Tag Archives: Perpustakaan Kota Makassar

Paupau ri Kadong : Buku Dongeng Makassar

Paupau ri Kadong Buku Dongeng Makassar

Kembali saya menerima undangan dari Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Makassar  untuk hadir dalam acara Bedah Buku Terbitan Lokal. Ini adalah kedua kalinya saya diundang setelah bulan lalu hadir di acara yang sama di salah satu hotel di kawasan China Town Makassar. Yang menarik bagi saya adalah ajakan dari TWJ alias Tulus Wulan Juni bagi para pendongeng.

“Dalam buku ini banyak sekali dongeng yang wajib dibawakan oleh tim DongKel loh..!. Salah satunya adalah kisah Si Dungu yang lucu. Saya sampai tertawa terbahak-bahak ketika membacanya!”, ucap pustakawan teladan nasional ini dalam akun Facebooknya. Makin penasaran saja rasanya ingin melihat langsung buku yang berjudul Pau Pau Ri Kadong.

Keesokan pagi di hari Rabu, 10 Mei 2017 tepat pukul 08:45 saya sudah hadir di tempat acara Bedah Buku. Setelah mengisi deretan daftar hadir sebanyak 3 rangkap dan berita acara serah terima buku, akhirnya buku yang berdampak kuning muda sudah ada di tangan. Sampulnya bergambar seorang lelaki berjenggot yang sedang duduk dan dikelilingi oleh beberapa pemuda. Dalam gambaran saya, bisa jadi lelaki tua itu sedang “mendongeng” sebuah cerita khas Makassar dan nampak 5 orang duduk dan serius mendengarkan ceritanya. Dibawah gambar tersebut tertulis nama Nurdin Yusuf – Sherly Asriani – Ridwan yang merupakan penulis buku ini.

Saya langsung membuka segel plastik yang membungkus buku ini. Rasa penasaran dari tadi malam membuat jari tanganku langsung mencari deretan 23 cerita yang terpampang di halaman judul. Mataku langsung terpaku di judul Si Dungu yang berada di halaman 98. Sembari duduk di jejeran kursi paling depan, secepat kilat saya buka halaman 98 dan mulai membacanya perlahan-lahan. Isinya bercerita tentang seorang anak yang sangat bodoh dan malas ke sekolahnya. Bila diberi tugas oleh ayahnya, pasti hasilnya selalu salah. Ketika disuruh oleh ayahnya untuk menyalakan rokok, si dungu malah membakar rokok itu sampai habis. Juga ketika disuruh oleh ayahnya untuk membeli korek api, si dungu malah mencoba satu persatu isi korek api sampai habis. Saya langsung teringat dengan salah satu pendongeng cilik dari SD Inpres Galangan Kapal IV yang membawakan cerita yang berjudul La Bengo. Cerita tersebut membawanya menjadi juara 1 Lomba Bercerita tingkat Kota Makassar. Antara cerita La Bengo dengan Si Dungu isinya hampir sama.

Ada juga cerita betapa serunya jika petani tahu bahasa binatang peliharaannya sendiri dalam judul Petani dan Ternaknya di bagian 13. Sedangkan dalam judul Nasib di Tangan Tuhan ada seseorang yang  saat jatuh miskin dan sengsara ingin segera mati. Si miskin malah berteman dengan Malaikat Pencabut Nyawa.  Akan tetapi ketika nasibnya berubah  dan sudah menikmati betapa enaknya jadi orang kaya, dia lupa akan kematian.
Saya juga tak menyangka bila pengarang buku bertajuk “Paupau ri Kadong” ini usianya 78 tahun. Di usia yang sudah cukup lanjut ternyata Nurdin Yusuf masih aktif menelorkan karya tulisnya.
“Bapak berkeliling ke beberapa daerah di Sulawesi Selatan untuk mengumpulkan dongeng ini. Dongeng yang dikisahkan oleh temannya di kampung kemudian direkam langsung oleh Bapak dalam bentuk pita kaset,” papar Sherly anak dari Nurdin Yusuf sekaligus salah satu pengarang buku ini.
“Sayangnya pernah ada kejadian banjir dirumah dan pita kaset terendam air. Rusak semua kasetnya. Dan hilang juga beberapa dongeng yang telah direkam,” lanjut alumni Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur Unhas angkatan 1991.

“Paupau ri Kadong berarti cerita yang dianggukkan atau di-iya-kan. Walaupun orang tahu cerita itu bohong (fiktif), tetapi disetujui bagi yang mendengarnya,” kata mantan dosen Sastra Unhas ini. Hal itu karena ceritanya hanya menjadi media untuk menyampaikan pesan moral bagi yang mendengarnya.

