Tag Archives: Rumah Dongeng Indonesia

Dongeng Keliling dalam Aksi Kolektif Hari Perempuan Internasional 2018

Banyak cara unik untuk memperingati sebuah perayaan, salah satunya dilakukan oleh salah satu NGO di Makassar dengan menggelar Aksi Kolektif. Kegiatan yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 24 Maret 2018 di Fort Rotterdam Makassar diinisiasi oleh Yayasan Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI) yang mengajak beberapa komunitas untuk mengelar kolaborasi kegiatan.

Komunitas tersebut antara lain Mampu BaKTI, Koalisi NGO Sulawesi Selatan, KPI Sulawesi Selatan, HIPJ2 FPMP Sulawesi Selatan, Saya Perempuan Anti Korupsi Sulsel, Institute Of Community Justice, HWDI Sulawesi Selatan, Dewi Keadilan, YAPMI Sulselbar, YKPM Sulsel, Sekolah Perempuan, Maupe Maros, PW Aisia Sulsel, Lemina, Lembaga Perlindungan Anak Sulawesi Selatan, Kitab Rumah Kita Bersama, QQ Recycle Art, Dongeng Keliling, Forum Jurnalis Sanitasi, Kita Bhinneka, Sekolah PRP Paraikatte, Forum Anak Maros, serta beberapa individu dan jurnalis,
menggelar aksi kolektif untuk memperingati hari perempuan internasional 2018. Aksi kolektif ini adalah salah satu cara perempuan dan pemerintah kota Makassar untuk bersinergi mendorong pengesahan RUU pengahapusan kekerasan seksual.

Panggung utama dibuat sangat sederhana dan terbuka tanpa tenda. Hanya ada backdrop berupa kegiatan aksi dan sofa sederhana diatas panggung di samping Chappel Fort Rotterdam. Tepat pada pukul 15:00 WITA, acara dimulai dengan pembukaan oleh Plt Kepala Disdik Makassar, Mukhtar Tahir.

“Ini salah satu tugas pemerintah di dalam hal mengamankan yang namanya kekerasan perempuan yang memang menjadi tupoksi dari kami selaku orang yang diamanahkan di dinas sosial, karena dinas sosial sebenarnya menyelesaikan 27 perkara, salah satunya adalah bagaimana kita memberikan keamanan bagi para perempuan, sehingga tidak mendapatkan perlakuan- perlakuan kekerasan khususnya perlakuan kekerasan seksual.” ujar Mukhtar yang mewakili Plt Walikota Makassar.

Yang paling seru adalah ketika semua komunitas diundang untuk naik ke atas panggung dan membaca deklarasi dukungan pengesahan RUU penghapusan kekerasan seksual bersama dengan peserta aksi kolektif yang berisi:

“Mendukung percepatan pengesahan rancangan undang-undang penghapusan kekerasan seksual, pada hari ini, Sabtu 24 Maret 2018, kami organisasi pemerhati peduli dan bekerja pada hak-hak perempuan dan anak yang terdiri dari program Mampu BaKTI, Koalisi NGO Sulawesi Selatan, KPI Sulawesi Selatan, HIPJ2 FPMP Sulawesi Selatan, Saya Perempuan Anti Korupsi Sulsel, Institute Of Community Justice, HWDI Sulawesi Selatan, Dewi Keadilan, YAPMI Sulselbar, YKPM Sulsel, Sekolah Perempuan, Maupe Maros, PW Aisia Sulsel, Lemina, Lembaga Perlindungan Anak Sulawesi Selatan, Kitab Rumah Kita Bersama, QQ Recycle Art, Dongeng Keliling, Forum Jurnalis Sanitasi, Kita Bhinneka, Sekolah PRP Paraikatte, Forum Anak Maros, dan individu perempuan, aktivis, akademis, jurnalis, menyatakan bahwa angka kekerasan terhadap terus meningkat setiap tahun, kekerasan seksual adalah kejahatan terhadap perempuan dan martabat kemanusiaan serta pelanggaran terhadap hak asasi manusia, negara tidak mempunyai instrumen untuk mencegah dan melidungi perempuan dari kekerasan seksual, negara dan pemerintah berkewajiban untuk mencegah dan melindungi perempuan dari kekerasan seksual, karena itu kami mendukung dan mendesak kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia untuk segera mengesahkan rancangan undang-undang penghapusan kekerasan seksual.”

