Tag Archives: StoryTelling

SDN 003 Lampa Wonomulyo

Yuk berkumpul bersama..!
Mendengarkan cerita.
Berbagi ceria.

Di halaman sekolah SDN 003 Lampa sejak pagi ini, Rabu 19 September 2019 sudah berdatangan siswanya. Di tangannya nampak digenggam selembar amplop untuk donasi bagi anak anak korban gempa bumi di Lombok. Pagi ini tim Sedekah Dongeng dari Laznas Yatim dan Rumah Dongeng berkunjung ke sekolah ini.
Sembari menunggu datangnya guru dan kepala sekolah, Kak Sri salah satu staf dari YM Maros mengajak para siswa utk duduk bercengkrama sembari menjelaskan maksud dari kegiatan ini.

Mulanya hanya beberapa anak saja yang berkumpul membentuk lingkaran kecil. Tak lama siswa yang lainnya turut bergabung juga dalam lingkaran kecil itu.
Sayup sayup saya dengar mereka bernyanyi lagu lagu anak yang dihapal. Sementara siswa lainnya nampak menyapu kelas dan halaman sekolah. Sebagian siswa laki laki berlarian di halaman sekolah.

Pukul 07:45 baru datang salah satu guru kelas. Setelah berbincang untuk menentukan lokasi kegiatan, teman teman dari Laznas Yatim Mandiri mulai membentangkan spanduk kegiatan. Dibantu oleh beberapa siswa dari kelas 6 akhirnya spanduk bisa dipasang.

Tak lama kemudian, siswa lainnya sudah duduk dengan rapi di depan panggung acara. Sound system sudah menyala, bluetooth sudah terkonek dan dongengpun segera dimulai.

#SedekahDongeng
#PrayforLombok
#Storytelling
#YatimMandiri
#RumahDongeng

Sedekah Dongeng di SDN 21 Sanggalea Maros.

Sekitar 450 adik adik di sekolah ini, Jumat 13 April 2018 mendapatkan edukasi tentang keutamaan bersedekah dari Kak Heru dan Tim Sedekah Dongeng dari Yatim Mandiri Maros.

Sedekah Dongeng Untuk Yatim Dhuafa adalah salah satu program yang dilaksanakan oleh Rumah Dongeng ID bekerjasama dengan Laznas Yatim Mandiri. Kegiatan ini mengunjungi langsung adik adik di berbagai sekolah sebagau salah satu media edukasi pendidikan karakter melalui dongeng sekaligus bersedekah bagi anak yatim dhuafa.

Mengapa harus bersedekah?

Saat kita bersedekah, banyak manfaat yang mengalir dari arti sedekah itu, sedekah akan menggerakkan roda ekonomi dan menjadi lokomotif pertumbuhan untuk membangun peradaban. Sedekah yg kita berikan akan mengikat kita dalam kemaslahatan untuk bersama menjadi kekuatan mengatasi krisis pangan, pendidikan, kesehatan, hingga ekonomi. Dengan bersedekah kita sebarluaskan rasa keadilan untuk kehidupan yang lebih sejahtera dan bermartabat.

“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apapun yang kamu infakkan tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui”
(QS Ali Imron:92)

Mengapa harus dongeng?
Dongeng adalah salah satu media pendidikan yang sangat menyenangkan bagi anak anak. Nilai nilai moral yang positif dapat disampaikan dengan tidak menggurui mereka. Rasa empati dan simpati terhadap penderitaan yang sedang dialami oleh orang lain dapat disampaikan dengan mudah melalui tokoh tokoh dalam dongeng. Ada tokoh yang sedang sedih karena rumahnya terbakar, ada tokoh yang menangis karena kehilangan keluarganya dan masih banyak sisi sisi kemanusiaan lain yang bisa disampaikan kepada anak anak melalui dongeng

Bagi sekolah yang ingin dikunjungi silakan menghubungi tim Sedekah Dongeng di nomor 0852 5575 1971.

KURRE SUMANGA’, ANDARIAS

Andarias sang driver DongKel With Library

Salah satu pendukung keberhasilan Dinas Perpustakaan Makassar melaksanakan program Dongkel Perpusling adalah karena memiliki beberapa juru kemudi yang mumpuni dan handal.

