Tag Archives: liburan dengan google

Ngopi di M Kopitiam Bone

Setelah hampir 6 hari menghabiskan liburan akhir tahun di Pulau Dewata Bali, maka di tanggal 31 Desember 2017 kami akhirnya harus mengakhiri liburan kami dan kembali ke Makassar.

Berangkat dari Bandara Ngurah Rai dengan maskapi Singa Merah pada pukul 11:40 WITA, tak lama kami tiba di bandara international Sultan Hasanuddin pada pukul 13:20 Wita. Saya memutuskan untuk langsung menuju ke Bone, kampung halaman istri tercinta. Apalagi mertua saya tercinta juga akan berulang tahun pada tanggal 1 Januari 2018.

Perjalanan ke Bone memakan waktu hampir 4 jam dari Maros. Bagi yang belum pernah ke Bone, harap waspada dan hati hati bila mengendarai mobil. Jalanan yang berkelok dan sempit sudah menghadang di sepanjang perjalanan di kawasan hutan lindung Kabupaten Maros.

Kadang di pinggir jalan kita dapat melihat kawanan monyet yang muncul dari balik rimbunnya pohon.

Tidak ada perayaan khusus bagi kami sekeluarga menyambut tahun baru 2018. Bagi kami tahun berganti seperti layaknya malam yang berganti siang, dijalani secara biasa tanpa harus berhura hura. Sayapun cukup menjalani pergantian tahun dengan berdoa kepada Allah agar di tahun 2018 semakin bisa mengembangkan dongeng bagi anak anak Indonesia.

Malam harinya, saya ditodong oleh Ajeng, salah satu kemenakan yang tinggal di Bone untuk menikmati kopi di salah satu kafe yang ada di Watampone, ibu kota Kabupaten Bone. Sayapun segera membuka aplikasi Google Maps untuk mencari lokasi kafe di kabupaten ini. Setelah melihat beberapa lokasi kafe, akhirnya kami memutuskan untuk meluncur ke kafe M Kopitiam di jalan Biru Watampone. Tak perlu waktu lama untuk sampai di kafe ini. Hanya 25 menit dari rumah mertua.

Kata Ajeng, menu spesial di M Kopitiam Watampone ini adalah Americano Coffee dan Cheese Waffle. Saya pun memesan menu tersebut, sedangkan Safira dan Ajeng memesan Blue Ocean dan Thai Tea.

Sudah 2 tahun belakangan ini kota tempat kelahiran Jusuf Kall, Wapres RI mulai menggeliat dengam makin banyaknya tempat tempat hang out atau nongkrong. Selain para muda yang mendominasi warkop ini, nampak beberapa orang tua yang tak mau ketinggalan untuk menikmati secangkir kopi di tempat ini.

Berlokasi di jalan Biru Watampone tepat di samping RSUD Bone membuat tempat ini mudah dicari dan paling ramai diantara kafe lainnya. Tempatnya lumayan luas untuk ukuran warkop, sekitar 15 x 15 meter. Di dalamnya sudah tertata rapi kursi kursi kayu berwarna coklat. Ada free WIFI untuk berinternet ria. Pengunjung bisa mengambil tempat duduk di dalam dan diluar warkop.

Bila ingin suasana alami, silakan mengambil tempat duduk di bawah pohon di bagian samping warkop.

Menilik situs Wikipedia, kata tiam sendiri merupakan bahasa Tinghoa-Hokkien yang berarti ‘kedai’. Kata ‘tiam’ ini menyebar sejak berabad-abad lalu, tidak hanya di Tiongkok, tetapi memasuki Asia Tenggara. Dan menjadi kelaziman, orang suka berlama-lama meminum kopi di ‘tiam’ di setiap titik keramaian kota sehingga muncullah istilah ‘kopi tiam’ atau kedai kopi.

Dalam bahasa Indonesia lainnya, bisa juga disebut ‘warung kopi’ dan kata ‘warung kopi’ semakin tenar sejak tahun 70-an dengan munculnya komedian Warung Kopi Dono-Kasino-Indro atau lazim disebut Warkop DKI.

