Tag Archives: StoryTelling

The Flooded Cloud

This is a folklore from Thailand about a little girl who cares about her dry village.

She finally decides to do something to make call the rain, so that her village will not be dry anymore.

She almost gives up, but then she meets something that encourages her to keep trying. Do you want to know what is that?

Will the rain fall in her village?

Go get the answer in this sixth episode.

Here to listen The Flooded Cloud

*)remember to install Spotify before listening the story

Call For Storyteller

Hallo semua, perkenalkan kami Little Joyful Stories, podcast dongeng berbahasa Inggris untuk anak-anak umur 6-14 tahun yang berkolaborasi dengan Rumah Dongeng serta Rumata Art Space.

Podcast ini adalah proyek sosial yang seluruhnya dikerjakan dengan sukarela. Karena kami percaya “no one has ever become poor by giving”. Maka dari itu kami mengundang teman-teman untuk bergabung juga menjadi sukarelawan.

Jika memang tertarik silakan isi form nya disini: Storyteller Form

Dan jika ada yg ingin ditanyakan, dapat mengunjungi instagram kami di @joyfulstories.id atau @rumahdongeng

Penasaran dengan cerita yang telah kami produksi?

Silakan klik di : Joyfull Stories

Terima kasih dan sampai jumpaa

Dongeng “Jarum” Menjadi Pemenang Lomba Bercerita di Enrekang

Technical Meeting Lomba Bercerita

Salah satu agenda kegiatan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia adalah Lomba Bercerita Tingkat SD yang rutin dilaksnakan setiap tahunnya. Dalam lomba ini setiap propinsi diharuskan mengirimkan satu orang wakil untuk berlomba di Jakarta. Dan wakil propinsi tersebut adalah hasil dari seleksi yang dilakukan secara berjenjang dimulai dari tingkat kabupaten dan tingkat propinsi. Materi lomba bercerita umumnya berupa cerita rakyat setempat. Peserta yang mengikuti lomba ini berasal dari sekolah yang sudah memiliki perpustakaan sekolah.

Salah satu peserta lomba beraksi diatas panggung

Untuk mendapatkan satu wakil di tingkat kabupaten, Dinas Perpustakaan Kabupaten Enrekang juga mengadakan seleksi dalam bentuk Lomba Bercerita Tingkat SD se Kabupaten Enrekang yang dilaksanakan pada tanggal 25 Juni 2019 bertempat di lantai 2 perpustakaan. Sebanyak 20 peserta yang rata rata duduk di kelas 5 mengikuti kegiatan ini didampingi oleh masing maaing guru pembimbing.

Berfoto bersama dewan juri dan pemenang lomba.

Berbagai macam judul cerita dibawakan dengan apik oleh para perserta lomba. Mulai dari Asal Usul Tanah Duri, Lajana, Sumur Jodoh, Ladana dan Kerbau dibawakan dengan penuh ekspresif dan menarik dalam durasi waktu 10-15 menit untuk setiap peserta. Salah satu peserta dengan nomor urut 19, tampil membawakan sebuah cerita yang berjudul “Jarum”. Cerita ini berkisah tentang seorang bangsawan kaya yang meminjam sebatang jarum dari indo kalobe. Tak lama berselang si bangsawan meninggal dunia karena sakit, dan sang anak lupa menaruh jarum yang dipinjam dari indo kalobe.

Salah satu judul dongeng dari Enrekang

Hal itu dimanfaatkan oleh indo kalobe untuk mengeruk harta dari anak bangsawan. Setiap hari dia menagih jarum yang dipinjamkan. Celakanya si anak tidak mengetahui keberadaan jarum tersebut. Untuk mengganti jarum tersebut, indo kalobe ditawari pengganti berupa 10 ekor kerbau. Tapi indo kalobe tidak mau menerima tawaran itu. Dia tahu harta kekayaan si anak bangsawan sangat banyak. Dia ingin lebih banyak kerbau sebagai pengganti jarumnya. Walaupun sampai ditawari 100 kerbau, namun indo kalobe tidak mau menerimanya. Si anak mulai kebingungan mencari jarum tersebut. Sampai akhirnya dia bermimpi bertemu dengan ibunya. Ketika terbangun si anak segera ingat dimana jarum itu berada.