Namanya Andarias Patabang. Lelaki ini memiliki pembawaan tenang. Tetapi jika berkesempatan duduk dan mengobrol dengannya, saya terkenang Ibu kost asal Rantepao Toraja yang kamarnya saya sewa selama kuliah, tidak pernah pindah saking betahnya.

Beberapa kali saya menyaksikan Andarias berhasil membawa mobil perpustakaan keliling memasuki lorong sempit, menghindari lubang dan kubangan, parkir kurang dari 1 cm dari tepi selokan, menyusur tenang di lorong pasar sayur, bahkan berhasil memutar arah mobil dengan hanya memanfaatkan lahan jalan selebar 2 meter yang dipadati penjual es dan mainan khas sekolahan.

Saya yakin orang ini cocok diajak main film Fast and Farious untuk adegan meloloskan diri dari lorong kecil pelosok kota.

Dan Andarias melakukannya setiap hari.

Lelaki ini cuma tersenyum atau tertawa sementara kami yang menumpang sesekali menjerit karena terkejut saat ujung mobil nyaris masuk parit. Beberapa pendamping malah memilih menunggu sampai posisi mobil stabil sebelum naik kembali.

Misi literasi kami di SD. Inp. Rappo Jawa hari ini kembali menantang Andarias menunjukkan kepiawaiannya di balik kemudi. Sekolah ini berada di jalan korban 40.000 jiwa, dalam lorong kecil. Tidak hanya itu, setelah berhasil masuk pagar, mobil harus menyusur lorong sekolah yang lebih sempit, berlubang-lubang, berkerikil, dengan cara …. berjalan mundur sejauh 50 meter ! Ditambah lagi harus turun membersihkan sendiri jalur dari motor2 yang parkir menghalangi.

Pendongeng boleh berganti setiap hari, begitupun tim pendamping. Tetapi juru kemudi tetap sama. Maka yang paling banyak mengunjungi lokasi pelayanan dalam rangka usaha nyata dalam menebar literasi, salah satunya adalah orang ini.

Kurre sumanga’, kakak Andarias.

Terima kasih, driver andalan.

Ditulis oleh Kak Madia, Pendongeng dan Ibu Rumah Tangga

Workshop Mendongeng Kreatif bersama KPK RI

Workshop Dongeng Gratis!

Dalam rangka Hari Pendidikan Nasional yang dirangkaikan dengan Pesta Pendidikan 2017, Pusat Edukasi Antikorupsi KPK bekerjasama dengan Rumah Dongeng Indonesia, Elmuloka dan Rumah Dongeng Mentari mengajak para pendidik tingkat TK dan SD di Kota Makassar untuk belajar mengenal dongeng sebagai salah satu metode yang efektif untuk pembelajaran anti korupsi sejak usia dini.

Yuk ikutan di acara :

Workshop Mendongeng Kreatif Menggunakan Buku Bacaan Si Kumbi

Acara ini GRATIS tanpa ada pungutan biaya!

⏰Kapan?
Sabtu, 13 Mei 2017
jam 08.00 – 16.00 WITA

?Di mana?
Hotel Jakarta, Makassar
Jl. Ance Dg Ngoyo No. J9, Panakkukang Mas, Makassar

Dalam workshop ini, peserta akan dilatih menjadi #PendongengKeren untuk menyebarkan semangat antikorupsi dan menanamkan nilai-nilai integritas kepada anak melalui dongeng

?‍? Fasilitator
Sandri Justiana dan Qilda Fathiyah
(Fungsional Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat KPK)

Kak Heru – Rumah Dongeng Makassar
Kak Rona – Rumah Dongeng Mentari Yogyakarta
Kak Karin – Elmuloka Bandung

?? Peserta akan mendapatkan fasilitas berupa paket Buku Si Kumbi yang diterbitkan KPK RI.

PESERTA TERBATAS

Yuk segera daftar menjadi Pendongeng Keren

Pendaftaran paling lambat tanggal 8 Mei 2017 pukul 23.59 WITA. 

