Tag Archives: pendongeng anak

Ruang Ekspresi: Panggung Para Seniman Sulsel 2018

Gadis kecil berbaju kuning bergegas turun dari kursi rodanya. Saya tak menyadari kehadirannya karena sedang asyik berbincang dengan Yaser, seorang teman yang suka baca puisi.

Tak lama berlalu si gadis kecil ini segera memeluk saya dengan eratnya. Seakan akan lama tak berjumpa dengan saya. Sang ibu yang sedang mendorong kursi roda hanya bisa tersenyum memandang putri kecilnya. Sayapun segera jongkok supaya bisa juga membalas pelukannya.

“Apa kabar? Sudah kelas berapa sekarang?”, tanyaku sembari mencoba mengingat ingat nama gadis ini.

Terus terang saya ini punya ingatan yang parah. Saya lupa nama gadis kecil ini. Bahkan ketika Yaser bertanya kepadanya, saya hanya bisa mendengar sayup sayup ucapannya. Memang dia sudah beberapa kali ikut mendengarkan dongeng ketika saya manggung di beberapa acara.

” Kelas 6 kak…, Bona mana?”, jawabnya sembari matanya melihat ke kiri dan ke kanan mencari Bona.

Pelukannya mulai lepas ketika dia melihat tasnya Bona. Si boneka tersebut memang sangat disukainya. Dan sepertinya anak anak lebih suka dengan Bona dibandingkan dengan saya. Hanya dengan melihat tas Si Bona, gadis kecil ini sudah merasa puas dan yakin nanti akan melihat langsung aksi Si Bona. Tak lama kemudian diapun berlalu dari hadapan saya setelah berfoto bersama.

Hari ini saya bertemu dengan banyak penggiat seni di Makassar. Kebanyakan dari mereka adalah para perupa. Bertempat di Baruga Laki Padada, hari ini Minggu 2 Desember berlangsung kegiatan Ruang Ekspresi 2018. Beberapa kegiatan antara lain video art, mural, live painting, live music, sharing discussion, temu komunitas dilaksanakan dalam kegiatan yang diinisiasi oleh Ibu Gubernur Sulawesi Selatan.

Ruang Ekspresi 2018 di Rujab Gubernur Sulsel

Dan sayapun juga diminta oleh pihak panitia pelaksana untuk mengisi dongeng dalam kegiatan Ruang Ekspresi ini. Pilihan dongeng dalam kegiatan ini adalah cerita rakyat Makassar yang berjudul Pung Julung Julung, kisah persahabatan antara ikan lumba lumba dengan I Barani. Ketika saya mulai tampil di panggung, nampak si gadis kecil tadi duduk paling depan dan selalu tersenyum bahkan tertawa ketika Bona mulai beraksi.

Duduk di depan panggung dan asyik dengar dongeng

Dan sampai malam ini setiba di rumah, saya masih belum ingat nama gadis kecil berbaju kuning tadi…!

Tradisi lisan, dari Steve Jobs hingga Jaka Tarub

Safira dan Arief, mereka adalah salah satu pendongeng masa kini

Apa pekerjaan paling berpengaruh dalam sejarah manusia?

Menurut inovator dan pendiri Apple, Steve Jobs, profesi paling berpengaruh di dunia adalah pendongeng.

“Pendongeng menetapkan visi, nilai, dan agenda dari seluruh generasi yang akan datang.”

Tak heran, Jobs sendiri adalah seorang pendongeng. Dalam setiap presentasi peluncuran produk Apple, alih-alih mengutarakan keunggulan produk, ia malah kerap mendongeng, menghadirkan drama di atas panggung. Jobs dikenal sebagai pendongeng tingkat wahid.
Salah satu dongengnya yang banyak dibicarakan adalah pidatonya saat melepas lulusan Stanford University, pada 12 Juni 2005.

Jobs menceritakan tiga cerita tentang menghubungkan peristiwa, cinta dan kehilangan, dan kematian. Dongeng itu dikenang dengan pesannya bagi generasi muda untuk ‘tetap lapar dan tetap bodoh’ (stay hungry, stay foolish).
Pesannya ini banyak dikutip. Dongengnya menembus lintas generasi.

Jika Jobs mendongeng di masa belum dikenal tulisan, ceritanya akan dikemas dalam tradisi lisan. Menurut Sejarawan Belgia, Jan Vansina, tradisi lisan (oral tradition) adalah kesaksian yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.

Dr Leo Agung S M.Pd, dosen program studi Pendidikan Sejarah UNS Surakarta, bersama rekan-rekannya dalam makalah berjudul Tradisi Lisan sebagai Sejarah, Redefinisi Pembelajaran Kurikulum 2013, menulis tradisi lisan dapat diartikan sebagai kebiasaan yang berkembang dalam suatu komunitas yang direkam yang diwariskan antargenerasi lewat bahasa lisan.
Misalnya, cerita, syair, legenda, atau yang lain. Banyak peristiwa yang direkam dalam syair dan cerita. Dalam konteks Indonesia, salah satu rekaman ini bisa ditemui dalam tradisi lisan Tanggamo, dari Gorontalo.