Lalu apa yang terjadi dengan indo kalobe?

Apakah dia akan mendapatkan 100 ekor kerbau?

Petualangan Bersama Hujan di Segeri Pangkep

Hari Selasa, 12 Maret 2019 adalah hari pertama roadshow Sedekah Dongeng di Segeri Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan. Jarak sekitar 70 km harus kami tempuh sepanjang perjalanan dari Makassar ke Pangkep.
Hujan begitu derasnya ketika kami memasuki wilayah Kecamatan Segeri Pangkep.
Lokasi pertama adalah di MTS Negeri DDI Segeri Pangkep.
Derasnya hujan masih belum berhenti di tempat ini. Halaman sekolah yang biasanya dipakai untuk upacara tergenang oleh air. Pikir saya, nampaknya dongeng tidak bisa diluar ruangan.

Ruangan kecil di MTS DDI Segeri Pangkep yang masih beralas ubin biasa

Sambutan hangat dari Bapak Kepala Sekolah membuat suasana menjadi lebih akrab. Atas anjuran beliau, kegiatan dongeng dilaksanakan di sebuah aula kecil yang masih beralaskan lantai biasa.

Tuh lihat.., sampai sampai kak Heru harus buka sepatu di depan adik adik. Walau begitu kak Heru tetap ganteng khan..?

SMP Negeri 1 Segeri Pangkep

Selanjutnya tim Sedekah Dongeng bergerak ke SMP Negeri 1 Segeri. Cuaca masih belum bersahabat dengan kami. Hujan masih enggan untuk berhenti. Lapangan upacara basah dan tergenang air.

Pilihan tempat kegiatan akhirnya adalah di ruang kelas. Wakil Kepala SMP meminta kepada pengurus OSIS agar hanya perwakilan siswa saja yang mengikuti kegiatan dongeng ini.

Tak mengapa ruangan kelas hanya bisa ditempati oleh sekitar 50 anak yang merupakan perwakilan dari 200 murid lainnya.

Terima kasih untuk bunda AL Djibran Evi yang seharian ini bersedia meluangkan waktu dan sup ubinya untuk kami santap di sela hujan di Segeri.

SD Negeri 23 Takku Kecamatan Segeri Pangkep.

Roadshow di hari kedua Sedekah Dongeng di Segeri Pangkep hari ini berjalan tanpa ada hujan. Walaupun dini hari tadi sekolah ini sempat diguyur hujan, namun ketika dongeng berlangsung hujan sudah berhenti. Beberapa tempat di halaman sekolah masih tergenang air.
Kegiatan dongengpun tetap berlangsung di teras depan kelas.

Teras kelas yang berbentuk selasar panjang dipenuhi oleh 300 adik adik mulai dari kelas 1 sampai kelas 6. Beberapa guru yang hari ini tidak mengikuti pelatihan kelas inklusif juga ikut dalam barisan dongeng muridnya.

Ternyata selasar yang sempit tak mampu menampung barisan dongeng yang ada. Beberapa murid terpaksa harus memanjat pohon agar bisa menyaksikan dongeng seru hari ini. Walaupun berdesak desakan, namun tidak terjadi keributan di antara mereka.

SDN 34 Citta Segeri Pangkep

Sedari pagi, Makassar diguyur hujan yang cukup lebat. Dan seperti sudah menjadi pasangan peristiwa bila hujan pasti macet.
Kemacetan panjang Kamis pagi ini dimulai dari pertigaan jalan Borong dan Antang. Sampai di perempatan jalan masuk Bukit Baruga, kemacetan masih terjadi. Salah satu ruas jalan inspeksi PAM ditutup karena ada pesta pernikahan.

“Kayaknya hujan pindah ke Maret ya..”, ungkap saya kepada penumpang cantik yang duduk disampingku.

“Iya…,” jawabannya singkat sembari terus memainkan ipad mininya.

