Tag Archives: Story Telling

Jadwal Padat Merayap

Hari ini, Jumat 14 September 2018 kegiatan dimulai dengan Aksi Dongeng Kemanusiaan Untuk Lombok di SD Budi Kasih Makassar.
Sekolah yang beralamat di Jl. Gunung Salahutu 2 ini juga tak ketinggalan memberikan bantuan kepada teman teman mereka yang sedang mendapatkan musibah gempa bumi di Lombok.

Selain dongeng tentang Nusantara, mereka juga diajarkan tentang gempa bumi dan simulasi cara menghindarkan diri dari gempa bumi.

Terima kasih kepada Kepala Sekolah, Guru dan orang tua siswa yang telah menyukseskan kegiatan ini. Donasi sejumlah Rp. 1.100.000,- akan disalurkan kepada korban gempa di Lombok.

Selanjutnya kegiatan berpindah ke SDIT Al Biruni di Jln. Jipang Minasaupa.
Ini kedua kalinya Kak Heru datang ke sekolah ini. Jadwal kegiatan Sedekah Dongeng sudah rutin dilakukan di sekolah ini.

Siang ini siswa TK dan SD serta SMP turut mendengarkan sebuah kisah tentang Hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. Perjalanan sepanjang 450 km dikisahkan dengan cara menarik dan edukatif oleh Kak Heru.

Tak ketinggalan juga si Bona yang ikut meramaikan kegiatan ini. Mereka juga kangen dengan Bona.
Dan akhirnya kangen mereka impas hari ini..!

Lokasi ketiga kegiatan dongeng hari ini adalah di Perumahan Tonasa 2 Pangkep.

Cukup melelahkan karena agenda hari cukup padat. Pertama di SD Budi Kasih, yang kedua di SDIT Al Biruni dan ketiga di mesjid Tonasa 2 Pangkep. Jaraknya sekitar 70 km dari Makassar.

Walau lelah, namun hari ini bertemu dengan banyak teman baru. Di Pangkep ada Pak Farid yang mentraktir kopi di Lasagna Kafe. Ketika sedang asyik ngobrol dengan beliau, tiba tiba datang beberapa pegawai perpustakaan Pangkep yang menyapa Kak Heru. Tambah seru obrolan kami tadi.

Seusai acara di Tonasa, ketemu dengan Ibu dokter gigi Tenri yang menawarkan kegiatan dongeng di SD 28 Pangkep. Beliau bersedia mengantarkan surat ke kepala sekolah yang kebetulan adalah teman dekatnya.

Wah… sungguh indah bersilaturahmi hari ini.

#SedekahDongeng
#RumahDongeng
#KisahIslami
#Storytelling

Special Program MIWF for Kids

Diskusi bersama Clara Ng, Ria Papermoon dan Kak Heru

“Sebuah program untuk anak anak, orang tua dan guru yang ingin belajar dan menikmati indahnya dongengnya”

Kalimat itu terpampang jelas dalam buku program Makassar International Writers Festival yang kali ini memasuki tahun ke-7. Selama 3 hari mulai dari 17-20 Mei 2017, publik Makassar dimanjakan dengan kegiatan literasi terbesar di Kawasan Timur Indonesia. Bagi saya yang sudah hampir 3 tahun dilibatkan dalam kegiatan ini, tahun ini adalah tahun yang amat spesial untuk program Kids Corner. Ada 3 nara sumber yang dihadirkan oleh panitia khusus untuk kegiatan StoryTelling di Kids Program, mereka antara lain Clara Ng, penulis buku anak; Ria Papermoon dari Yogyakarta; Wendy Miller dari Australia dan tentunya didukung oleh Rumah Dongeng.