Tanggamo bisa disebut syair jurnalisme. Wujudnya berima tapi tak terbatas jumlah barisnya. Pada masa jayanya, Tanggomo adalah sarana menyebarluaskan informasi yang berdasar pada fakta kepada masyarakat.
Salah satu pelestari Tanggamo adalah Manuli As Ali, yang sudah meninggal di era 1970-an. Menurut Yamin Husain, yang sempat hidup bersama Manuli, Tanggomo berasal dari kata molangomo atau menampung.
Tanggamo menampung berbagai peristiwa yang terjadi di masyarakat maupun fakta sejarah. “(Tanggamo) Sastra lisan daerah yang berhubungan dengan pendokementasian,” ujarnya seperti dinukil dari rri.co.id

Menurut Pakar tradisi lisan Gorontalo, Nani Tuloli, Tanggomo adalah pers pada masanya, petanggomo adalah pewarta yang mencari berita dan diceritakan kepada masyarakat di tempat lain dengan cara yang menarik. “Apa yang disampaikan adalah fakta,” kata Nani Tuloli, seperti dikutip dari Kompas.com.

Indonesia memang dikenal kaya dengan tradisi lisan. Di Indonesia Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mengumpulkan data tradisi lisan dari total 29 provinsi di Indonesia. Namun data ini masih sementara, dan masih terus dikumpulkan.

Dari data tersebut setidaknya kita bisa kita kenali dua ribu lebih tradisi lisan. Wujudnya macam-macam. Mulai cerita rakyat, teka-teki, nasihat, mitos, legenda, dan lainnya.
Provinsi yang terbanyak adalah di Kalimantan Timur yaitu sebesar 286 tradisi lisan, yang kedua adalah Jawa Tengah yaitu 275, kemudian diikuti Jawa Timur (242), NTT (146), dan Bangka Belitung (139).

Dari total sekitar dua ribu jenis tradisi lisan tersebut dibagi menjadi enam jenis. Yakni Cerita Rakyat 81,2 persen (1.769), doa atau mantera 8 persen (174), pantun 6,3 persen (137), lagu atau syair 2,7 persen (59), nasihat 1,6 persen (34), dan teka-teki 0,2 persen (5)
Dari keenam kategori tersebut, tradisi lisan yang paling banyak adalah Cerita Rakyat. Secara umum cerita rakyat dibagi menjadi tiga yaitu Epos, Mitos, dan Legenda.
Secara pengertian mitos adalah cerita yang bersifat simbolik yang mengisahkan serangkaian cerita nyata atau imajiner. Legenda adalah cerita prosa rakyat yang dianggap oleh yang empunya cerita sebagai satu yang benar-benar terjadi. Epos adalah cerita kepahlawanan.

Jawa Tengah adalah daerah dengan cerita rakyat terbanyak 264 cerita. Salah satunya Kemudian Kalimantan Timur 201, Jawa Timur 197, Bangka Belitung 129, NTT 123.
Leo dkk, mengutip Robert Sibarani, guru besar Anthropolinguistik Universitas Sumatera Utara menyatakan, persoalan bangsa ini ternyata tak dapat diselesaikan hanya mengandalkan teknologi modern dan ilmu pengetahuan dari Barat yang berasal dari sumber tertulis. Perlu pendekatan budaya dari tradisi leluluhur dari sumber lisan.

Tapi posisi tradisi lisan masih terpinggirkan dan potensinya terabaikan dan dianggap masa lalu. Keberadaan tradisi ini memang mengkhawatirkan. Padahal, perannya tak jauh beda dengan tradisi dalam wujud tulisan.
“Keduanya merupakan pesan masa lampau ke masa kini. Pesan-pesan ini merupakan elemen kunci dalam rekonstruksi sejarah. Saat tak ada tulisan, tradisi lisan menanggung beban rekonstruksi sejarah. Maka tradisi lisan tetap penting dan relevan,” tulis Leo dkk.

Usaha-usaha untuk merawat tradisi lisan telah banyak dilakukan. Di antaranya lomba cerita rakyat yang dilaksanakan oleh perpustakaan nasional Indonesia setiap tahunnya.

Jadi menjadi pendongeng adalah sebuah pilihan profesi yang dapat diandalkan.

Artikel diatas dapat juga dibaca di : https://beritagar.id/artikel/berita/tradisi-lisan-dari-steve-jobs-hingga-jaka-tarub

Sedekah Dongeng di Griya Mulya Asri

Sedekah Dongeng untuk Yatim Dhuafa, digelar pendiri Rumah Dongeng Makassar, Kak Heru, di kompleks Perumahan Griya Mulya Asri, Sudiang Makassar, Minggu (29/4/2018) sore.