Pengumuman peserta terpilih: 10 Mei 2017
Syarat Peserta Workshop :


  1. Terdaftar sebagai Guru TK atau Guru SD di Makassar dan sekitarnya. Panitia tidak menanggung biaya transportasi bila berasal dari luar Makassar.
  2. Berkomitmen untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan Pesta Pendidikan sampai selesai.
  3. Buku Dongeng dapat didownload disini:

Piknik di Kumbinesia

Modo Tak Mau Menari

Suatu Hari di Museum_Seni_KPK

Kak Heru 085255751971 (WA & Phone)

#AksiKita
#LawanKorupsi

Formulir Pendaftaran Peserta 

 

DongKel : Energi di Tiga Lokasi

Pagi ini sesuai dengan jadwal mingguan yang dikeluarkan oleh Dinas Perpustakaan Kota Makassar, lokasi Dongkel with Library adalah di SDN 35 Melayu di Jl. Muhammadiyah Makassar. Namun tiba tiba sekitar pukul 08:30 ada notifikasi di Grup Dongkel bahwa pendongeng diharuskan berkumpul di Kantor Dinas Perpustakaan karena ada perubahan lokasi kegiatan. 

Maka mau tak mau saya bergegas memacu si Yona, mobil keluarga kami menuju kesana. Sudah menjadi kebiasaan jikalau harus memberikan nama pada kendaraan yang kami miliki. Kebiasaan ini sebagai salah satu cara kami untuk membuatkan sebuah cerita seru pada kendaraan tersebut . Motor yang pernah kami miliki namanya adalah Simpson, salah satu tokoh kartun film kesukaan Safira. Selama hampir 4 tahun Simpson menjadi satu satunya alat transportasi keluarga. Ke sekolah, belanja di pasar bahkan pulang kampung ke Bone. Sampai sampai Safira kecil menangis sedih ketika Simpson hilang dicuri!
Dan sekarang si Yona, mobil merah kecil ini sebagai penggantinya.

Tiba di depan museum Kota Makassar yang sekarang menjadi “homebase” Dinas Perpustakaan Kota Makassar, sudah berjejer rapi dua buah armada mobil layanan keliling. Sayapun masuk ke dalam kantor yang berada di bagian belakang museum kota. Beberapa karyawan sudah terlihat sibuk dengan persiapan Dongkel hari ini. Pak Andarias, sang driver masih asyik dengan segelas kopi dan sepiring pisang goreng yang masih panas. Bau sedap pisang goreng yang berasal dari wajan kecil sangat menggodaku untuk mencicipinya.
“Ayo kak, sarapan dulu disini!”, ajak pak Andarias. Sambil tersenyum sayapun hanya bisa bercanda kalo pendongeng dilarang makan gorengan. Nanti bisa rusak pita suara. He…he..he…

Dua pentolan Dongkel Makassar

Tak lama yang ditunggu-tunggupun muncul. Dia adalah Kak Hikma yang hari ini bertugas menggantikan Kak Nisa. Sepertinya untuk beberapa hari kedepan, Kak Nisa akan selalu berhalangan mendongeng keliling karena faktor usia kehamilannya. Padahal kelihatan keren kalo ada “bumil” yang tampil mendongeng di hadapan anak anak. Pasti yang di dalam perut akan senang juga. Bergegas semua tim segera menuju ke mobilnya masing masing. Saya bersama Pak Tulus dan Kak Hikma sudah siap mengikuti jalannya DP 1 dan DP 2. Baru 5 menit duduk di dalam mobil, Kak Hikma harus bersedia dioper ke mobil lainnya. Tak masalah untuk berpindah pindah mobil, meskipun saya yakin kalo Kak Hikma lebih suka dengan dinginnya AC di mobil kami.
Maka melajulah mobil layanan yang membawa ratusan buku di dalamnya. Kamipun bergerak beriringan bagaikan ular naga menuju ke lokasi Dongkel. Lokasinya berada di daerah Tanjung Bunga, nama sekolahnya adalah SD 30 Barombong. Saya sendiri belum pernah ke sekolah tersebut. Namun si Google Maps siap untuk memandu perjalanan literasi ini.

Sepanjang perjalanan, Pak Tulus sebagai koordinator Dongkel With Library  terus bercerita tentang presentasi Dongkel With Library yang minggu lalu dipresentasikan oleh Bapak Walikota Makassar di depan tim penguji independen di Jakarta. Kepiawaian Danny Pomanto ketika “mendongeng” di depan juri membuat Pak Tulus sangat yakin kalo inovasi Dongeng Keliling ini bisa masuk ke 40 besar nasional. Yang saya tahu, kalo bisa masuk di 40 besar, penghargaan inovasi layanan publik akan mendapat penghargaan langsung dari Presiden RI. Wah…! Bisa betapa serunya kalo si Bona pergi ke istana negara! Obrolan berlanjut tentang anggaran dinas. Saya baru tahu juga bahwa anggaran Dinas Perpustakaan Kota Makassar ternyata berada di angka 2 paling bawah, namun tak mengurangi semangat tim perpustakaan untuk terus melayani masyarakat.