Agenda dongeng pagi ini masih menuju ke Segeri Pangkep. Ini adalah hari ketiga roadshow ke kabupaten penghasil ikan bolu dan jeruk Pangkep. Semestinya pukul 09:00 sudah harus tiba di Segeri, namun pagi ini pukul 07:30 masih berkutat macet di jalan Leimina Antang.

Hujan mulai berhenti ketika tiba di Maros untuk menjemput Ibu Ani dan Jene, staf Yatim Mandiri Maros yang pagi ini bertugas mendampingi saya ke Pangkep. Bergegas mereka naik ke mobil karena waktu sudah menunjukkan pukul 08:40. Spanduk dan majalah bulanan Yatim Mandiri sudah disiapkan oleh mereka berdua.
Menyusuri jalanan ke arah Pangkep, cuaca mulai tak bersahabat. Gerimis kecil mulai menghadang perjalanan kami.

Saya mencoba menelpon Ibu AL Djibran Evi yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan kami di Segeri.

“Hujan qi di Segeri?,” tanyaku dengan intonasi yang agak kuatir.
Memang harus kuatir karena lokasi pertama adalah SD 34 Citta yang biasanya tergenang air bila hujan.

“Masih gerimis kak,” jawab bunda Evi di ujung telepon. Agak lega saya mendengarnya.

Namun ketika kami tiba di Segeri, hujan malah semakin deras. Dengan payung pinjaman, bunda Evi susah payah mengendong si kecil masuk ke dalam mobil kami.

“Gara gara lihat kakaknya foto dengan Bona, ini adiknya mau ikut dengar dongeng,” ujar bunda Evi ketika sudah duduk di dalam mobil. Naufal, si anak yang sulung kemarin berfoto bersama Bona di sekolahnya. Dan semalam adiknya rewel mau juga berfoto.
Pantesan saja hari ini dia ikut.

Perjalanan menuju ke SD 34 Citta masih ditemani oleh hantaman air hujan yang tak mau berhenti. Saya harus waspada karena banyak lubang di sepanjang jalan. Beberapa kali roda Mobil Bona alias Mona terantuk di lubang aspal yang tak terlihat karena genangan air menutupi lubang.

Dan setelah 20 menit berlalu, kami tiba di sekolah. Seperti biasanya, adik adik kecil sudah tak sabar menunggu kedatangan kami. Hari ini ruangan perpustakaan menjadi panggung dongeng. Sekitar 70 siswa duduk dengan rapi di dalam ruangan ini. Beberapa guru dan orang tua juga nampak bergabung dan bersempit ria di dalam ruangan yang berukuran 5 x 5 meter. Walau ini adalah perpustakaan sekolah, jangan ditanya jumlah koleksi buku bukunya.
Yang ada hanya rak buku yang masih kosong. Bahkan saya sempat mendorong rak buku ini agar adik adik dapat duduk dengan nyaman.

SMP Negeri 2 Segeri Pangkep

Dan lokasi terakhir kegiatan hari ini berlabuh di SMPN 2 Segeri Pangkep. Seperti anak SMP di sekolah sebelumnya, beberapa dari mereka masih merasa asing dan aneh kalau di usianya masih harus mendengar dongeng.

Love you Bona..!

Saya sih asyik asyik saja dengan kondisi ini. Karena di akhir kegiatan, wajah mereka nampak gembira dan sumringah setelah mengikuti alur dongeng yang saya sampaikan. Apalagi ketika mereka ketemu dengan si Bona.

Panggilan ke Takalar : Ma’udu Lompoa

Perayaan Ma’udu Lompoa di Takalar (Foto Tribun Timur)

Pemerintah Kabupaten Takalar menggelar perayaan Ma’udu Lompoa di Desa Cikoang, Kec. Manggarabombang, Kab. Takalar, Kamis (6/12/2018). Bagi yang masih asing dengan istilah Ma’udu Lompoa, artinya kurang lebih adalah Maulid Besar. Kegiatan ini adalah rangkain peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan setiap tahunnya di desa ini. Biasanya dalam acara ini ada berbagai perahu hiasan yang berisi telur dan makanan songkolo’ atau ketan hitam.