Setelah pembacaan deklarasi, acara ini dilanjutkan dengan penampilan live music dari Ariel Matulessy dan talkshow yang dipandu oleh Luna Vidya serta diisi oleh narasumber yang berhubungan dengan penangan kasus kekerasan seksual, yaitu; Lusia Palulungan (Yayasan BaKTI), Meisy Papayungan (P2TP2A Sulsel), dan Andi Sri Wulandani (Masika Makassar) yang dipandu oleh Luna Vidya. Talkshow ini sendiri terlihat sangat diminati oleh diikuti para perempuan yang hadir, kebanyakan dari mereka adalah ibu ibu dan perempuan muda.

Di bagian lain, anak anak yang hadir juga nampak asyik mendengarkan dongeng yang dibawakan oleh Dongkel With Library Perpustakaan Kota Makassar. Tim Dongkel yang berasal dari 2 komunitas yaitu Rumah Dongeng ID dan Kampung Dongeng Mardati menampilkan para pendongeng perempuan yang siap mengedukasi anak anak melalui dongeng.

Simak videonya disini :

Tim Dongkel with Library

Dongeng Keliling dalam Aksi Kolektif Hari Perempuan Internasional 2018

Banyak cara unik untuk memperingati sebuah perayaan, salah satunya dilakukan oleh salah satu NGO di Makassar dengan menggelar Aksi Kolektif. Kegiatan yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 24 Maret 2018 di Fort Rotterdam Makassar diinisiasi oleh Yayasan Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI) yang mengajak beberapa komunitas untuk mengelar kolaborasi kegiatan. Komunitas tersebut antara lain Mampu BaKTI, Koalisi NGO Sulawesi Selatan, KPI Sulawesi Selatan, HIPJ2 FPMP Sulawesi Selatan, Saya Perempuan Anti Korupsi Sulsel, Institute Of Community Justice, HWDI Sulawesi Selatan, Dewi Keadilan, YAPMI Sulselbar, YKPM Sulsel, Sekolah Perempuan, Maupe Maros, PW Aisia Sulsel, Lemina, Lembaga Perlindungan Anak Sulawesi Selatan, Kitab Rumah Kita Bersama, QQ Recycle Art, Dongeng Keliling, Forum Jurnalis Sanitasi, Kita Bhinneka, Sekolah PRP Paraikatte, Forum Anak Maros, serta beberapa individu dan jurnalis,
menggelar aksi kolektif untuk memperingati hari perempuan internasional 2018. Aksi kolektif ini adalah salah satu cara perempuan dan pemerintah kota Makassar untuk bersinergi mendorong pengesahan RUU pengahapusan kekerasan seksual.

Panggung utama dibuat sangat sederhana dan terbuka tanpa tenda. Hanya ada backdrop berupa kegiatan aksi dan sofa sederhana diatas panggung di samping Chappel Fort Rotterdam. Tepat pada pukul 15:00 WITA, acara dimulai dengan pembukaan oleh Plt Kepala Disdik Makassar, Mukhtar Tahir.

“Ini salah satu tugas pemerintah di dalam hal mengamankan yang namanya kekerasan perempuan yang memang menjadi tupoksi dari kami selaku orang yang diamanahkan di dinas sosial, karena dinas sosial sebenarnya menyelesaikan 27 perkara, salah satunya adalah bagaimana kita memberikan keamanan bagi para perempuan, sehingga tidak mendapatkan perlakuan- perlakuan kekerasan khususnya perlakuan kekerasan seksual.” ujar Mukhtar yang mewakili Plt Walikota Makassar.