Kak Heru yang sekaligus merupakan pendongeng nasional, menjelaskan sedekah dongeng merupakan salah satu kegiatan Rumah Dongeng Indonesia bekerja sama dengan Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Yatim Mandiri untuk mengedukasi anak usia dini dalam bersedekah.

“Tujuan sedekah Dongeng adalah untuk mengedukasi anak usia dini dalam bersedekah, agar membantu teman-teman mereka para yatim Dhuafa,” sebut kak Heru.

Kak Heru menambahkan bahwa menggalang dana melalui Dongeng merupakan salah satu cara menggugah anak usia dini untuk bersedekah dalam membantu sesama.

Sementara itu, terkait materi Dongeng yang diberikan dalam mengajak anak usia dini bersedekah, kak Heru mengemukakan kebanyakan berasal dari kisah-kisah Islami, yang diambil dari ayat-ayat suci Al-qur’an.

“Dalam Al-qur’an banyak kisah-kisah Islami yang bisa dijadikan materi Dongeng, seperti misalnya surah Al-Qari’ah tentang hari kiamat dan surah Al-Fil tentang penyerangan pasukan gajah,” jelasnya.

Sedekah Dongeng di Perumahan Griya Mulya Asri diikuti seratusan lebih anak-anak di kompleks tersebut. “Anak-anak yang diikut dalam sedekah Dongeng ini, sebagian berasal dari Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA),” sebut ketua pelaksana, Sirmayanti.

Penggalangan dana lewat sedekah Dongeng ini, Rumah Dongeng Indonesia berhasil mengumpulkan donasi lebih dari Rp 1.5 juta dan selanjutnya disalurkan ke Laznas Yatim Mandiri Makassar

Sumber: CelebesOnline

Roadshow Gemar Membaca bagi Pelajar se Kabupaten Maros 2018

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Maros meluncurkan program Roadshow Gemar Membaca bagi Pelajar se Kab. Maros.
Kegiatan yang menyasar ke 14 kecamatan ini secara rutin akan digelar di 7 lokasi yang berbeda setiap bulannya. Tujuan dari peluncuran gerakan gemar membaca ini salah satunya adalah agar minat baca di kalangan pelajar akan menjadi meningkat. Perpustakaan adalah salah satu stake holder yang mampu memberikan pembelajaran melalui buku buku non teks pelajaran sekolah.

Kegiatan yang dilaksanakan di Pendopo B Kantor Bupati Maros, Senin (30/4/2018) secara resmi dibuka oleh Wakil Bupati Maros bersama dengan jajaran dinas perpustakaan Kab. Maros. Kehadiran orang nomor dua di Kabupaten Maros tentu merupakan bukti bahwa beliau sangat peduli dengan peningkatan minat baca bagi Pelajar melalui gerakan ini.

“Saya sering bepergian ke luar negeri, disana orang orang sering membawa buku kemanapun mereka pergi. Dan di waktu luang, buku menjadi santapan mereka sehari hari” ujar Drs. H. A. Harmil Mattotorang, MM ketika memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan ini secara resmi.

Acara ini dihadiri oleh 140 pelajar tingkat SD dan SMP beserta guru pendamping yang berasal dari Kecamatan Turikale dan Maros Baru. Peserta yang hadir juga mendapat pembekalan materi dari 3 nara sumber yaitu Professor Murni dari UNM yang membawakan materi tentang Minat Baca. Sedangkan DR. Djabar selaku konsultan pendidikan karakter membawakan materi Gerakan Literasi Sekolah. Dalam pemaparan materinya, Prof Murni memberikan tips yang menarik dan singkat tentang bagaimana meningkatkan minat baca bagi anak anak. Kehadiran gadget tentu akan berpengaruh besar terhadap minat baca anak terhadap buku. Namun dengan pembiasaan yang rutin seperti mengajak anak ke toko buku atau perpustakaan, akan bisa merubah ketergantungan anak terhadap gadget.

Sedangkan DR. Djabar memberikan metode yang mudah bagaimana menerapkan budaya literasi di sekolah. Melalui contoh Gerakan Literasi Sekolah yang sudah dilaksanakan di sekolanya, beliau membuka wawasan baru tentang 15 menit membaca sebagai pembiasaan dan pengembangan literasi di dalam kelas. Ruangan kelas akan lebih menarik bila hasil hasil karya literasi anak anak dipajang dan ditata dengan menarik di koridor sekolah.