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di TK Andika Takalar

Hanya saja Kak Heru kali ini bukan diundang ke Desa Cikoang Takalar, tetapi ke TK Andika miliknya bunda Sumiati Madeali di Jalan Pramuka 1 Takalar. Di sekolah ini turut juga diadakan kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang tak kalah seru dong dengan perayaan Maudu Lompoa di Cikoang.

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di TK Andika Takalar

Di halaman belakang rumah yang dijadikan sebagai sekolah, pagi ini sudah berdatangan adik adik sangat bersemangat. Hari sebelumnya ibu guru sudah mengumunkan bahwa hari ini mereka akan mendengarkan kisah Muhammad semasa masih kecil di sekolahnya. Ini adalah kunjungan pertama saya ke sekolah ini, walaupun sudah beberapa kali mengunjungi Takalar untuk kegiatan dongeng tahun lalu.

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di TK Andika Takalar

Hampir semua murid sudah datang sewaktu saya tiba di sekolah ini. Kebanyakan dari mereka sepertinya belum mengenal saya. Hanya ibu Sumiati, kepala sekolah TK yang sudah mengenal saya ketika beliau ikut workshop dongeng bersama KPK tahub 2017 di Makassar. Setelah semua peralatan sound system terpasang dengan rapi, saya mulai menyapa adik adik kecil ini. Sapaan saya dibalas dengan begitu bersemangat dan tak sabar untuk mendengar dongeng pagi ini.

Dahulu kala, hiduplah seorang pemuda yang gagah perkasa. Badannya tinggi besar, wajahnya bersinar terang dan sangat ramah. Namanya adalah Abdullah…….

Itulah awal mula kisah tentang Muhammad sewaktu kecil hari ini.

Ruang Ekspresi: Panggung Para Seniman Sulsel 2018

Gadis kecil berbaju kuning bergegas turun dari kursi rodanya. Saya tak menyadari kehadirannya karena sedang asyik berbincang dengan Yaser, seorang teman yang suka baca puisi.

Tak lama berlalu si gadis kecil ini segera memeluk saya dengan eratnya. Seakan akan lama tak berjumpa dengan saya. Sang ibu yang sedang mendorong kursi roda hanya bisa tersenyum memandang putri kecilnya. Sayapun segera jongkok supaya bisa juga membalas pelukannya.

“Apa kabar? Sudah kelas berapa sekarang?”, tanyaku sembari mencoba mengingat ingat nama gadis ini.

Terus terang saya ini punya ingatan yang parah. Saya lupa nama gadis kecil ini. Bahkan ketika Yaser bertanya kepadanya, saya hanya bisa mendengar sayup sayup ucapannya. Memang dia sudah beberapa kali ikut mendengarkan dongeng ketika saya manggung di beberapa acara.

” Kelas 6 kak…, Bona mana?”, jawabnya sembari matanya melihat ke kiri dan ke kanan mencari Bona.

Pelukannya mulai lepas ketika dia melihat tasnya Bona. Si boneka tersebut memang sangat disukainya. Dan sepertinya anak anak lebih suka dengan Bona dibandingkan dengan saya. Hanya dengan melihat tas Si Bona, gadis kecil ini sudah merasa puas dan yakin nanti akan melihat langsung aksi Si Bona. Tak lama kemudian diapun berlalu dari hadapan saya setelah berfoto bersama.

Hari ini saya bertemu dengan banyak penggiat seni di Makassar. Kebanyakan dari mereka adalah para perupa. Bertempat di Baruga Laki Padada, hari ini Minggu 2 Desember berlangsung kegiatan Ruang Ekspresi 2018. Beberapa kegiatan antara lain video art, mural, live painting, live music, sharing discussion, temu komunitas dilaksanakan dalam kegiatan yang diinisiasi oleh Ibu Gubernur Sulawesi Selatan.

