Tag Archives: palu bangkit

Meluangkan Waktu ke SD Al Azhar Mandiri Palu

Roadshow Disaster Risk Reduction 2019 menyasar ke 13 lokasi yang semuanya merupakan wilayah kerja pendampingan dari Yayasan Wahana Visi Indonesia. Karena keterbatasan waktu, dari sekitar 30 tempat pendampingan hanya 13 lokasi saja yang dapat dijangkau pada bulan Februari 2019.

Di tengah kepadatan jadwal Roadshow ini, atas permintaan khusus dari bunda Irma, salah satu alumni SMANSA 90 yang sekarang bermukim di Kota Palu maka hari Jumat pagi ini mampir dulu ke SD Al Azhar Mandiri Palu.

Karena jadwal Roadshow Disaster Risk Reduction baru dimulai pukul 10:00, maka tak ada salahnya untuk bertemu dengan adik adik di sekolah ini. Menurut Bunda Irma, sekolah ini belum pernah dikunjungi oleh pendongeng setelah berdiri dari tahun 2016.

Bangunan sekolah SD Al Azhar Mandiri masih kokoh berdiri meskipun juga terkena gempa tahun lalu. Menurut salah satu pengajar, efek gempa bumi yang terjadi pada bulan September 2018 lalu hanya menyebabkan retak rambut pada beberapa dinding kelas. Dan setelah ditelaah oleh tim BPPD, bangunan masih layak dan aman untuk kegiatan belajar mengajar.

Halaman sekolahnya cukup luas dan saat ini juga digunakan untuk parkir kendaraan pengantar dan guru. Tepat pukul 09:15 ditemani oleh Bunda Irma, saya bergegas menemui Ibu Kepala Sekolah yang nampaknya sudah menunggu kehadiran kami. Ada sekitar 50-an murid kelas 1 dan 2 yang sudah duduk dengan rapi di salah satu teras sekolah. Murid laki laki duduk di bagian kanan dan murid perempuan duduk di sebelah kiri. Setelah mengenalkan diri kepada mereka, sayapun memulai menghantarkan sebuah kisah tentang keutamaan bersedekah.

Dan sepertinya waktu 30 menit masih dirasakan kurang oleh mereka. Beberapa dari mereka meminta agar kisahnya ditambah lagi. Dalam kegiatan di sekolah ini, adik adik dan pengajar di SD Al Azhar Mandiri Palu juga mengumpulkan donasi yang berjumlah Rp. 5.000.000,- yang selanjutnya disalurkan kepada Laznas Yatim Mandiri. Sekitar pukul 09:45 Kak Heru harus meninggalkan tempat ini untuk menuju ke Kabupaten Sigi.

SD Negeri 2 Binangga Sigi

Selanjutnya Kak Fera dari tim Disaster Risk Reduction menjemput Kak Heru untuk menuju ke SD Negeri 2 Binangga Sigi. Roadshow DRR ini bertujuan untuk memberikan edukasi tentang bagaimana mengurangi resiko pada anak ketika sedang terjadi bencana.

Di halaman sekolah masih berdiri sebuah tenda besar yang sebelumnya digunakan sebagai ruang belajar sementara. Tenda berwarna putih bantuan dari Unicef mampu menampung sekitar 100 anak. Saat ini adik adik sudah belajar di dalam kelasnya masing masing.

Masih dengan tema Tas Siaga Bencana yang diolah menjadi sebuah dongeng yang tentunya akan lebih mudah dipahami oleh adik adik yang masih duduk di sekolah dasar. Memaparkan tentang jenis jenis bencana dan sesekali Kak Heru bertanya tentang jenis bencana yang bisa terjadi di lingkungannya. Kebanyakan dari mereka pasti menjawab gempa bumi dan tsunami tatkala saya bertanya tentang nama bencana. Mungkin karena mengalami sendiri bencana tersebut sehingga kejadian tersebut akan terus berbekas dalam perjalanan hidupnya kelak.

Selain tim Wahana Visi Indonesia, kunjungan hari ini juga diikuti oleh Kak Sofie berserta tim dari BPPD Sulawesi Tengah yang juga mengenalkan fungsi dan tugas dari instansi tersebut.

90 Kilometer Rute Terjauh Hari Ini

Hari ke-4 Roadshow Disaster Risk Reduction atau Pengurangan Resiko Bencana hari ini dilaksanakan di SDN Watusampu Palu.