Pesta Pendidikan 2017

Kegiatan pra event MIWF dimulai tanggal 15 Mei 2017 di salah satu sudut gedung Benteng Rotterdam Makassar. Sore itu, Clara Ng dan Ria Papermoon serta Kak Heru sebagai moderator berbicara tentang Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Membaca. Meskipun Clara berlatar belakang sebagai penulis, banyak tips membaca yang diberikan dalam diskusi ini. Salah satunya adalah rumus Tangga Membaca 5M 1B. M yang pertama adalah Meramal, M yang kedua Melamun, M yang ketiga Mengait, M yang keempat Mengklarifikasi, M yang kelima Mengevaluasi dan B yang terakhir adalah Bertanya.

“Meramal dalam tangga membaca ini berhubungan dengan imajinasi pembaca. Ketika anak membaca, kira kira apa yang akan terjadi di halaman selanjutnya?” ungkap Clara ketika menjelaskan M yang pertama. Menurutnya, kekuatan imajinasi akan membuat anak merasa penasaran dengan kelanjutan dari isi buku yang dibaca oleh anak. Apakah tokohnya berhasil memecahkan sebuah masalah?
Ria Papermoon membeberkan kaitan rumus Tangga Membaca pada point terakhir, yaitu Bertanya.
“Papermoon dalam membuat sebuah konsep cerita akan selalu riset dan bertanya ke berbagai nara sumber. Saya akan selalu bertanya ke berbagai macam orang ketika membuat naskah”, ungkap pendiri kelompok teater boneka Papermoon yang berdiri sejak tahun 2006. Ria Papermoon juga menjelaskan bahwa menerjemahkan sebuah naskah yang penuh dengan kata ke dalam konsep boneka tanpa kata merupakan suatu kesulitan tersendiri baginya.
“Kekuatan utama Papermoon adalah penampilan boneka tanpa kata. Dalam setiap penampilan kami berupaya untuk meminimalisasi penggunaan kata”.

Kalimat terakhir itu membuat Arif, salah seorang peserta diskusi semakin penasaran. Dalam sesi tanya jawab dia langsung menanyakan hal tersebut kepada Ria.
“Kami saja yang sudah maksimal untuk berlatih dialog kadang kadang penonton belum mengerti dengan alur ceritanya. Ini Papermoon kok malah menampilkan pertunjukan tanpa kata. Bagaimana membuat penonton bisa mengerti?” tanya Arif yang aktif dalam pertunjukan sinrilik di berbagai negara.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Ria menyarankan Arif untuk mengikuti sessi Workshop Puppetry For Beginner yang berlangsung selama 2 hari mulai tanggal 15-16 Mei 2017.

Workshop Puppet Papermoon
Selama 2 hari sebanyak 18 peserta mendapatkan pelatihan langsung dari 2 nara sumber utama yaitu Ria selaku Founder Papermoon Puppet Teater dan Iwan selalu Artistic Director. Keduanya  memberikan materi yang terbagi menjadi 2 hari pelaksanaan workshop. Di hari pertama peserta diberikan materi  “Puppet making for Beginners”. Bahan utama pembuatan boneka adalah kertas koran. Secara detail peserta diajari cara membuat boneka, mulai dari kaki sampai kepala boneka. Peserta dibagi menjadi 3 kelompok sekaligus mendapatkan tugas yang berbeda di setiap kelompoknya. Mereka harus membuat sebuah konsep cerita yang kemudian diwujudkan dalam bentuk boneka.

Workshop Puppet Papermoon di MIWF

Di hari kedua, kegiatan workshop dilanjutkan dengan materi “Object and Puppetry”. Boneka yang dibuat harus sesuai dengan konsep cerita dalam masing masing kelompok. Tema anak anak diberikan untuk kelompok 1, tema orangtua untuk kelompok 2 dan tema suami istri untuk kelompok 3. Setiap kelompok akan diberikan kesempatan untuk tampil pada acara pembukaan MIWF tanggal 17 Mei 2017.

General Lecture
Aula Aksa Mahmud Universitas Bosowa yang berlokasi di Jl Urip Sumohardjo menjadi tempat dilaksanakannya kuliah umum bersama Clara Ng pada hari Selasa 16 Mei 2017. Tema yang diambil dalam kuliah umum ini adalah StoryTelling Empathy :
Moral in Everywhere and Children’s Literature. Dekan Fakultas Psikologi Unibos, Minarni mengapresiasi kegiatan MIWF 2017 yang dikhususkan untuk mahasiswa Fakultas Psikologi Unibos.