Ruang Ekspresi 2018 di Rujab Gubernur Sulsel

Dan sayapun juga diminta oleh pihak panitia pelaksana untuk mengisi dongeng dalam kegiatan Ruang Ekspresi ini. Pilihan dongeng dalam kegiatan ini adalah cerita rakyat Makassar yang berjudul Pung Julung Julung, kisah persahabatan antara ikan lumba lumba dengan I Barani. Ketika saya mulai tampil di panggung, nampak si gadis kecil tadi duduk paling depan dan selalu tersenyum bahkan tertawa ketika Bona mulai beraksi.

Duduk di depan panggung dan asyik dengar dongeng

Dan sampai malam ini setiba di rumah, saya masih belum ingat nama gadis kecil berbaju kuning tadi…!

Kare-Karena bersama UNHCR dan Komunitas Makassar

Kare Karena, kegiatan yang dilaksanakan oleh UNHCR dan Komunitas Makassar

Sebuah spanduk terpasang di dinding utara Chappel Fort Rotterdam Makassar. Spanduk berukuran 5m x 6m bertuliskan “Kare-Karena“, kata yang masih asing di kosa kata saya.

Tak mau berlama lama memandang spanduk ini, sayapun segera menaiki anak tangga menuju lantai 2 bangunan Chappel yang berada di tengah Fort Rotterdam. Di lantai bawah digunakan sebagai musium yang menyimpan peta benteng Panyulla yang nampak dari atas. Sedangkan lantai 2 biasanya digunakan untuk berbagai kegiatan komunitas.

Kare Karena, kegiatan yang dilaksanakan oleh UNHCR dan Komunitas Makassar

Hari ini, Sabtu 1 Desember 2018 salah satu badan PBB yakni UNHCR mengadakan kegiatan yang berjudul Kare-Karena. Setelah bertanya kepada salah satu panitia, makna dari kata tersebut adalah “main main”. UNHCR adalah United Nations High Commissioner for Refugees, bermarkas di Jenewa, Swis. Badan ini didirikan pada tanggal 14 Desember 1950, bertujuan untuk melindungi dan memberikan bantuan kepada pengungsi berdasarkan permintaan sebuah pemerintahan atau PBB kemudian untuk mendampingi para pengungsi tersebut dalam proses pemindahan tempat menetap mereka ke tempat yang baru.

Kare Karena merupakan salah satu program yang mengajak adik adik pengungsi yang berada di Kota Makassar untuk bermain dan bergembira. Ada permainan tradisional bersama Kika Aksara; Kelas Tangan Kreatif bersama Nita Sbj; Dongeng dari Safira Rumah Dongeng dan live music bersama HAS. Kegiatan ini berlangsung mulai dari pagi sampai sore.

Beberapa anak anak pengungsi sedang asyik bermain monopoli

Ada kurang lebih 20 anak anak refugees yang datang untuk bermain dan mendengarkan dongeng. Mereka didampingi oleh mbak Mayrina dari UNHCR yang secara khusus membuat kegiatan yang melibatkan komunitas di Makassar. Selain itu juga nampak hadir beberapa adik adik non refugees yang sengaja dihadirkan di kegiatan ini supaya ada interaksi langsung antar anak anak. Ada sekitar 10 anak yang berasal dari SD Samiun Makassar yang datang dan ikut bermain bersama anak lainnya.

Safira dari Rumah Dongeng asyik bermain dengan salah anak refugees

Menurut Mayrina, setiap kegiatan yang melibatkan pengungsi harus diawasi dan disetujui oleh UNHCR. Ada beberapa ketentuan khusus yang harus dipenuhi oleh pelaksana kegiatan apabila membuat kegiatan yang melibatkan anak anak pengungsi dibawah pengawasan UNHCR. Salah satu aturannya adalah tidak boleh mengambil foto yang langsung mengarah ke wajah anak anak pengungsi. Pengunjung juga harus meminta ijin kepada orang tua anak bila ingin mengambil gambar mereka. Beberapa orang tua sudah fasih berbicara dalam bahasa Indonesia, bahkan ada yang tahu bahasa Makassar. Demikian pula dengan anak anak mereka yang sudah fasih berbicara dalam bahasa walaupun mereka lebih sering memakai bahasa dari negaranya sendiri bila sedang bermain dengan teman sesamanya.