Yang paling seru adalah ketika semua komunitas diundang untuk naik ke atas panggung dan membaca deklarasi dukungan pengesahan RUU penghapusan kekerasan seksual bersama dengan peserta aksi kolektif yang berisi:

“Mendukung percepatan pengesahan rancangan undang-undang penghapusan kekerasan seksual, pada hari ini, Sabtu 24 Maret 2018, kami organisasi pemerhati peduli dan bekerja pada hak-hak perempuan dan anak yang terdiri dari program Mampu BaKTI, Koalisi NGO Sulawesi Selatan, KPI Sulawesi Selatan, HIPJ2 FPMP Sulawesi Selatan, Saya Perempuan Anti Korupsi Sulsel, Institute Of Community Justice, HWDI Sulawesi Selatan, Dewi Keadilan, YAPMI Sulselbar, YKPM Sulsel, Sekolah Perempuan, Maupe Maros, PW Aisia Sulsel, Lemina, Lembaga Perlindungan Anak Sulawesi Selatan, Kitab Rumah Kita Bersama, QQ Recycle Art, Dongeng Keliling, Forum Jurnalis Sanitasi, Kita Bhinneka, Sekolah PRP Paraikatte, Forum Anak Maros, dan individu perempuan, aktivis, akademis, jurnalis, menyatakan bahwa angka kekerasan terhadap terus meningkat setiap tahun, kekerasan seksual adalah kejahatan terhadap perempuan dan martabat kemanusiaan serta pelanggaran terhadap hak asasi manusia, negara tidak mempunyai instrumen untuk mencegah dan melidungi perempuan dari kekerasan seksual, negara dan pemerintah berkewajiban untuk mencegah dan melindungi perempuan dari kekerasan seksual, karena itu kami mendukung dan mendesak kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia untuk segera mengesahkan rancangan undang-undang penghapusan kekerasan seksual.”

Setelah pembacaan deklarasi, acara ini dilanjutkan dengan penampilan live music dari Ariel Matulessy dan talkshow yang dipandu oleh Luna Vidya serta diisi oleh narasumber yang berhubungan dengan penangan kasus kekerasan seksual, yaitu; Lusia Palulungan (Yayasan BaKTI), Meisy Papayungan (P2TP2A Sulsel), dan Andi Sri Wulandani (Masika Makassar) yang dipandu oleh Luna Vidya. Talkshow ini sendiri terlihat sangat diminati oleh diikuti para perempuan yang hadir, kebanyakan dari mereka adalah ibu ibu dan perempuan muda.

Di bagian lain, anak anak yang hadir juga nampak asyik mendengarkan dongeng yang dibawakan oleh Dongkel With Library Perpustakaan Kota Makassar. Tim Dongkel yang berasal dari 2 komunitas yaitu Rumah Dongeng ID dan Kampung Dongeng Mardati menampilkan para pendongeng perempuan yang siap mengedukasi anak anak melalui dongeng.

Simak videonya disini :

Tim Dongkel with Library

Dongeng di 3 lokasi dalam sehari

Jumat, 16 Maret 2018 merupakan hari yang cukup melelahkan bagi Kak Heru. Di hari yang penuh berkah bagi umat muslim, ada 2 jadwal kegiatan Sedekah Dongeng dan 1 jadwal mendongeng di salah satu TPA di Bukit Baruga. Lokasi kegiatan yang sangat berjauhan cukup menyita tenaga dan raga.

Lokasi yang pertama adalah di SD Pertiwi di Jalan Bontolangkasa Makassar. Sekolah ini merupakan kompleks sekolah yang terdiri dari TK dan SD. Letaknya berdampingan dan dipisahkan oleh bangunan kantin sekolah. Bunda Vina yang merupakan penghubung dalam kegiatan Sedekah Dongeng ini adalah seorang pustakawan di SD Pertiwi. Saya meminta kepada Bunda Vina agar jadwal dongeng di sekolahnya bisa lebih awal karena harus melanjutkan kegiatan mendongeng di Kabupaten Maros.