Tak ketinggalan juga ada aksi dongeng dari Kak Heru dari Rumah Dongeng yang berhasil memikat adik adik yang hadir. Bahkan beberapa anak anak dengan antusias maju ke depan untuk bertanya secara langsung kepada Kak Heru tentang teknik mendongeng yang baik. Dan sebagai hadiah bagi para penanya cilik, ada buku dongeng yang dibagikan oleh Kak Heru.

Kids Great Time with TK Menara St. Martinus.

Dengan mengambil tema “We Cook We Have Fun” ratusan adik adik kecil pagi ini memenuhi swimming pool di area Gammara Hotel Makassar. Hujan yang sudah turun semenjak pagi tak menghalangi mereka untuk datang ke tempat ini. Bagi mereka mungkin kegiatan berenang sudah biasa dilakukan di akhir pekan bersama keluarga.
Tapi dalam kegiatan ini ada yang istimewa loh..!

Apakah itu???

Ya.. hari ini adik adik dari TK Menara St. Martinus akan belajar memasak bersama para chef hebat di Gammara Hotel. Sekolah yang beralamat di Jalan Timor No. 102 Makassar, Senin 25 Maret 2018 mengajak murid muridnya untuk belajar memasak di luar kelas. Secara langsung mereka belajar memasak dan menyajikan makanan. Namun ada yang lebih menarik lagi. Selain cooking class, pagi ini ada kegiatan storytelling bersama Kak Heru dan Bona dari Rumah Dongeng ID.

Waktu sudah menunjukkan pukul 08:30, sejak dini hari Makassar diguyur oleh rintik hujan yang sampai pagi belum pernah berhenti. Cuaca yang kurang bersahabat tak menyurutkan ratusan murid TK Menara untuk melakukan kegiatan awal di area swimming pool Hotel Gammara. Kolam renang yang berada disamping restauran letaknya sangat strategis dan tidak menyulitkan para tamu hotel. Boleh jadi sembari menikmati sarapan pagi, tamu hotel bisa langsung berenang di kolam renangnya.

Seperti pagi ini, saya sudah dihidangkan secangkir kopi dan lembutnya roti panggang yang langsung keluar dari oven roti. Meskipun sudah sarapan di rumah, tak enak rasanya menolak ajakan Mr. Armady salah satu pengajar di TK Menara yang bertanggungjawab untuk mengurusi kegiatan murid.

“Maaf Kak Heru agak molor kegiatan pagi ini karena hujan yang turun dari tadi malam”, ucap Mr. Armady ketika menemui saya di lobby hotel.

Saya dan Mr. Armady memang baru bertemu secara langsung. Biasanya kami hanya berkomunikasi melalui aplikasi media sosial untuk berkoordinasi dalam kegiatan ini. Sekitar 35 menit saya menunggu murid murid selesai berenang. Beberapa menu sarapan pagi saya coba nikmati sembari menyiapkan materi dongeng.

Hari ini ada 2 sessi dongeng yang harus saya bawakan. Murid murid dibagi menjadi 2 kelompok ketika kelas memasak dimulai. Satu kelompok terdiri dari 50 anak dan 2 orang guru yang segera beranjak ke restauran. Sedangkan sisanya tetap berada di hall hotel untuk mendengarkan dongeng. Beberapa orang tua juga ikut menikmati keseruan dongeng hari ini.

Dongeng Keliling dalam Aksi Kolektif Hari Perempuan Internasional 2018

Banyak cara unik untuk memperingati sebuah perayaan, salah satunya dilakukan oleh salah satu NGO di Makassar dengan menggelar Aksi Kolektif. Kegiatan yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 24 Maret 2018 di Fort Rotterdam Makassar diinisiasi oleh Yayasan Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI) yang mengajak beberapa komunitas untuk mengelar kolaborasi kegiatan.

Komunitas tersebut antara lain Mampu BaKTI, Koalisi NGO Sulawesi Selatan, KPI Sulawesi Selatan, HIPJ2 FPMP Sulawesi Selatan, Saya Perempuan Anti Korupsi Sulsel, Institute Of Community Justice, HWDI Sulawesi Selatan, Dewi Keadilan, YAPMI Sulselbar, YKPM Sulsel, Sekolah Perempuan, Maupe Maros, PW Aisia Sulsel, Lemina, Lembaga Perlindungan Anak Sulawesi Selatan, Kitab Rumah Kita Bersama, QQ Recycle Art, Dongeng Keliling, Forum Jurnalis Sanitasi, Kita Bhinneka, Sekolah PRP Paraikatte, Forum Anak Maros, serta beberapa individu dan jurnalis,
menggelar aksi kolektif untuk memperingati hari perempuan internasional 2018. Aksi kolektif ini adalah salah satu cara perempuan dan pemerintah kota Makassar untuk bersinergi mendorong pengesahan RUU pengahapusan kekerasan seksual.