Gantungkan Cita-Citamu Setinggi Langit : Dongeng Motivasi di Palu

Dongeng Trauma Healing di Donggala Sulawesi Tengah
Selasa, 26 Nopember 2018 tim AMDA Chapter Makassar bergerak ke SD Negeri Donggala Kodi di Palu Barat. Lokasi sekolah ini tak jauh dari Perumahan Balaroa tempat terjadinya liquidfaksi akibat gempa yang terjadi 28 September 2018.

Murid murid di sekolah ini masih belajar di bawah tenda besar bantuan dari Unicef dan Kemendikbud.
Sejak pagi Kota Palu diguyur hujan dengan intensitas cukup deras. Halaman sekolah menjadi basah sehingga kegiatan dongeng dilakukan dibawah tenda.

Walaupun demikian, suasana di dalam tenda tetap riuh dan ramai ketika saya mulai menyapa mereka. Wajah wajah yang ceria tergambar dalam senyuman yang tulus dan ceria. Acara saya mulai dengan terlebih dahulu mengenalkan sosok Professor Husni Tanra selaku ketua tim AMDA Chapter Makassar.
Mendengar kata professor, serentak mereka berdecak kagum. Mungkin saja selama ini mereka hanya mendengar gelar professor ini melalui TV atau radio. Dan hari ini sosok Professor hadir langsung di hadapan mereka.

Ketika Prof Husni Tanra membuka acara inipun gaya bicara tidak formal dan kaku. Beliau langsung bertanya kepada anak anak tentang cita citanya. Ada yang ingin jadi dokter, pilot, polisi bahkan ada yang ingin jadi presiden.

“Gantungkan cita citamu setinggi langit..!” seru prof Husni dengan penuh semangat.

“Saya ini dulu orang kampung yang tinggal di Wajo. Saya selalu giat belajar dari kecil. Dengan giat belajar, saya sudah pernah pergi ke Amerika dan Jepang.
Siapa yang mau pergi ke Amerika?”, tanyanya kembali.

Serentak semua murid mengacungkan jarinya. Wajah mereka penuh semangat mendengar kata demi kata yang meluncur dari seorang professor.

“Kalian harus rajin belajar dan harus hormat sama guru guru”, sebuah kalimat penutup diberikan kepada mereka agar bisa mewujudkan cita citanya.

Setelah sambutan dari Professor Husni Tanra, acara dilanjutkan dengan mendengarkan sebuah DONGENG…!

Wah ketika saya baru mengajak mereka untuk bernyanyi, tiba tiba speaker yang saya gunakan mati. Ternyata siang ini ada jadwal pemadaman lampu dari PLN. Walaupun tanpa sound system kegiatan dongeng tetap saya lanjutkan.

Siapa mau dongeng bilang saya..!

#traumahealing
#DongengAnak
#RumahDongeng
#AMDAChapterMakassar
#Storytelling

Dengarkan Jesica Bicara : Dongeng Trauma Healing di Palu

Ketika Professor Husni Tanra meminta kesediaan saya untuk menjadi relawan AMDA, maka dengan senang hati saya menerima ajakan beliau.

AMDA adalah sebuah organisasi internasional yang didedikasikan untuk mewujudkan komunitas dunia yang damai melalui upaya kemanusiaan di sektor perawatan kesehatan medis. Didirikan di Okayama City, Jepang, pada tahun 1984.

AMDA adalah organisasi non-pemerintah, nirlaba dengan jaringan internasional dari 30 cabang dan 47 organisasi yang berkolaborasi di seluruh dunia.

AMDA telah bekerja di lebih dari 50 negara di Asia, Afrika, Amerika Latin dan Eropa bekerja sama dengan pemerintah, badan PBB, seperti UNHCR, WHO, WFP, UNOCHA, dan lembaga dan lembaga khusus lainnya.

Dan hari Minggu siang, 25 Nopember 2018 saya tiba di Palu. Setelah beristirahat sejenak di salah satu guest house yang tak jauh dari Bandar Udara Mutiara SIS Al-Jufrie, saya diajak oleh tim AMDA untuk makan siang di Rumah Makan Padaidi Palu. Sempat bertanya dalam hati, kok jauh jauh ke Palu tapi makannya di rumah makan punyanya orang Pangkep ya..?

