Tag Archives: Yatim Mandiri

Pesantren Ramadhan Kreatif

Sempat terjadi miskomunikasi antara panitia kegiatan dan pihak sekolah. Seminggu sebelumnya panitia meminta saya untuk memberikan materi Public Speaking for Kids dan Membuat Presentasi Yang Menarik.

Pesantren Ramadhan Kreatif

Karena pesertanya adik adik kelas 4-6, maka materi public speaking saya buat dengan simple dan menggunakan narasi storytelling. Sedangkan materi presentasi, dibuat hanya 8  tips membuat presentasi power point.

Namun ketika tiba di sekolah, saya kaget karena ibu kepsek sudah mengatur posisi duduk anak anaknya di halaman sekolah. Pikir saya, materi yang saya buat seharusnya dilaksanakan di dalam kelas dan hanya utk siswa kelas 4-6 saja. Tapi saya melihat siswa kelas 1-6 sudah duduk dengan rapi seakan akan siap untuk mendengarkan dongeng.

Pesantren Ramadhan Kreatif SD Angkasa 1Mandai

Dan betul…
Ternyata ibu kepala sekolah meminta saya untuk mendongeng. Bukan untuk mengajar materi yang diminta oleh panitia.

Ya sudahlah, saya harus siap dengan berbagai kondisi dan situasi. Akhirnya saya mengganti tas laptop yang ada di pundak dengan tas yang isinya Bona.
Artinya saya memang harus mendongeng di depan mereka.

Pesantren Ramadhan Kreatif SD Angkasa 1Mandai

#storytelling
#pesantrenkreatif
#rumahdongeng
#dongengramadhan
#yatimmandiri

Kerumunan Dongeng

Sabtu akhir pekan ini agenda kegiatan Sedekah Dongeng adalah di SD Bakung 1 Bumi Permata Sudiang Makassar. Sabtu sebelumnya juga di tempat yang sama, yaitu di SD Bakung 2, sekolah yang berada di satu kompleks.

Lalu lintas di hari Sabtu terasa sekali perbedaannya bila dibandingkan dengan hari hari lainnya. Oleh karena itu, saya pagi ini mengantar dulu istri tercinta ke sekolahnya baru saya berangkat ke Sudiang. Tiba di sekolah ini waktu sudah menunjukkan pukul 08:15. Telat sekitar 15 menit dari jadwal yang sudah ditentukan. Pesan WA dari Yoga masuk di smartphone, sekilas saya melirik isinya.

” Anak anak sudah tidak sabar menunggu kedatangan ta”

Halaman sekolah sudah digelar karpet untuk alas duduk para murid. Melihat kedatangan saya, serentak mereka duduk dengan rapi. Murid kelas kecil duduk di barisan depan, di bagian belakang duduk murid kelas besar. Ketika saya mulai mendongeng Pung Julung Julung, mereka masih duduk dengan rapi dan tenang. Namun ketika saya mulai memanggil Bona, beberapa dari mereka mulai berdiri dan merengsek maju ke depan.

Hal yang sama juga diikuti oleh murid murid SD Bakung 2. Mereka juga mulai merengsek maju dan berdesakan di depan saya. Maklum saja, minggu lalu mereka masih penasaran dengan Bona. Dan hari ini nampaknya mereka sengaja menunggu kemunculan Bona.

Datangnya Disambut Kabut dan Hujan.

Milad 25 tahun Yatim Mandiri Maros tahun ini berbeda dibandingkan dengan tahun tahun sebelumnya. Biasanya milad dilaksanakan di gedung yang letaknya di dalam kota dan mudah dijangkau.Namun di usianya yang ke 25, kegiatan milad dilaksanakan di sebuah pesantren yang berada di Desa Mangilu Kecamatan Bungoro Pangkep.