General Lecture bersama Clara

Clara mengawali kuliah umum ini dengan mengenalkan konsep moralitas versi Jonathan Hegde. Menurutnya, moralitas erat kaitannya dengan emosi atau feeling manusia. Selanjutnya Clara memberikan beberapa contoh buku buku anak yang banyak mengandung nilai moral bagi anak anak. Buku tersebut antara lain The Big Orange Splot, Harold and the Purple Crayon, Let’s Do Nothing, Morris the Moose, Stella Linna dan Dru karya Clara Ng.

Diskusi The Power of Story

Mengawali kegiatan Kids Program MIWF 2017, diadakan diskusi yang membahas tentang Kekuatan Bercerita di area Taman Baca. Bincang santai di sore hari menghadirkan Ria Papermoon Puppet Theather dan Clara Ng  serta dipandu oleh kak Heru dari Rumah Dongeng. Kedua nara sumber, berbicara tentang dahsyatnya dongeng bagi anak anak dan orang tua. Dongeng akan selalu menghadirkan imajinasi, baik melalui buku atau boneka.
Pengunjung yang hadir sempat dibuat takjub oleh penampilan Ria yang memperagakan kemampuannya bermain boneka tanpa kata.

Panel Discussion:
How to Rise Readers in Your Family

Di hari kedua, Kamis 18 Mei 2017 berlangsung kegiatan Diskusi Panel dengan menghadirkan nara sumber yaitu Hasanuddin Abdurakhman dan Matsui Kazuhisa dan Wendy Miller sebagai moderator.

Mr. Hasan lebih menekankan bahwa tehnologi sangat membantu anak anak untuk mengenal dan menyukai buku.

Mr. Kazuhisa berbicara tentang kisahnya ketika dia masih kecil suka didongengkan oleh ibunya. Dongeng yang diceritakan sangat membantu imajinasinya dalam memahami sebuah kisah. Dongeng yang dibacakan oleh ibunya sangat ekspresif dan beliau kagum dengan kemampuan ibunya dalam menirukan suara suara hewan ketika sedang mendongeng.

Wendy Miller membeberkan kegiatan membaca di Australia dimulai dari umur 0 -18 bulan di perpustakaan daerah. Jenis buku tergantung dari usia anak, dengan gambar yang menarik bagi mereka. Ada yang menarik ketika Wendy berbicara tentang Dog’s Read, anak anak yang malu ketika sedang belajar membaca di depan temannya atau di kelas dapat menggunakan hewan sebagai teman membacanya.

Dalam sessi tanya jawab, Mey dari komunitas Sokola Kaki Langit mengungkapkan betapa sekolah binaannya sangat kurang dengan media baca. Bahkan ketika ditunjukkan dengan buku, anak anak binaannya malah bertanya “apa itu Kak?”

Menarik sekali diskusi sore ini karena kita bisa mengetahui bagaimana budaya baca di 3 negara yang berbeda. Dari ketiga nara sumber yang hadir ada satu titik temu bagaimana meningkatkan budaya baca bagi anak anak. Mereka sepakat untuk menggunakan dongeng sebagai satu satunya cara yang menarik bagi anak dalam mengenalkan literasi sejak dini.

Kid’s Corner: StoryTelling Show
Di hari ke-3 dan ke-4, adalah hari yang dinantikan oleh anak anak. Ada dongeng bersama Kak Heru dari Rumah Dongeng Indonesia, Wendy Miller yang khusus datang setiap tahun dengan cerita khas Australia. Ada juga Mami Kiko dengan dongeng Timun Mas dan Kak Titi dengan dengan Piknik di Kumbinesia.