Panggung utama dibuat sangat sederhana dan terbuka tanpa tenda. Hanya ada backdrop berupa kegiatan aksi dan sofa sederhana diatas panggung di samping Chappel Fort Rotterdam. Tepat pada pukul 15:00 WITA, acara dimulai dengan pembukaan oleh Plt Kepala Disdik Makassar, Mukhtar Tahir.

“Ini salah satu tugas pemerintah di dalam hal mengamankan yang namanya kekerasan perempuan yang memang menjadi tupoksi dari kami selaku orang yang diamanahkan di dinas sosial, karena dinas sosial sebenarnya menyelesaikan 27 perkara, salah satunya adalah bagaimana kita memberikan keamanan bagi para perempuan, sehingga tidak mendapatkan perlakuan- perlakuan kekerasan khususnya perlakuan kekerasan seksual.” ujar Mukhtar yang mewakili Plt Walikota Makassar.

Yang paling seru adalah ketika semua komunitas diundang untuk naik ke atas panggung dan membaca deklarasi dukungan pengesahan RUU penghapusan kekerasan seksual bersama dengan peserta aksi kolektif yang berisi:

“Mendukung percepatan pengesahan rancangan undang-undang penghapusan kekerasan seksual, pada hari ini, Sabtu 24 Maret 2018, kami organisasi pemerhati peduli dan bekerja pada hak-hak perempuan dan anak yang terdiri dari program Mampu BaKTI, Koalisi NGO Sulawesi Selatan, KPI Sulawesi Selatan, HIPJ2 FPMP Sulawesi Selatan, Saya Perempuan Anti Korupsi Sulsel, Institute Of Community Justice, HWDI Sulawesi Selatan, Dewi Keadilan, YAPMI Sulselbar, YKPM Sulsel, Sekolah Perempuan, Maupe Maros, PW Aisia Sulsel, Lemina, Lembaga Perlindungan Anak Sulawesi Selatan, Kitab Rumah Kita Bersama, QQ Recycle Art, Dongeng Keliling, Forum Jurnalis Sanitasi, Kita Bhinneka, Sekolah PRP Paraikatte, Forum Anak Maros, dan individu perempuan, aktivis, akademis, jurnalis, menyatakan bahwa angka kekerasan terhadap terus meningkat setiap tahun, kekerasan seksual adalah kejahatan terhadap perempuan dan martabat kemanusiaan serta pelanggaran terhadap hak asasi manusia, negara tidak mempunyai instrumen untuk mencegah dan melidungi perempuan dari kekerasan seksual, negara dan pemerintah berkewajiban untuk mencegah dan melindungi perempuan dari kekerasan seksual, karena itu kami mendukung dan mendesak kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia untuk segera mengesahkan rancangan undang-undang penghapusan kekerasan seksual.”

Setelah pembacaan deklarasi, acara ini dilanjutkan dengan penampilan live music dari Ariel Matulessy dan talkshow yang dipandu oleh Luna Vidya serta diisi oleh narasumber yang berhubungan dengan penangan kasus kekerasan seksual, yaitu; Lusia Palulungan (Yayasan BaKTI), Meisy Papayungan (P2TP2A Sulsel), dan Andi Sri Wulandani (Masika Makassar) yang dipandu oleh Luna Vidya. Talkshow ini sendiri terlihat sangat diminati oleh diikuti para perempuan yang hadir, kebanyakan dari mereka adalah ibu ibu dan perempuan muda.

Di bagian lain, anak anak yang hadir juga nampak asyik mendengarkan dongeng yang dibawakan oleh Dongkel With Library Perpustakaan Kota Makassar. Tim Dongkel yang berasal dari 2 komunitas yaitu Rumah Dongeng ID dan Kampung Dongeng Mardati menampilkan para pendongeng perempuan yang siap mengedukasi anak anak melalui dongeng.

Simak videonya disini :

Tim Dongkel with Library

Dongeng Keliling dalam Aksi Kolektif Hari Perempuan Internasional 2018

Banyak cara unik untuk memperingati sebuah perayaan, salah satunya dilakukan oleh salah satu NGO di Makassar dengan menggelar Aksi Kolektif. Kegiatan yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 24 Maret 2018 di Fort Rotterdam Makassar diinisiasi oleh Yayasan Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI) yang mengajak beberapa komunitas untuk mengelar kolaborasi kegiatan. Komunitas tersebut antara lain Mampu BaKTI, Koalisi NGO Sulawesi Selatan, KPI Sulawesi Selatan, HIPJ2 FPMP Sulawesi Selatan, Saya Perempuan Anti Korupsi Sulsel, Institute Of Community Justice, HWDI Sulawesi Selatan, Dewi Keadilan, YAPMI Sulselbar, YKPM Sulsel, Sekolah Perempuan, Maupe Maros, PW Aisia Sulsel, Lemina, Lembaga Perlindungan Anak Sulawesi Selatan, Kitab Rumah Kita Bersama, QQ Recycle Art, Dongeng Keliling, Forum Jurnalis Sanitasi, Kita Bhinneka, Sekolah PRP Paraikatte, Forum Anak Maros, serta beberapa individu dan jurnalis,
menggelar aksi kolektif untuk memperingati hari perempuan internasional 2018. Aksi kolektif ini adalah salah satu cara perempuan dan pemerintah kota Makassar untuk bersinergi mendorong pengesahan RUU pengahapusan kekerasan seksual.