Lebih lanjut, Paupau ri Kadong adalah tradisi lisan atau budaya tutur dari mulut ke mulut yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat. Tradisi tutur ini menggambarkan cara berpikir dan membentuk pola tingkah laku masyarakat yang bisa menghibur hingga menghayati nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Muhlis Hadrawi yang hadir sebagai pembedah buku mengapresiasi terbitnya buku ini. “Hadirnya buku Paupau ri Kadong adalah usaha untuk merawat tradisi kita yang mulai luntur,” tutur Dosen Sastra Unhas.
Ditambahkannya, kehadiran komunitas pendongeng dalam bedah buku ini sangat berkaitan erat dengan Paupau ri Kadong.
“Saya baru mendapat informasi kalo di Makassar sudah ada komunitas pendongeng. Jadi merekalah yang nantinya meneruskan cerita dalam buku ini kepada anak anak di sekolah”,

Muhlis juga memaparkan sejarah singkat tentang sastra Bugis Makassar. Dilihat dari tradisi perkembangannya, pau pau ri kadong masuk dalam periode kedua yang disebut dengan jaman tomanurung atau periode yang ditandai dengan munculnya sebuah bentuk pustaka bugis yang berbeda dengan pustaka galigo (sastra). Dalam periode ini muncul dua bentuk pustaka bugis, ada yang tergolong karya sastra yang disebut tolok dan yang bukan karya sastra yang disebut lontara.

Ketika periode lontara berkembang, muncul pula bentuk pustaka bugis yang lain dari kedua bentuk karya sastra yang berkembang sebelumnya (galigo dan tolok), yakni pau-pau atau pau-pau rikadong serta pustaka lontara yang berbau Islami.

Dalam sesi tanya jawab, Kak Heru yang juga pendongeng menanyakan tentang penamaan tokoh dalam buku ini. Beberapa cerita tidak menyebutkan nama, hanya julukan saja seperti si sulung, si bungsu, si kaya dan lainnya.
“Sebaiknya dalam setiap cerita, dibuatkan nama tokoh supaya mudah diingat oleh anak anak. Nama Abunawas sangat melegenda karena cerita 1001 malam hanya fokus ke satu tokoh yang punya nama Abunawas. Mungkin cerita Bugis Makassar harus juga punya satu nama tokoh sehingga isi cerita mudah dipahami dan direkam oleh anak anak”, pinta Kak Heru kepada penulis buku ini.

Dan hari ini, sebuah khasanah baru dongeng Makassar kembali mendapatkan suntikan referensi baru dalam mendongeng. Sebanyak 23 cerita yang tentunya akan membuat anak anak kembali “ri kadong” atau mengangguk-anggukkan kepalanya ketika mendengarkan dongeng Si Dungu.

KURRE SUMANGA’, ANDARIAS

Andarias sang driver DongKel With Library

Salah satu pendukung keberhasilan Dinas Perpustakaan Makassar melaksanakan program Dongkel Perpusling adalah karena memiliki beberapa juru kemudi yang mumpuni dan handal.

Namanya Andarias Patabang. Lelaki ini memiliki pembawaan tenang. Tetapi jika berkesempatan duduk dan mengobrol dengannya, saya terkenang Ibu kost asal Rantepao Toraja yang kamarnya saya sewa selama kuliah, tidak pernah pindah saking betahnya.

Beberapa kali saya menyaksikan Andarias berhasil membawa mobil perpustakaan keliling memasuki lorong sempit, menghindari lubang dan kubangan, parkir kurang dari 1 cm dari tepi selokan, menyusur tenang di lorong pasar sayur, bahkan berhasil memutar arah mobil dengan hanya memanfaatkan lahan jalan selebar 2 meter yang dipadati penjual es dan mainan khas sekolahan.

Saya yakin orang ini cocok diajak main film Fast and Farious untuk adegan meloloskan diri dari lorong kecil pelosok kota.

Dan Andarias melakukannya setiap hari.

Lelaki ini cuma tersenyum atau tertawa sementara kami yang menumpang sesekali menjerit karena terkejut saat ujung mobil nyaris masuk parit. Beberapa pendamping malah memilih menunggu sampai posisi mobil stabil sebelum naik kembali.

Misi literasi kami di SD. Inp. Rappo Jawa hari ini kembali menantang Andarias menunjukkan kepiawaiannya di balik kemudi. Sekolah ini berada di jalan korban 40.000 jiwa, dalam lorong kecil. Tidak hanya itu, setelah berhasil masuk pagar, mobil harus menyusur lorong sekolah yang lebih sempit, berlubang-lubang, berkerikil, dengan cara …. berjalan mundur sejauh 50 meter ! Ditambah lagi harus turun membersihkan sendiri jalur dari motor2 yang parkir menghalangi.

Pendongeng boleh berganti setiap hari, begitupun tim pendamping. Tetapi juru kemudi tetap sama. Maka yang paling banyak mengunjungi lokasi pelayanan dalam rangka usaha nyata dalam menebar literasi, salah satunya adalah orang ini.

Kurre sumanga’, kakak Andarias.

Terima kasih, driver andalan.