Secara khusus ada penampilan Farah, pendongeng cilik dari Pangkep yang membawakan cerita tentang asal usul Kampung JawaE yang ada di kabupaten Pangkep. Murid kelas 5 SD ini fasih mengolah cerita rakyat yang menceritakan tentang kerajaan Labakkang dan kerajaan Madura yang mengadakan pertandingan laga fisik. Atas kemenangan panglima Labakkang akhirnya raja Madura memberikan hadiah berupa kendi. Dimanapun kendi itu berlabuh, maka disitulah tanah yang dapat ditempati oleh orang orang Madura sebagai hadiah kemenangan panglima Labakkang. Kehadiran Kak Safira, pendongeng yang setiap tahun selalu hadir di MIWF sejak tahun 2013 membuat keriuhan anak anak semakin ramai. Selain dongeng, penampilan kelompok girl band Happy Belle yang membawakan 2 lagu dan artis cilik yang menyanyikan Lagu The Power of Love juga membuat suasana Kids Corner semakin meriah. 

Sampai bertemu di MIWF tahun depan…!

Paupau ri Kadong : Buku Dongeng Makassar

Paupau ri Kadong Buku Dongeng Makassar

Kembali saya menerima undangan dari Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Makassar  untuk hadir dalam acara Bedah Buku Terbitan Lokal. Ini adalah kedua kalinya saya diundang setelah bulan lalu hadir di acara yang sama di salah satu hotel di kawasan China Town Makassar. Yang menarik bagi saya adalah ajakan dari TWJ alias Tulus Wulan Juni bagi para pendongeng.

“Dalam buku ini banyak sekali dongeng yang wajib dibawakan oleh tim DongKel loh..!. Salah satunya adalah kisah Si Dungu yang lucu. Saya sampai tertawa terbahak-bahak ketika membacanya!”, ucap pustakawan teladan nasional ini dalam akun Facebooknya. Makin penasaran saja rasanya ingin melihat langsung buku yang berjudul Pau Pau Ri Kadong.

Keesokan pagi di hari Rabu, 10 Mei 2017 tepat pukul 08:45 saya sudah hadir di tempat acara Bedah Buku. Setelah mengisi deretan daftar hadir sebanyak 3 rangkap dan berita acara serah terima buku, akhirnya buku yang berdampak kuning muda sudah ada di tangan. Sampulnya bergambar seorang lelaki berjenggot yang sedang duduk dan dikelilingi oleh beberapa pemuda. Dalam gambaran saya, bisa jadi lelaki tua itu sedang “mendongeng” sebuah cerita khas Makassar dan nampak 5 orang duduk dan serius mendengarkan ceritanya. Dibawah gambar tersebut tertulis nama Nurdin Yusuf – Sherly Asriani – Ridwan yang merupakan penulis buku ini.

Saya langsung membuka segel plastik yang membungkus buku ini. Rasa penasaran dari tadi malam membuat jari tanganku langsung mencari deretan 23 cerita yang terpampang di halaman judul. Mataku langsung terpaku di judul Si Dungu yang berada di halaman 98. Sembari duduk di jejeran kursi paling depan, secepat kilat saya buka halaman 98 dan mulai membacanya perlahan-lahan. Isinya bercerita tentang seorang anak yang sangat bodoh dan malas ke sekolahnya. Bila diberi tugas oleh ayahnya, pasti hasilnya selalu salah. Ketika disuruh oleh ayahnya untuk menyalakan rokok, si dungu malah membakar rokok itu sampai habis. Juga ketika disuruh oleh ayahnya untuk membeli korek api, si dungu malah mencoba satu persatu isi korek api sampai habis. Saya langsung teringat dengan salah satu pendongeng cilik dari SD Inpres Galangan Kapal IV yang membawakan cerita yang berjudul La Bengo. Cerita tersebut membawanya menjadi juara 1 Lomba Bercerita tingkat Kota Makassar. Antara cerita La Bengo dengan Si Dungu isinya hampir sama.