Lokasi sekolah ini dekat dengan pantai dengan kontur tanah yang berbukit. Di sepanjang perjalanan ke tempat ini, saya melihat beberapa lokasi penambangan pasir dan batu yang diambil dari bukit yang persis berhadapan dengan laut. Terlihat juga 2 kapal tongkang yang siap mengangkut pasir dan batu hasil olahan menuju ke tempat lain.

Teluk Domino terlihat jelas dari sekolah ini. Sebuah tiang bendera yang mengibarkan bendera merah putih juga nampak gagah berada di tengah halaman sekolah. Ada 4 bangunan yang berada di sekolah ini. Masing masing digunakan sebagai ruangan kelas 1 sampai kelas 6.

Kegiatan edukasi ini juga dihadiri oleh BPPD Sulawesi Tengah. Ada Pak Hany dan Ibu Sofi yang turut membawa pesan kepada adik adik tentang fungsi instansinya dalam menangani bencana. Sedangkan dari Wahana Visi Indonesia ada 2 tim turut mendampingi Kak Heru. Ada Pak Berto yang sejak hari pertama mengikuti kegiatan DRR, ada Kak Teten yang sepertinya menjadi kakak asuh dari adik adik di sekolah ini.

Metode penyampaian tentang resiko bencana dalam bentuk dongeng sangat diapresiasi oleh Pak Haly, dari BPPD Sulteng. Menurutnya, anak anak akan dengan mudah memahami tentang apa itu bencana, mengapa bencana bisa terjadi dan apa yang disiapkan ketika terjadi bencana. Bahasa dongeng yang sederhana disertai dengan tingkah laku Bona yang lucu membuat anak anak senang dan paham dengan materi DRR.

Desa Walandano Donggala

Seusai makan siang di salah satu rumah makan di samping kantor Wahana Visi Indonesia, sessi kedua roadshow Disaster Risk Reduction pun dimulai. Target kegiatan siang ini berlokasi di Desa Walandano Kabupaten Donggala yang jaraknya sekitar 90 km dari Kota Palu.

Dalam perjalanan menuju ke lokasi tersebut, kami melewati Tondo Sirenja, sebuah daerah tempat pertama kalinya gempa bumi terjadi tahun 2018 lalu. Daerah ini adalah pusat gempa yang menyebabkan gelombang tsunami ke Kota Palu. Menurut cerita penduduk setempat, gempa yang terjadi seperti sebuah ledakan yang berasal dari dalam laut. Gelombang laut setinggi 15 meter terlihat menggulung ke arah kota Palu. Sedangkan di daerah ini sendiri tidak mengalami efek tsunami yang besar.

Desa Walandano sendiri letaknya sangat terpencil dari jalan propinsi kearah Toli Toli. Setidaknya lembah dam bukit menghadang perjalanan kami. Lebar jalanan cukup sempit, hanya bisa menampung satu kendaraan saja. Bila berpapasan dengan kendaraan lain, harus ada yang mengalah. Disisi kiri terlihat jurang dengan kedalaman sekitar 50 meter sedangkan disisi kanan bukit yang tingginya hampir sama dengan jurang tadi. Bukit bukit disini sangat rawan longsor. Sepanjang perjalanan terlihat batu dan tanah sisa longsoran masih terlihat di jalan. Supir yang membawa mobil harus ekstra hati hati, karena menurutnya ini adalah perjalanan pertamanya ke daerah ini.

Setelah hampir 3 jam perjalanan, akhirnya desa Walandano sudah terlihat dari jauh. Desa ini sebagian besar penduduknya memeluk agama Nasrani. Ada 3 buah gereja yang letaknya hampir berdekatan satu dengan lainnya. Sebuah tenda berwarna putih yang berukuran cukup besar sudah penuh dengan celoteh adik adik yang nampaknya sudah tak sabar menunggu kami.

Setelah semua peralatan siap, Kak Ama dari Wahana Visi Indonesia mulai menyapa adik adik sembari mengenalkan satu persatu tim yang datang. Ada Kak Lisa, Kak Mangku, Kak Teten dan Kak Juanda. Program ruang sahabat anak dilaksanakan setiap hari Rabu di desa ini. Penanggung jawab programnya adalah Kak Juanda, seorang volunteer yang masih berusia muda. Sedangkan Kak Heru sendiri mendapat giliran terakhir dalam sessi perkenalan sekaligus langsung mendongeng untuk adik adik.