Letaknya sekitar 70 km dari Makassar atau sekitar 3 km dari kawasan pabrik Semen Tonasa 2.Pesantren Shela adalah nama dari pesantren yang dipimpin oleh Ustad Siradjang. Keberadaannya juga masih bisa dikatakan sangat muda dan baru. Beberapa dokter yang ikut sebagai tim medis bakti sosial ini baru tahu nama pesantren ini. Padahal mereka bertugas di Pangkep dalam kesehariannya.Bangunan pesantren masih dalam konstruksi, ada sebuah mushola sementara dan sebuah bangunan kelas yang dindingnya sangat artistik karena terbuat dari bambu dan kayu. Muridnya baru ada 60 siswa yang kebanyakan berasal dari desa sekitarnya.

Malam Bina Iman dan Taqwa PAUD Insan Kamil Gowa

Biasanya kalo di kegiatan Pramuka ada yang namanya Persami atau Perkemahan Sabtu Minggu. Kegiatan berkemah ini hanya untuk adik adik di tingkat Siaga atau yang masih duduk di sekolah dasar. Selama 2 hari mereka bermalam di tenda dan berkegiatan ditempat terbuka.

Namun di PAUD Insan Kamil ini, adik adik yang masih duduk di taman kanak kanak sudah berani untuk bermalam di sekolahnya tanpa didampingi oleh ayah dan ibunya. Meskipun hanya 1 malam, namun perlu diacungi jempol karena biasanya orang tua agak rewel bila buah hatinya dipisahkan dari mereka. Keberadaan para guru yang standby selama 24 jam tentu bisa mengurangi kekuatiran orang tua siswa.

PAUD Insan Kamil ini letaknya hanya 200 meter dari rumah Kak Heru di perumahan Zarindah Permai Samata Gowa. Hanya perlu waktu 5 menit berjalan kaki seusai sholat Isya, tepat pukul 19:45 saya tiba di sekolah ini.

Saat tiba, adik adik masih khusyuk melaksanakan sholat Isya yang dipimpin oleh seorang imam cilik. Bunda bunda guru terus mendampingi sang imam ketika membacakan bacaan sholatnya.

Walaupun saya masuk dengan perlahan lahan karena takut menganggu sholat mereka, namun tak urung beberapa mata sempat menoleh ke arah saya.

“Datang mi Kak Heru..!,” teriak salah satu siswa yang berada di barisan paling kiri.

Terjadi keributan kecil ketika dengan serentak para makmun menoleh ke arah kedatangan saya. Bunda guru dengan tegas dan berwibawa terus mengarahkan anak didiknya untuk terus khusyuk dalam sholatnya.

Dan tak lama setelah selesai sholat Isya berjamaah, mereka segera berhamburan ke arah saya sembari bertanya keberadaan Bona. Semenjak siang hari, adik adik di PAUD ini sudah diberitahu kalo ba’da Isya akan ada dongeng bersama Kak Heru dan Laznas Yatim Mandiri.

Pantas saja mereka seakan tak sabar menunggu kedatangan saya. Tahun sebelumnnya saya juga mengisi dongeng di tempat ini. Beberapa siswanya juga adalah anak dari tetangga Kak Heru di perumahan Zarindah Permai.

Malam ini saya membawakan sebuah buku cerita yang berjudul Fabels on Muhammad SAW. Ada 11 cerita fabel Islami yang ada dalam buku ini. Salah satunya berjudul Burung Ababil. Kisah yang diambil dari surah Al Fiil ini saya sampaikan sembari duduk dan memegang buku setebal 71 halaman. Judul lainnya ada Kambing Halimah, Unta Khadijah, Buraq dan lain lain.

Selain mendengarkan dongeng Islami, malam adik adik juga memberikan sedekahnya kepada Laznas Yatim Mandiri. Sedekah yang dikumpulkan berjumlah Rp. 1.550.000,-.

Donasi yang dikumpulkan selanjutnya disalurkan kepada Laznas Yatim Mandiri untuk pengembangan kegiatan sosial kemanusiaan.