Ada juga cerita betapa serunya jika petani tahu bahasa binatang peliharaannya sendiri dalam judul Petani dan Ternaknya di bagian 13. Sedangkan dalam judul Nasib di Tangan Tuhan ada seseorang yang  saat jatuh miskin dan sengsara ingin segera mati. Si miskin malah berteman dengan Malaikat Pencabut Nyawa.  Akan tetapi ketika nasibnya berubah  dan sudah menikmati betapa enaknya jadi orang kaya, dia lupa akan kematian.
Saya juga tak menyangka bila pengarang buku bertajuk “Paupau ri Kadong” ini usianya 78 tahun. Di usia yang sudah cukup lanjut ternyata Nurdin Yusuf masih aktif menelorkan karya tulisnya.
“Bapak berkeliling ke beberapa daerah di Sulawesi Selatan untuk mengumpulkan dongeng ini. Dongeng yang dikisahkan oleh temannya di kampung kemudian direkam langsung oleh Bapak dalam bentuk pita kaset,” papar Sherly anak dari Nurdin Yusuf sekaligus salah satu pengarang buku ini.
“Sayangnya pernah ada kejadian banjir dirumah dan pita kaset terendam air. Rusak semua kasetnya. Dan hilang juga beberapa dongeng yang telah direkam,” lanjut alumni Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur Unhas angkatan 1991.

“Paupau ri Kadong berarti cerita yang dianggukkan atau di-iya-kan. Walaupun orang tahu cerita itu bohong (fiktif), tetapi disetujui bagi yang mendengarnya,” kata mantan dosen Sastra Unhas ini. Hal itu karena ceritanya hanya menjadi media untuk menyampaikan pesan moral bagi yang mendengarnya.

Lebih lanjut, Paupau ri Kadong adalah tradisi lisan atau budaya tutur dari mulut ke mulut yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat. Tradisi tutur ini menggambarkan cara berpikir dan membentuk pola tingkah laku masyarakat yang bisa menghibur hingga menghayati nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Muhlis Hadrawi yang hadir sebagai pembedah buku mengapresiasi terbitnya buku ini. “Hadirnya buku Paupau ri Kadong adalah usaha untuk merawat tradisi kita yang mulai luntur,” tutur Dosen Sastra Unhas.
Ditambahkannya, kehadiran komunitas pendongeng dalam bedah buku ini sangat berkaitan erat dengan Paupau ri Kadong.
“Saya baru mendapat informasi kalo di Makassar sudah ada komunitas pendongeng. Jadi merekalah yang nantinya meneruskan cerita dalam buku ini kepada anak anak di sekolah”,

Muhlis juga memaparkan sejarah singkat tentang sastra Bugis Makassar. Dilihat dari tradisi perkembangannya, pau pau ri kadong masuk dalam periode kedua yang disebut dengan jaman tomanurung atau periode yang ditandai dengan munculnya sebuah bentuk pustaka bugis yang berbeda dengan pustaka galigo (sastra). Dalam periode ini muncul dua bentuk pustaka bugis, ada yang tergolong karya sastra yang disebut tolok dan yang bukan karya sastra yang disebut lontara.

Ketika periode lontara berkembang, muncul pula bentuk pustaka bugis yang lain dari kedua bentuk karya sastra yang berkembang sebelumnya (galigo dan tolok), yakni pau-pau atau pau-pau rikadong serta pustaka lontara yang berbau Islami.

Dalam sesi tanya jawab, Kak Heru yang juga pendongeng menanyakan tentang penamaan tokoh dalam buku ini. Beberapa cerita tidak menyebutkan nama, hanya julukan saja seperti si sulung, si bungsu, si kaya dan lainnya.
“Sebaiknya dalam setiap cerita, dibuatkan nama tokoh supaya mudah diingat oleh anak anak. Nama Abunawas sangat melegenda karena cerita 1001 malam hanya fokus ke satu tokoh yang punya nama Abunawas. Mungkin cerita Bugis Makassar harus juga punya satu nama tokoh sehingga isi cerita mudah dipahami dan direkam oleh anak anak”, pinta Kak Heru kepada penulis buku ini.