Kembali ke kedai kopi atau kopi tiam. Di era Orde Baru yang tabu menonjolkan identitas Tiongkok, memaksa penggunaan istilah ‘kopi tiam’ disamarkan. Seiring tumbangnya Soeharto, muncullah Inpres Nomor 6 Tahun 2000 yang membatalkan Inpres Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama Kepercayaan dan Adat Istiadat Cina tentang pembatasan penyelenggaraan adat kegiatan Tionghoa. Setelah larangan ini dicabut, perlahan, identitas Tionghoa mulai tampil di area publik.

Salah satunya adalah muncul kembali kedai kopi alias kopi tiam, sebuah bahasa percampuran melayu dan bahasa etnis Tionghoa dan menjadi bagian dari bahasa yang hidup di Indonesia. ‘Kopi tiam’ ditulis dengan beragam varian, dari mulai ‘kopi tiam’, ‘kopitiam’ atau langsung merujuk dengan menggunakan huruf Tiongkok.

#LiburanDenganGoogle

Buka Buku di Kuta

Pepatah “Banyak Baca Banyak Tahu, Tak membaca sok TAHU” sepertinya melekat dalam diri Safira Devi Amorita, putri tunggal kami. Kebiasaan mendengarkan dongeng sejak usia dini ternyata membawa “reading habit” atau kebiasaan membaca baginya.

Seperti hari ini yang rute wisatanya adalah di daerah Legian Kuta. Sengaja kami berjalan kaki di kawasan ini karena memang dikenal dengan kawasan macet. Apalagi menjelang akhir tahun, dimana ribuan wisatawan mulai menyerbu Bali. Ketika sedang asyik menikmati berbagai macam toko yang menjual berbagai macam aksesoris khas Bali, tiba tiba Safira masuk ke sebuah toko buku kecil. Namanya toko buku Kerta di Jalan Pantai Kuta No 5 Bali.

Toko buku ini berukuran 3 x 4 meter ini cukup kecil untuk dikatakan toko buku mewah. Tapi setelah memasuki dan menjumpai koleksi buku-bukunya, para pengunjung baru akan merasakan sensasi kemewahan dari toko buku ini. Buku-buku yang dijual bukan saja buku terbaru terbitan Indonesia. Buku-buku langka baik dari dalam maupun luar negeri, pun buku-buku impor yang baru, tersedia di sini.

Berhubung arena lokasinya di Kuta, toko buku Kerta ini berusaha untuk selalu memenuhi kebutuhan dan permintaan dari pengunjung yang heterogen (orang-orang pribumi dan turis mancanegara). Koleksi buku-buku impor akhirnya menjadi salah satu produk yang mereka prioritaskan dalam toko buku ini. Namun, buku-buku sastra, fiksi, seni, budaya, dan sejarah mendominasi koleksi yang ada.

Meski koleksinya adalah buku-buku impor, tapi harga yang ditawarkan cukup terjangkau bagi kantong pengunjung. Sedangkan bila ingin koleksi buku impor terbaru, silakan mengunjungi Toko Buku Periplus yang berada di Discovery Kartika Plaza Kuta.

Periplus adalah toko buku khusus bagi Anda yang senang mencari buku-buku terbitan terkini dan populer dari luar negeri. Buku-buku yang dipajang kebanyakan adalah terbitan terbaru untuk semua kategori yang dijual. Jarang sekali Anda melihat buku-buku terbitan dua atau tiga tahun yang lalu.

Selain terbitan terkini, toko ini menspesialisasikan dirinya untuk penjualan buku-buku yang sedang populer. Sebagai contoh, novel fiksi pengarang populer seperti Dan Brown, Paulo Coelho, Stephen King, John Grisham, Danielle Steele, Sidney Sheldon, dan lain-lain. Dengan kata lain, Anda akan sulit menemukan buku-buku sastra klasik jaman dahulu di tempat ini.