mereka secara sukarela mengumpulkan uang jajannya untuk didonasikan kepada para korban gempa dan tsunami di Palu dan Donggala.

RA UIN Alauddin Makassar

Sedekah Dongeng di RA UIN Alauddin Makassar

Setelah menyelesaikan sessi pertama di SD Inpres Malengkeri 1, bergegas saya hendak menjemput Safira yang hari ini juga sedang mendongeng di RA UIN Alauddin Makassar. Jarak menuju ke sekolah tersebut tidak terlalu jauh dan hanya membutuhkan waktu 15 menit.

Sedekah Dongeng bersama Yatim Mandiri

Namun ternyata ada titik kemacetan di jalan Alauddin tepatnya di depan kampus Unismuh Makassar. Saya berpikir ada demo mahasiswa di kampus tersebut. Perjalanan sedikit merayap di tengah kemacetan ini. Dan ternyata bukan demo yang menyebabkan kemacetan tetapi sebuah truk pengangkut pasir yang sedang mogok di tengah jalan.

Sessi foto bersama Kak Safira dan Kak Heru

Kata sabar memang harus mulai dipakai bila sedang berlalu lintas di jalan ini.
Tiba di RA UIN Alauddin, waktu sudah menunjukkan pukul 09:00. Jadwal dongeng di sekolah ini dimulai pukul 08:00. Ketika saya tiba, sayup sayup masih terdengar suara Safira yang masih asyik bernyanyi di depan adik adik kecil di TK UIN Alauddin.

Hasil donasi yang dikumpulkan hari ini total berjumlah Rp. 1.970.000,- yang selanjutnya disalurkan kepada Laznas Yatim Mandiri Makassar.

#SedekahDongeng
#RumahDongeng
#YatimMandiri