Dan hari ini, sebuah khasanah baru dongeng Makassar kembali mendapatkan suntikan referensi baru dalam mendongeng. Sebanyak 23 cerita yang tentunya akan membuat anak anak kembali “ri kadong” atau mengangguk-anggukkan kepalanya ketika mendengarkan dongeng Si Dungu.

Mendongeng di Kampung Savana

Kampung Bersih bersama Ikasa Makassar dan Rumah Dongeng

Mendengar kata Savana, imajinasi kita pasti akan membayangkan sebuah padang rumput yang luas dan hijau. Membentang bak permadani yang lembut. Hijaunya rumput bak film Little House on the Prairie, film keluarga cowboy di era 1980-an. Anginnya bertiup  sepoi sepoi seakan berbisik kepada manusia tentang indahnya karya Tuhan.
Dan pada suatu pagi yang cerah, tiga motor besi merambah jalanan yang kurang bersahabat menuju ke Kampung Savana. Ketiga pengendara seakan tak memperdulikan kondisi jalanan yang berlubang di sisi kiri kanan. Bak mulut harimau yang seakan siap menerkam ban motor yang mereka naiki. Mereka adalah Kak Mangga, Mami Kiko dan Kak Titi, tiga pendongeng dari Rumah Dongeng yang bertugas mendampingi komunitas Ikasa untuk program Kampung Bersih di Kampung Savana.

Kampung Savana adalah perkampungan kumuh yang terbentuk sejak tahun 2011. Kampung ini terletak di daerah Hertasning Baru, jalan Aroepala, Makassar Sulawesi Selatan. Tempat ini seakan menjadi pembatas antara Kota Makassar dam Kabupaten Gowa. Di awal munculnya, perkampungan ini terdapat 30 Kepala keluarga yang mengadu nasib di kota para Daeng. Kebanyakan warga yang tinggal di Kampung Savana adalah korban penggusuran lahan di daerah Talasalapang. Terdapat 16 rumah yang dihuni oleh 30 kepala keluarga, tak jarang dalam 1 rumah dihuni oleh 2 – 3 kepala keluarga.
Entah dari mana dinamakan Kampung Savana, mungkin saja ada beberapa komunitas yang sengaja menamakan Savana dengan alasan lokasinya yang bersinggungan langsung dengan padang savana yang cukup luas di antara perumahan elit dan tempat penampungan air dinas PU.

Kampung Savana juga disebut sebagai perkampungan pemulung, dimana penghasilan utama warga di perkampungan ini adalah hasil dari memulung, sebagian yang lain ada yang berprofesi sebagai tukang bentor dan pekerja lepas.
Dengan penghasilan yang pas-pasan bahkan jauh dari cukup, mereka pun memanfaatkan keterampilan yang dimiliki. Sebagian warga pun bercocok tanam dan sebagian yang lain mencari ikan di sepanjang kanal yang ada di sekitar perkampungan.

Kampung Savana disebut juga dengan surga para pemulung yang memiliki sekitar 50-an anak-anak usia sekolah. Dari jumlah keseluruhan anak-anak, sebagian besar dari mereka putus sekolah setelah menjadi korban penggusuran. Jauhnya akses pendidikan membuat mereka mengubur impian dancita-cita mereka, mereka pun ikut membantu orang tua mencari sisa-sisa barang bekas untuk disulap menjadi uang.

Kondisi lingkungan tempat tinggal warga juga sangat kotor dan jauh dari kata sehat. Beberapa anak muda yang bergabung dalam komunitas Ikasa atau Ikatan Pemuda Peduli Sosial Regional Makassar berinisiatif untuk mengadakan kegiatan Pembinaan Dan Pemberdayaan Menuju Kemandirian Warga Kampung Savana. Kegiatan ini berlangsung pada hari Sabtu 6 Mei 2017. Menurut Dewi Damayanti Abd. Karim selalu Ketua Ikasa Regional Makassar, tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menanamkan sikap cinta lingkungan untuk semua warga Savana agar selalu menjaga kebersihan kampung.