Appang Bugis dan Kinder Huiz

Entah karena faktor kedekatan jarak yang mungkin menyebabkan kedua nama itu juga saling berdekatan satu dengan lainnya. Appang Bugis di seberang jalan, Kinder Huiz berada di depannya.

Appang Bugis adalah salah satu kue tradisional khas Bugis. Bahannya dibuat dari tepung yang dicampur dengan gula merah. Ada sebuah tradisi di kalangan Bugis Makassar, kalo hari Jumat jangan lupa makan appang. Manisnya gula merah akan membuat hidupmu nanti akan semanis rasa gula merah ini. Sedangkan Kinder Huiz adalah nama sebuah sekolah di Jalan Mappaodang Makassar. Kalo tidak salah “huiz” itu artinya rumah. Jadi Kinder Huiz bisa berarti “Rumah Anak Anak”.

Seharusnya hari ini ada 2 jadwal mendongeng. Yang pertama di TK Dharma Wanita Maros dan yang kedua di TK Kinder Huiz Makassar. Untuk mengefektifkan waktu karena hari ini adalah Hari Jumat, maka saya minta kepada Laznas Yatim Mandiri Maros pukul 08:00 pagi dimulai acara dongengnya.

Namun sejak subuh Makassar dan Maros diguyur hujan lebat. Bagaimana pun juga saya tetap harus ke lokasi di Maros. Menjelang tiba di Sudiang, notifikasi WA masuk dari Sri, staf YM Maros. Isinya kegiatan dongeng di Maros ditunda karena siswa yang datang hari ini sedikit. Dari 60 siswa, baru 10 orang saja yang datang. Hujan menjadi alasan ketidakhadiran siswanya.

Saya pun segera memutar stir.
Balik kanan menuju ke Makassar lagi.

Hi..hi…
Emang Sudiang bukan Makassar ya..?

Di lokasi kedua jadwal dimulai pukul 09:15. TK Kinderhuiz berada di jalan Mappaodang Makassar. Bagi yang sering ke jalan ini, ada sebuah warung yang menjual “Appang Bugis” yang sudah sangat terkenal enaknya. Biasanya kalo pagi sudah banyak pembeli yang antre di depan warungnya. Karena banyak yang antri, biasanya menjelang pukul 10, kue khas Bugis ini sudah habis.

Sekitar tahun 2011 saya mengenal TK Kinder Huiz ini. Dulunya berlokasi di samping rumah jabatan Kapolda Sulsel yang berada di jalan yang sama. Waktu itu saya diundang oleh Kak Awam Prakoso dan tim kampung dongeng untuk menyaksikan dongengnya. Saat ini lokasi sekolah berada tak jauh dari jalan Ratulangi Makassar.

Setelah bertemu dengan Ibu Nunu, sembari menunggu adik adik yang masih makan bekalnya, saya ngobrol ringan dengan beliau. Salah satu keinginannya adalah membangun sekolah dasar untuk para lulusan TK Kinder Huiz.

“Semua orang tua ingin anaknya tetap berada di lingkungan Kinder Huiz. Mereka berharap agar yayasan membangun sekolah dasar,” ungkap beliau.

Beberapa orang tua siswa sudah mengenal cara mendidik guru guru di sekolah ini. Sehingga mereka ingin anaknya terus bersekolah lanjut di tingkat sekolah dasar.

Suasana di dalam ruangan kelas nampak riuh. Beberapa dari mereka ternyata menunggu dongeng.

“Bahkan ada siswa yang sempat sempatin masuk sekolah karena mau dengar dongengnya Kak Heru,” papar bunda Nunu.

Dan ketika waktu mendongeng sudah tiba, keriuhan dan tingkah laku adik adik yang berusia 2 sampai 5 tahun pun semakin ramai.
Siswa yang duduk di kelas A dan B duduk dengan tertib di bagian belakang. Tetapi yang play grup dan kinder tak mau duduk lama. 2 dari mereka malah berdiri di depannya Kak Heru.