Jumat pagi cuaca di Makassar ternyata tidak bersahabat dengan saya. Dari aplikasi Weather di smartphone, cuaca hari Jumat diperkirakan hujan dan petir. Dan ternyata prakiraan cuaca dari aplikasi tersebut cukup akurat. Semenjak subuh Kota Makassar sudah mulai diguyur rintik rintik hujan. Malahan di pukul 06:30 hujan turun dengan sangat deras, membuat saya cukup kuatir dengan kondisi lapangan di lokasi dongeng.

Tiba di SD Pertiwi pukul 07:05 WITA, dan acara baru bisa dimulai pada pukul 08:15 karena harus menunggu kedatangan murid murid ditengah turunnya hujan. Dari Yatim Mandiri Maros sudah memberikan notifikasi bahwa jadwal Sedekah Dongeng di SDN 28 Salenrang dimulai pukul 09:30 WITA.

Sayapun mengakhiri kegiatan Sedekah Dongeng di sekolah ini sekitar pukul 08:45 WITA. Tanpa menunggu lama sayapun pamit kepada Bunda Vina dan kepala sekolah untuk melanjutkan perjalanan ke sekolah lain.

Setelah selesai di SD Pertiwi Makassar, selanjutnya bergerak ke Kabupaten Maros.
Lokasinya adalah di SDN 28 Salenrang, kegiatan Sedekah Dongeng dilaksanakan di sekolah ini berkolaborasi dengan Laznas Yatim Mandiri Maros.

Desa Salenrang berjarak kurang lebih 60 km dari Makassar. Perjalanan ke sekolah ini penuh dengan tantangan cuaca. Melewati kota Maros, hujan dan petir seakan bersahutan di angkasa. Alhamdulillah perjalanan ke sekolah ini tak sia sia. Adik adik di SDN 28 Salenrang Maros tetap setia menunggu kedatangan tim Sedekah Dongeng.

Sedangkan lokasi ketiga adalah di Mushola Al Ukhuwah di Bukit Baruga. Kelompok ibu ibu di kompleks ini membina sekitar 40 anak anak untuk belajar mengaji di mushola ini. Saya ingat sekitar 3 tahun lalu mushola ini pernah saya kunjungi. Fisik dan kondisinya jauh berbeda dengan 3 tahun sebelumnya. Sekarang kondisinya sudah bagus dan bersih. Mushola sudah dilengkapi dengan 4 buah AC dan sound system yang bagus.

Ketika saya memulai dongeng, beberapa anak masih asyik bermain dengan gadgetnya. Ada sekitar 5 anak yang asyik bermain games. Sayapun merasa untuk tidak perlu menegur mereka yang nampak asyik. Dan benar, ketika dongeng sudah berlangsung 10 menit, tanpa dikomando, kelimanya langsung meletakkan gadgetnya dan mulai serius mendengarkan dongeng yang saya bawakan.

Mini Class Storytelling di Perpustakaan SD Athirah

“Membuka pelajaran di kelas dengan sebuah cerita singkat akan membuat anak anak senang belajar di kelas. Mendengarkan cerita adalah semacam pemicu anak untuk merasa senang belajar,” jelas Kak Heru dari Rumah Dongeng Indonesia saat memberikan mini class storytelling untuk guru kelas SD Athirah Makassar, Selasa 31 Januari 2018 di Perpustakaan SD Athirah Kajaolalido.

Melalui buku dan membaca, anak, khususnya di usia dini bisa mendapatkan banyak hal. Cara mengajarkan anak untuk membaca, bisa dilakukan melalui mendongeng atau read aloud. Dua pilihan tersebut adalah metode belajar yang berbeda. Storytelling (mendongeng) adalah kegiatan interaktif yang dilakukan oleh satu orang atau lebih untuk menyampaikan pesan atau peristiwa dalam kata-kata.

Kendalanya adalah kadang guru mengalami kesulitan untuk menceritakan sesuatu dengan gaya pendongeng (harus hafal, dengan gerak-gerik badan, improvisasi, dan lainnya). Di lain pihak, sejak dini anak perlu belajar membaca. Salah satu alternatif yang bisa dilakukan untuk menjembatani kesulitan para guru menciptakan cerita dan agar anak sekaligus belajar membaca adalah dengan metode read aloud (membaca lantang).