“Kami ingin menanamkan kepada adik adik disini tentang sikap menjaga kebersihan sejak dini. Karena mereka adalah generasi pelanjut yang harus tetap sehat dan kuat”, ujar Damayanti yang juga merupakan salah satu peserta Kelas Dongeng Angkatan 10 di Rumah Dongeng.

Kegiatan Kampung Bersih berlangsung selama dua hari mulai tanggal 6-7 Mei 2017.

Kegiatan Kampung Bersih diawali dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya. Meskipun kebanyakan dari  mereka adalah anak putus sekolah, tetapi sikap dan semangatnya tidak mau kalah dari anak sekolah lainnya. Maka berkumandanglah lirik lagu karya WS Supratman dari bibir mungil mereka.

” Indonesia tanah airku tanah tumpah darahku – Disanalah aku berdiri jadi pandu ibuku….”

Bait demi bait dinyanyikan dengan penuh semangat. Semacam upacara kecil kecilan di depan rumah salah satu warga

Selain membersihkan lingkungan Kampung Savana, ada kegiatan menarik yang tentu saja ditunggu oleh adik adik kecil. Sebagai hadiah untuk mereka yang telah membersihkan halaman rumahnya masing masing, maka 3 Pendongeng dari Rumah Dongeng sudah bersiap untuk memberikan edukasi melalui dongeng yang edukatif dan menarik. Dimulai dengan ice breaking yang dipandu oleh Kak Mangga, acara dongeng pun dimulai. Perlahan lahan adik adik yang semula masih asyik bermain mulai bergeser menuju ke panggung dongeng yang berada di salah satu rumah warga. Panggung alam yang dibuat dengan seadanya. Gaya yang lucu dari Kak Mangga membuat suasana menjadi lebih meriah. Gelak tawa mulai terdengar ketika pendongeng yang berbadan tambun mulai menyapa mereka satu persatu. Dongeng dari Mami Kiko dan Kak Titi membuat suasana kampung menjadi lebih meriah. Beberapa orang tua mulai mendekati area dongeng. Merela tak mau ketinggalan untuk mendengarkan dongeng yang tentu sangat jarang mereka dengar. Duet Mami Kiko dan Kak Titi yang sesekali ditimpali oleh Kak Mangga bercerita tentang Timun Mas, salah satu dongeng yang menjadi andalan dari mereka bertiga.

Dongeng Timun Mas mengisahkan tentang perjuangan perempuan kecil bernama Timun Mas yang dikejar oleh Buto Ijo. Rupanya ketiga pendongeng keren ini sudah  sepakat untuk merubah ending dari dongeng ini. Di akhir dongeng, Buto Ijo ternyata menjadi sahabat Timun Mas.

“Saya suka sekali mendengar dongeng. Terima kasih untuk Rumah Dongeng..!”, ujar Santi bersama ketiga temannya.
Memang dongeng selalu membawa keajaiban tersendiri bagi anak anak.
Semoga bisa bertemu lagi dengan Kampung Savana.

Bagi anak anak muda yang ingin bergabung dengan Ikasa Makassar, silakan mampir ke IG : @ikasaMakassar.

#MudaKreatifBersemangat

Interactive Story Telling bersama Wyeth Nutrition

Interactive Story Telling

Setelah bulan lalu bekerjasama dengan Mimi Susu dengan konsep roadshow dongeng ke 22 sekolah TK, kali ini kembali saya ditantang oleh salah satu produsen susu anak kelas premium Wyeth Nutrition untuk mengedukasi anak anak usia dini. Konsep yang diusung oleh Wyeth Nutrition jelas berbeda dengan kegiatan sebelumnya. Jika produk Mimi Susu harus berkeliling ke beberapa sekolah, kali ini saya cukup standby di satu tempat saja.
Tempat yang dipilih adalah Polianak RS Stella Maris Makassar.
Selama 6 hari mulai tanggal 6 – 13 Mei 2017 kegiatan ini berlangsung.
Tema yang diusung oleh Wyeth Nutrition adalah Dukung Sinergi Kepintarannya dengan hash tag #pintarnyaberbeda.

