Tag Archives: Puasa Ramadhan

Mengapa Harus Mudik?

Monumen Kota Kelahiran JK di batas kota Bone

Memasuki awal puasa Ramadhan 1438 H, biasanya orang mulai sibuk merencanakan mudik ke kampung halaman.
Kadang saya hanya punya senyum getir tiap mendengar kata ‘mudik’. Wong kampung halaman di sebuah desa kecil bernama Cepoko Sawit yang letaknya di Jawa Tengah. Cukup memakan biaya yang besar bila harus mudik kesana. Akhirnya pilihan saya untuk mudik adalah ke kampung halaman istri saya di Bone yang jaraknya sekitar 200 km dari Makassar.
Seperti biasa, istri tercinta dan Safira putri saya yang sudah beranjak dewasa menyiapkan segala perlengkapan mudik. Tas besar berisi pakaian, beberapa tas kecil untuk peralatan make up mereka berdua dan makanan ringan untuk oleh oleh keluarga di Bone. Sedangkan saya cukup menyiapkan ransel hitam berisi beberapa buku bacaan dan laptop.

Sebelum berangkat, saya sempat menyelesaikan beberapa dokumen yang diminta oleh salah seorang teman pendongeng di Jakarta. Namanya sama dengan nama saya, Kak Heru Prakoso yang sudah malang melintang cukup lama sebagai pendongeng dan pengisi acara di salah satu TV Nasional. Dokumen yang diminta adalah sertifikat nara sumber workshop dongeng yang pernah saya ikuti. Dokumen tersebut akan digunakan sebagai salah satu persyaratan untuk menjadi Tutor Pendongeng Nasional oleh Kemendiknas Republik Indonesia. Untunglah panitia yang pernah melaksanakan workshop pagi ini satu persatu sudah mengirimkan sertifikat nara sumber workshop. Mulai dari workshop dongeng di Bantaeng, Soppeng, Sinjai, Toraja dan Manado sudah membuat sertifikat yang dimaksud. Padahal sebelumnya saya tidak pernah berpikir untuk membuat sertifikat tersebut, ternyata dokumen itu sangat bermanfaat. Selesai mengirimkan dokumen melalui email, perjalanan mudikpun segera dimulai.

Mobil kecil si “Mona” berwarna merah kali ini ditumpangi oleh 5 orang. Saya dan “Mami” panggilan keluarga kami untuk ibu mertua duduk di depan. Sedangkan Safira, Andi Rima dan istri saya duduk di bagian belakang. Biasanya boneka Bona ikut juga Mudik, namun kali ini dia tetap tinggal di rumah ditemani oleh si Momo dan Winnetou boneka hasil karya istri saya ketika mengikuti workshop Puppet bersama Mbak Ria Papermoon.

Momo – Winnetou – Bona

Rute yang saya pilih melewati jalan tol reformasi dengan pertimbangan arus lalu lintas yang lebih lancar bila lewat jalan tol. Hari Kamis tanggal 25 Mei adalah hari libur nasional, biasanya jalan arteri Perintis Kemerdekaan macet di persimpangan bandara Sultan Hasanuddin Maros. Suasana jalan tol memang sangat lancar pagi ini, saking lancarnya beberapa beberapa mobil kadang saling berebutan hanya untuk masuk ke gerbang tol. Hasilnya ada 2 mobil yang saling menjepit ketika tidak ada yang saling mengalah untuk  antri di gerbang pembayaran tol Reformasi.

Rebutan Mudik di gerbang Tol Makassar

Sampai di ujung jalan tol yang berbatasan dengan simpang lima bandara Sultan Hasanuddin Maros jalanan mulai macet. Pertemuan arus lalu lintas antara jalan arteri Perintis Kemerdekaan dan Jalan Tol Reformasi membuat kemacetan cukup parah. Perlu sekitar 45 menit untuk bisa lolos dari kemacetan ini. Pembangunan under pass di kawasan ini belum nampak usai juga. Kabarnya menjelang Lebaran under pass ini akan difungsikan untuk mengurai kemacetan yang sudah setahun ini sering terjadi.