Dan tak terasa, kamipun sudah sampai di sekolah yang dimaksud. Disini ada 3 sekolah yang tergabung dalam satu lokasi. Letaknya berada di belakang perumahan elit di daerah Tanjung Bunga. Halaman sekolahnya masih sangat luas. Di tengah sekolah berdiri dengan kokohnya pohon yang menjulang tinggi dan membuat suasana semakin teduh. Sang mataharipun juga sangat bersahabat pagi ini. Cuaca semakin terasa sejuk dengan semilir angin yang sepoi sepoi mengayunkan dahan-dahan pohon. Serasa berbisik ” Ssstt…. ada Pendongeng datang loh..!”.
Serentak anak anak berhamburan dengan gembira ketika Kak Hikma mulai beraksi dengan lagu Disini Senang Disana Senang. Tanpa dikomandoi, merekapun bernyanyi dengan serempak dan berirama. Tak mau ketinggalan, Pak Muhyidin Sekretaris Dinas Perpustakaan turut bergoyang dan bernyanyi bersama anak anak. Tak malu malu bergabung ditengah kerumuman anak anak. Kamerapun beraksi mengabadikan keseruan ini. Sebuah perwujudan kerja tim sangat terasa terjadi disini. Semua bernyanyi dan bergembira!

Sebuah dongeng fabel menjadi menu Dongkel hari ini. Dari menit pertama dongeng ini dimulai, kerumunan mulai bertambah banyak. Tak terasa lingkaran mulai tambah mengecil. Mereka merengsek pelan pelan ke arah depan. Panggung terbuka terasa sempit oleh kerumunan anak anak yang sangat antusias mendengarkan dongeng. Raut wajah mereka menunjukkan bahwa dongeng itu asyik.
Dan sebagai hadiah pamungkas, mobil layanan mulai dibuka perlahan lahan. Serentak mereka berlarian ke arah mobil
an mulai berebutan untuk mencari buku favoritnya.
Sayapun harus segera meninggalkan lokasi ini. Ada tugas lain yang sudah menanti di TK Kemala Bhayangkari Makassar. Mereka meminta saya untuk memberikan pelatihan mendongeng. Masih bersama Yona sayapun bergerak menuju ke sekolah yang dimaksud yang berlokasi di Jl. Chairil Anwar.

Tiba di sekolah yang bersebelahan dengan Hotel Losari Metro, nampak beberapa adik adik tengah latiha menari. Sepertinya saya mengenal tarian tersebut. Kalo nggak salah itu adalah Tarian Pinguin. Mereka nampak dengan lihai meliuk-liukkan badannya seperti seekor burung pinguin di atas salju. Setelah bercakap cakap ringan dengan Bunda Irma, salah satu guru di sekolah ini, saya mendapatkan informasi bahwa ada Lomba Mendongeng antar guru TK dalam lingkup Bhayangkari Sulsel. Beliau meminta saya untuk melatih guru yang akan ikut lomba.
Namun sepertinya permintaan dari Bunda Irma tidak dapat saya penuhi karena faktor “conflict of interest”.
Sebelumnya oleh panitia lomba yang dimaksud, saya telah diminta untuk menjadi juri lomba. Sebagai alternatif, sayapun meminta kepada Kak Madia Sang Pendongeng Pung Julung Julung untuk menggantikan tugas “les privat” ini.
Sayapun meyakinkan kepada mereka bahwa Kak Madia bisa memberikan ilmu yang terbaik. Apalagi materi lomba tak jauh dari cerita rakyat Sulawesi Selatan.
Alhamdulillah, Kak Madia bersedia untuk datang ke sekolah ini. Paling tidak selama 3 hari kedepan, Kak Madia harus berjuang habis habisan karena faktor keterbatasan waktu.