Melalui briefing yang dilakukan di sebuah kamar di Hotel Santika, saya diberi tugas untuk berbagi cerita tentang stimulasi sinergi kepintaran Akal, Fisik dan Social melalui Interactive Story Telling. Bagaimana
pentingnya Story Telling untuk menstimulasi sinergi kepintaran Akal, Fisik & Sosial.
Dongeng atau StoryTelling tentu saja memiliki beberapa manfaat yang penting bagi perkembangan anak, diantaranya :
1. Melatih daya tangkap dan daya konsentrasi anak
2. Melatih daya pikir dan fantasi anak.
3. Meningkatkan emotional bonding antara orang tua dan anak
4. Menanamkan nilai-nilai moral kepada anak

Secara umum, pola pertumbuhan dan perkembangan anak relatif sama, meski kecepatannya berbeda antara anak satu dengan yang lain. Perkembangan otak anak turut dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Faktor genetik bertanggung jawab atas pembentukan semua neuron dan sinaps utama antara berbagai bagian otak. Sementara, pengalaman atau stimulasi bertanggung jawab atas hubungan yang lebih halus dan membantu anak untuk beradaptasi terhadap lingkungannya, seperti keluarga, sekolah, teman sebaya, adat istiadat, dan sebagainya.

Menurut Howard Gardner, pakar pendidikan dari Harvard University, mengatakan bahwa setiap anak memiliki setidaknya 8 jenis kepintaran. Namun, potensi kepintaran anak yang satu dengan yang lain pasti berbeda-beda.

Delapan jenis kepintaran yang dikemukakan Gardner dapat digolongkan ke dalam sinergi kepintaran akal, fisik, dan sosial dengan penjelasan sebagai berikut:
● Akal, meliputi word smart, number smart, picture smart dan music smart.
● Fisik, meliputi body smart dan nature smart.
● Sosial, meliputi self smart dan people smart.

Agak asing istilahnya ya?
Mari kita lihat tentang istilah Interactive Story Telling.
Biasanya ketika saya mendongeng, jumlah audiensnya berkisar diatas 20 anak anak. Bahkan pernah sampai 1.500 anak anak ketika mendongeng di Kabupaten Enrekang. Namun kalo ini pihak penyelenggara hanya menyiapkan sebuah panggung kecil yang ukurannya sekitar 2 x 2 meter. Panggung tersebut lebih mirip panggung sandiwara boneka. Posisi pendongeng berada di belakang panggung, sedangkan di bagian depan ada 4 buah kursi kecil dan sebuah meja. Jadi maksimal jumlah anak hanya sekitar 4-6 anak saja.

Materi cerita juga cukup singkat dan sederhana. Ada 3 tema yang diusung dalam interactive story telling ini. Ketiganya adalah tema pantai, laut dan hutan. Setiap anak akan mendapatkan satu gambar dan beberapa stiker yang berkaitan dengan tema. Jadi jika temanya hutan, maka stiker yang diberikan adalah gambar hewan dan jenis jenis pohon. Tokoh utama dalam dongeng ini adalah Vano,seorang anak kecil yang tinggal bersama ayah dan Ibu serta nenek dan kakeknya. Bila Vano pergi ke hutan, maka semua stiker yang berhubungan dengan hutan akan ditempelkan di media gambar hutan. Selain menempelkan stiker, anak anak diajak juga untuk berlatih sifat sosial, seperti mengucapkan salam ketika bertemu dengan ayah. Mengucapkan terima kasih bila sudah ditolong dan beberapa hal lain.

Sepertinya sangat simple dan mudah untuk dilakukan. Apalagi jumlah anak juga tidak terlalu banyak sehingga tidak perlu untuk menaikkan volume suara. Penyelenggara juga tidak menyiapkan sound system karena bisa menganggu pengunjung lain. Bagaimana kisah seru event ini?

Ikuti terus kisahnya ya…