Metode read aloud bertujuan akhir untuk membuat anak “mau” membaca, bukan hanya “bisa” membaca. Caranya, dilakukan dengan mengajak anak membaca bersama. Cukup membuat grup kecil dalam kelas dan posisikan anak agar ia bisa melihat huruf-huruf dari buku bacaan.

Posisinya bisa duduk berdekatan atau berdampingan dengan anak di kelas. Tunjuk kata-kata yang dibacakan agar si anak bisa melihat bentuk huruf-hurufnya.

Materi singkat tersebut adalah materi pembuka mini class storytelling yang bertujuan untuk membuka wawasan para guru tentang mudahnya mendongeng dengan teknik read aloud. Beberapa teknik singkat tentang cara membaca buku juga diberikan, seperti olah vokal dan olah karakter tokoh dalam cerita.

Selanjutnya para peserta diminta untuk menyiapkan satu buah cerita yang berasal dari koleksi buku di perpustakaan sekolah. Cerita tersebut akan diolah dan dipelajari oleh para guru untuk persiapan pada pertemuan kedua pada minggu mendatang.

Pelatihan singkat dengan durasi 4 kali pertemuan ini adalah salah satu program gratis dari Rumah Dongeng Indonesia untuk sekolah yang sudah memiliki perpustakaan.

Bagi sekolah yang ingin dikunjungi dan mendapatkan pelatihan read aloud dari Rumah Dongeng Indonesia, silakan menghubungi Kak Heru di nomor 0852 5575 1971 atau di email herumawan@gmail.com

Mengapa Harus Mudik?

Monumen Kota Kelahiran JK di batas kota Bone

Memasuki awal puasa Ramadhan 1438 H, biasanya orang mulai sibuk merencanakan mudik ke kampung halaman.
Kadang saya hanya punya senyum getir tiap mendengar kata ‘mudik’. Wong kampung halaman di sebuah desa kecil bernama Cepoko Sawit yang letaknya di Jawa Tengah. Cukup memakan biaya yang besar bila harus mudik kesana. Akhirnya pilihan saya untuk mudik adalah ke kampung halaman istri saya di Bone yang jaraknya sekitar 200 km dari Makassar.
Seperti biasa, istri tercinta dan Safira putri saya yang sudah beranjak dewasa menyiapkan segala perlengkapan mudik. Tas besar berisi pakaian, beberapa tas kecil untuk peralatan make up mereka berdua dan makanan ringan untuk oleh oleh keluarga di Bone. Sedangkan saya cukup menyiapkan ransel hitam berisi beberapa buku bacaan dan laptop.

Sebelum berangkat, saya sempat menyelesaikan beberapa dokumen yang diminta oleh salah seorang teman pendongeng di Jakarta. Namanya sama dengan nama saya, Kak Heru Prakoso yang sudah malang melintang cukup lama sebagai pendongeng dan pengisi acara di salah satu TV Nasional. Dokumen yang diminta adalah sertifikat nara sumber workshop dongeng yang pernah saya ikuti. Dokumen tersebut akan digunakan sebagai salah satu persyaratan untuk menjadi Tutor Pendongeng Nasional oleh Kemendiknas Republik Indonesia. Untunglah panitia yang pernah melaksanakan workshop pagi ini satu persatu sudah mengirimkan sertifikat nara sumber workshop. Mulai dari workshop dongeng di Bantaeng, Soppeng, Sinjai, Toraja dan Manado sudah membuat sertifikat yang dimaksud. Padahal sebelumnya saya tidak pernah berpikir untuk membuat sertifikat tersebut, ternyata dokumen itu sangat bermanfaat. Selesai mengirimkan dokumen melalui email, perjalanan mudikpun segera dimulai.

Mobil kecil si “Mona” berwarna merah kali ini ditumpangi oleh 5 orang. Saya dan “Mami” panggilan keluarga kami untuk ibu mertua duduk di depan. Sedangkan Safira, Andi Rima dan istri saya duduk di bagian belakang. Biasanya boneka Bona ikut juga Mudik, namun kali ini dia tetap tinggal di rumah ditemani oleh si Momo dan Winnetou boneka hasil karya istri saya ketika mengikuti workshop Puppet bersama Mbak Ria Papermoon.