Di tengah perbincangan kami tentang lomba mendongeng, sebuah pesan WA masuk di smartphone saya.
” Kak Heru, saya sudah menunggu di McD Mari Mall”.
Sebuah pesan dari salah satu orang tua murid yang tinggal di Pangkep.
Duh….! Ternyata hari ini saya punya janji dengan Ibu Tenri yang jauh jauh datang dari Pangkep.
Beliau ingin bertemu saya untuk diskusi singkat tentang persiapan anaknya yang akan mewakili Pangkep dalam lomba bercerita tingkat SD di tingkat propinsi.
Sebuah cerita singkat keluar dari mulut kecil Cara, siswa kelas 5 SD Pangkep. Ceritanya berkisah tentang Karaeng Labbakang dan Pangeran dari Madura. Beberapa dialog dan narasi saya perbaiki seraya meminta kepada sang ibu untuk memberikan naskahnya melalui email.

Cukup melelahkan tugas dongeng hari ini. Dalam durasi 3 jam harus berkelana ke tiga lokasi yang berbeda. Dan jari jari yang sempat meliuk liuk diatas layar smartphone adalah sebuah goresan kisah pendongeng hari ini.

Kartini dan Arti Al Fatihah

Berbagi Cerita RA Kartini di SMPIT Ar Rahmah

Pagi ini saya mengajak seorang anak laki laki untuk naik ke atas panggung. Namanya Rahman siswa kelas VII SMPIT Ar Rahmah Makassar. Saya minta dia untuk melafalkan surah Al Fatihah di depan teman temannya. Dengan lancar dan fasih, Rahman mengalunkan ayat ayat tersebut. Setelah selesai, saya minta dia untuk menerjemahkan arti dari surah Al Fatihah.
Apa yang terjadi?

Ternyata si Rahman tidak bisa mengartikan kandungan surah yang dalam sehari hampir 17 kali dibacanya.

Saya melanjutkan dengan kisah dari Ibu Kartini.

Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menulis; “Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?”

“Alquran terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Alquran tapi tidak memahami apa yang dibaca”.

Sekelumit percakapan Kartini yang Kak Heru ceritakan kepada adik adik SMPIT Ar Rahmah hari ini bersama IZI Sulsel hari Jumat 28 April 2017.

Selanjutnya beberapa cukilan dari seorang wanita yang merasa dirinya dipinggit sejak usia 12 tahun dilanjutkan dengan goresan :

“Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya”.

“Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?”

RA Kartini melanjutkan curhat-nya, tapi kali ini dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902 yang dikirim ke Ny Abendanon.

“Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Alquran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya”.

“Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kitab ini teralu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya”.

Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat, menceritakan pertemuan RA. Kartini dengan Kyai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang — lebih dikenal dengan sebutan Kyai Sholeh Darat dan menuliskan kisah tsb sbb:

Takdir, menurut Ny Fadihila Sholeh, mempertemukan Kartini dengan Kyai Sholel Darat. Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya.

Kyai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kyai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang penceramah.

Ini bisa dipahami karena selama ini Kartini hanya tahu membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.

Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog Kartini-Kyai Sholeh.

“Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.

Kyai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh balik bertanya.

“Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Alquran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.

Kyai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan; “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Dialog berhenti sampai di situ. Ny Fadhila menulis Kyai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali subhanallah. Kartini telah menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Jawa.

Setelah pertemuan itu, Kyai Sholeh menerjemahkan ayat demi ayat, juz demi juz. Sebanyak 13 juz terjemahan diberikan sebagai hadiah perkawinan Kartini. Kartini menyebutnya sebagai kado pernikahan yang tidak bisa dinilai manusia.

Surat yang diterjemahkan Kyai Sholeh adalah Al Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Sayangnya, Kartini tidak pernah mendapat terjemahan ayat-ayat berikut, karena Kyai Sholeh meninggal dunia.

Kyai Sholeh membawa Kartini ke perjalanan transformasi spiritual. Pandangan Kartini tentang Barat (baca: Eropa) berubah. Perhatikan surat Kartini bertanggal 27 Oktober 1902 kepada Ny Abendanon.

“Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban”.

“Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan”.

Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini juga menulis;

“Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama menghargai perbedaan”.

Dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis; “Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah SWT.

RA Kartini pernah punya pengalaman tidak menyenangkan saat mempelajari Islam. Guru ngajinya memarahinya karena dia bertanya tentang arti sebuah ayat Al-Qur’an. Ketika mengikuti pengajian Kiai Soleh Darat di pendopo Kabupaten Demak yang bupatinya adalah pamannya sendiri, RA Kartini sangat tertarik dengan Kiai Soleh Darat. Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat Al-Fatihah.