Tema dongeng hari ini adalah Tas Siaga Bencana. Gambaran ceritanya adalah sebuah kampung yang rawan dengan bencana longsor yang terjadi setiap tahunnya di desa ini. Gambaran visual yang saya dapat dalam perjalanan sebelum mencapai desa ini membuat saya tanpa kesulitan menjelaskan kepada adik adik tentang bagaimana menghadapi bencana longsor dengan menyiapkan tas siaga bencana.

Sebenarnya tas siaga bencana yang saya bawa adalah tas yang biasa saya gunakan untuk menyimpan Bona. Sebelum Bona keluar dari tas tersebut, saya sedikit memperlihatkan bahwa dalam tas siaga bencana isinya adalah roti, minuman botol, senter dan baterei. Dalam praktek sebenarnya, tas siaga bencana memang harus diisi dengan berbagai keperluan praktis untuk bisa bertahan hidup jika sewaktu waktu terjadi bencana.

Kehadiran Bona sendiri sangat dinantikan oleh adik adik dan juga ibu ibu yang hadir di tempat ini. Bona juga bisa mengajak adik adik untuk tetap tersenyum dan tertawa serta tetap siaga dalam menghadapi bencana yang sewaktu waktu bisa terjadi.

Terjebak Banjir Rob di Tompe

Ketika meninggalkan Desa Walandano, waktu sudah menunjukkan pukul 17:30 WITA. Memasuki waktu Maghrib, saya pun singgah disalah satu mesjid sekitar 3 km dari Desa Walandano. Keadaan sudah mulai gelap sepanjang perjalanan menuju jalan propinsi yang jaraknya sekitar 7 km dari lokasi kegiatan DRR.

Menjelang daerah Tompe kami mendengar kabar dari tim satu bahwa sudah ada genangan air laut yang masuk ke wilayah tersebut. Genangan itu berasal dari air laut atau banjir rob. Ketika mendengar kabar ini, ketinggian banjir rob baru mencapai mata kaki orang dewasa. Namun ketika 20 menit ternyata sudah banyak kendaraan yang berhenti sebelum Tompe. Ternyata ketinggian air laut sudah mencapai lutut orang dewasa. Kendaraan trukpun sudah tidak berani melewati genangan sehingga menimbulkan kemacetan yang cukup panjang. Atas saran Kak Ama, kamipun berputar arah menuju rumahnya yang tak jauh dari area banjir rob.

Sajian durian pun segera muncul ketika kami tiba di rumahnya. Baunya sungguh mengoda hidung saya yang sudah lama tak mencicipi durian khas Donggala. Menurut Kak Ama, durian ini diambil di belakang perkampungannya. Belum usai kami menyantap durian, kami kembali disuguhi nasi kuning yang masih hangat. Lezat sekali menikmati durian, nasi kuning hangat dan teh panas. Dan akhirnya sekitar pukul 21:00 WITA, kami diberitahu bahwa banjir rob sudah mulai surut dan sudah bisa dilewati oleh mobil dan kendaraan roda dua. Selanjutnya perjalanan yang panjang masih menanti kami menuju ke Kota Palu.

Ruang Sahabat Anak di Palu

Senangnya hari ini bisa melihat sebuah bangunan perpustakaan sekolah yang masih kokoh berdiri di tengah terjangan gempa dan tsunami pada Nopember 2018.

Perpustakaan di SD Inpres Buluri Palu ini letaknya tidak terlalu jauh dari area pantai. Hanya saja buku buku koleksi perpustakaan sekolah ini sudah tidak ada lagi karena terendam air laut.

Dan pagi ini tim Disaster Risk Reduction dari Wahana Visi Indonesia berkunjung ke sekolah ini untuk mengadakan edukasi tentang pengurangan resiko bencana dalam rangka menyambut hari Kesiapsiagaan Bencana 2019. Selain dari tim WVI, ada dua SKPD dari pemda Sulteng yang ikut dalam kegiatan ini. Mereka berasal dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Sulteng dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sulteng.

Kedua SKPD tersebut memberikan penjelasan singkat kepada adik adik yang pagi ini berada di ruang perpustakaan sekolah. Penjelasan ini sangat diperlukan karena kedua instansi ini sangat erat kaitannya dengan kondisi anak anak yang terkena dampak bencana.

