Tag Archives: sungai Cenrana

Naik Katinting di Sungai Cenrana Bone

Masih dalam edisi liburan akhir tahun 2017. Di hari kedua tahun 2018, kami sekeluarga diundang oleh salah satu keluarga yang tinggal di Desa Linau Kecamatan Cenrana Bone. Untuk menuju ke desa tersebut, kami harus menggunakan transportasi air. Dari Bajoe dibutuhkan waktu sekitar 1 jam perjalanan darat menuju ke salah satu dermaga di tepi sungai Cenrana. Ada sebuah dermaga kecil yang siang ini penuh dengan anak anak sekolah. Mereka setiap hari menggunakan transportasi katinting untuk pergi dan pulang ke sekolahnya.

Dari dermaga tadi, perjalanan menuju Desa Launi membutuhkan kurang lebih 30 menit. Di sepanjang aliran sungai nampak rumah rumah penduduk yang langsung berbatasan dengan tepi sungai. Nampak pula pohon bakau di kiri dan kanan sungau, beberapa enceng gondok juga nampak terlihat di sepanjang sungai ini.

Katinting yang kami tumpangi berukuran sekitar 50 cm lebar dan 5 meter panjangnya. Kami harus hati hati ketika menaikinya. Sayapun agak kuatir bila sampai kehilangan keseimbangan, bisa bisa tercebur ke dalam sungai. Siang ini ada 14 penumpang yang semuanya adalah anggota keluarga kami. Saya duduk di bagian belakang dekat dengan tukang perahu atau nahkoda katinting. Katinting yang kami naiki tidak dilengkapi dengan pelampung atau alat keselamatan lainnya. Jadi kami hanya mengandalkan kelihaian sang nahkoda ketika katinting mulai berjalan menyusuri sungai.

Desa Linau termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Cenrana. Nama kecamatan Cenrana terkenal sampai keluar negeri karena potensi dan kekayaan perairannya yang terkenal yakni kepiting bakau yang dikenal dengan “ Kepiting pallime “. Kepiting bakau memiliki gizi yang sangat tinggi dan sangat penting untuk dikomsumsi oleh anak – anak untuk menambah kecerdasan dalam berfikir.

Di Kecamatan Cenrana hampir seluruh masyarakatnya peternak Kepiting Bakau, kepiting yang mereka ternak bukan semata untuk dikonsumsi secara pribadi atau bukan hanya dikenal di Sulawesi Selatan saja, tetapi mereka juga mengekspornya hingga luar negeri, seperti : Jepang, Singapore, Cina, Taiwan, Filipina, dll. Dan penghasilan masyarakat Cenrana dari mengekspor kepiting Bakau pun bisa mencapai ratusan juta dalam sekali panen kepiting Bakau.

Hampir semua penduduk yang tinggal di desa ini memiliki dermaga pribadi sekaligus satu buah perahu yang digunakan untuk keperluan sehari hari. Bagi yang tidak memiliki perahu, biasanya mereka harus menunggu perahu yang lewat di sepanjang sungai. Rumah rumah penduduk sudah ditata dengan cukup rapi, di tengah pemukiman ada jalanan kecil yang sudah dibeton. Ada sebuah mushola kecil di desan ini. Bahkan di sepanjang sungai Cenrana, saya melihat paling tidak ada 5 mesjid yang semuanya berada di tepi sungai.

#LiburanDenganGoogle