RA Kartini lantas meminta romo gurunya itu agar Al-Qur’an diterjemahkan. Karena menurutnya tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya. Pada waktu itu penjajah Belanda secara resmi melarang orang menerjemahkan Al-Qur’an. Dan para ulama waktu juga mengharamkannya. Mbah Shaleh Darat menentang larangan ini. Karena permintaan Kartini itu, dan panggilan untuk berdakwah, beliau menerjemahkan Qur’an dengan ditulis dalam huruf Arab pegon sehingga tak dicurigai penjajah.

Kitab tafsir dan terjemahan Al-Qur’an itu diberi nama Faidh al-Rahman fi Tafsir Al-Qur’an. Tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab. Jilid pertama yang terdiri dari 13 juz. Mulai dari surat Al-Fatihah sampai surat Ibrahim.

Kitab itu dihadiahkannya kepada RA Kartini sebagai kado pernikahannya dengan RM Joyodiningrat, Bupati Rembang. Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya.

Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan: “Selama ini al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami.”

Melalui kitab itu pula Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya. Yaitu Surat Al-Baqarah ayat 257 yang mencantumkan, bahwa Allah-lah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya (Minadh-Dhulumaati ilan Nuur).

Kartini terkesan dengan kalimat Minadh-Dhulumaati ilan Nuur yang berarti dari gelap kepada cahaya karena ia merasakan sendiri proses perubahan dirinya.

Kisah ini sahih, dinukil dari Prof KH Musa al-Mahfudz Yogyakarta, dari Kiai Muhammad Demak, menantu sekaligus staf ahli Kiai Soleh Darat.

Dalam surat-suratnya kepada sahabat Belanda-nya, JH Abendanon, Kartini banyak sekali mengulang-ulang kalimat “Dari Gelap Kepada Cahaya” ini. Sayangnya, istilah “Dari Gelap Kepada Cahaya” yang dalam Bahasa Belanda “Door Duisternis Tot Licht” menjadi kehilangan maknanya setelah diterjemahkan Armijn Pane dengan kalimat “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Mr. Abendanon yang mengumpulkan surat-surat Kartini menjadikan kata-kata tersebut sebagai judul dari kumpulan surat Kartini. Tentu saja ia tidak menyadari bahwa kata-kata tersebut sebenarnya dipetik dari Al-Qur’an.

Kata “Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur“ dalam bahasa Arab tersebut, tidak lain, merupakan inti dari dakwah Islam yang artinya: membawa manusia dari kegelapan (jahiliyyah atau kebodohan) ke tempat yang terang benderang (petunjuk, hidayah atau kebenaran).
*) dari berbagai sumber

Yuk belajar memahami Al Quran.!

Bambini School Hari ke-3 Mimi Carafun

Event Mimi CaraFun di Bambini School

Memasuki hari ke-3 Mimi CaraFun 2017, hari Rabu 22 Maret 2017 tim Mimi yang terdiri dari 2 Tim sudah siap berada di Sekolah Bambini Makassar. Sekolah yang berdiri sejak tahun 2000 ini sudah nampak banyak sekali perubahannya. Dari tahun pertama yang hanya menempati ruko di Jalan Mesjid Raya, kini sekolah Bambini sudah memiliki gedung sendiri. Kemegahan sekolah yang sudah berlantai 6 ini semakin nampak meriah dan ramai ketika siswa siswi TK hari ini dikunjungi oleh Mimi CaraFun 2017.

Acara dimulai tepat pukul 09:00, di lantai 6 para orang tua sudah siap mendengarkan materi edukasi tentang Tumbuh Alami perkembangan anak. Sedangkan di lantai 5, ratusan adik adik kecil nampak sudah tak sabar menunggu acara dimulai. Setelah mereka duduk dengan tertib, acara dimulai dengan penampilan Beruang Berry yang dengan ramah menyapa adik adik kecil. Beberapa dari mereka malah ada yang gemas dengan pemunculan Berry. Ada satu anak yang spontan memeluk Berry dengan eratnya…..!

Selanjutnya diisi dengan dongeng bersama Kak Heru. Pihak sekolah meminta kepada Kak Heru untuk mendongeng dalam Bahasa Inggris. Sehari hari mereka menggunakan percakapan dengan bahasa internasional ini, baik sesama guru maupun kepada siswa siswanya. Dan dongeng yang dibawakan adalah The Lion and Little Mouse.