Momo – Winnetou – Bona

Rute yang saya pilih melewati jalan tol reformasi dengan pertimbangan arus lalu lintas yang lebih lancar bila lewat jalan tol. Hari Kamis tanggal 25 Mei adalah hari libur nasional, biasanya jalan arteri Perintis Kemerdekaan macet di persimpangan bandara Sultan Hasanuddin Maros. Suasana jalan tol memang sangat lancar pagi ini, saking lancarnya beberapa beberapa mobil kadang saling berebutan hanya untuk masuk ke gerbang tol. Hasilnya ada 2 mobil yang saling menjepit ketika tidak ada yang saling mengalah untuk  antri di gerbang pembayaran tol Reformasi.

Rebutan Mudik di gerbang Tol Makassar

Sampai di ujung jalan tol yang berbatasan dengan simpang lima bandara Sultan Hasanuddin Maros jalanan mulai macet. Pertemuan arus lalu lintas antara jalan arteri Perintis Kemerdekaan dan Jalan Tol Reformasi membuat kemacetan cukup parah. Perlu sekitar 45 menit untuk bisa lolos dari kemacetan ini. Pembangunan under pass di kawasan ini belum nampak usai juga. Kabarnya menjelang Lebaran under pass ini akan difungsikan untuk mengurai kemacetan yang sudah setahun ini sering terjadi.

Memasuki Kabupaten Maros arus lalu lintas mulai lancar, apalagi di sepanjang jalan menuju ke arah Camba. Ada pemandangan menarik di daerah Pattunuang, di tempat ini banyak sekali gerombolan monyet hutan yang berdiri di sisi jalan. Beberapa pengendara berhenti sejenak untuk melihat kawanan monyet yang nampak duduk dengan rapi di tepi jalan. Kawanan ini terbagi menjadi beberapa kelompok kecil. Nampaknya kawanan monyet menunggu diberi makanan oleh pengendara yang lewat. Lucu sekali melihat kawanan monyet duduk dengan rapi dengan tatapan mata yang terlihat ingin makanan. Cukup melemparkan snack ke arah kawanan monyet, seketika langsung dikerubuti dan ludes tanpa sisa. Padahal terlihat ada papan kecil yang berisi pengumuman untuk tidak memberi makanan kepada kawanan monyet.

Pengendara di sepanjang area ini harus waspada mengemudi, jalanan yang berkelok kelok dan sempit serta banyaknya lubang bisa membuat pengendara roda dua terperosok dan jatuh. Sayapun menjadi salah satu korban akibat lubang tersebut, mobil Agya yang berpostur rendah satu kali terbentur dengan keras di salah satu lubang. Membuat saya terkejut dan kuatir dengan kondisi roda mobil yang bisa robek. Untungnya tidak ada sesuatu yang terjadi dengan roda mobil.

Kami singgah di salah satu mesjid di daerah Camba untuk sholat Ashar sekaligus untuk menjemput Tika, kemenakan saya yang tinggal bersama orangtuanya di salah satu proyek mesjid tempat saya sholat. Mesjidnya sementara dalam renovasi dan dibiayai oleh salah seorang dermawan yang tinggal tak jauh dari proyek. Pemandangan di sekitar mesjid sangat bagus untuk dinikmati, sayapun sempat berfoto dengan latar belakang bukit batu yang menjulang tinggi. Setelah berbincang sejenak dengan Mas Joko dan Titin, kamipun pamit untuk melanjutkan perjalanan ke Bone. Tika yang berumur 7 tahun menjadi penumpang tambahan di mobil.

Sekitar pukul 19:00 kami tiba di BTN Lonrae tempat mertua saya tinggal. Nampak Papi dengan wajah sumringah menjemput cucu cucunya yang turun dari mobil. Raut bahagia selalu terpancar bila kami mudik ke rumahnya.