Panggung utama dibuat sangat sederhana dan terbuka tanpa tenda. Hanya ada backdrop berupa kegiatan aksi dan sofa sederhana diatas panggung di samping Chappel Fort Rotterdam. Tepat pada pukul 15:00 WITA, acara dimulai dengan pembukaan oleh Plt Kepala Disdik Makassar, Mukhtar Tahir.

“Ini salah satu tugas pemerintah di dalam hal mengamankan yang namanya kekerasan perempuan yang memang menjadi tupoksi dari kami selaku orang yang diamanahkan di dinas sosial, karena dinas sosial sebenarnya menyelesaikan 27 perkara, salah satunya adalah bagaimana kita memberikan keamanan bagi para perempuan, sehingga tidak mendapatkan perlakuan- perlakuan kekerasan khususnya perlakuan kekerasan seksual.” ujar Mukhtar yang mewakili Plt Walikota Makassar.

Yang paling seru adalah ketika semua komunitas diundang untuk naik ke atas panggung dan membaca deklarasi dukungan pengesahan RUU penghapusan kekerasan seksual bersama dengan peserta aksi kolektif yang berisi:

“Mendukung percepatan pengesahan rancangan undang-undang penghapusan kekerasan seksual, pada hari ini, Sabtu 24 Maret 2018, kami organisasi pemerhati peduli dan bekerja pada hak-hak perempuan dan anak yang terdiri dari program Mampu BaKTI, Koalisi NGO Sulawesi Selatan, KPI Sulawesi Selatan, HIPJ2 FPMP Sulawesi Selatan, Saya Perempuan Anti Korupsi Sulsel, Institute Of Community Justice, HWDI Sulawesi Selatan, Dewi Keadilan, YAPMI Sulselbar, YKPM Sulsel, Sekolah Perempuan, Maupe Maros, PW Aisia Sulsel, Lemina, Lembaga Perlindungan Anak Sulawesi Selatan, Kitab Rumah Kita Bersama, QQ Recycle Art, Dongeng Keliling, Forum Jurnalis Sanitasi, Kita Bhinneka, Sekolah PRP Paraikatte, Forum Anak Maros, dan individu perempuan, aktivis, akademis, jurnalis, menyatakan bahwa angka kekerasan terhadap terus meningkat setiap tahun, kekerasan seksual adalah kejahatan terhadap perempuan dan martabat kemanusiaan serta pelanggaran terhadap hak asasi manusia, negara tidak mempunyai instrumen untuk mencegah dan melidungi perempuan dari kekerasan seksual, negara dan pemerintah berkewajiban untuk mencegah dan melindungi perempuan dari kekerasan seksual, karena itu kami mendukung dan mendesak kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia untuk segera mengesahkan rancangan undang-undang penghapusan kekerasan seksual.”

Setelah pembacaan deklarasi, acara ini dilanjutkan dengan penampilan live music dari Ariel Matulessy dan talkshow yang dipandu oleh Luna Vidya serta diisi oleh narasumber yang berhubungan dengan penangan kasus kekerasan seksual, yaitu; Lusia Palulungan (Yayasan BaKTI), Meisy Papayungan (P2TP2A Sulsel), dan Andi Sri Wulandani (Masika Makassar) yang dipandu oleh Luna Vidya. Talkshow ini sendiri terlihat sangat diminati oleh diikuti para perempuan yang hadir, kebanyakan dari mereka adalah ibu ibu dan perempuan muda.

Di bagian lain, anak anak yang hadir juga nampak asyik mendengarkan dongeng yang dibawakan oleh Dongkel With Library Perpustakaan Kota Makassar. Tim Dongkel yang berasal dari 2 komunitas yaitu Rumah Dongeng ID dan Kampung Dongeng Mardati menampilkan para pendongeng perempuan yang siap mengedukasi anak anak melalui dongeng.

Simak videonya disini :

Tim Dongkel with Library

Read Aloud Workshop di Watampone

Ide membuat sebuah buku yang berjudul The Read-Aloud Handbook muncul ketika Jim Trelease mulai menjadi sukarelawan di sebuah kelas pada saat yang sama ketika dia dan istrinya membesarkan dua anak mereka dan membacakan untuk mereka setiap hari.