Sempat saya melirik tak jauh dari rumah makan ini ada tempat makan khas orang Palu yaitu Kaledo Stereo. Maunya sih saya bisa makan Kaledo dulu. Tapi tak apalah karena pasti di lain waktu masih ada kesempatan untuk merasakan makanan khas Palu ini.

Aksi Dongeng Kak Heru di Sigi Sulawesi Tengah

Usai makan siang, kami beristirahat sejenak di salah satu lokasi pemancingan di Kabupaten Sigi. Jaraknya tak jauh dari dari Kota Palu. Dan sekitar pukul 16:00 WITA tim AMDA sudah berada di JonoOge Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah. Sore ini saya beraksi menghibur adik adik sekolah minggu di tempat ini.

Sebelum memulai kegiatan dongeng, saya sempat duduk di barisan anak anak yang sudah hadir di lokasi kegiatan. Saya melihat ada seorang gadis kecil yang duduk paling depan. Namanya Jesica, umurnya baru 6 tahun. Saya mencoba berbincang dengan si kecil pemberani ini sembari menunggu acara dimulai.

Kak Heru asyik ngobrol dengan Jesica

Di tangannya nampak sebuah kertas yang dilipat dengan rapinya. Saya mencoba mendekati gadis kecil ini dan bertanya kertas apa itu?

“Ini surat untuk ibu guru Krista,” jawabnya.

“Boleh Kak Heru lihat apa isinya?,” tanyaku. Tanpa ragu ragu dia meyerahkan kertas kecil berwarna putih.
Ada kalimat kalimat yang ditulis dengan guratan pensil.
Saya nggak terlalu hapal isinya, namun surat itu berisi ucapan terima kasih kepada ibu guru Krista yang telah membuat Jesica menjadi anak pintar.

Ibu Krista adalah salah satu relawan pengajar di tempat ini. Dan besok pagi ibu Krista akan pergi meninggalkan Palu karena masa tugasnya sudah selesai. Dan besok pula surat itu akan diberikannya kepada ibu guru Krista.

Mengajak berbincang dan bercerita adalah salah satu metode yang baik dilakukan di lokasi bencana.
Dengarkan apa yang anak katakan. Lihat matanya agar dia tahu bahwa dia didengar oleh orang dewasa.

#traumahealing
#RumahDongeng
#Palubangkit
#sigibangkit
#DonggalaBangkit

4 lokasi Dongeng dalam sehari

Sabtu ini, 24 Nopember 2018 agenda kegiatan dongeng sangat padat. Ada 4 titik yang harus saya kunjungi. Satu titik di Kabupaten Pangkep terpaksa saya batalkan karena faktor jarak dan waktu yang sangat mepet. Setelah saya perhitungan dengan seksama dengan melihat lokasi ke-4 titik tersebut, maka saya mulai mengatur satu persatu titik kunjungan mana yang harus pertama kali didatangi.

1. SDS Nasional Jln Ratulangi Makassar.

Kegiatan Sedekah Dongeng di SD Nasional Makassar

Sekitar tahun 1999 saya pernah menjadi pengajar komputer di SMP Nasional. Kala itu mengajar Lotus dan Wordstar. Bagi pengguna awal komputer, kedua program itu sangat familiar dan dikenal sebagai software pengolah data dan kata. Sistem operasinya juga masih menggunakan DOS versi 6.0.

Kegiatan Sedekah Dongeng di SD Nasional Makassar

Dan hari ini saya hadir kembali di sekolah ini dengan profesi sebagai pendongeng. Antusias anak anak disini luar biasa ketika mendengarkan dongeng. Usai mendongeng, saya dihampiri oleh Bapak Kepala yayasan yang sedari awal turut mendengarkan dongeng yang saya bawakan. Beliau dulu juga sering mendongeng untuk anak anak.
Dari hasil bincang bincang kecil, beliau mengajak saya untuk membuat sedekah dongeng secara rutin di sekolahnya.