Salah satunya adalah Dzaky Prananda.
Lihatlah lirikannya..!
Kira kira apa yang menyebabkan dia melirik seperti itu ya?

Padahal 15 menit pertama, Dzaky tak mau duduk. Dia terus berdiri di depan. Walaupun begitu matanya tetap melekat ke arah Kak Heru.
Nampaknya dia serius.
Sesekali dia tertawa dan senang dengan dongeng Om Singa dan si Tikus. Bahkan ketika om Singa menyuruh si Tikus pergi, dengan patuhnya Dzaky ikutan pergi bersama si Tikus.

Dan tanpa terasa hampir 60 menit kebersamaan ini harus diakhiri.
Kehadiran Bona menjadi magnet bagi mereka.
Bona yang lucu dan menggemaskan..!

Hasil sedekah dongeng di TK Kinder Huiz sebesar Rp. 2.090.000,- untuk selanjutnya disalurkan kepada Laznas Yatim Mandiri.

Sampai bertemu lagi di bulan Ramadhan ya…

#SedekahDongeng
#YatimMandiri
#RumahDongeng
#Storytelling

Petualangan Bersama Hujan di Segeri Pangkep

Hari Selasa, 12 Maret 2019 adalah hari pertama roadshow Sedekah Dongeng di Segeri Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan. Jarak sekitar 70 km harus kami tempuh sepanjang perjalanan dari Makassar ke Pangkep.
Hujan begitu derasnya ketika kami memasuki wilayah Kecamatan Segeri Pangkep.
Lokasi pertama adalah di MTS Negeri DDI Segeri Pangkep.
Derasnya hujan masih belum berhenti di tempat ini. Halaman sekolah yang biasanya dipakai untuk upacara tergenang oleh air. Pikir saya, nampaknya dongeng tidak bisa diluar ruangan.

Ruangan kecil di MTS DDI Segeri Pangkep yang masih beralas ubin biasa

Sambutan hangat dari Bapak Kepala Sekolah membuat suasana menjadi lebih akrab. Atas anjuran beliau, kegiatan dongeng dilaksanakan di sebuah aula kecil yang masih beralaskan lantai biasa.

Tuh lihat.., sampai sampai kak Heru harus buka sepatu di depan adik adik. Walau begitu kak Heru tetap ganteng khan..?

SMP Negeri 1 Segeri Pangkep

Selanjutnya tim Sedekah Dongeng bergerak ke SMP Negeri 1 Segeri. Cuaca masih belum bersahabat dengan kami. Hujan masih enggan untuk berhenti. Lapangan upacara basah dan tergenang air.

Pilihan tempat kegiatan akhirnya adalah di ruang kelas. Wakil Kepala SMP meminta kepada pengurus OSIS agar hanya perwakilan siswa saja yang mengikuti kegiatan dongeng ini.

Tak mengapa ruangan kelas hanya bisa ditempati oleh sekitar 50 anak yang merupakan perwakilan dari 200 murid lainnya.

Terima kasih untuk bunda AL Djibran Evi yang seharian ini bersedia meluangkan waktu dan sup ubinya untuk kami santap di sela hujan di Segeri.

SD Negeri 23 Takku Kecamatan Segeri Pangkep.

Roadshow di hari kedua Sedekah Dongeng di Segeri Pangkep hari ini berjalan tanpa ada hujan. Walaupun dini hari tadi sekolah ini sempat diguyur hujan, namun ketika dongeng berlangsung hujan sudah berhenti. Beberapa tempat di halaman sekolah masih tergenang air.
Kegiatan dongengpun tetap berlangsung di teras depan kelas.

Teras kelas yang berbentuk selasar panjang dipenuhi oleh 300 adik adik mulai dari kelas 1 sampai kelas 6. Beberapa guru yang hari ini tidak mengikuti pelatihan kelas inklusif juga ikut dalam barisan dongeng muridnya.