Posyandu KEK Baiya

Perjalanan roadshow Disaster Risk Reduction berlanjut ke daerah Baiya yang merupakan salah satu posko pengungsian yang dihuni oleh sekitar 500 keluarga. Sebuah lapangan yang berada di area KEK Baiya Palu menjadi tempat tenda tenda berdiri yang selama kurang lebih 4 bulan menjadi tempat tinggal sementara.

Saat ini kondisi tenda sudah banyak yang kosong. Di samping lapangan ini sudah dibangun kurang lebih 30 Huntara (hunian sementara) yang sudah dilengkapi dengan listrik dan jaringan air minum.

Sore ini sebuah bangunan sederhana yang dijadikan sebagai Posyandu menjadi ramai karena kehadiran adik adik yang nampak sudah tak sabar mendengarkan dongeng. Masih bersama Wahana Visi Indonesia, DPPPA dan BPPD Sulteng yang berkolaborasi melaksanakan roadshow pengurangan resiko bencana untuk anak anak. Selain sebagai posyandu, bangunan ini juga sering digunakan oleh beberapa lembaga kemanusiaan sebagai ruang sahabat anak. Berbagai kegiatan menyenangkan dilakukan di tempat ini.

Semua anak sepertinya sudah hapal lagu tentang gempa dan bagaimana cara melindungi dirinya. Lirik dari lagu Pelangi Pelangi sudah dirubah menjadi sebuah lagu yang sudah mereka hapal diluar kepala.
Kendala di beberapa posko pengungsian adalah ada beberapa anak yang belum bisa menulis. Walaupun beberapa dari mereka sudah duduk di kelas 3 SD, kemampuan menulisnya masih sangat kurang. Sebagai contoh ketika saya meminta mereka menulis namanya, sebagian anak masih bingung dan tidak tahu menulis namanya sendiri.

Padahal salah satu target dari kegiatan ini adalah anak mengenali identitas dirinya sendiri. Sehingga ketika mereka terpisah dari keluarga, pengumpulan database menjadi lebih mudah.

Saya memberikan masukan kepada volunteer dari Wahana Visi Indonesia agar kegiatan di Ruang Sahabat Anak juga mengajarkan mereka untuk lebih bisa membaca dan menulis.

#disasterriskreduction
#storytelling
#rumahdongeng
#traumahealing
#wahanavisiindonesia
#palubangkit

Gantungkan Cita-Citamu Setinggi Langit : Dongeng Motivasi di Palu

Dongeng Trauma Healing di Donggala Sulawesi Tengah
Selasa, 26 Nopember 2018 tim AMDA Chapter Makassar bergerak ke SD Negeri Donggala Kodi di Palu Barat. Lokasi sekolah ini tak jauh dari Perumahan Balaroa tempat terjadinya liquidfaksi akibat gempa yang terjadi 28 September 2018.

Murid murid di sekolah ini masih belajar di bawah tenda besar bantuan dari Unicef dan Kemendikbud.
Sejak pagi Kota Palu diguyur hujan dengan intensitas cukup deras. Halaman sekolah menjadi basah sehingga kegiatan dongeng dilakukan dibawah tenda.

Walaupun demikian, suasana di dalam tenda tetap riuh dan ramai ketika saya mulai menyapa mereka. Wajah wajah yang ceria tergambar dalam senyuman yang tulus dan ceria. Acara saya mulai dengan terlebih dahulu mengenalkan sosok Professor Husni Tanra selaku ketua tim AMDA Chapter Makassar.
Mendengar kata professor, serentak mereka berdecak kagum. Mungkin saja selama ini mereka hanya mendengar gelar professor ini melalui TV atau radio. Dan hari ini sosok Professor hadir langsung di hadapan mereka.

Ketika Prof Husni Tanra membuka acara inipun gaya bicara tidak formal dan kaku. Beliau langsung bertanya kepada anak anak tentang cita citanya. Ada yang ingin jadi dokter, pilot, polisi bahkan ada yang ingin jadi presiden.

“Gantungkan cita citamu setinggi langit..!” seru prof Husni dengan penuh semangat.

“Saya ini dulu orang kampung yang tinggal di Wajo. Saya selalu giat belajar dari kecil. Dengan giat belajar, saya sudah pernah pergi ke Amerika dan Jepang.
Siapa yang mau pergi ke Amerika?”, tanyanya kembali.

Serentak semua murid mengacungkan jarinya. Wajah mereka penuh semangat mendengar kata demi kata yang meluncur dari seorang professor.