2. TK Masita Jalan Muhajirin Malengkeri Makassar

Kegiatan Sedekah Dongeng di TK Masita Makassar

Lokasi kedua seharusnya bertempat di SAIK ( Sekolah Alam Insan Kamil) Gowa. Namun karena ada beberapa tamu undangan yang masih harus ditunggu, saya memutuskan untuk menunda dongeng di sekolah ini. Kepada panitia saya berjanji akan datang pukul 13:00 WITA.

Selanjutnya saya ditemani oleh Joharni menuju ke TK Masita di Jln. Muhajirin Malengkeri Makassar.
Ibu Een, Kepala sekolah TK Masita sekaligus ketua IGTKI Makassar secara khusus meminta Kak Heru untuk datang di acara Maulid Nabi Muhammad SAW.

Kegiatan Sedekah Dongeng di TK Masita Makassar

Acara ini turut juga dihadiri oleh orang tua terutama ibu ibu yang juga ikut mendengarkan dongeng Islami tentang masa kecil Muhammad ketika diasuh oleh Halimah, ibu susunya.

3. SD Inpres Maccini Sombala 1

Kegiatan Sedekah Dongeng di SD Inpres Maccini Sombala 1 Makassar

Setelah menyelesaikan misi dongeng di TK Masita, mbah Google Maps menyarankan kepada saya untuk bergerak ke lokasi 3 di SD Inpres Maccini Sombala di Jln. Abdul Kadir Makassar. Kalo tidak salah sekitar 4 tahun lalu saya biasa diundang oleh Ibu Neneng untuk mendongeng di sekolah ini. Semenjak ada pergantian kepala sekolah, saya sudah jarang ke sekolah ini. Beberapa murid masih mengenal wajah saya ketika saya masuk di ruangan guru.

Dan yang selalu ditanyakan oleh anak anak adalah “Kak, mana Bona?”.

Kegiatan Sedekah Dongeng di SD Inpres Maccini Sombala 1 Makassar

Donasi yang dikumpulkan dalam kegiatan sedekah dongeng ini berjumlah Rp. 2.127.000,- yang selanjutnya disalurkan kepada Laznas Yatim Mandiri .

4. Sekolah Alam Insan Kamil Gowa

Rasanya sangat pas ketika tepat pukul 11:00 ketika saya tiba di kantor Laznas Yatim Mandiri Makassar di Jalan Andi Tonro. Oleh oleh kue dan telur maulid hasil kegiatan dongeng di TK Masita kami nikmati bersama sama. Ada Linda ibu admin sekaligus keuangan yang nampaknya sudah lapar berat.

Ada juga Feby, salah satu mahasiswi UIN yang barusan pulang dari lokasi KKN di Malino Gowa. Kelihatannya Feby agak kurusan sedikit walau baru seminggu di lokasi KKN yang lokasinya diatas Malino. Wajar saja kalo siang ini Feby langsung makan songkolo plus serundeng sepiring penuh…

Setelah menikmati sedikit makan siang ala maulid, saya segera bergegas menuju lokasi ke-4 kegiatan Sedekah Dongeng di Sekolah Alam Insan Kamil di Gowa. Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya bahwa kegiatan di sekolah ini diundurkan waktunya ke pukul 13:00 WITA.

Kegiatan Sedekah Dongeng di Sekolah Alam Insan Kamil

Hari ini di halaman Sekolah Alam Insan Kamil sedang diadakan Open House dengan beragam lomba dan kegiatan. Ada lomba menggambar, mewarnai, futsal dan berbagai lomba lainnya dilaksanakan di lapangan sekolah. Beberapa sekolah yang berada di sekitar sekolah ini turut juga diundang untuk menyemarakkan acara Open House.

Kegiatan Sedekah Dongeng di Sekolah Alam Insan Kamil

Kegiatan Sedekah Dongeng sudah dua kali diadakan di tempat ini, dan hari ini dongengnya juga ditonton oleh para peserta lomba yang sudah selesai mengikuti kegiatan lomba. Tak ketinggalan orang tua juga turut mendengarkan dongeng sembari menemani anaknya yang sedang mengikuti kegiatan.