Ternyata selasar yang sempit tak mampu menampung barisan dongeng yang ada. Beberapa murid terpaksa harus memanjat pohon agar bisa menyaksikan dongeng seru hari ini. Walaupun berdesak desakan, namun tidak terjadi keributan di antara mereka.

SDN 34 Citta Segeri Pangkep

Sedari pagi, Makassar diguyur hujan yang cukup lebat. Dan seperti sudah menjadi pasangan peristiwa bila hujan pasti macet.
Kemacetan panjang Kamis pagi ini dimulai dari pertigaan jalan Borong dan Antang. Sampai di perempatan jalan masuk Bukit Baruga, kemacetan masih terjadi. Salah satu ruas jalan inspeksi PAM ditutup karena ada pesta pernikahan.

“Kayaknya hujan pindah ke Maret ya..”, ungkap saya kepada penumpang cantik yang duduk disampingku.

“Iya…,” jawabannya singkat sembari terus memainkan ipad mininya.

Agenda dongeng pagi ini masih menuju ke Segeri Pangkep. Ini adalah hari ketiga roadshow ke kabupaten penghasil ikan bolu dan jeruk Pangkep. Semestinya pukul 09:00 sudah harus tiba di Segeri, namun pagi ini pukul 07:30 masih berkutat macet di jalan Leimina Antang.

Hujan mulai berhenti ketika tiba di Maros untuk menjemput Ibu Ani dan Jene, staf Yatim Mandiri Maros yang pagi ini bertugas mendampingi saya ke Pangkep. Bergegas mereka naik ke mobil karena waktu sudah menunjukkan pukul 08:40. Spanduk dan majalah bulanan Yatim Mandiri sudah disiapkan oleh mereka berdua.
Menyusuri jalanan ke arah Pangkep, cuaca mulai tak bersahabat. Gerimis kecil mulai menghadang perjalanan kami.

Saya mencoba menelpon Ibu AL Djibran Evi yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan kami di Segeri.

“Hujan qi di Segeri?,” tanyaku dengan intonasi yang agak kuatir.
Memang harus kuatir karena lokasi pertama adalah SD 34 Citta yang biasanya tergenang air bila hujan.

“Masih gerimis kak,” jawab bunda Evi di ujung telepon. Agak lega saya mendengarnya.

Namun ketika kami tiba di Segeri, hujan malah semakin deras. Dengan payung pinjaman, bunda Evi susah payah mengendong si kecil masuk ke dalam mobil kami.

“Gara gara lihat kakaknya foto dengan Bona, ini adiknya mau ikut dengar dongeng,” ujar bunda Evi ketika sudah duduk di dalam mobil. Naufal, si anak yang sulung kemarin berfoto bersama Bona di sekolahnya. Dan semalam adiknya rewel mau juga berfoto.
Pantesan saja hari ini dia ikut.

Perjalanan menuju ke SD 34 Citta masih ditemani oleh hantaman air hujan yang tak mau berhenti. Saya harus waspada karena banyak lubang di sepanjang jalan. Beberapa kali roda Mobil Bona alias Mona terantuk di lubang aspal yang tak terlihat karena genangan air menutupi lubang.

Dan setelah 20 menit berlalu, kami tiba di sekolah. Seperti biasanya, adik adik kecil sudah tak sabar menunggu kedatangan kami. Hari ini ruangan perpustakaan menjadi panggung dongeng. Sekitar 70 siswa duduk dengan rapi di dalam ruangan ini. Beberapa guru dan orang tua juga nampak bergabung dan bersempit ria di dalam ruangan yang berukuran 5 x 5 meter. Walau ini adalah perpustakaan sekolah, jangan ditanya jumlah koleksi buku bukunya.
Yang ada hanya rak buku yang masih kosong. Bahkan saya sempat mendorong rak buku ini agar adik adik dapat duduk dengan nyaman.

