Tag Archives: Workshop Menulis

Pertama kalinya Ikut Workshop Menulis

Jurnalis dan Blogger foto bareng nara sumber

Dari salah satu grup blogger di Makassar, saya mendapatkan informasi tentang kegiatan pelatihan menulis bagi blogger. Saya sangat tertarik dengan kegiatan tersebut, maklum saya belum pernah ikut dalam pelatihan menulis blog. Oleh teman blogger saya diminta untuk mendaftar dengan mengirimkan SMS sesuai format yang disiapkan ke nomor panitia pelaksana. Panitia selanjutnya akan menyeleksi peserta sesuai dengan kuota dan kriteria yang telah ditetapkan.
Sebenarnya saya tidak berharap banyak bisa lolos dalam seleksi tersebut, maklum kegiatan menulis belum banyak saya lakukan. Berbeda dengan mendongeng yang sudah rutin saya lakukan.

Ternyata dongeng memang selalu membawa keajaiban. Keesokan harinya ada SMS yang meminta kehadiran saya untuk hadir dalam workshop menulis. Senang rasanya..!

Hari Jumat, 21 April 2017 yang bertepatan dengan Hari Kartini merupakan hari yang sangat menyenangkan. Pukul 08:00 saya sudah berada di salah satu hotel yang berlokasi di Jl. Penghibur Makassar. Mungkin karena terlalu bersemangat datang atau memang sudah menjadi perilaku orang Indonesia, ketika undangan diharuskan datang pukul 08:00 tapi ternyata ruang Masamba 5 di Hotel Aryaduta masing kosong melompong. Bahkan panitianya belum datang..!..Pada kemana semua orang ..? He…he…he…

Sekitar pukul 09: 00 satu persatu peserta datang dan mulai duduk di sebuah ruangan yang cukup luas. Meja dan kursi sudah ditata dengan rapinya. Di sisi kiri dan kanan bagian depan sudah terpasang dua layar projector. Meja untuk nara sumber juga nampak sudah siap dengan komposisi 3 kursi dan 1 meja panjang.
Di dinding depan juga sudah ada backdrop kegiatan dengan tulisan
“Pelatihan Jurnalisme Sensitif Gender Bagi Jurnalis dan Blogger” beserta logo KPPPA dan
Lembaga Studi Pers & Pembangunan (LSPP) Jakarta.
Ada sekitar 30 peserta yang diundang untuk mengikuti kegiatan ini. Sebagai orang baru dalam dunia jurnalisme, saya masih belum mengenal wajah wajah yang hadir pada saat itu. Hanya satu nama yang saya kenal, dia adalah Ibu Mugniar dari Blogger Anging Mammiri Makassar. Selain sebagai blogger, Mugniar adalah ibu dari Atifah salah seorang anggota Sahabat Cilik Rumah Dongeng.
Sempat berbincang-bincang sejenak dengan Mugniar tentang anaknya yang 2 bulan lalu ikut seleksi Lomba Bercerita Tingkat Kota Makassar. “Atifah sulit sekali diajak latihan mendongeng kalo saya minta ” ujar Mugniar kepada saya.
“Harus sabar dan telaten dalam mengajari anak, kadangkala memang anak sulit diajari oleh ibu atau ayahnya. Tapi kalo diajari sama orang lain, biasanya malah lebih nurut” ujar saya. Beliau pun mengiyakan ucapan saya tadi.

Asisten Deputi Partisipasi Media Kementerian PPPA, Fatahilah tanpa seremoni yang formalitas kemudian membuka pelatihan ini. Dalam sambutannya, beliau hanya menekankan bahwa pelatihan ini adalah dalam satu rangkaian dari kegiatan 3 Ends. Ada pelatihan, seminar dan jalan sehat yang bekerjasama dengan Pemkot Makassat. Adapun narasumber pelatihan adalah Peneliti Senior LSPP, Ignatius Haryanto, dan Ruth Indiah Rahayu, dan Jurnalis Multimedia, Ambang Priyonggo.

Ignatius Haryanto membawakan materi berjudul “Menuju Jurnalis dan Media Berperspektif Gender dan Anti Kekerasan”. Dosen di Universitas Multimedia Nusantara Tangerang ini mengupas tentang pentingnya memasukkan isu soal perlindungan dan pemberdayaan perempuan dalam dunia kerja. Anggapan masyarakat mengenai perempuan yang bekerja adalah “second income” di rumah tangga sehingga mengecilkan sistem reward atas prestasinya dalam bekerja. Padahal perempuan adalah tenaga kerja yang potensial baik di sektor formal dan informal. Keterlibatan media untuk mengangkat masalah ini akan memberi sebuah solusi atas persoalan dan bias yang terjadi baik di masyarakat ataupun di media selama ini.

Ibu Ruth Indiah Rahayu membawakan materi yang berjudul “Peta Masalah Gender dalam Media”. Ada suasana nostalgia dalam pemaparan materi ini. Beliau menyebutkan nama nama media yang hadir sekitar tahun 1970-an. Ada Kartini, Femina, Sarinah yang sangat berjaya pada masa itu. Beragam wanita dan kecantikan ditampilkan dalam majalah yang merupakan citra ideal feminitas Indonesia sesuai dengan slogan orde baru. Citra yang dimaksudkan adalah istri sebagai pendamping suami, pengurus rumah tangga, wanita yang melahirkan anak, pencari nafkah tambahan dan mengikuti kegiatan sosial sesuai dengan jabatan suami.

Citra feminitas yang berdekatan dalam diri perempuan selanjutnya menjadi target industri sehingga melahirkan produk produk kecantikan yang selalu diburu oleh kaum perempuan. Sampai saat ini, citra perempuan tidak pernah terlepas dari stigma bahwa mereka harus cantik dan menarik. Dengan demikian akan timbul ketidakadilan gender di dalam media karena lebih mengejar kepentingan profit semata. Hal tersebut akan melahirkan implikasi komodifikasi citra feminitas dalam hal posisi perempuan hanya sebagai obyek berita semata.

Materi selanjutnya dibawakan oleh Ambang dengan judul “Menetapkan Jurnalisme Sensitif Gender dan Peduli Anak”. Sepertinya materi ini lebih mudah saya pahami karena berhubungan dengan dunia anak meskipun dalam pemaparannya nara sumber tidak pernah menyentuh dunia anak. Dalam materi ini, beberapa contoh artikel dari media online tentang isu perempuan ditampilkan di layar. Ambang memberikan komentar tentang artikel tersebut baik dari segi judul, leader, isi berita dan foto.

Secara umum pelatihan ini memberikan nuansa baru bagi saya. Banyak rambu rambu dan etika penulisan berita yang harus diperhatikan terutama bila menulis tentang isu perempuan dan anak. Seperti harapan dari pihak Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, bahwa jurnalis adalah sebagai agen media diharapkan bisa memberikan edukasi kepada masyarakat melalui media yang berperspektif gender dan anti kekerasan.

Kegiatan pelatihan ini sekaligus dirangkaikan dengan rangka Kampanye Three Ends merupakan program unggulan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP dan PA) yang dilaksanakan di Makassar mulai tanggal 21-23 April 2017.

Three Ends Strategi yang dimaksud adalah End Violence Against Women and Children (Akhiri Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak); End Human Trafficking (Akhiri Perdagangan Manusia), dan End Barriers To Economic Justice (Akhiri ketidakadilan akses ekonomi untuk perempuan)