Jim adalah mantan jurnalis dan penulis The Read-Aloud Handbook , salah satu buku paling menakjubkan yang pernah saya baca. Ini adalah buku yang dengan mudah saya pahami secara intuitif tentang membaca sekaligus bagaimana dapat mengartikulasikan bacaan tersebut.

Dalam pelatihan “Membaca Nyaring” yang saya lakukan bersama 200 guru TK se Kabupaten Bone, saya ingin menunjukkan betapa mudahnya mendongeng dengan teknik Read Aloud ini. Selama hampir 5 jam saya memaparkan langkah langkah mudah yang dilakukan mulai dari awal membaca sampai aktifitas setelah membaca buku.

Dalam video ini, beberapa orang guru sedang asyik mempraktekkan betapa mudahnya membacakan cerita bagi murid muridnya.
Salah satu buku yang dibaca adalah buku berjudul “Piknik di Kumbinesia” dari KPK RI.

Yuk disimak videonya disini :

Mudahnya Mendongeng dengan Read Aloud

Dongeng di 3 lokasi dalam sehari

Jumat, 16 Maret 2018 merupakan hari yang cukup melelahkan bagi Kak Heru. Di hari yang penuh berkah bagi umat muslim, ada 2 jadwal kegiatan Sedekah Dongeng dan 1 jadwal mendongeng di salah satu TPA di Bukit Baruga. Lokasi kegiatan yang sangat berjauhan cukup menyita tenaga dan raga.

Lokasi yang pertama adalah di SD Pertiwi di Jalan Bontolangkasa Makassar. Sekolah ini merupakan kompleks sekolah yang terdiri dari TK dan SD. Letaknya berdampingan dan dipisahkan oleh bangunan kantin sekolah. Bunda Vina yang merupakan penghubung dalam kegiatan Sedekah Dongeng ini adalah seorang pustakawan di SD Pertiwi. Saya meminta kepada Bunda Vina agar jadwal dongeng di sekolahnya bisa lebih awal karena harus melanjutkan kegiatan mendongeng di Kabupaten Maros.

Jumat pagi cuaca di Makassar ternyata tidak bersahabat dengan saya. Dari aplikasi Weather di smartphone, cuaca hari Jumat diperkirakan hujan dan petir. Dan ternyata prakiraan cuaca dari aplikasi tersebut cukup akurat. Semenjak subuh Kota Makassar sudah mulai diguyur rintik rintik hujan. Malahan di pukul 06:30 hujan turun dengan sangat deras, membuat saya cukup kuatir dengan kondisi lapangan di lokasi dongeng.

Tiba di SD Pertiwi pukul 07:05 WITA, dan acara baru bisa dimulai pada pukul 08:15 karena harus menunggu kedatangan murid murid ditengah turunnya hujan. Dari Yatim Mandiri Maros sudah memberikan notifikasi bahwa jadwal Sedekah Dongeng di SDN 28 Salenrang dimulai pukul 09:30 WITA.

Sayapun mengakhiri kegiatan Sedekah Dongeng di sekolah ini sekitar pukul 08:45 WITA. Tanpa menunggu lama sayapun pamit kepada Bunda Vina dan kepala sekolah untuk melanjutkan perjalanan ke sekolah lain.

Setelah selesai di SD Pertiwi Makassar, selanjutnya bergerak ke Kabupaten Maros.
Lokasinya adalah di SDN 28 Salenrang, kegiatan Sedekah Dongeng dilaksanakan di sekolah ini berkolaborasi dengan Laznas Yatim Mandiri Maros.

Desa Salenrang berjarak kurang lebih 60 km dari Makassar. Perjalanan ke sekolah ini penuh dengan tantangan cuaca. Melewati kota Maros, hujan dan petir seakan bersahutan di angkasa. Alhamdulillah perjalanan ke sekolah ini tak sia sia. Adik adik di SDN 28 Salenrang Maros tetap setia menunggu kedatangan tim Sedekah Dongeng.

Sedangkan lokasi ketiga adalah di Mushola Al Ukhuwah di Bukit Baruga. Kelompok ibu ibu di kompleks ini membina sekitar 40 anak anak untuk belajar mengaji di mushola ini. Saya ingat sekitar 3 tahun lalu mushola ini pernah saya kunjungi. Fisik dan kondisinya jauh berbeda dengan 3 tahun sebelumnya. Sekarang kondisinya sudah bagus dan bersih. Mushola sudah dilengkapi dengan 4 buah AC dan sound system yang bagus.

Ketika saya memulai dongeng, beberapa anak masih asyik bermain dengan gadgetnya. Ada sekitar 5 anak yang asyik bermain games. Sayapun merasa untuk tidak perlu menegur mereka yang nampak asyik. Dan benar, ketika dongeng sudah berlangsung 10 menit, tanpa dikomando, kelimanya langsung meletakkan gadgetnya dan mulai serius mendengarkan dongeng yang saya bawakan.