“Kalian harus rajin belajar dan harus hormat sama guru guru”, sebuah kalimat penutup diberikan kepada mereka agar bisa mewujudkan cita citanya.

Setelah sambutan dari Professor Husni Tanra, acara dilanjutkan dengan mendengarkan sebuah DONGENG…!

Wah ketika saya baru mengajak mereka untuk bernyanyi, tiba tiba speaker yang saya gunakan mati. Ternyata siang ini ada jadwal pemadaman lampu dari PLN. Walaupun tanpa sound system kegiatan dongeng tetap saya lanjutkan.

Siapa mau dongeng bilang saya..!

#traumahealing
#DongengAnak
#RumahDongeng
#AMDAChapterMakassar
#Storytelling

Dengarkan Jesica Bicara : Dongeng Trauma Healing di Palu

Ketika Professor Husni Tanra meminta kesediaan saya untuk menjadi relawan AMDA, maka dengan senang hati saya menerima ajakan beliau.

AMDA adalah sebuah organisasi internasional yang didedikasikan untuk mewujudkan komunitas dunia yang damai melalui upaya kemanusiaan di sektor perawatan kesehatan medis. Didirikan di Okayama City, Jepang, pada tahun 1984.

AMDA adalah organisasi non-pemerintah, nirlaba dengan jaringan internasional dari 30 cabang dan 47 organisasi yang berkolaborasi di seluruh dunia.

AMDA telah bekerja di lebih dari 50 negara di Asia, Afrika, Amerika Latin dan Eropa bekerja sama dengan pemerintah, badan PBB, seperti UNHCR, WHO, WFP, UNOCHA, dan lembaga dan lembaga khusus lainnya.

Dan hari Minggu siang, 25 Nopember 2018 saya tiba di Palu. Setelah beristirahat sejenak di salah satu guest house yang tak jauh dari Bandar Udara Mutiara SIS Al-Jufrie, saya diajak oleh tim AMDA untuk makan siang di Rumah Makan Padaidi Palu. Sempat bertanya dalam hati, kok jauh jauh ke Palu tapi makannya di rumah makan punyanya orang Pangkep ya..?

Sempat saya melirik tak jauh dari rumah makan ini ada tempat makan khas orang Palu yaitu Kaledo Stereo. Maunya sih saya bisa makan Kaledo dulu. Tapi tak apalah karena pasti di lain waktu masih ada kesempatan untuk merasakan makanan khas Palu ini.

Aksi Dongeng Kak Heru di Sigi Sulawesi Tengah

Usai makan siang, kami beristirahat sejenak di salah satu lokasi pemancingan di Kabupaten Sigi. Jaraknya tak jauh dari dari Kota Palu. Dan sekitar pukul 16:00 WITA tim AMDA sudah berada di JonoOge Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah. Sore ini saya beraksi menghibur adik adik sekolah minggu di tempat ini.

Sebelum memulai kegiatan dongeng, saya sempat duduk di barisan anak anak yang sudah hadir di lokasi kegiatan. Saya melihat ada seorang gadis kecil yang duduk paling depan. Namanya Jesica, umurnya baru 6 tahun. Saya mencoba berbincang dengan si kecil pemberani ini sembari menunggu acara dimulai.

Kak Heru asyik ngobrol dengan Jesica

Di tangannya nampak sebuah kertas yang dilipat dengan rapinya. Saya mencoba mendekati gadis kecil ini dan bertanya kertas apa itu?

“Ini surat untuk ibu guru Krista,” jawabnya.

“Boleh Kak Heru lihat apa isinya?,” tanyaku. Tanpa ragu ragu dia meyerahkan kertas kecil berwarna putih.
Ada kalimat kalimat yang ditulis dengan guratan pensil.
Saya nggak terlalu hapal isinya, namun surat itu berisi ucapan terima kasih kepada ibu guru Krista yang telah membuat Jesica menjadi anak pintar.

Ibu Krista adalah salah satu relawan pengajar di tempat ini. Dan besok pagi ibu Krista akan pergi meninggalkan Palu karena masa tugasnya sudah selesai. Dan besok pula surat itu akan diberikannya kepada ibu guru Krista.

Mengajak berbincang dan bercerita adalah salah satu metode yang baik dilakukan di lokasi bencana.
Dengarkan apa yang anak katakan. Lihat matanya agar dia tahu bahwa dia didengar oleh orang dewasa.

#traumahealing
#RumahDongeng
#Palubangkit
#sigibangkit
#DonggalaBangkit