SMP Negeri 2 Segeri Pangkep

Dan lokasi terakhir kegiatan hari ini berlabuh di SMPN 2 Segeri Pangkep. Seperti anak SMP di sekolah sebelumnya, beberapa dari mereka masih merasa asing dan aneh kalau di usianya masih harus mendengar dongeng.

Love you Bona..!

Saya sih asyik asyik saja dengan kondisi ini. Karena di akhir kegiatan, wajah mereka nampak gembira dan sumringah setelah mengikuti alur dongeng yang saya sampaikan. Apalagi ketika mereka ketemu dengan si Bona.

Bona Back to Makassar

Ibu Lisa dan Pak Berto berfoto dengan Bona

Setelah hampir satu minggu mengadakan roadshow Disaster Risk Reduction di Palu, Sigi dan Donggala bersama Wahana Visi Indonesia, menjelang sore di hari Sabtu, 23 Februari 2019, saya diantar oleh Ibu Lisa dan Pak Berto ke bandara Mutiara Palu. Tak mau ketinggalan melihat foto fotonya Bona, Ibu Lisapun ingin juga berfoto dengan Bona di bandara Palu.

Selama roadshow di Palu, banyak pengalaman barunya Bona. Bertemu dengan banyak adik adik dan bergembira bersama mereka. Dari satu tempat ke tempat lainnya, dari anak anak bahkan sampai orang tua senang bertemu dengan Bona.

Irma, teman sewaktu di Smansa Makassar

Setelah menunggu di gate 3 selama kurang lebih 30 menit, pesawat Batik Airpun segera take off menuju Makassar. Sungguh beruntung pada penerbangan ini tiga kursi tempat saya duduk sedang kosong semuanya. Artinya hanya saya sendiri yang duduk di baris 12. Dan seperti biasa kalo dalam keadaan seperti ini, Bona pun mendapat kesempatan untuk duduk di kursi dekat jendela.

Beberapa penumpang sepertinya heran melihat tingkah laku saya yang sedang asyik berfoto dan mengatur posisi duduknya Bona. Bahkan ketika pramugari membagikan makanan kecil, Bonapun sempat mendapat jatah snack juga. Dengan tersipu malu mbak pramugari pun akhirnya menerima kembali snack tersebut ketika saya menjelaskan bahwa yang duduk disamping itu adalah boneka Bona.

“Bisa bicara bonekanya pak..?”, tanya mbak pramugari ketika sedang membagi snack kepada saya. Sayapun hanya tersenyum kecil mendengar pertanyaan tersebut, sementara mbak pramugari terus berjalan pelan melayani penumpang lainnya sembari matanya tak lepas dari Bona.

“Gimana Bona? Mau nggak foto sama dia?”, kutantang Bona yang ternyata malah asyik membaca majalah Batik air. Dan Alhamdulillah penerbangam Batik Air hari Sabtu ini lancar dan tiada halangan.

3 Lokasi Sedekah Dongeng.

Dan hari Senin 25 Februari 2019, jadwal kegiatan dimulai dengan mengunjungi TK Aisyiah Bustanul Athfal VI Biring Romang VI di jalan Tamangapa 3 Antang. Untuk ke sekolah ini harus menyusuri lorong khusus kendaraan roda 2. Ada sekitar 60 murid yang belajar di sekolah ini.
Pukul 08:15 kegiatan Sedekah Dongeng bersama Laznas Yatim Mandiri dimulai setelah mereka duduk dengan rapi di halaman sekolahnya.

Donasi yang dikumpulkan berjumlah Rp 1.243.000,- yang selanjutnya disalurkan kepada Laznas Yatim Mandiri Makassar.

Selanjutnya lokasi kedua kegiatan Sedekah Dongeng adalah di TKIT Ummul Mu’minin di Pesona Prima Griya Antang.