Bagi saya mudik sebenarnya sebuah perjalanan spiritual, dimana kita dituntut harus sejenak meninggalkan segala hiruk pikuk kota dan rumitnya pekerjaan kita. Sebuah perjalanan dimana kita kembali melihat jejak jejak kita sebelum menjadi apa-apa atau siapa-siapa. Dan saat inilah kita semua tunduk dan bersimpuh di kaki orang tua kita untuk meminta maaf atas segala dosa dan khilaf kita selama ini. Ketika semua tangan saling berjabat, ketika semua bibir tersenyum dan ketika semua kata maaf diucap, tiada hal di dunia ini yang bisa menggantikan saat seperti ini. Ratusan kilo dan jutaan rupiah tidak bisa menghalangi untuk merasakan kembali hari seperti ini. Jadi ketika banyak yang bertanya kenapa mereka mengorbankan apa saja demi mudik, mungkin mereka yang tidak pernah melakukan perjalanan ini tidak akan pernah tahu nikmatnya mudik.

Saya selalu menikmati setiap bagian dari mudik ini. Sebuah kilas balik dari sejarah hidup kita. Yang terkadang kita lupakan dan tanpa sadari dari sinilah kita bisa sampai berdiri dan duduk di posisi kita saat ini. Dan ini adalah tulisan pertama saya tentang mudik.

Anak Makassar mencari ikan
Perahu cadik berlayar ke lautan
Sambil menunggu datangnya Ramadhan
Jari bertaut memohon ampunan

Burung Camar burung Merpati
Sayapnya hitam tanda tercoreng
Bila ada cerita tak berkenan di hati
Maafkan daku yang hanya seorang pendongeng

Selamat menyambut Bulan Ramadhan 1438 H

Ngopi di Fort Rotterdam bareng KPK

Ngobrol Publik di Pesta Pendidikan

Ajakan dari Kang Sandri untuk Ngopi bareng di salah satu sudut bangunan Benteng Rotterdam membuat saya bergegas melangkah ke tempatnya. Rasa kantuk pagi masih terasa di kepala, hasil begadang seusai melaksanakan Workshop Mendongeng Kreatif KPK di hari sebelumnya. Mungkin dengan segelas kopi akan membuat semangatku bangkit lagi.
Bertempat di belakang Gedung D Museum Lagaligo Makassar, kegiatan Ngopi yang nggak pakai kopi sudah siap berlangsung. Ah… ternyata Kang Sandri pandai selalu membuat frase singkatan nama. Ngopi pagi ini ternyata adalah Ngobrol Pengalaman Inspiratif. Salah satu kegiatan Ngobrol Publik di Pesta Pendidikan 2017.
Ternyata di area belakang museum ada sebuah taman kecil yang letaknya cukup tersembunyi dari keramaian acara Pesta Pendidikan. Di tengah taman ada sebuah replika perahu yang ukurannya cukup besar. Perahunya adalah ciri khas bentuk tradisional nelayan Makassar dan dicat warna putih tanpa menorehkan nama di dindingnya. Pengunjung boleh berfoto di atas perahu atau hanya sekedar nampang di depannya.

Kegiatan Ngopi ini dimoderasi oleh Kang Sandri menghadirkan 3 nara sumber, mereka adalah Kak Heru dari Rumah Dongeng Indonesia, Kak Karin dari Elmuloka Bandung dan Kak Rona Mentari dari Rumah Dongeng Mentari Yogyakarta. Di deretan pengunjung sudah hadir peserta yang berasal dari berbagai latar belakang dan tentu saja mereka adalah orang orang yang peduli dengan Dongeng. Tema obrolan memang sangat keren dan sedikit bombastis, terpampang di dinding museum kalimat Membangun Karakter Anak Berani Jujur Dengan Dongeng.
Kang Sandri mengawali acara dengan memutarkan video profil ketiga nara sumber. Nampak sebuah tayangan bergerak yang menampilkan Rona Mentari yang nampak piawai dalam memainkan gitar okulele sambil mendongeng di depan anak anak. Rona Mentari hanya bisa tertawa saat mengisahkan masa kecilnya. Sebagai tukang dongeng, dirinya sama sekali tak menyangka jadi jagoan ngomong di mana-mana, di hadapan banyak orang pula.