DongKel with Library di TK Mentari Bontoa

Memasuki minggu kedua di Bulan Maret 2018, kembali tim Dongeng Keliling Dinas Perpustakaan Kota Makassar mengeluarkan jadwal kunjungan rutin dongeng keliling. Di setiap awal pekan, Tulus Wulan Juni selaku pengatur dan penerima permintaan dongeng, selalu memberikan jadwal Dongkel With Library di grup WA dan media sosial lainnya.

Biasanya ada beberapa perubahan jadwal tukang dongengnya. Dikarenakan kesibukan dari kami sebagai pendongeng sekaligus menjalani berbagai jenis profesi yang berbeda beda, ada yang berprofesi sebagai guru TK, seperti Bunda Titi yang mengajar di salah satu TK di Maros. Ada juga kak Yusran yang saat ini mengajar di SDI Galangan Kapal IV, ada Kak Nojeng seorang penyiar TV dan Radio sekaligus seorang Doktor Bahasa Indonesia di UNM. Yang tukang masak alias ibu rumah tangga juga ada. Pokoknya macam macam profesi digeluti oleh tim pendongeng. Saat ini ada sekitar 26 tukang dongeng yang siap untuk terjun ke 360 sekolah selama tahun 2018.

Hari ini, Kamis 15 Maret 2018 Kak Heru bersama tim DongKel Dinas Perpustakaan berkunjung ke TK Mentari Bontoa di Kelurahan Barombong Makassar. Biasanya saya langsung mencari lokasi sekolah di Google Maps, namun nama TK Mentari tidak muncul di aplikasi maps ini. Beberapa kali saya mencoba menulis nama sekolah di kolom pencarian Google Maps namun hasilnya nihil. Saya sih senang bila nama sebuah tempat belum muncul di aplikasi ini, artinya bagi seorang Local Guide, istilah kami di komunitas Google Maps akan mendapat point 15 bila menambahkan sebuah tempat di aplikasi.

Sayapun mencoba alternatif pencarian lokasi sekolah dengan cara kedua. Yaitu “menelpon“..! . Dari ujung sebelah sana, suara manis seorang wanita menyapaku sembari membenarkan jadwal Dongkel With Library hari ini adalah di sekolahnya.

“Sekolah kami berada di dekatnya TK Alternatif Barombong”, ujar Bunda Mia ketika saya bertanya lokasi sekolahnya. Sayapun langsung teringat nama sekolah yang disebut Bunda Mia. Awal bulan Maret saya sudah berkunjung ke TK Alternatif. Rupanya jarak antara kedua sekolah tersebut tidak terlalu jauh. Sekitar 200 meter saja. Sayapun segera meluncur ke lokasi tanpa menunggu mobil layanan perpustakaan. Biasanya kami selalu bertemu di lokasi dongeng meskipun berbeda jadwal keberangkatan masing masing kendaraan.

TK Mentari Bontoa berada di belakang sebuah mesjid di Jalan Abd. Kadir 2 Barombong. Letaknya aman bagi anak anak untuk beraktifitas karena berada di lorong yang cukup sepi dari arus lalu lintas kendaraan. Dengan wajah yang sangat ramah, Bunda Mia menyambut kedatangan saya di halaman depan sekolah. Rupanya sekolah ini adalah sebuah rumah yang halamannya cukup luas. Ada beberapa permainan ketangkasan yang berdiri di samping halaman sekolah. Beberapa orang tua juga turut menemani anak anak mereka untuk mendengarkan dongeng.

Selain mendongeng untuk adik adik di sekolah ini, saya juga mengajak ibu ibu yang sedang berada di sekolah untuk membacakan buku cerita kepada masing masing anaknya. Ini adalah salah satu upaya agar orang tua juga turut berperan dalam mengenalkan buku kepada anak usia dini.

Pada tanggal 5 Mei 2018 akan diluncurkan Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku (Gernas BAKU) yang diinisiasi oleh Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI).

Gerakan Nasional Orang tua Membacakan Buku (GERNAS BAKU) yaitu, gerakan nasional kolaborasi antara pemerintah, pegiat peduli pendidikan anak usia dini, perguruan tinggi dan dunia usaha dalam rangka partisipasi keluarga dan lembaga PAUD untuk menumbuhkan budaya membaca.

Dan yang paling istimewa dari kegiatan dongeng hari ini adalah jamuan makan ikan bakar yang ternyata sudah disiapkan oleh Bunda Mia dan orang tua murid. Nikmat sekali bisa merasakan enaknya ikan bakar dan sambal pedas khas Makassar yang disajikan lengkap dengan sayur dan racikan mangga muda. Saya dan tim DongKel With Library segera menuntaskan jamuan makan siang yang sangat lezat dan nikmat.