Memasuki Kabupaten Maros arus lalu lintas mulai lancar, apalagi di sepanjang jalan menuju ke arah Camba. Ada pemandangan menarik di daerah Pattunuang, di tempat ini banyak sekali gerombolan monyet hutan yang berdiri di sisi jalan. Beberapa pengendara berhenti sejenak untuk melihat kawanan monyet yang nampak duduk dengan rapi di tepi jalan. Kawanan ini terbagi menjadi beberapa kelompok kecil. Nampaknya kawanan monyet menunggu diberi makanan oleh pengendara yang lewat. Lucu sekali melihat kawanan monyet duduk dengan rapi dengan tatapan mata yang terlihat ingin makanan. Cukup melemparkan snack ke arah kawanan monyet, seketika langsung dikerubuti dan ludes tanpa sisa. Padahal terlihat ada papan kecil yang berisi pengumuman untuk tidak memberi makanan kepada kawanan monyet.

Pengendara di sepanjang area ini harus waspada mengemudi, jalanan yang berkelok kelok dan sempit serta banyaknya lubang bisa membuat pengendara roda dua terperosok dan jatuh. Sayapun menjadi salah satu korban akibat lubang tersebut, mobil Agya yang berpostur rendah satu kali terbentur dengan keras di salah satu lubang. Membuat saya terkejut dan kuatir dengan kondisi roda mobil yang bisa robek. Untungnya tidak ada sesuatu yang terjadi dengan roda mobil.

Kami singgah di salah satu mesjid di daerah Camba untuk sholat Ashar sekaligus untuk menjemput Tika, kemenakan saya yang tinggal bersama orangtuanya di salah satu proyek mesjid tempat saya sholat. Mesjidnya sementara dalam renovasi dan dibiayai oleh salah seorang dermawan yang tinggal tak jauh dari proyek. Pemandangan di sekitar mesjid sangat bagus untuk dinikmati, sayapun sempat berfoto dengan latar belakang bukit batu yang menjulang tinggi. Setelah berbincang sejenak dengan Mas Joko dan Titin, kamipun pamit untuk melanjutkan perjalanan ke Bone. Tika yang berumur 7 tahun menjadi penumpang tambahan di mobil.

Sekitar pukul 19:00 kami tiba di BTN Lonrae tempat mertua saya tinggal. Nampak Papi dengan wajah sumringah menjemput cucu cucunya yang turun dari mobil. Raut bahagia selalu terpancar bila kami mudik ke rumahnya.

Bagi saya mudik sebenarnya sebuah perjalanan spiritual, dimana kita dituntut harus sejenak meninggalkan segala hiruk pikuk kota dan rumitnya pekerjaan kita. Sebuah perjalanan dimana kita kembali melihat jejak jejak kita sebelum menjadi apa-apa atau siapa-siapa. Dan saat inilah kita semua tunduk dan bersimpuh di kaki orang tua kita untuk meminta maaf atas segala dosa dan khilaf kita selama ini. Ketika semua tangan saling berjabat, ketika semua bibir tersenyum dan ketika semua kata maaf diucap, tiada hal di dunia ini yang bisa menggantikan saat seperti ini. Ratusan kilo dan jutaan rupiah tidak bisa menghalangi untuk merasakan kembali hari seperti ini. Jadi ketika banyak yang bertanya kenapa mereka mengorbankan apa saja demi mudik, mungkin mereka yang tidak pernah melakukan perjalanan ini tidak akan pernah tahu nikmatnya mudik.

Saya selalu menikmati setiap bagian dari mudik ini. Sebuah kilas balik dari sejarah hidup kita. Yang terkadang kita lupakan dan tanpa sadari dari sinilah kita bisa sampai berdiri dan duduk di posisi kita saat ini. Dan ini adalah tulisan pertama saya tentang mudik.

Anak Makassar mencari ikan
Perahu cadik berlayar ke lautan
Sambil menunggu datangnya Ramadhan
Jari bertaut memohon ampunan

Burung Camar burung Merpati
Sayapnya hitam tanda tercoreng
Bila ada cerita tak berkenan di hati
Maafkan daku yang hanya seorang pendongeng

Selamat menyambut Bulan Ramadhan 1438 H