Ditulis oleh Kak Madia, Pendongeng dan Ibu Rumah Tangga

Rompi Dongkel dan Keajaiban Inovasi

Rompi Dongeng Keliling

Merupakan sebuah kebanggaan tersendiri ketika hari ini saya memakai rompi Dongkel With Library yang diserahkan langsung oleh Bapak Andi Siswanta selaku Kepala Dinas Perpustakaan Kota Makassar. Rompi yang berwarna dasar biru dengan tulisan Dongkel with Library di bagian belakang diserahkan kepada 4 orang pendongeng yang mewakili 20 pendongeng lainnya.

Mengapa saya sangat bangga?

Seperti kita ketahui bersama bahwa inovasi layanan umum yang bernama Dongeng Keliling (Dongkel) with Library menjadi salah satu nominator penerima penghargaan dari Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara.

Tidak mudah untuk mencapai Top 99, tercatat 3.054 inovasi pelayanan publik yang terdaftar melalui aplikasi Sistem Informasi Inovasi Pelayanan Publik (SiNovik). Dari hasil seleksi administrasi, terdapat 1.373 inovasi yang lolos ke tahap selanjutnya.
Dari jumlah itu, dilakukan desk evaluation oleh Tim Evaluasi, yang terdiri dari para dosen senior perguruan tinggi yang berpengalaman sebagai asesor pada perguruan tinggi. Hasilnya, terpilih 99 inovasi layanan publik. Kementerian PANRB akan memilih 40 Juara Inovasi yang merupakan inovasi terbaik tahun 2017. Untuk menuju Top 40, inovator harus mengikuti presentasi dan wawancara. Kehadiran pucuk pimpinan kementerian, lembaga, provinsi, kabupaten/kota atau BUMN dalam presentasi merupakan nilai lebih. Karena hal tersebut menunjukkan komitmen dari pimpinan tertinggi serta pemahaman terhadap inovasi pada instansi yang dipimpinnya.
Program Dongkel With Library yang merupakan salah satu inovasi yang berhasil lolos ke 99 besar akan menghadirkan langsung Walikota Makassar, Dany Pomanto untuk mengikuti sessi presentasi program. Presentasi dan wawancara akan dilangsungkan di Kementerian PANRB, mulai Kamis tanggal 20 April sampai dengan 5 Mei 2017. Secara bergantian para inovator Top 99 akan berhadapan dengan Tim Panel Independen selama 30 menit.
Selain presentasi, tim independen juga akan melakukan peninjauan langsung ke lokasi kegiatan. Direncanakan peninjauan ini akan dilaksanakan pada minggu pertama dan kedua bulan Mei 2017.

Perpustakaan Kota Makassar telah melakukan upaya konsolidasi bersama para pihak yang terkait dalam Dongkel with Library. Mereka adalah para pendongeng, supir dan petugas layanan keliling. Ketiga unsur tersebut adalah ujung tombak dari inovasi ini. Konsolidasi ini dimaksudkan untuk menyatukan persepsi tentang program Dongkel ini yang akan dipresentasikan oleh walikota Makassar nanti.

Tulus Wulan Juni selalu koordinator program Dongeng Keliling menyampaikan beberapa hal penting yang harus diketahui bersama oleh semua anggota tim. Konsolidasi ini dilakukan di Hotel Yasmin Makassar pada hari Kamis, 20 April 2017 seusai kegiatan Bedah Buku Karya Lokal “Anging Mammiri” karya Abdul Rasyid Idris.
Beberapa hal kembali ditekankan untuk diketahui bersama oleh semua tim Dongkel antara lain durasi dongeng dan durasi layanan perpustakaan keliling. Masukan dan usulan dari pendongeng juga sangat diperlukan agar kegiatan yang sudah berjalan 2 tahun ini dapat berjalan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Bukan hanya berjalan pada tahun ini saja, keberlangsungan Dongkel tetap harus dipertahankan untuk tahun selanjutnya.

Menurut rencana, penyerahan penghargaan Top 40 akan dilakukan pada bulan Juni, yang diharapkan bisa diserahkan langsung Presiden Joko Widodo dirangkai dnegan International Public Service Exhibition (IPSE) 2017. Pameran akbar inovasi pelayanan publik untuk memamerkan Top 99 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2017 di Jakarta Convention Center.

Semoga dongeng yang selalu membawa keajaiban bagi anak anak juga akan membawa keajaiban bagi Tim Dongeng Keliling untuk dapat menjadi juara layanan inovasi publik 2017, seperti apa yang dikatakan oleh Pak Fadly selalu Kepala Bidang Layanan Dinas Perpustakaan Kota Makassar bahwa lolosnya program Dongkel adalah karena kerja dan “keajaiban” bersama.

 

Jingle Ayo Membaca Perpustakaan Kota Makassar

Ayo Membaca

Lirik oleh Tulus Wulan Juni

Vokal oleh Safira Devi Amorita

————————————————

Isi waktu luangmu dengan membaca

Dimana kau berada jangan lupa membaca

Dengan membaca kita menjadi cerdas

Dengan membaca kita raih impian


Dengan membaca kita menjadi cerdas

Bangun smangatmu dengan banyak membaca