Kak Sabir dan keluarganya berfoto bersama Bona

Sebelumnya, Zabir salah satu junior Kak Heru yang masih aktif di Pramuka Unhas mengabari bahwa ini adalah sekolah anaknya. Anaknya bernama Embun, cantik dan lincah seperti ayah dan bundanya. Kebetulan ayah dan bunda Embun adalah sama sama anggota Pramuka Unhas.

Dan menjelang siang, tim Sedekah Dongeng masih menyisakan 1 lokasi lagi di TK Angkasa 2 Daya. Ini adalah kunjungan saya untuk kedua kalinya di sekolah ini.

Ketika saya baru masuk ke pintu gerbang, teriakan memanggil nama “Kak Heru datang..!” langsung menggema di teras sekolah. Serentak kaki kaki kecil segera berlarian menyambutku.

“Mana Bona..?”, itu sebuah kalimat bila mereka bertemu denganku untuk kesekian kalinya.
Sayapun hanya bisa tersenyum sembari menggandeng salah satu anak untuk menuju lokasi kegiatan di samping sekolah.

Ada sekitar 150 adik adik yang sudah duduk dengan rapi namun tak sabar. Saat saya sedang menyiapkan sound system, beberapa dari mereka mencoba untuk mengintip tasnya Bona. Walaupun ibu guru sudah melarang, namun mereka tetap kembali berdiri dan mencari tahu keberadaan Bona.

Agar mereka tak penasaran, sengaja saya menyimpan tas Bona agak jauh agar perhatian mereka tak terganggu ketika dongeng dimulai. Saya meminta pak Yoga, salah satu staf dari Laznas Yatim Mandiri untuk menjaga tas Bona dari jangkuan tangan tangan kecil mereka.

Sedekah Dongeng di Carangki Maros

Sabtu pagi ini melanglang buana ke Desa Carangki Maros. SD Negeri 96 Carangki Maros. Sekolah yang letaknya tak jauh dari Pasar Carangki ini mendapat kunjungan dari Tim Sedekah Dongeng bersama Laznas Yatim Mandiri Maros.

Tak jauh dari sekolah ini ada sebuah bendungan yang bernama Bendungan Lekopacing yang berfungsi sebagai pengendali air sungai di kawasan Maros. Bulan lalu bendungan ini sempat dibuka pintu airnya yang mengakibatkan banjir di Maros dan sekitarnya

#sedekahdongeng
#yatimmandiri
#rumahdongeng
#storytelling

Sedekah Dongeng di TK Aisyiah Parangtambung

Sabtu pagi ini menyapa adil adik kecil di TK Aisyiah Parangtambung bersama tim Sedekah Dongeng dari Laznas Yatim Mandiri. Di akhir pekan ini cuaca cukup bersahabat, namun masih ada beberapa murid yang tidak hadir ke sekolah.

Walaupun demikian, kegiatan dongeng untuk korban banjir di Sulsel tetap meriah. Kehadiran ibu ibu yang menyempatkan diri untuk duduk bergabung sambil mendengarkan dongeng sangat membantu suasana pagi ini.

Hasil donasi kegiatan ini sebesar Rp. 2.200.000,- dan disalurkan melalui Laznas Yatim Mandiri.

#sedekahdongeng
#prayforSulsel
#rumahdongeng
#YatimMandiri
#storytelling

Kembali ke SD Malengkeri Bertingkat 1

Alhamdulillah cuaca pagi ini bersahabat untuk kegiatan Sedekah Dongeng Peduli Banjir Sulawesi Selatan bersama Laznas Yatim Mandiri Sulawesi Selatan.

Halaman sekolah SD Malengkeri Bertingkat 1 cukup nyaman untuk dijadikan alas duduk. Matahari nampak malu menampakan diriny. Dia bersembunyi di antara awan.

Menjelang akhir cerita tiba tiba turun gerimis yang membuat saya harus segera berkemas dari atas panggung.
Dan ketika status ini saya buat, hujan sudah mendera kota Makassar lagi.

#sedekahdongeng
#rumahdongeng
#storytelling
#YatimMandiri