“Dulu aku itu penakut. Saking penakut aku pernah ngompol karena digertak atau dibentak,” ujar Rona terbahak ketika Kang Sandri bertanya tentang alasannya menjadi pendongeng.

Sedangkan Kak Karin mengungkap bahwa tugasnya sebagai pustakawan di Elmuloka membuat dirinya berkeinginan untuk menjadi pendongeng. “Mungkin karena tuntutan tugas yang membuat saya ingin menjadi pendongeng.” Dari namanya, Elmuloka yang berasal dari bahasa Sunda, yang berarti tempatnya ilmu pengetahuan.
Sedangkan Kak Heru mengungkapkan alasan yang cukup mengejutkan ketika ditanya alasan menjadi pendongeng.
“Itu adalah sebuah kecelakaan!”, ujar ayah dari Safira seorang pendongeng remaja yang telah berkiprah di tingkat internasional.
“Tugas saya hanya mendampingi Safira ketika dia mendongeng. Nah suatu saat ketika Safira diundang mendongeng, tiba tiba dia berhalangan hadir. Pihak panitia menunjuk saya untuk menggantikan Safira. Mereka pikir, kalo anaknya jago dongeng pasti ayahnya lebih jago”.
Dan itulah untuk pertama kalinya Kak Heru tampil mendongeng di depan anak anak.
Di depan sekitar 40 peserta diskusi, Kang Sandri juga menjelaskan bahwa dukungan pencegahan korupsi menjadi salah satu prioritas KPK. Melalui berbagai komunitas dongeng hingga sekarang KPK sudah membuat kanal khusus untuk dongeng Anti Korupsi yang bisa diakses di http://kanal.kpk.go.id.
“Silakan mengunjungi kanal tersebut. Banyak dongeng yang bisa dilihat dan didownload bagi guru yang ingin belajar mendongeng”, ungkap Kang Sandri.
Saat ini kanal KPK sudah banyak diisi berbagai macam dongeng yang bertema Jujur Berani dan Hebat dari berbagai komunitas yang ada di Indonesia.

Sedangkan Kak Rona mengajak semua peserta untuk mulai mendongeng.
“Semua orang bisa mendongeng. Karena mendongeng itu mudah.
Kepercayaan diri juga akan terbentuk melalui dongeng,” ujarnya. “Kalau enggak percaya diri, orang akan susah berkembang.” Dongeng menurut dia membuka banyak jalan menjadi orang yang tidak takut untuk belajar apapun”.

Sedangkan Kak Karin mengungkap hal yang sama. “Saya tak pandai mendongeng seperti gayanya Kak Rona atau Kak Heru. Ketika mendongeng saya biasanya membuat sebuah karya dari bahan bahan yang mudah didapat, seperti kertas koran atau karton yang bisa menjadi media dongeng.Jadi mendongeng bisa dengan berbagai cara”. Ketika workshop mendongeng kreatif yang dilaksanakan sehari sebelumnya, penampilan Kak Karin menggunakan media kertas yang di rubah menjadi baju pelampung yang digunakan untuk menolong seorang anak yang jatuh ke laut.
Lain halnya dengan Kak Heru yang selalu membawa boneka ketika mendongeng. Nama bonekanya adalah Bona yang berasal dari Bahasa Sangsekerta yang berarti Si Pembawa Pesan.
“Bona adalah sang ‘Messenger’ yang selalu membawa pesan pesan menarik untuk anak anak,”. Meskipun pesan yang dibawakan Bona kadang agak nakal namun tetap ada pesan rahasia di dalamnya.

Di akhir acara yang berlangsung selir 45 menit, Kang Sandri memaparkan sebuah rencana untuk membuat kegiatan untuk para pendongeng.
“KPK juga akan memprogramkan kegiatan Jambore Pendongeng Nusantara yang akan dilaksanakan tahun depan. Tempatnya bisa jadi di Makassar”, ujar moderator yang ternyata ingin menjadi pendongeng di akhir acara Ngopi.