Dengan penuh antusias adik adik mendengar dongeng tersebut, beberapa anak dipanggil oleh Kak Heru untuk menjadi penyelamat Mr. Lion yang terperangkap di dalam jaring pemburu. Dan tentunya ada hadiah kecil bagi mereka yang berani maju kedepan untuk menjadi penolong Mr. Lion.

Keseruan acara ini berakhir pukul 11:00. Selanjutnya tim Mimi CaraFun akan mengunjungi sekolah TK Putra 1 pada hari Kamis, 23 Maret 2017.

International Certificate for Safira

Hari ini, Sabtu 11 Maret 2017 sepucuk surat datang ke rumah kami. Surat ini sangat spesial karena berisi sebuah sertifikat penghargaan kepada Safira Devi Amorita ketika tampil di Grand Opening Children Festival Korea Selatan tahun 2015.

Kamu bertiga langsung teringat akan memory perjalanan sekeluarga menuju ke Korea Selatan. Sejumlah agenda telah menunggu kami di Korea Selatan.

Pertama, mengikuti training dan workshop mendongeng di Gwangju pada 1-31 Agustus 2015. 

Kedua, penampilan di Indonesia International Book Festival di Jakarta pada 2-4 September 2015. 

Ketiga, penampilan mendongeng pada Grand Opening Asia Culture Center Children di Gwangju pada 9-13 September 2015. Pada acara ini, Safira akan mendongeng di hadapan warga Gwangju di sebuah acara khusus bernama Story in Tent with Safira Devi Amorita. Ia pun diagendakan akan mendongeng di National Children Day di Thailand pada Januari 2016.

Safira merasa senang dirinya diundang ke Korea Selatan. Menurutnya, keberuntungan ini tak datang dengan sendirinya. Ia telah menoreh berbagai prestasi dari kegiatan mendongeng. Pada 2012, di usia 12 tahun, ia menjadi Duta Baca Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan. Selama bertugas sebagai duta baca, ia keliling mendongeng ke berbagai perpustakaan daerah di Sulawesi Selatan.

“Setelah Fira selesai tugasnya, Fira masih sering ke sekolah dan TK untuk berbagi cerita,” ujar siswi kelas XI SMA Katolik Rajawali Makassar ini. “Senang saja bisa berbagi cerita dengan teman-teman. Melalui cerita, mereka bisa mengambil kesimpulan sendiri dari cerita yang didengar.”

Saat mendongeng, Fira menggunakan berbagai alat bantu seperti boneka, wayang, dan musik sebagai suara latar. Agar tambah menarik, ia mengombinasikan mendongengnya dengan menyanyi dan menari.

Audiens mendongeng Safira tak hanya anak-anak sekolah. Pada September 2012, di acara Festival Forum Kawasan Timur Indonesia (KTI) VI di Palu, Sulawesi Selatan, ia menjadi pengantar presentasi Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah. “

Dongengnya tentang Kerajaan Bantaeng,” ucapnya.  Festival KTI diikuti perwakilan pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, instansi pemerintah, lembaga donor, dan pemangku kepentingan di wilayah Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.

Kagum dengan penampilan Fira, Nurdin mengundangnya untuk tampil pada peringatan Hari Tentara Nasional Indonesia di Bantaeng. Ia tampil mendongeng di hadapan sekitar lima ribu tentara.

“Waktu mendongeng pasti ada nervous. Tapi kalau sudah naik panggung, lihat audiens, sudah mulai bercerita, mengalir saja,” terangnya seraya mengaku tak takut mendongengi para tentara.

Safira mengaku ingin berkeliling dunia dari kegiatan mendongeng. Korea Selatan menjadi ajang perdananya untuk tampil di tingkat dunia. Ia pun telah membekali diri dengan kemampuan penguasaan lima bahasa yaitu Inggris, Korea, Mandarin, Jepang, dan Belanda.

Safira juga pernah tampil pada ajang internasional bertajuk Makassar International Writers Festival 2015 yang dihelat di Makassar pada 3-6 Juni 2015. Acara ini mendatangkan para penulis luar negeri. Pada acara ini, Safira berkolaborasi membawakan dongeng dengan pendongeng dari Australia.

We Proud of You girl……